
"Kamu... ada musuh?" tanya Bunda.
Veron yang tengah menyiapkan piring terdiam. Mendapat tatapan dalam dari bunda membuatnya menelan saliva.
"Lilie." Bunda mendekati Veron.
"Bunda, sebenarnya ...."
"Ada yang mencari kamu di depan. Kamu ada masalah?"
"Mm, siapa yang nyari Lilie Bunda?" tanya Veron. Siapa tahu yang nyari Zello. Bolehkan berharap?!
"Yang nyari kaya kelompok geng gitu," jelas Aida.
Dave? Veron terlonjak, berdiri dengan was-was.
"Kenapa?"
"Mm, ada yang suka sama Lilie Bunda. Dia ngotot, tapi Lilie nggak suka," terang Veron.
"Ada-ada saja anak jaman sekarang."
"Bunda ...."
"Yaudah, kamu tenang saja. Biar Bunda ke depan. Kamu ngumpet ya!"
"Bunda..." Cegah Veron, menghentikan niatan pengelola panti.
"Dia tidak akan tinggal diam Bun. Dia nggak akan percaya begitu saja. Bunda, Lilie takut. Tapi Lilie juga nggak bisa nyerahin diri ke dia."
Bunda dan Aida saling melempar pandang.
"Lalu bagaimana, Lie?"
"Lilie harus pergi, Bun."
"Apa itu satu-satunya cara?" ujar Bunda seakan tidak rela.
"Bunda. Lilie harus pergi secepat mungkin," jelas Veron. "Oya, Bunda. Tadi kan Lilie dari pasar belum nemuin anak-anak panti lagi. Nanti Bunda bilang saja sama orang-orang itu kalau Lilie ke pasar dari siang tapi belum balik lagi," ucap Veron berjaga-jaga. Biasanya anak-anak kan suka nyeplos. Siapa tahu dengan bunda mejawab begitu anak-anak panti ikut mengiyakan.
"Mm, baiklah," ucap Bunda ragu.
"Maaf ya Bunda. Sudah buat masalah di tempat Bunda," sesal Veron.
"Sudah terjadi. Ngga apa. Doakan saja yang baik-baik buat Bunda sama anak-anak ya!"
"Pasti Bunda. Oya, Bunda. Di sini ad cctv?" harap cemas Veron.
"Nggak ada."
"Syukurlah."
"Nggak ada. Adanya ruko depan. Untung kamu tadi pulang dari pasar lewat belakang kebon yang nggak ada cctv sama sekali," cetus Aida.
__ADS_1
"Ah iya. Kamu benar."
"Ayo Lie. Kamu ku antar lewat belakang. Biar Bunda yang ngehalang mereka."
"Iya. Ayo buru!" ujar Bunda. "Astaga Lilie, kamu baru sebentar disini."
"Bunda, maaf sudah bikin repot semua. Salam buat anak-anak ya!"
"Iya. Sudah sana. Nanti mereka keburu curiga."
"Lie, bawa sekiranya apa yang kamu butuhkan."
Veron tergugu, bingung mau bawa apa.
Aida yang memang gesit mengambil keranjang belanja. Memasukkan beberapa pakaian Veron kedalamnya, tidak lupa ia juga masukkan beberapa sayuran di atasnya untuk nutupin.
"Ayo Lie!" Aida menyodorkan satu keranjang untuk Veron sedangkan dia juga menenteng keranjang buat dirinya sendiri.
"Bunda, kita duluan!" ujar Aida menuntun Veron cepat.
****
"Buruan geledah semua! Jangan sampai ada yang tersisa!" suara samar tapi lantang membuat Veron mempercepat langkahnya. Dirinya masuk lewat kebun-kebun yang banyak sayuran di sana. Senja hari saat dirinya disana sekarang, bila orang Dave ada yang melihat ada orang di kebun larut-larut begini pasti akan langsung curiga.
Tanpa henti Veron terus melangkahkan kaki, berlari di tengah semak-semak kebun. Tidak peduli masih aman atau tidak dari jangkauan orang Dave dirinya tetap melangkahkan kaki dengan ringan.
Setelah lumayan jauh, hamparan yang gelap berubah terang saat Veron berhasil menembus kebun-kebun itu. Hamparan bak tanah gersang dengan sorot lampu sepanjang jalan. Pembuatan jalan tol baru selesai separo jadi. Bila pagi hari digunakan orang-orang untuk jogging. Sementara sore buat nongkrong-nongkrong nggak jelas.
Untuk menghindari ada yang nongkrong di kawasan itu pada malam hari, sehingga sering ada penertiban dari pedagang dan juga muda mudi. Tapi meski begitu, tetap saja ada nongkrong, seperti saat ini. Ada yang bergerombol rame-rame, ada yang mojok berduaan. Wajar, karena tidak tiap hari ada penertiban.
