Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Di Rumah Hanif


__ADS_3

Dengan perlahan Zello melangkahkan kakinya, menuju kamar tamu.


Rasanya Zello ingin membnating tubuh Veron, tapi bagaimana bisa ia lakukan, Hanif sedari tadi terus di belakang ia persis.


Tangan Zello tidak lupa untuk terulut menutupi tubuh Veron dengan selimut. Yang akhirnya mengundang senyum di bibir Hanif.


"Bagaimana perkembangan hubungan kalian? Kapan fifhting baju?"


"Memang kakek mau jawaban apa? Bukankah kakek tidak menerima penolakan," ucap malas Zello.


"Kalian sangat serasi," ujar Haniif tanpa peduli ucapan Zello.


"Hm," sahut Zello singkat. "Aku capek Kek. Aku mau tidur," imbuhnya.


"Iya, istirahatlah!"


***


"Masih gelap," gumam Veron. Ia beralih menegkkan tubuhnya untuk duduk sempurna. Dilihatnya selimut yang tengah menutupi tubuhnya, dan yang kemudian matanya menyapu kamar itu.


"Ini dimana?" memori Veron langsung tertuju saat ia memilih meringkuk di dalam mobil Zello.


"Apa ini rumah kakek?" Veron beralih mrnuruni kasur dan membuka pintu kamarnya. Matanya melihat semua sudut rumah itu, Verob juga beralih melongok ke lantai bawah. "Iya ini rumah kakek," ujar Veron.


Kruyukk. Kruyuuuk


Perut Veron mengeluarkan suara khas yang sangat memalukan, untung nggak ada orang di sana.


Dengan perlahan Veron menuruni anak tangga dan langsung menuju dapur. Karena masih terlalu pagi dia nggak berani untuk melakukan gerakan yang akan membuat berisik. Kulkas, yang dipikirkan Veron pertama kali. Dan dengan cepat ia menemukan benda persegi empat itu. Dilihatnya, lemari pendingin dengan isi minuman kaleng,buah dan juga sayuran.


Tangan Veron langsung terulur untuk meraih minuman kaleng.


"Non," ucap pelayan tiba-tiba. Gludag, karena kaget minuman tengah di pegangnya langsung terlepas dari tangannya.


"Duh ngagetin aja," keluh Veron.


"Maaf Non. Memang Nona mau apa?"


"Mau minum sama nyari pengganjal perut, Mbak."


"Oh ... tapi ini lemari pendingin khusus buat pelayan, eh maksudnya buat di dapur. Kalau buat yang punya rumah ada di ruang keluarga Non," jelas pelayan hangat.


"Oh ... makasih."


Veron dengan cepat melangkahkan kakinya, mendadak perutnya semakin melilit. Saat sudah sampai di sana pun tanpa ragu dia langsung membuka lemari pendingin di sana, mengambil cemilan dan juga minuman dingin yang langsung ia bawa ke sofa panjang di ruang itu. Menikmatinya dengan bahagia. Perutnya yang awalnya melililit sekarang sangat damai.


Terlalu menikmati makanannya, sampai ia tidak sadar sudah ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya.

__ADS_1


Tap tap tap.


Suara langkah kaki Zello berhasil mengalihkan perhatian Veron sebentar. "Zello," ucap Veron.


"Sudah bangun?" ucap Zello datar.


"Hm."


"Kamu sudah terlalu jauh masuk ke rumah dan juga pemilik rumah ini. Awas saja kalau sampai kamu berani untuk membatalkan rencana kita." Zello dengan tegas mengucapkan kalimat itu, sikapnya terkadang dingin kadang hangat, sempat membuat Veron bingung.


"Aku sudah memikirkannya," ucap Veron, perlahan matanya menatap balik wajah Zello. "Aku akan menikah denganmu," imbuh Veron.


Memang sudah lama Veron ingin menjalani hidup yang sesungguhnya, selayaknya orang-orang. Mungkin, ini awal yang bagus untuk dia supaya bisa keluar dari tempat itu. Terlebih, mengingat ucapan Dave waktu itu. Teringat dengan jelas ucapan Dave yang masih terngiang di memorinya, KECUALI BILA KAMU MENIKAH, baru ia tidak akan menjerat dirinya.


"Aku tahu," ucap Zello datar. "Kamu pasti akan menyetujuinya," imbuh Zello lagi.


