Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Karena Gaya Hidup


__ADS_3

****


"Enak nih, foto di sini."


"Iya. Fotoin aku dong!"


"Ayo selfi! Merapat."


"Ah, cakep. Sekarang foto ala artis sosialita. Mana juru kameranya?"


"Suruh fotoin orang aja."


"Fotoin bentar, boleh? Nanti dibayar kok."


Cekrek, cekrek, cekrek ....


Sudah berapa kali mereka ganti angle, ganti ekspresi. Tapi seakan belum puas, mereka berganti bergantian mengambil foto single secara bergantian dengan background dinding layar 3d butterfly.


Veron tersenyum miris, melihat mereka. Mereka yang berjumlah enam mamah muda dengan gaya sosialita begitu kompaknya dalam mengambil gambar. Tertawa bersama. Bercengkrama bersama.


Hah, diri Veron mencelos sakit. Dirinya tidak pernah seperti itu sebelumnya. Dirinya selalu pergi bersama Desy seorang. Kadang dengan Anita seorang. Mungkin tepatnya senyum miris Veron bukan untuk mereka yang tengah happy di outdorr mall besar itu. Tapi tersenyum miris meratapi nasibnya yang tidak seperti orang lain. Dulu, walaupun keluar, dirinya selalu dalam pantauan orang Dave. Semenjak Veron menikahlah, Veron merasa mendapat kelonggaran dari Dave. Tapi tidak tahu juga ya .... Mengingat Dave sangat licik, jangan-jangan Dave terus memantau tanpa sepengatahuan dirinya.


Seakan tidak peduli dengan anak-anaknya yang tidak jauh dari mereka, mereka terus asyik berfoto ria. Tidak peduli anaknya yang tengah cubit-cubitan, ingus sampai kemana-mana, makan es krim belepotan memenuhi dagu.


Terakhir mata Veron tertuju dengan gadis kecil dengan rambut ikal yang diikat jadi dua. Manisnya penampilan gadis kecil karena ada poninya. Melihat gadis kecil demikian, diri Veron seakan tengah bercermin.


Veron yang duduk tidak jauh dari gadis itu tersenyum. Tersenyum menyeringai. Gadis kecil itulah sasarannya.


Dengan langkah pelan Veron mendekat gadis kecil itu. Sadar dengan kehadiran Veron, gadis itu mendongak.


"Hai!" sapa Veron.


"Iya, Tante."


Wah suaranya lembut sekali.


"Alisa kamu sama siapa? Kok sama sih rambutnya," celetuk bocah yang lain.


Veron melirik ke arah mamanya berada. Benar-benar, mamanya masih sibuk saja with the gank. Tidak sadar sama sekali anaknya tengah bersama orang asing. Untung orang asingnya Veron.


"Iya. Tante cantik deh."


"Kamu juga cantik."


Veron berdehem, "kamu mau ikut tante?"


"Kenapa?"


"Kemana saja."


"Ah, nggak mau."


"Kenapa?"


"Nanti mama nyariin."


"Ohh, tapi kalau tante mau gendong kamu sebentar boleh?"

__ADS_1


He em. Gadis kecil itu mengangguk. Nggak mau di ajak, tapi mau digendong.


Hap, gadis itu dengan hitungan detik langsung menempel di pekukan Veron. Dengan langkah ringan Veron beranjak dari sana.


"Alisa kamu mau kemana?" teriak bocah yang lain.


"Alisa! ..."


Veron sudah lumayan jauh dari mereka. Suara histeris dan gaduh mulai bersahutan.


"Alisa kamu kemana huhu... "


"Ayo cari!"


"Alisa! Alisa!..."


Veron menghentikan langkahnya, tersenyum tipis ke gadis kecil itu. "Kamu tidak mau menangis?! Menangislah!"


"Kenapa aku harus menangis?"


"Kamu kuculik. Mau tante pisahin sama mama kamu."


"Tante bohong hua....."


