
Anita mengendurkan pelukan Veron. Menatap penuh harap, sisa-sisa air mata di wajah Anita membuat Veron terenyuh.
"Kamu mau kan, Lie?"
Veron menatap intens wajah sayu Anita dan beralih ke perutnya yang masih rata. Apa yang harus ia katakan. Anaknya butuh seorang ayah. Tapi Dave pria yang demikian. Apa pantas buat Anita.
"Dave bukan pria baik-baik," ucap pelan Veron.
"Kalau dia baik tidak mungkin dia menodaiku. Aku tahu itu. Aku butuh ayah untuk anak ini. Supaya dia punya identitas. Aku mohon Lie."
"Kamu belum kenal Dave, Nit."
"Lalu?" ucap lantang Anita. "Harus kuapakan anak ini? Katakan?!"
Veron menelan salivanya dengan susah matanya menatap lekat Anita yang nafasnya memburu karena amarah.
"Biarkan nanti anakmu bersamaku. Biar aku dan Zello yang menjadi orangtuanya. Itu kalau kamu tidak keberatan," ucap Veron akhirnya.
"Tapi yang jelas aku tidak rela kamu bersama Dave. Masih banyak pria baik di luar sana."
Anita menatap intens Veron, melihat kesungguhan wajah dan kata-kata yang keluar dari bibir temannya.
Veron meraih tangan Anita, menggenggamnya. "Bagaimana? Hanya solusi itu yang aku punya untuk saat ini. Aku-rasa kamu juga tidak mencintai Dave kan? AKu benar kan?!"
Anita terdiam, matanya tak urung untuk lepas dari wajah Veron.
"Andai kamu mencintai Dave. Apa Dave juga mencintaimu? Aku hanya tidak ingin kamu tersiksa saat bersamanya nanti bila rasa itu hanya bertepuk sebelah tangan."
Yang diucapkan Veron benar. Anita memang tidak ada rasa untuk Dave yang ada hanya benci. Dave juga begitu terhadap dirinya. Bahkan mereka sebatas orang asing. Dan Dave tidak bisa menerima kehadiran anak yang dikandungnya. Anita berfikir dalam diamnya. Pandangannya menunduk melihat perutnya yang masih rata. Untuk sekarang dia masih bisa menutupinya, tapi nanti? Apa yang akan dia jelaskan kepada semua orang yang ada di sekelilingnnya bila perutnya membesar tanpa ada pernikahan? Sudah siapkah dia dengan semua guncingan yang akan ia terima, yang kemungkinan akan berdampak juga dengan usahanya.
"Lilie, untuk saat ini aku masih dengan pendirianku. Aku ingin Dave untuk bertanggung jawab."
"Nita- "
"Kumohon Lie!"
Entah bagaimana Veron harus membujuk dan memberi pengertian ke Anita. Veron diam dengan wajah gundah.
"Apa kamu tidak tahu maksudku Lie? Perutku bakal membesar. Apa kamu tega aku jadi bahan guncingan. Aku harus menikah Lie. Aku harus menikah dengan Dave."
Veron membuang arah pandangannya, dia bingung. Tapi ucapan Anita ada benarnya.
"Aku tidak peduli dengan Dave. Yang penting dia mau memberi identitas untuk anakku kelak."
Veron mengangguk, sekarang dirinya tak ada pilihan lain selain mengiyakan. Nanti bila ada cara lain mungkin akan ia utarakan kemblai dengan Anita.
"Aku pulang dulu. Nanti aku akan kabari."
"Terima kasih Lie." Anita meraih tubuh Veron, memeluknya senang.
__ADS_1
"Baiklah, aku pulang dulu." Veron melepas pelukan, yang kemudian dapat anggukan dari Anita.
Selepas selesai berbicara dengan Anita, Veron langsung menuju mobil dan masuk ke dalamnya. Braak.
"Sudah?!" tanya Zello.
"He em." Veron menyandarkan tubuhnya. Memejamkan matanya, otaknya lelah.
Zello yang melihat lelah di wajah Veron memberikan belain lembut di rambut lurusnya dan juga merapikan helaian yang hampir menutup mata.
Mata Veron terbuka, menatap wajah suaminya yang menjadi kriteria idaman kebanyakan wanita, tak hanya tampang tapi juga kepribadiannya. Andai Dave mempunyai sifat seperti Zello pasti dirinya akan dengan senang hati membantu Anita.
"Kamu terlihat lelah, Sayang."
"Mungkin hormon kehamilan, Mas."
