
"Berapa lama aku harus menunggu, dasar gila. Jelas-jelas ada oranglain di sini," gerutu Veron.
Mata Veron menatap ruangan itu dengan seksama, mencoba mendapatkan sesuatu yang bisa ia jadikan untuk mengusir kegalauannya.
"Nggak ada apa-apa," gumam Veron. Pikiran surut Veron teralihkan dengan panggilan masuk di teloonnya lagi.
"Kebetulan sekali." Veron dengan cepat mengangkat panggilan itu.
"Dave."
"Veron, aku merindukanmu," ucap Dave.
"Aku juga."
"Benarkah?"
"Mm ... Dave, sebenarnya aku punya permohonan."
"Sudah kuduga, mendengar suaramu yang begitu manis pasti ada niat terselubung."
"Jadi bisa nggak?" tuntut Veron.
"Bisa, tapi-aku akan mengunjungimu malam ini."
"Aku juga sudah menduganya," cibir Veron.
"Sampai jumpa nanti malam."
Entah sudah berapa lama Veron di ranjang itu. Rasa bosan sehingga membuat dirinya menguap beberapa kali.
"Lilie," ucap Rossa yang sudah di samping ranjang.
"Sudah selesai?" cibir Veron.
"Kamu melihatnya? Baguslah kalau begitu. Aku akan pergi keluar negeri untuk pemotretan. Aku belum pasti kapan akan kembali, tapi yang jelas Zello adalah milikku. Aku harap kita bekerja sama dengan baik."
"Kamu takut? Seharusnya kamu jangan menggunakan jasaku," sahut Veron.
"Pergilah! Kamu bisa pegang kata-kataku," imbuh Veron.
"Terima kasih."
"Darl, aku berangkat dulu ya," ujar Rossa ke Zello yang baru saja ke ruang itu.
"Baik-baik disana!"
"Hm." Rossa mendekatkan bibirnya dan ******* bibir Zello sekilas. "Bye Darl. Love you."
"Bye," sahut Zello.
Sepeninggal Rossa, Zello menatap Veron yang tengah sibuk dengan gawainya.
"Ayo keluar!"
"Kemana?" Veton menatap Zello sekilas dan beralih merapikan pakaian dan rambutnya.
"Fifthing baju."
"Oh ... ok.
***
"Makanlah!" ucap Zello ke Veron.
"Tentu saja," sahut Veron. Meskipun hanya fithing baju dan mencari cincin ternyata sangat melelahkan. "Aku sangat lapar, kamu tega sekali jam segini baru ngajak aku makan," gerutu Veron.
"Bukankah tadi di mobil kamu sudah banyak makan camilan."
"Mana cukup cuma camilan."
__ADS_1
"Ternyata nafsu makan kamu sangat baik."
Veron dengan lahap menyantap makanannya.
"Ini juga, makanlah!"
Zello menyodorkan beefsteak dalam keadaan sudah terpotong.
"Wah, suasana hatimu begitu cepat membaik setelah bertemu Rossa," celetuk Veron dan meraih beef yang sudah dipotongkan oleh Zello.
"Jangan banyak bicara! Makanlah dengan benar!"
"Hm."
Aktivitas Veron terhenti sesaat menyadari Zello yang tengah menatapnya. "Kenapa?"
"Tidak. Aku kenyang melihat kamu makan dengan cara seperti itu."
"Oh. Oya, besok apa kita akan bertemu lagi untuk membahas soal pernikahan nanti?"
"Aku rasa ngga. Entahlah. Nanti aku akan mengirimkan pesan bila ada yang penting."
"Ok."
"Apa -kamu masih bekerja di club?" tanya Zello.
"Mm ... kamu akan membayarku dengan sangat mahal. Jadi aku memutuskan akan berhenti di tempat itu. Hanya saja- bukan berarti aku tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi disana."
Zello mengangguk pelan, "baiklah."
"Lilie ... tanda merah di lehermu kemarin - itu dari -"
Huk huk.
"Minumlah!" Zello mengulurkan minumannya ke Veron dengan cepat.
Rasa lega di wajha Veron setelah minum air itu. "Zello, apa menurutmu aku akan menerima perlakuan nakal para pengunjung disana?"
"Nggak usah ngurusin tanda merah yang ada di leherku. Bukankah kamu juga punya tanda merah yang banyak sekarang?!"
"Ya, kamu benar."
***
Malam hari, Veron baru sampai di depan apartemennya, yang tentunya di antar oleh Zello.
"Makasih Zello, sampaikan salam ku buat Kakek," ucap Veron dan langsung turun dari mobil.
