
"Siapa nama kamu?" Wanita berotot dengan alis tebal berucap sangar.
"Lilie."
"Na.... ma yang cantik. Seperti orangnya," ucapnya lagi sinis. "Katakan! Kenapa bisa masuk sini!"
"Kasus narkoba mungkin, Mak."
"Palingan selebgram yang terciduk menjual diri," timpal yang lain.
Veron membuang nafas kasar, malas. Veron mengangguk kecil.
"Wah, serius kamu menjajakan diri? Berani sekali dia mengakuinya."
"Pantas saja. Bening."
"Ihh menjijikkan."
"Aku nggak percaya. Mana ada pelacur mau ngaku."
"Diam! Diam! Kenapa berisik? sekali," gerutu penjaga.
"Pak, kenapa dia bisa di penjara?"
"Nyulik anak."
Veron mendengus. Tidak peduli dengan yang mereka bicarakan.
Lantai dingin, tapi hawa udaranya panas. Veron termenung. Tidak bisa kemana-mana. Di penjara entah sampai kapan, satu tahun, dua tahun. Tak menyesalkah nanti dirinya!?
Lantai dingin, hawa panas, tidur ramai-ramai, bau menyengat dengan berbagai keringat dari penghuni sel.
"Kamu! Sini!"
Veron bergeming. Mendadak kepalanya pusing.
"Kamu sini! Orang baru tapi belagu."
Veron menoleh, menatap balik wanita berotot yang tengah dapat pijitan dari temannya.
"Pijitin saya!"
"Aku bukan tukang pijit," ucap Veron ketus.
"Wah, berani kamu." Perempuan kurus menghentikan pijatannya. Beralih menjambak rambut Veron.
" Aohh." Jerit Veron.
Dengan malas Veron beranjak dari duduknya, beralih duduk di belakang wanita berotot. Memijitnya pelan.
"Namaku Runi. Panggil aku mak! Ngerti?!"
"Iya."
Mak Runi menggaruk rambutnya. "Kenapa tidak berasa sama sekali! Mana tenagamu!" hardik Runi.
Dengan terpaksa Veron menekan punggung Runi kencang.
"Nah, gitu pintar."
Veron memejamkan mata. Harus bagaimana lagi. Dirinya tidak bisa terus sembunyi pindah-pindah, itu sangat melelahkan. Walau disini kasar, dan menyedihkan. Tapi 'mungkin' lebih bagus ketimbang kucing-kucingan, yang beresiko besar akan tertangkap.
Sepuluh menit tangan Veron memijit bahu keras Runi. Membuat lengannya seakan ikut berotot juga. Veron melepas pijitannya.
"Kenapa udahan? Lagi!" hardik Runi.
Ah, ck. Veron berdecak kesal. Tapi tangannya terulur juga melanjutkan pijatannya.
Setelah puas menyiksa Veron, Runi berdiri dari duduknya. Yang kemudian disusul oleh yang lain.
__ADS_1
Veron duduk, menatap heran.
Nggak selang lama kemudian penjaga lapas membuka sel, dan semua berhambur dengan teratur.
'Jamnya makan' terka Veron.
Veron ikut berdiri. Ikut mereka yang keluar. Keluar dengan bercabang-cabang dengan arah berbeda.
"Kamu!" ucap penjaga lapas.
"Iya, Pak."
"Kamu mau kemana?"
"Aku, aku mau ikut mereka."
"Disini ada yang berkebun, menjahit, melukis, buat prakarya."
Mulut Veron menganga. Ini penjara atau tempat kursus?
"Memang ada begituan di penjara?"
"Kamu pikir saya bercanda?! Sengaja supaya penghuni lapas ada skill saat mereka keluar dari lapas. Seperti kamu, cari skill sana!"
Belum sempat Veron bertanya lagi penjaga lapas sudah meninggalkan Veron di tempatnya.
Mata Veron memicing melihat sekitar, banyak area dengan bermacam-macam untuk dijadikan mengolah skill. Veron menelusuri semua area pengolahan skill. Penjahit? Pelukis? Memahat? Penganyam? Berkebun?
Veron menepuk dadanya. Dia tidak pernah bekerja keras sebelumnya.
"Ayo!" teman satu sel menggiring Veron untuk terus melangkah. Berkebun?
"Kamu akan suka."
Veron menggeleng, melihat kukunya yang cantik.
"Sudah ayo!" ucapnya sembari mendorong Veron hingga tersungkur.
"Ngapain di bersihin?! Sini!"
Lagi-lagi Veron di giring paksa ke area tanah yang masih kosong.
