Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Tahun Baruan


__ADS_3

****


(Beberapa hari kemudian)


****


"Akhirnya kamu bisa juga tahun baruan di rumah, nanti lebaran kamu juga pulang ya!" Wanita paruh baya dengan hijab lebar tampak sibuk mengelap piring.


"Insya Allah, Umi."


Di Yogyakarta, meski hari tergolong masih terang, namun sudah membuat hawa dingin berhasil masuk ke pori-pori tangan Dahlia. Dirinya berbalut dengan switer tebal dan giginya bergemelatuk kedinginan. Dengan segera ia menaruh arang, jagung dan sosis yang baru saja ia beli di letakkan di atas meja. Yang kemudian ia menuju wastafel untuk mencuci ayam segar yang baru juga ia beli. Tidaklah terlalu dingin cuaca, tapi Dahlia yang berkendara pakai motor tadi membuat hawa dingin seakan bertambah berkali-kali lipat.


Sudah sepekan Dahlia berada di kampung, dirinya sangat senang. Bisa kumpul dengan sanak saudara. Terlebih Ayahnya si sulung dari banyaknya bersaudara. Membuat tempatnya akan ramai bila ada acara tertentu. Misalnya sekarang, tahun baruan. Selesai dengan ayam yang sudah ia cuci bersih ia menaruh di tempat yang sudah disiapkan uminya.


"Umi aku mandi ya!" Teriak Dahlia. Sehabis mandi Dahlia berniat baru akan lanjut eksekusi bahan makanan dan arangnya. Segera mungkin ia mandi, sebelum mendadak sibuk. Dan berakhir mandi kemalaman. Oh no...


****


Sehabis sholat magrib, Dahlia langsung ikut bergabung dengan adiknya, Ito. Untuk menyiapkan arang bakarnya.


"Kak, arangnya sebagian masih ada di dalam."


"Issh. Bukannya dibawa sekalian tadi," gerutu Dahlia sembari membalikkan badannya.


"Dahliaaaa....!"


Dahlia yang baru jalan beberapa langkah membalikkan tubuhya kembali. Senyum sumringah lebar Dahlia dan acungan kedua jempol dia lontarkan.


Wanita muda,-Sarah- yang masih kerabatnya itu menunjukkan banyak minuman soda yang tengah dibawanya, wajahnya tak kalah antusias dengan Dahlia. Sementara ada bocah balita alias anaknya yang mendahului langkahnya menuju dimana Tio mempersiapkan arang bakar.


Tidak mau lama-lama Dahlia melangkah kembali menuju arang yang masih ada di dalam rumah. Yang kemudian disusul oleh Sarah.


"Ini taruh sini saja ya," ujar Sarah.


"He em." Dahlia langsung mengambil semua sisa arang yang ada. Menentengnya keluar, sementara Sarah mengambil bahan-bahan yang akan dibakar.


Baru setapak dari pintu rumah, langkah Dahlia berhenti melihat mobil mewah warna putih yang sangat tidak asing buat dirinya. Tentengannya yang berupa arang terlepas dari tangannya. Bibirnya sedikit terbuka karena tercengang. Ditatapnya terus mobil itu yang sudah berhenti cantik di pekarangannya. Tidak hanya Dahlia, Tio pun juga menghentikan aktivitasnya, matanya menatap mobil mewah yang tersesat masuk ke pekarangannya.


Pintu mobil belakang yang sudah terbuka langsung membuat Dahlia histeri.


"Baby Reeee." Dahlia memekik senang dan langsung berlari di mana Veron turun dengan hati-hati yang sembari menggendong Revandra.


Tangan Dahlia terulur meraih Revandra dan menggendongnya dengan gemas. Tidak selang lama turun Zello dan Zico dan yang terakhir Anita.


Umi Dahlia yang baru saja keluar dari rumah terkesiap sesaat yang kemudian tersenyum ramah.


"Umi, kenalkan mereka bos Dahlia di kota," ucap Dahlia memperkenalkan yang disusul tindakan jabat tangan ramah dari mereka berempat ke umi Dahlia. "Ini Tuan Zello, Umi."


"Masya Allah. Silahkan masuk." Dengan ramah umi Dahlia mempersilakan masuk.


"Assalamualaikum." Suara Zico memasuki rumah Dahlia.


"Waalaikum salam."


Mereka berempat duduk di ruang tamu, yang disambut umi Dahlia dengan duduk juga di antara mereka. Sarah, yang kebetulan di tempat mereka membuatkan minum karena Dahlia masih sibuk menggendong Baby Re.


