Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Ciuman Di Kening


__ADS_3

***


Sepasang suami istri tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Zello dengan pakaian formalnya dan Veron dengan hairdryernya.


Veron yang tengah duduk di meja rias mencuri-curi pandang dengan pantulan di cerminnya. Pantulan Zello yang tengah mengaitkan dasi di lehernya.


Hairdryer Veron terus ia arakan ke rambutnya, sementara mata Veron terus tertuju dengan pantulan Zello yang nampak kesulitan memakai dasinya. Dasi yang sudah ia simpulkan sendiri dilepaskannya berulang kali, seakan tidak puas dengan hasilnya.


Ceklek.


Dengan senyum mengembang, Rossa masuk ke kamar itu dan langsung merapikan dasi Zello.


" Perfect," ujar Rossa. Nggak sampai disitu, Rossa memajukan wajahnya ke Zello. Memberi sentuhan di bibir Zello dengan bibirnya, menghisap dan membasahi seluruh bibir sexy Zello.


"Rossa." Tangan Zello mendorong bahu Rossa yang membuat ciumannya terhenti.


"Kenapa?" ucap Rossa memelas.


"Tidak apa-apa," sahut Zello akhirnya. Hembusan kasar keluar dari hidungnya.


"Kamu tidak enak karena ada orang lain?" ucap Rossa. Dibelainya wajah Zello dengan jemari halusnya, yang kemudian turun ke area leher.


"Iya," ucap Zello. Diraihnya tangan Rossa yang merayap-rayap di leher dan tengkuknya.


"Ok." Dilepaskannya tangannya dari cengkalan Zello.


"Tapi bisa kan kalau tidak ada dia." Rossa menatap arah cermin. Tanpa sadar, mereka bertiga sama-sama mengarahkan pandangannya ke cermin.


"Ok. Aku keluar," ucap Veron kemudian. Menaruh hairdryer dan beranjak dari sana. Meninggalkan mereka berdua yang tengah dimabuk asmara.


Memilih menuruni tangga dengan rambutnya yang masih setengah basah dan menunggu semua di meja makan untuk sarapan, semua makanan sudah rapi di atas meja. Yang kemudian disusul oleh Maria dan Panee ikut bergabung dengan dirinya.


"Sayang, kamu duduk yang pertama kali," goda Maria.


"Pagi Mah, Pah." Sapa Veron.


"Pagi. Terus Zello mana?" Panee ikut buka suara.


"Masih di atas Pah. Tadi pas mau turun mendadak ada telpon, jadi aku disuruh turun duluan."


"Oh, ok lah."


Mereka yang tengah asyik mengobrol terjeda sesaat dengan hadirnya Hanif. Dan yang terakhir Zello yang turun secara bersamaan dengan Rossa.


"Kalian bisa turun bersamaan?" ujar Maria.


"Kebetulan Mah," sahut datar Zello.


"Benar Tante. Kenapa Lilie tidak turun bersama Zello. Kalian ini tidak romantis sekali," ucap Rossa.

__ADS_1


"Dia terlalu asyik dengan teleponnya. Aku malas bersaing dengan benda mati tapi tak mati itu," ujar Veron.


"Hahaha. Sabar ya Lilie Sayang. Mungkin itu dari client pentingnya."


"Iya, Mah."


"Lain kali meski dapat telepon penting, jangan suruh Lilie pergi. Nanti dia bakal mengira yang tidak-tidak nanti." Meski yakin itu telepon penting, tapi Maria menatap jengkel ke Zello, yang sibuk dengan ikatan dasinya.


"Dasinya kenapa? Terlalu ketat?" tanya Maria.


"Sepertinya." Zello sudah pasrah dengan dasinya, memilih menaruh tangannya di atas meja.


Maria tersenyum kecil ke Veron yang tengah menatap ragu ke Zello. "Lilie, coba kamu yang benerin simpul dasi Zello. Biasanya dari istri akan selalu pas dan nyaman."


Eh, Veron tertegun mendengar ucapan Maria. Apa bisa seperti itu. Lagipula, dirinya kan tidak bisa memasang dasi.


"Tapi - Lilie belum bisa Mah." Meski malu, tapi Veron memilih jujur, daripada sok tapi ujungnya malu-maluin.


"Bagus dong. Ini bisa sekalian buat belajar. Ayo! Mumpung pada belum mulai sarapannya." Maria berdiri dari duduknya beralih ke tempat Zello.


"Ayo, sini mama ajarin!" Maria sudah tepat di samping Zello.


Melihat antusias Maria, Veron mendekat ke Zello.


"Zello kamu berdiri dong!" ucap Maria geram.


Melihat Zello yang sudah posisi siap untuk dirapikan dasinya, Veron berdiri tepat di depannya. Menggerakkan tangannya, merapikan dasi dengan perlahan. Meski sudah sekian menit, namun tidak kunjung bisa juga. "Mama ... katanya mau ngajarin," ucap Veron memelas.