"Lie, boleh aku masuk sebentar. Aku pinjem toilet sebentar."
"Yaudah ayuk. Jangankan pinjam toilet, pinjam kamar juga boleh." Veron terkekeh kecil menggoda Zello.
"Kamu terlalu pintar menggoda pria."
"Apa itu artinya kamu merasa tergoda."
"Aku pikir kamu sudah tahu kalau aku sanga mencintai Rossa."
"Ayolah, tambah satu juga nggak masalah." Veron bergelut manja di lengan Zello.
"Bicara ngawur lagi akan ku lakban mulut kamu."
"Mau ... di lakban pakai bibir ..."
Pletak.
"Aduh sakit." Veron menggosok-nggosok keningnya pakai rambut.
Sepanjang dalam lift, Veron terus menempel ke Zello selayaknya teman. Ternyata Zello mempunyai sikap yang hangat juga seperti Hanif. Mungkin, dulu Zello demikian karena merasa belum akrab dengan Verob. Namun sekarang, hubungan mereka jauh lebih baik.
__ADS_1
Dimana toiletnya?" tanya Zello langsung.
"Kanan," sahut Veron.
Nggak selang lama Zello langsung keluar dari kamar mandi.
"Sudah? Cepat banget. Mau ngopi dulu nggak?"
"Nggak perlu. Ada banyak yang harus kutangani."
"Ok. Hati-hati di jalan."
"Hm."
Sepeninggal Zello, Veron langsung menuju kamar mandi. "Ini ponsel Zello," gumam Veron, dilihatnya ponsel Zello di tempat wastafel toilet. Dengan segera Veron mengambil dan keluar dari sana.
Dengan cepat Veron membuka pintu apartemennya.
"Dave?" Sedikit terkejut, sudah ada Dave di depan apartemennya.
Tanpa membalas ucapan Veron, Dave langsung masuk dan meraih pinggang Veron dan mengangkat tubuhnya masuk ke dalam gendongannya.
"Dave-"
Karena Dave memegang erat pinggangnya dengan kedua tangan, mau nggak mau Veron mengaitkan kakinya di pinggang Dave.
Kaki Veron yang sudah di pinggang Dave, membuat Dave leluasa membuka atasan dan bra Veron dan membuangnya begitu saja.
Dave- mmh -"
Bibir Veron terbungkam sempurna dengan bibir Dave yang langsung menerkamnya.
Mereka saling mengecap, ponsel Zello yang tengah ditangannya ia lempar begitu saja di sofa, dan kedua tangannya sempurna melingkar di leher Dave.
Nggak lama, Dave sudah berhasil membawa Veron ke kamar tanpa melepas pagutannya.
Dave melepas pagutannya sebentar, menatap wajah Veron yang sudah sangat memerah, senyum tipis keluar dari bibir Dave melihat wajah Veron demikian, Dave menempelkan bibirnya lagi sekilas ke bibir Veron. Dan beralih turun dengan iringan lidahnya yang berhasil menyenangkan tubuh Veron.
"Dave." Suara parau Veron, tangannya mrnjambak rambut Dave ketika lidah Dave bermain-main di area sensitifnya. Yang dengan cepat membuat otot tubuh Veron menegang dan lemas secara beriringan.
"Veron," ucap Dave sexy.
"Hm."
Tanpa memberi ruang istirahat buat Veron, Dave terus melampiaskan hasratnya seperti sepasang kekasih yang sudah tidak lama memadu kasih. Menghujani Veron dengan kebutralan, memberikan dan mendapatkan kepuasan dari Veron.
Setelah sekian lama pertempuran selesai Dave langsung memeluk Veron dengan erat, menenggalamkan kepala Veron di dadanya. Veron sendiri sangat menikmati pelukan Dave.
"Veron," ucap Dave.
"Hm."
Veron dengan masih posisi yang sama, menjawab dengan mata tertutup. Namun masih bisa merasakan detak dari dada Dave.
"Tidurlah Dave!"
"Jawab pertanyaanku dulu!"
"Apa?"
"Apa kamu pernah jatuh cinta?"
"Tidak pernah. Dan mungkin tidak akan pernah," sahut Veron.
"Kasian sekali."
"Eh em iya. Kasian sekali diriku ini."
"Bukan kamu. Tapi aku. Kasian cintaku tidak terbalas."
__ADS_1
"Jangan membual! Cepat tidur!" Veron mencubit dagu Dave dengan mata terpejam.
"Sudah kuduga. Kamu tidak akan percaya."