"Baby Re kecil-kecil maunya sudah jauh ya," celoteh Dahlia.


"Nona, kenapa tidak bilang-bilang mau kesini? Saya benar-benar syok," ujar Dahlia. "Syok bahagia. Hehehe."


"Anggap aja surprise," sahut Veron.


"Berapa lama perjalanan kesini, Nak?" tanya Umi.


"Sekitar 8 jam tadi Bu sama istirahat. Maklum bawa bayi sama ibu hamil. Jadi harus hati-hati." Sahut Zello.

__ADS_1


"Panggil saya Umi aja ya Nak. Biar berkesan akrab. Itu kalau kamu Nak Zello dan yang lain ngga keberatan."


"Oh baiklah Umi. Kami malah senang umi terbuka secara demikian."


"Nona Anita itu istrinya Nak Zico ya?" tebak Umi.


"Ehehe bukan. Anita kerabat kami, suaminya berada di luar negeri, belum bisa pulang. Dan Zico ini-" Zello menatap Zico.


"Saya disana seperti Dahlia. Bekerja, tapi namun dibagian perusahaannya," sela Zico halus.


"Oh. Begitu. Saya ucapkan terimakasih buat Nak semua sudah mau main kesini."


"Saat Dahlia kerja, Umi sama siapa saja di rumah?" tanya Zico.


"Oh, ada adik Dahlia yang ada di depan itu. Sama ada Abi juga. Cuma abi lagi di masjid sholat maghrib. Mungkin sebentar lagi pulang."


Zico mengangguk kecil, matanya melirik sesaat di mana Dahlia berdiri sembari menimang Baby Re.


Dahlia yang menyadari lirikan khusus dari Zico merasa dag dig dug. Wajahnya mendadak bersemu merah.


"Sini Dahlia. Biar Baby Re sama aku dulu." Veron berdiri dari duduk dengan menjulurkan tangan.


"Nggak apa Nona. Biar sama saya. Saya kangen sama Baby Re," tolak Dahlia halus.


"Sudah sini!" pinta Veron mendekat Dahlia dan meraih Baby Re.


"Nona pelit."


"Dahlia." Pekik Umi. Dirinya benar-benar syok dengan ucapan anaknya yang dinilai lancang. Tapi berbeda dengan yang lainnya. Semua tertawa kecil menanggapi ucapan Dahlia.


"Maaf ya. Dahlia memang bocahnya agak kurang." Umi Dahlia benar-benar merasa tidak enak meski semua tamunya tidak mempermasalahkan.


"Umii." Pekik ganti Dahlia. Dahlia yang awalnya berdiri beralih duduk di dekat Uminya.


"Astagfirullah aladzim." Umi Dahlia memegang dadanya.


"Umi. Bukan itu maksud saya. Kami memang sudah terbiasa bercanda seperti itu. Dahlia sudah saya anggap adik saya disana. Kalau tidak ada Dahlia malah saya sangat merasa kesepian," ralat Veron merasa tidak enak.


"Terima kasih sekali atas kebaikannya. Tolong maklumi perilaku Dahlia yang kadang masih kaya anak kecil. Oya, kabar Tuan Hanif bagaimana? Abi sering cerita tentang Beliau. Tapi jujur, kalau Umi belum pernah ketemu sama Beliau. Umi tahu Beliau dari cerita abi Dahlia."


"Semua sehat Umi. Mohon maaf Kakek tidak bisa kesini. Maklum sudah tua."


"Tidak masalah Nak Zello. Yang penting Abi sama Beliau masih komunikasi lewat telepon. Maaf juga ya, tadi umi ngga ngenalin Zello sama yang lainnya. Tapi Abi pasti kenal sama Nak Zello."


"Assalamualaikum." Salam dari luar. Pria dengan pakaian muslim lengkap dengan pecinya memasuki rumah. Abi Dahlia terkejut campur senang mendapatkan tamu. Meski belum tahu siapa tamunya. Awalnya Abi Dahlia mengira kerabat yang memang ingin tahun baruan di rumahnya, ternyata bukan.


"Waalaikum salam."


"Selamat malam, Bi." jabat Zello ke Abi Dahlia yang kemudian di susul oleh yang lain. Tangan Abi Dahlia yang menerima uluran tangan dari tangan ke tangan terhenti sesaat saat tangannya menjabat tangan Zico.