Veron menepuk jidatnya. Suaranya lembut, tangisnya pun lembut.


Kaleng?!.


Tuk. Klonteng..... Kaleng mengglinding kencang karena ditendang Veron.


"Itu dia Alisa. Penculik....! Penculik.... Itu penculiknya."


****


"Lilie."


Veron tengah berada di meja polisi


Sedangkan sepasang suami istri berdiri tepat di sebelah kursi Veron. Wajah tidak suka dari mama muda sangatlah jelas, tangan terlipat di dada, mata penuh penghakiman.


"Alamat?"


"Mm, Ibu kota."


"Motif?" Polisi menatap dingin ke Veron. Tangannya terhenti mengikuti Veron yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Huh. "Uang."


"Untuk apa? Sampai berani menculik anak."


"Gaya hidup."


"Kamu!! Mau menculik anak saya untuk gaya hidup. Dasar nggak punya hati. Bisa-bisanya menculik anak demi gaya hidup." Wanita itu berteriak histeris. Tangannya yang terlipat beralih menjambak rambut Veron kuat.


"Ibu, sudah. Biarkan dia jadi urusan kami," ujar polisi melepaskan tangannya dari rambut Veron. Sedangkan suaminya terdiam dan mungkin membenarkan tindakan istrinya.


"Walau kamu nggak punya anak. Tapi kamu punya keluarga kan? Apa kamu nggak punya keluarga?? Hah?"

__ADS_1


"Coba kamu rasakan andai keluargamu hilang, pergi, atau mati. Tahu rasanya? Sakitt."


Mata Veron memerah. Telinganya berdengung mendengar jeritan wanita muda di sebelahnya.


"Kamu seperti tidak punya keluarga saja! Dasar iblis!"


Veron berdiri dari duduknya, menatap tajam, membuat wanita itu terkejut.


"Salahkan Anda sendiri! Kenapa tidak bisa menjaga anak sendiri. Bagaimana kalau tadi bukan aku yang menculik. Bukankah tadi Anda sibuk main ponsel dan bercengkerama terus dengan teman-teman Anda. Tanpa peduli anak Anda sedang apa."


"Kamu... " Tanpa aba-aba wanita itu langsung menjambak Veron lagi yang telah berani berucap bengis kedirinya.


Tidak mau kalah, Veron menjambak balik wanita itu.


"SUDAH! SUDAH!" Teriak polisi.


Veron kembali duduk, matanya menatap tidak suka dengan wanita yang telah ia jambak.


"Tuan, kalau tidak percaya nanti cek saja cctv di mall itu! Istri Anda terlalu teledor!"


"Cukup Nona Lilie! Meski begitu kamu tidak bisa menculik anaknya begitu saja. Sebenarnya apa motif Anda menculik anak," ulang polisi merasa terheran.


"Demi uang, Pak."


Polisi tadi mendengus kesal, "Sudah berapa kali menculik anak?"


"Satu kali."


"Yang barusan berarti?"


"Iya."


"Demi Tuhanmu!"


"Iya, demi Tuhanku itu yang pertama kali."


Hm, "baiklah." Polisi menatap intens ke Veron yang kemudian mengangguk kecil.


"Keluarga?"


Veron terkesiap. Dan menelan ludah dengan susah.


"Ada, tapi janga libatkan mereka!"


"Baiklah."


"Bawa dia ke sel!" sambungnya.


****


Veron yang sebagai orang baru tentunya menjadi pusat perhatian mereka yang sudah berada di dalam sel.


Dengan perlahan Veron masuk ke sel yang sama. Dengan wanita yang jumlahnya lebih dari sepuluh yang ia tempati sekarang.


Mereka semua menatap Veron lama, dengan tatapan berbeda-beda. Dingin, datar, cuek, benci, muak.


'Kenapa tidak ada yang menatap dirinya seperti yang kakek lakukan?!'

__ADS_1


"Kek. Kakek sedang apa? Lilie kangen'.


__ADS_2