Mendengar ucapan Zello membuat Veron bertanya-tanya, sebenarnya seperti apa sifat Zello. "Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Veron.


"Maksudmu?"


"Tidak, hanya sikapmu-"


Tanpa berniat mendengar ucapan Veron lebih lanjut, Zello beranjak dari sana.


"Aneh," gumam Veron.


"Mbak, mau buat apa?"


"Mau buat sarapan, Non. Jangan panggil mbak, Non! Takut dimarahi Tuan Hanif dan Tuan muda Zello. Nama saya Mila, panggil sesuai nama saja. Dan yang itu namanya Dina," jelas Mila.


"Padahal aku manggil begitu biar bisa akrab saja sama kalian," ucap Veron.


"Jangan, Non!"


"Yaudah iya," ucap Veron akhirnya. Veron juga meraih sayuran yang tengah di pegang oleh Mila.


"Mau di apain, Non?"


"Aku bantuin," sahut Veron.


"Jangan, Non!"


Astaga ini orang. Batin Veron.


"Kamu nggak tahu siapa saya? Saya ini calon istri Zello. Berani kamu bantah saya?!" ucap bengis Veron.


"Ah iya iya," sahut Mila terbata. Memang ada orang kaya yang mau beraktivitas di dapur? Pasti wanita ini sengaja ingin cari perhatian Tuan Hanif. Batin Mila.

__ADS_1


Veron sendiri nggak bisa masak, jadi dia hanya mengikuti instruksi dari Mila. Namun, untungnya sayuran ini juga nggak perlu di masak. Veron cukup memotong-motong dan membentuknya sebagian mrnjadi roll dan tidak lupa menuangkan mayones di tempatnya.


"Mila, biasanya tuan minum apa buat teman sarapan?"


"Air putih, Non. Terkadang sesuai keinginan tuan juga. Karena ini menunya salad biasanya minum pakai air jeruk hangat sebagai pendamping."


"Oh ... ok."


***


Veron yang sudah selesai membantu menyiapkan sarapan, bergegas ingin segera mandi.


"Sebentar," ucap Veron pada diri sendiri. "Aku nggak punya baju," imbuhnya lagi.


Menyadari hal demikian, Veron menuju kamar Zello. Dan dimana kamar Zello?


"Di mana kamar Zello?" gumam Veron. Tepat saat ia tengah kebingungan, terlihat Dina yang tengah melintasi dirinya.


"Permisi Non," ucap Dina sopan.


"Eh Dina, dimana kamar Zello?"


"Itu, Non. Samping persis kamar Non Lilie."


"Oh yaudah, makasih." Senyum riang terbit dari bibir Veron.


Tok tok. Dua ketukan di pintu nggak ada jawaban. Nggak mau lama-lama karena merasa tubuhnua sudah terlalu lengket, Veron langsung masuk ke kamar Zello. Dan pandangan Veron tertuju dengan Zello yang juga baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk yang melilit di pinggangnya.


"Kamu? Tidak bisakah kamu menunggu sebentar. Aku baru akan membuka pintunya untukmu." Zello menatap tidak suka ke Veron, terlebih dirinya hanya berlilitkan handuk. Zello yang nggak suka dengan kehadiran Veron langsung mengambil pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi. Sementara Veron memilih duduk di ranjang kasur Zello.


Nggak butuh waktu lama Zello keluar sudah memakai kemeja dengan celana panjang.


"Masih disini?"


"Ada apa dengan Rossa?"


"Apa maksudmu?"


"Kamu akan emosional bila menyangkut dia," ujar Veron datar.


"Kamu tahu?! Tidak terlalu bagus mencintai orang secara berlebihan," imbuh Veron.


"Lebih baik kamy diam. Kamu kubayar bukan untuk jadi kritikus atau penasehat untuk ku."


"Oh iya, aku lupa! Aku kan dibayar untuk jadi istrimu." Veron beranjak menuju almari pakaian Zello. Mencari dasi yang senada denhan jas Zello.


"Aku mau belajar jadi istri yang baik buat kamu." Dengan cepat Veron mengalungkan dasi ke kerah baju Zello dan shet shet.

__ADS_1


"Sepertinya bukan seperti ini." Dahi Veron memgkerut mencoba mengingat cara memakaikan dasi. "Ba-bagai mana caranya?"


__ADS_2