Adegan sederhana namun malah terlihat romantis. Mata Panee tertuju dengan bibir Zello yang sedikit melengkung ke atas.


"Nggak masalah di lama-lamain. Papa rasa Zello malah suka." Setelah berucap Panee beralih pura-pura sibuk dengan memandang takjub menu sarapannya.


"Wah, sarapannya terlihat menggiurkan," ucap Panee kemudian.


"Mama, bagaimana? Papa keburu lapar." Meski berucap demikian, namun Veron tidak mengacuhkan kalimat Panee yang pertama. Mencoba menatap Zello sekedar ingin tahu reaksinya setelah mendengar godaan Panee. Sesaat wajah Veron memerah karena Zello telah duluan menatapnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" ucap Zello pelan.


"Tidak ada." Mana berani Veron berfikir yang tidak-tidak. Terlebih ada Rossa. Veron yakin Rossa tengah menatap intimidasi dirinya.


Lagipula, mereka kan statusnya memang pengantin baru. Sudah wajar dapat godaan seperti yang diutarakan Panee. Lambat laun semua akan kembali ke suasana normal. Dan Veron hanya terkejut saja saat Zello tengah menatapnya, ya hanya terkejut.


"Lilie, coba kamu lihat dasinya! Kamu bisa merasakan itu dalam keadaan ketat atau longgar. Saat kamu mau merapikannya. Kamu harus tahu dulu kondisi dasi itu sendiri." Maria memberi arahan dengan sangat bagus, Veron mengangguk mengerti.


"Ini terlalu ketat Mah."


"Kalau terlalu ketat, kamu harus melonggarkan sedikit untuk merapikannya. Tadi rapi tapi ketat, karena kamu otak-atik jadi ketat plus berantakan," ucap Maria dengan kekehan kecil.


"Jadi, ini dilonggarkan dulu." Veron berucap dengan dahi berkerut. "Mm ... "

__ADS_1


"Tarik bagian atas simpul sedikit." Potong Maria.


Dengan perlahan Veron mengikuti arahan Maria. "Terus rapikan," timpal Veron. Veron merapikan bagian simpul yang terlihat berantakan. "Dorong ke atas. Finish." senyum mengembang tertuju ke dasi yang ia rapikan dengan sempurna.


"Bagaimana Suamiku? Terlalu ketat nggak?" ucap Veron.


Cukup lama Veron menanti sahutan dari Zello. Sedikit heran, apa perlu selama itu untuk menjawabnya.


"Aku lapar." Suara bibir tak terduga dari Zello. Zello juga langsung duduk di kursinya lagi.


"Yaudah makan aku kalau gitu," goda Veron.


"Ehem. Ayo sarapan! Sudah siang," sela Maria. Maria dengan cepat kembali ke tempat duduknya, begitu juga dengan Veron.


Semua wajah nampak sumringah, meski ada satu tangan terkenal di bawah meja.


Nggak butuh waktu lama buat sarapan,karena memang saat sarapan menunya pun juga simple.


"Aku ada meeting pagi." Zello menyudahi sarapannya dengan memimum susu hangatnya.


"Berangkat dulu Mah Pah," imbuh Zello.


"Sst." Kode keras Maria ditujukan ke Veron. Matanya berkedip berulang kali dan memicingkan matanya ke Zello.


Ah? Apa aku disuruh mengantar Zello ke depan. Batin Veron.


Sepertinya iya. Begitu kan tugas istri. Batin Veron lagi.


"Aku juga berangkat sekarang ya Sayang. Kapan lagi main ke perusahaan anak." Panee beranjak menyusul Zello.


"Lilie, ayo!"


Tanpa menunggu Veron, Maria mengimbangi langkah suaminya. Sekian detik Veron juga menyusul Zello.


"Hati-hati di rumah Sayang," ujar Panee. Bibirnya ia daratkan di kening istrinya.


"Kamu juga Sayang." Maria tersenyum manis, mencubit hidung Panee gemas.


Sementara Zello yang sudah di depan mobil ragu antara mau pamit sama Veron atau tidak.


"Zello. Benar kata Rossa, kamu itu tidak ada romantis-romantisnya sama istri," celetuk Panee.


Nggak mau lama-lama Zello tersenyum kecil ke Veron. "Aku berangkat ya."


"Hati-hati." Veron melambaikan tangan ke Zello yang masih di depan mobil.


"Sini!" titah Zello.


Ha? Meski bingung. Veron menuruti ucapan Zello.

__ADS_1


Sekian detik bersitatap dengan jarak dekat, Zello melangkahkan kakinya menghilangkan jarak diaantara mereka. Cup. Ciuman lembut mendarat di kening Veron.


Tanpa sadar Veron menyentuh kening bekas ciuman Zello. "Makasih."


__ADS_2