"Maka dari itu jangan terlalu banyak berfikir, nanti akan memengaruhi kesehatan kamu juga. Ngga hanya kamu, tapi juga anak kita." Zello mengangguk kecil dengan security yang membukakan gerbang untuknya.
"Kalau sekiranya ada yang perlu kamu ceritakan, aku siap untuk menampungnya."
Dahi Veron berkerut. "Benarkah? Kamu mau menampung atau memang penasaran."
"Dua-duanya." Zello berdehem kecil dengan semburat merah di wajahnya.
Mobil Zello mulai keluar dari komplek perumahan. Matanya menelisik wajah Veron yang seakan masih ragu untuk bercerita dengan dirinya.
Veron menoleh ke Zello, menatap wajahnya dari samping. "Mas, menurutmu apa Dave bisa berubah?"
"Maksudnya?" Hidung Zello kembang kempis karena tidak suka dengan apa yang dibahas istrinya.
"Anita hamil."
"Apa? Kapan dia menikah?"
"Bukan karena menikah, tapi karena Dave."
"Maksudnya?" Jiwa penasaran Zello bangkit tidak kalah dengan jiwa mak-mak gang rumah.
"Anita tidak menjelaskan secara rinci. Tapi aku rasa Dave sudah melakukan hal tak senonoh dengan paksa ke Anita."
"Lalu, bagaimana Anita?"
"Dia memintaku untuk membujuk Dave supaya mau bertanggung jawab. Menurutmu bagaimana?"
"Anita ingin Dave, Dave ingin kamu. Aku rasa aku akan mendukung Anita. Aku benci dengan Dave yang terus mengejarmu."
"Mas, aku seriusss."
"Aku juga serius."
__ADS_1
"Ya bisa jadi. Tapi itu kan Dave yang dulu. Sekarang aku sudah gendut, perut sudah membengkak luar biasa. Mungkin saja Dave sudah tidak menginginkan aku lagi. Benar kan? Ahh, seharusnya aku sekarang tidak terlalu takut dengan Dave. Kenapa aku baru kepikiran sekarang."
"Apa pengaruhnya, aku saja sekarang sangat bernafsu dengan kamu yang semakin gendut."
"Mas." Pekik Veron kesal. "Aku bicara serius."
Zello memejamkan matanya sesaat. "Aku juga serius." Bibir Zello tersenyum simpul.
"Terserah."
"Apalagi kalau kamu ngambek gitu."
"Tadi disuruh cerita. Tapi tanggapannya kaya gitu." Veron mencebik kesal.
"Iya iya maaf." Zello memijit pangkal hidungnya. Dirinya berbicara apa adanya padahal.
"Kalau sekiranya Anita sudah bersikeras ya mau gimana lagi. Tapi bila kamu beneran ingin bertemu Dave untuk membahas Anita ajaklah aku!"
Veron menatap serius Zello. "Jadi, kamu beneran setuju dengan kemauan Anita?!"
"Anita yang menjalani."
"Tapi Dave bukan pria baik."
"Siapa tahu nanti saat sudah menikah jadi tumbuh cinta. Cinta hadir karena terbiasa bersama."
"Bulshit. Dave selalu bersama wanita setiap hari. Tapi tidak pernah jatuh dengan mereka satu pun."
"Ada. Yaitu kamu."
****
Mobil Zello yang sudah berhenti di depan pintu kediaman Hanif langsung turun dari mobil. Dirinya berlari menuju pintu istrinya. "Sayang, kamu yakin ngga mau ikut turun."
"Jangan sekarang ya. Aku belum siap. Aku malu."
"Yakin ngga bakal nyesel. Ntar malam nggak bisa tidur."
Veron menggeleng. "Beri aku kesempatan satu minggu aja, Mas!"
"Hm, baiklah." Zello mencubit dagu Veron dan menikmati bibir lembut istrinya. Menikmati bibir berserta isi-isinya hingga nafasnya naik turun. Awalnya Zello hanya ingin mencium sekilas, tapi gairahnya malah langsung bangkit setelah bibir mereka menempel.
"Nggak tahu malu," ujar Veron setelah aksi Zello selesai. Sudah tidak tahu malu tapi kurang waras juga. Zello tergelak sembari berlalu tanpa membalas ocehan istrinya.
Mereka sampai di kediaman Hanif ketika sudah malam, menjelang makan. Zello yakin kalau Hanif tengah menonton televisi seperti biasanya di ruang keluarga. Terlebih ada suara televisi dan samar obrolan dari ruang itu.
Zello yang baru sampai ruang tamu menatap seseorang tidak nyaman, langkahnya terhenti dengan nafasnya memburu kesal.
Untuk apa Dave kerumah?
__ADS_1