"Nih." Veron menatap sekop kecil yang disodorkan ke dirinya.
"Aku nggak cocok di sini. Aku mau yang lain saja."
"Sudah sini. Hari ini dan besok berkebun. Lain hari boleh yang lain," ucapnya paksa.
Hah, Veron mengambil sekopnya. Yang kemudian ikut berjongok mengikuti gerakan temannya.
***
Selepas berkebun dan mandi, Veron dan temannya- Susi- ikut dalam antrian makan.
Makan dengan lauk sederhana, sayur buncis, dan ....
Veron menusuk lauknya, mengangkat dan mengamati, " ini telor?"
Susi memicing, "kamu tidak pernah makan telor dengan campuran tepung?"
Dahi Veron berkerut, menggeleng dan menaruh telornya lagi ke dalam piring.
"Enak, coba saja!"
Hm, Veron menjawab malas. Selama tidak beracun, Veron tentunya bisa memakannya.
"Enak kan?" ucap Susi.
Hm.
__ADS_1
****
"Kek, Zello akan memantau perkembangan proyek yang ada di luar kota."
"Mau berapa hari di sana?"
"Mungkin dua mingguan."
Hanif membuang nafas kasar. Sebenarnya tidak masalah. Dulu, Zello sering demikian. Tapi semenjak ada Veron yang mengubah sepinya menjadi hangat, tapi tidak adanya Veron lagi sekarang, membuat dirinya sangat kesepian berkali-kali lipat dengan yang pernah ia rasakan dulu.
"Kakek baik-baik di rumah. Mungkin aku akan berangkat sangat pagi besok."
"Iya, atur saja. Apa Zello akan ikut?"
"Tidak, jadi kakek tidak perlu sering ke kantor."
"Iya."
Zello dan Hanif sama-sama terdiam, pandangannya sama-sama kosong. Merasa ada yang kurang, tentu saja. Semua tidak mudah, terlebih kejadian itu belum lama.
****
Malam hari lantai yang dingin tanpa alas, udara yang panas. Veron tertidur lesu, tidak berharap ini hanya mimpi. Veron berharap akan betah di situ. Veron terisak, doa dan realitanya berbeda jauh ... Veron menangis tidak kuasa dengan kehidupannya yang di penjara.
"Hahahahah." Gelegar Runi.
"Dia nggak betah, Mak. Biasa tidur di ranjang yang empuk."
Veron meringkuk dengan tubuh sakit di ubin yang dingin. Meringkuk dengan isak kecil hingga lelah dan matanya terpejam sempurna.
****
"Nggak .. maaf! .... maaf, Nak"
"Aaa.... "
Veron terkesiap dari tidurnya, mencari sumber suara yang di dengarnya. Wanita yang satu lapas dengannya berteriak kencang dengan gumaman tidak jelas sementara matanya masih terpejam.
"Kamu tahu dia kenapa?" suara Runi yang masih terjaga.
Veron terdiam, matanya terarah dengan wanita yang terus mengigau dan selalu berakhir dengan teriakan. Dan beberapa penghuni yang lain menutup telinga tanpa mengubah posisi tidurnya.
"Dia baru masuk dua minggu yang lalu. Karena membunuh anaknya sendiri."
Veron menoleh, terkesiap, tidak percaya dengan yang di dengarnya.
"Kenapa tidak di masukkan ke rumah sakit jiwa saja," ujar Veron.
"Soal itu tanyakan saja dengan keluarganya. Lagi pula kalau siang dia waras.,"
"Di sini ada mantan pembunuh, mantan pengedar narkoba, penculik anak, bidan aborsi."
Tangan Veron refleks memegang perutnya. Dan ucapan Runi berhasil membuat dirinya tidak tertidur. Takut.
***
Pagi hari, di luar kota
Zello melihat kerja proyek yang tengah ia sepakati dengan teman koleganya. Dirinya berdiri dengan teman koleganya. Menatap hamparan tanah yang sudah rata dengan tanah.
"Tu-Tuan Zello."
Zello menoleh, melihat seksama wanita yang sepertinya tidak asing.
"Sa-saya Desy."
"Oh iya saya ingat," sahut Zello datar. "Ini kampung kamu? "
"I-iya." Desy meremas jemarinya sendiri, ditambah wajah Zello yang terlihat dingin.
__ADS_1
"T-Tuan. Kalau boleh tahu, bagaimana keadaan Veron?"
Zello menatap tajam Desy, yang kemudian membuang arah, mengacuhkan pertanyaan Desy.