Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Periksa


__ADS_3

Keesokan hari, Zello pagi-pagi sekali sudah berada di panti jompo. Membawa wanita untuk jadi relawan pengganti Veron di sana.


Lagi-lagi Veron harus terpisah dengan keluarga yang baru saja ia dapat dari panti jompo. Meski berat tapi tidak ada jalan lain. Veron juga seorang istri, yang harus melayani suaminya.


"Nanti aku bakal kesini seminggu sekali," pamit Veron.


"Bekerja yang baik disini! Terutama dengan Ny, Alya!" ujar Zello ke orangnya.


"Iya, Tuan."


Keluar dari panti, mereka menuju lapas dimana Pak Adi bekerja.


"Bagaimana bisa kenal dengan orang lapas?" tanya Zello yang tengah di kursi kemudinya.


"Kan, aku kemarin minta perlindungan sama mereka," sahut Veron.


"Ohh."


*****


"Pak! Bisa ketemu pak Adi?"


"Eh, kamu. Sudah besar perutnya. Dia siapa?" tanya kepala lapas.


"Mm, itu suami saya."


"Oh."


"Masuk saja ke dalam! Kebetulan sedang jam istirahat juga kan teman kamu. Kamu bisa membesuk mereka."


"Iya, Pak. Terima kasih sekali."


Veron dengan semangat melangkah menuju bui. Sangking semangatnya hingga melupakan suami yang berada di belakangnya yang ditinggalkan begitu saja. Zello tersenyum tipis melihat punggung istrinya yang mulai menghilang.


"Anda suaminya?" tanya polisi.


"Iya."


"Oh." Polisi yang bertag Bagas itu menatap Zello dengan tatapan yang tak biasa.


"Ada masalah?" tanya Zello tak suka.


"Tidak, istri Anda wanita yang kuat dan unik."


Unik? "Maksudnya?"


"Mm." Pak Bagas berucap dengan pelan. "Apa Anda tahu istri kamu pernah dipenjara?"


"Apa?" sentak Zello.


"Iya. Dia melakukan percobaan penculikan pada bocah."


Zello tersenyum hambar. "Istri saya tidak mungkin seperti itu." Tandas Zello karena emosi.


Pak Bagas tertawa kecil melihat Zello yang tengah emosi, padahal dirinya belum selesai bicara.


"Apa Lilie ada masalah keluarga, atau masalah dari luar?"


Dahi Zello berkerut, namun matanya masih menatap tidak suka. "Maksudnya?"


"Setelah dilakukan penyelidikan, Lilie dinyatakan tidak bersalah. Cuma uniknya, Lilie seakan ingin menjadikan dirinya sebagai tersangka. Kata lainnya dia melakukan itu untuk bersembunyi di penjara. Dari siapanya, mungkin hanya Lilie dan Anda yang tahu. Mungkin lebih baik kalau ada masalah diselesaikan dengan baik!"


Zello mengadahkan kepalanya, menahan untuk air matanya supaya tidak lolos, dadanya sakit. Merasa tidak berguna jadi suami. Bagaimana bisa istrinya bersembunyi di dalam penjara. Panti jompo? Penjara? Apalagi yang tidak ia tahu?!


"Berapa lama istriku dipenjara?" ucap parau Zello. Tidak mengidahkan ucapan Pak Bagas yang menyudutkan bahwa dirinyalah yang membuat Veron melakukan demikian.


"Dua bulan. Tepat saat menyadari dirinya tengah hamil disitu juga keesokannya hasil penyelidikan keluar."


Zello menghapus setitik embun yang ada di sudut matanya. "Aku ingin menyusul Lilie."


"Iya, silahkan!"

__ADS_1


Dengan dibantu polisi lain, Zello masuk ke ruang bui. Memasuki lorong-lorong yang akhirnya langkahnya terhenti. Melihat Veron berada di dalam sel.


"Nanti aku akan bawa sesuatu buat kalian." Suara Veron.


"Tidak masalah. Kita sudah senang melihat kamu dalam keadaan sehat."


Veron tersenyum kemudian pamit dari sana. Veron senang bisa melihat temannya dengan diperbolehkan masuk ke sel.


Veron tersenyum tipis saat sudah membalikkan tubuhnya. Tidak menyangka suaminya akan masuk menyusul dirinya.


"Kenapa?" senyum Veron memudar lihat wajah sendu suaminya. Tatapan dalam tapi penuh iba.


"Apalagi yang tidak aku tahu? Panti jompo, masuk bui. Apalagi?" ucap Zello parau.


"Aku tidak apa-apa," ucap Veron menenangkan. Veron mendaratkan kepala di bahu Zello. Memeluknya dengan posesif.


"Kamu keterlaluan, Lie."


*****


"Tu-tuan!"


Dahi Dave berkerut, menelisik wanita yang ada di depannya. "Ada apa?" ucap Dave dingin.


"Aku hamil."


Dave menyilangkan kaki, menatap dingin Anita. "Terus kenapa kesini? Apa hubungannya denganku?"


Dave mendengus, malas bersitatap dengan wanita yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya.


"Aku hamil anak Tuan."


"Benarkah? Terus, kamu minta apa? Oh, aku tahu. Aku akan bertanggung jawab."


Anita tersenyum lega, dengan begitu anaknya kelak akan dapat identitas.


Hanya dengan jentikan jari, orang Dave langsung mendekat. " Antar dia ke tempat aborsi!"


"Kenapa?"


"Bukan itu maksudnya saya kesini."


"Lalu?"