"Abi kenal nggak sama tamu ini." Ucap Umi yang arah matanya ke Zello. Nampak Abi Dahlia berfikir sesaat yang kemudian tersenyum lebar dan menepuk bahu Zello. "Cucu Hanif." Seru Abi Dahlia.


"Iya, Bi. Dan ini istri dan anak saya."


"Masya Allah, ini cicit Tuan Hanif."


Zello mengangguk dengan senyum tipis.


"Bagaimana kabar Tuan Hanif, Nak?"


"Baik, Abi."


"Oh, alhamdulillah."


"Tapi, maaf tumben kesini? Apa sekalian liburan atau berkunjung di kerabat dekat sini juga." Jujur Abi Dahlia.

__ADS_1


Zello menatap Zico sekilas dengan senyum, dan yang beralih lagi ke Abi Dahlia.


"Mm, begini Abi, Umi sebelumnya. Tujuannya saya utamanya memang kesini. Saya kesini membawa adik saya-Zico, kebetulan Zico yatim piatu. Dan, saya sebagai perwakilan dari Zico ingin meminang Dahlia untuk jadi bagian keluarga kami, yaitu sebagai pendamping adik saya, Zico."


"A-apa." Syok Dahlia tanpa suara yang keluar.


Sementara Zico mengusap hidungnya sekilas karena gugup.


"Untung Baby Re sudah sama aku. Kalau tidak mungkin sudah terjatuh," bisik Veron ke Zello.


Zello menoleh sesaat ke Veron. Untung tawanya tidak meledak karena ucapan istrinya. Dirinya hanya tersenyum kecil yang kemudian menatap serius ke orangtua Dahlia. Terlihat Abi-Umi saling lempar pandang yang kemudian menatap Dahlia.


"Bagaimana, Nak. Abi terserah kamu saja?"


Umi Dahlia melihat suaminya dengan tatapan aneh. Tapi dirinya juga tidak bisa berbuat banyak secara terang-terangan.


"A-a." Dahlia seakan gagu untuk berucap. Lehernya mengangguk kecil yang membuat semua bernafas lega.


"Alhamdulillah." Syukur Abi Dahlia yang kemudian menatap Zico yang tengah senyum ke arah Dahlia.


"Khem." Dehem Abi Dahlia, sontak membuat Zico gelagapan.


"Mm-"


"Dengan ini Abu katakan kalian sudah terikat. Nanti kesiapan hati h, Nak Zigot dan Dahlia silahkan di bicarakan! Nanti Umi dan Abi tunggu kabar baiknya."


"Baik Umi -Abi. Terima kasih atas restunya."


"Sama-sama. Saya pamit ke belakang dulu ganti baju. Kalian nikmati dulu hidangan ala kadarnya ini!"


"Baik Abi."


Abi Dahlia berlalu dari sana, masuk ke dalam kamarnya yang diekori Umi Dahlia.


"Abi." Suara pelan Umi.


"Iya, Umi. Kenapa?"


"Kita kan belum kenal nak Zico. Perilakunya, kebiasaannya. Aturan jangan langsung suruh Dahlia jawab. Namanya anak muda. Dahlia pasti iya-iya aja karena sudah cinta buta. Abi ini, mentang-mentang dia dibawa sama keluarga Tuan Hanif, Abi langsung setuju saja," cerocos Umi.


****


"Bos."


Masuknya Abi-Umi Dahlia ke kamar, mereka berlima ikut bergabung dengan Ito dan Sarah yang mulai menyiapkan bahan untuk dibakar. Baby Re yang terlelap di baringkan di kamar Dahlia.


Zello dan Zico mengambil bahan-bahan masakan semua yang sudah mereka bawa juga. Jagung, sosis, ayam, spagetty dari mobil untuk menyambut tahun baru.


"Bos." Ulang Zico.


"Hm."


"Kenapa sebelumnya tidak bilang kalau kalian saling mengenal akrab?!"


"Apa maksudnya?!" Dahi Zello berkerut dalam.


"Saya.... takut kalau orangtua Dahlia menerimaku karena merasa tidak enak dengan Tuan Besar Hanif, bukan karena saya."


"Mm-"


"Nak Zico!" Suara Abi Dahlia tiba-tiba menyela obrolan mereka. Jantung Zico seakan meloncat melihat Abi Dahlia yang sudah diantara mereka.


"I-iya Bi."


"Abi sangat kagum dengan suara kamu saat mengumandangkan adzan tadi."

__ADS_1


__ADS_2