Dengan cekatan Veron menghamparkan sayur-sayurannya. Baju yang berada di keranjang pun juga ia hamparkan di atas tikar.
Suara mobil penertib- satpol pp- mulai mendekat. Dengan gerakan perlahan Veron kembali memasukkan pakaian dan sayurannya. Sementara kalang kabut terlihat dari mereka yang barusan nonkrong disana.
"Heh, Mbak berhenti!" ujar pria penertib. Membuat Veron menghentikan gerakan tangannya.
"I-iya, Pak."
"Masih saja jualan. Sudah tahu dilarang. Lagipula ada yang beli malam-malam begini?!" cetus jutek bapak berseragam.
"Terpaksa, Pak."
"Hah, ayo ikut!"
"Ta-tapi."
Tanpa peduli ucapan Veron, dengan cepat bapak tadi memasukkan semua barang ke keranjang Veron. Menaruh ke dalam mobil bak. Sementara Veron digiring di bawa ke mobil yang sama.
Veron duduk di mobil bak. Menutup wajahnya dengan masker dan sedikit menunduk.
Bukan anak buah Dave namanya, kalau mau menyerah. Veron yang berada di mobil bak melirik sekilas orang-orang Dave yang mulai terlihat dari rerimbun sayuran yang di kebun.
Huuhfz. Veron bernafas lega. Hampir saja.
__ADS_1
****
"Lain kali jangan diulangi lagi! Sekarang kamu boleh pulang," ucap petugas satpol.
Hari sudah pagi. Dengn terpaksa semalam Veron harus menginap di kantor satpol. Karena sudah malam dan dirinya memang bingung mau kemana. Untung diizinkan menginap. Paling tidak dirinya tenang semalaman.
Veron mendesah lemah, dia sudah melibatkan banyak orang. Anita, orang panti, entah siapa lagi yang akan ia repotkan nanti.
Lelah.... bersembunyi dengan cara pindah-pindah terus. Mata Veron memerah, sedih dan lelah. Rasanya ingin menyerah.
Veron menggeleng cepat. Tidak. Dirinya tidak boleh menyerah. Tidak boleh lemah. Seperti Dave yang terus mencari, diri Veron akan terus bersembunyi. Di mana pun itu.
Perut yang kosong mengalihkan Veron dari kebingungannya yang tak tahu tujuan singgahnya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Veron menuju penjual gerobak dengan bertulis 'ketoprak.' Dahi Veron berkerut, dia belum makan makanan itu sebelumnya.
Rasa lapar yang sudah membuat perutnya melilit membuat dia melangkah mantap ke gerobak ketoprak.
"Pak, satu."
"Bungkus atau makan di sini, Non?"
"Makan di sini, Pak. Tapi di kasih alas ya piringnya!"
"Ok." Mesti terheran penjual meladeni juga. Pakai piring tapi pakai alas juga. Super higienis. Batin penjual.
Veron yang tidak pernah makan ketoprak sebelumnya penasaran dengan bahan dan cara membuatnya. Dirinya melihat dengan seksama. Bumbu kacang. Itu yang Veron tahu.
"Ini, Non."
"Terima kasih." Veron melihat makanannya yang beralas kertas nasi meski memakai piring yang bersih. Veron sengaja mawas. Takut-takut orang Dave muncul mendadak. Sehingga dirinya bisa membawa makanan itu dengan gampang. Oh iya bayar.
"Berapa, Pak?"
Lagi-lagi bapak heran. Biasanya orang bayar kalau sudah selesai makan, tapi Veron sebelum makan.
"Dua belas ribu, Non."
Tidak lucu kan, Veron kabur mendadak hingga lupa bayar makanannya. Veron yang merasa dihantui Dave jadi selalu mawas diri.
Veron menatap makanannya. Dirinya pernah makanan yang di makannya. Di restoran. Tapi bukan ketoprak namanya.
Mm, lumayan. Rasa ketoprak yang enak ditambah tidak munculnya orang-orang Dave, membuat Veron makan dengan nikmat.
Nikmat yang sementara, setelah Veron bingung akan tujuannya sekarang.
Dirinya dengan orang -orang Dave berada di tempat yang sama. Kemungkinan tertangkap sangat besar.
"Lebih baik di penjara jaman sekarang tu. Ngga susah nyari duit tapi dapat makan setiap hari."
"Kamu kalau ngomong. Dikira enak di penjara."
"Cie, yang jadi mantan narapidana."
__ADS_1
Obrolan pembeli dan pedagang ketoprak berhasil menyita perhatian Veron.
Penjara? Alis Veron bertaut.