"Anak ini butuh ayah."


Dave tertawa nyaring, yang kemudian berdiri dari duduknya.


"Kamu minta aku bertanggung jawab. Aku sudah lakukan."


"Aku- aku minta kamu untuk menikahiku."


Dave tergelak, "ayolah, Nona. Memang aku menyuruhmu untuk hamil?"


Anita menelan salivanya, ucapan Dave membuat dirinya emosi. Namun tidak di pungkiri, ucapan Dave yang sangat dingin dan tatapan yang penuh benci membuat dirinya sedikit bergemetar.


'Dasar lemah. Belum apa-apa sudah gemetaran.'


"Tuan, aku mohon! Sebelum perut saya membesar!"


Ah. Anita meringis kesakitan saat tangan Dave mencekiknya. Air mata Anita berkaca-kaca, sementara tangannya terus berusaha melepas tangan Dave dari lehernya.


"Sebenarnya apa maumu hah? Aku bilang aku akan bantu tanggung jawab untuk mengugurkan kandunganmu."


Dave melepas cengkramannya. Menatap bengis wanita yang ada di depannya. "Kalau bukan karena teman Veron, sudahku enyahkan kau."


"Di aborsi itu resikonya besar. Dinding rahimku bisa rusak dan beresiko untuk kehamilanku selanjutnya."


"Kamu pikir aku bakal pakai jasa Abal-abal. Sudah mending aku bantuin. Belum tentu itu anak aku." Ujung Dave menyeringai tipis. "Walau aku mabuk, aku masih ingat kalau kamu sudah tidak perawan."


"Urus dia! Gugurlah kandungannya."

__ADS_1


Dengan cepat orang Dave menyeret Anita sampai keluar ruangannys, tidak memperdulikan teriakan Anita.


"Tuan Bos!"


Orang Dave tergopoh-gopoh menghampiri Dave yang masih di tempatnya.


Apa? Sahutan Dave yang sekedar ia utarakan dengan matanya.


"Wanita tadi mengalami pendarahan."


"Hah. Baguslah, aku tidak perlu bersusah payah lagi."


"Tuan Bos." Sela orang Dave yang baru saja datang menyusul.


Dave mendengus kesal, "kenapa?" lantang Dave.


"Wanita itu pingsan."


Hah. Dave meraup wajahnya kasar. "Bawa dia kerumah sakit!"


"Pecat juga orang c yang memberitahukan alamatku!"


****


Ini kakinya." Dokter dengan telaten menunjukkan bagian-bagian janin yang ada dalam kandungan Veron. "Mm .... mau lihat jenis kelaminnya juga nggak?"


Dalam perjalanan pulang, setelah memasuki kawasan ibu kota, Zello dan Veron sengaja mampir untuk memeriksakan kandungannya.


Veron dan Zello saling pandang dengan senyum.


"Bagaimana? Mau lihat?" tanya Zello.


"Mm ..., rasanya biar jadi surprise saja."


"Bagaimana Tuan?" tanya Dokter.


"Nurut sama istri saja, Dok."


"Oh, baiklah kalau begitu." ujar Dokter obgyn dengan senyum ramah dan yang kemudian membersihkan area perut Veron dari gel.


Tangan Zello tak hentinya meremas lembut jemari Veron. Detak jantung dan bagian tubuh anak yang masih dalam perut istrinya membuat perasaannya seakan meletup-letup.


"Seperti yang kita lihat tadi. Semuanya bagus, dari janin juga kesehatan ibu sendiri."


"Ini saya kasih resepnya ya! Bisa langsung ditebus di tempat farmasi. Sehat-sehat terus untuk keduanya ya! Dan untuk bulan depan bisa periksa dua minggu sekali karena sudah masuk 28 minggu."


"Terima kasih sekali, Dok. Kami permisi."


Dengan wajah haru, Zello dan Veron keluar ruangan. Jalan beriringan berpegangan tangan dengan erat. Melewati lorong -lorong menuju tempat farmasi yang letaknya tepat pintu masuk.


Waktu yang lumayan untuk menebus resep membuat Veron memilih duduk di ruang tunggu. Sementara Zello yang menebus resepnya.


Selesai menebus obat, Zello dan Veron segera menuju tempat parkir.


"Permisi-permisi," suara tergesa yang menuju ruang ugd yang ruangannya terpisah secara khusus. Yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir. Sudah pasti menyita mereka yang berada di area parkir. Seperti Veron dan Zello.


"Itu Anita," gumam Veron yang di bopong oleh seorang pria dan yang dapat sambutan dari petugas rumah sakit untuk dipindahkan ke ranjang dorong.


"Anita," ucap Veron dengan lari kecil.


"Sayang hati-hati!" ucap Zello yang mengiringi Veron.


Veron yang sudah berada di samping ranjang dorong Anita melihat dengan jelas wajah Anita yang pucat, matanya terpejam, sementara ada aliran darah yang membekas di kakinya.


"Anita apa yang terjadi?" Cemas Veron.


"Maaf, harap semuanya menunggu diluar!" ujar petugas yang kemudian dengan langsung menutup ruangannya.


Veron menutup wajahnya dengan kedua tangan, syok melihat keadaan temannya.


"Zello aku -" Suara Veron tercekat saat melihat pria yang tengah tersenyum menyeringai ke arahnya. Orang Dave.

__ADS_1


Belum habis terkejut dengan Anita sekarang terkejut dengan adanya orang Dave. Tubuh Veron bergetar takut. Matanya membulat tak percaya.


__ADS_2