
"Zein awas!"
Julia menatap takut yang dilihatnya. Dadanya berdegub kencang. Air mata dengan gampanya lolos dari mata Julia. Pria dengan senjata yang telah ditodongkan ke kepala Zein. Membuat Julia membatu sesaat. Setelah sekian menit Julia meraih handel pintu mencoba keluar.
"Tidak perlu keluar!" titah pria itu dengan dingin.
Zein memicing ke arah samping, dimana pria dan bayangan pistol itu terlihat olehnya. Detakan jantungnya begitu menghentak-hentak. Kejahatan ada di depan matanya dan dirinya sendirilah korbannya.
"Tuan. Tolong jangan lukai suami saya. Ambil barang berharga kami. Tapi jangan lukai suami saya," mohon Julia. Dirinya benar-benar panik. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Jalanan terlalu sepi, mustahil akan ada yang mendengar bila ia berteriak.
Tak.
Tepisan kuat dari Zein ke lengan pria itu. Tapi sayangnya Zein dengan mudah tertangkap lagi. Pria itu dengan kasar meraih kerah Zein. Membuat kemeja Zein berantakan dan satu kancingnya terlepas.
"Aku tidak pernah memiliki musuh. Siapa kamu? Perampok? Ambil semua yang ada. Ada ponsel, mobil."
"Benar Tuan. Silahkan ambil mobil ini," ucap Julia cepat.
"Ada istrimu juga,"celetuk sang pria.
Seperti melihat kilatan di depan mata. Ucapan pria itu benar-benar membuat Julia ketakutan. Julia melihat suaminya yang berekspresi tak kalah terkejutnya.
"Hm?"
"Zein." Lirih Julia yang terdengar penuh hiba.
"Ter-terserah."
"Zein!!" teriak Julia. Baru saja ia menangisi suaminya yang jadi Korban dari kejahatan. Tapi sekarang suaminya malah mengorbankan dirinya.
"Wah, hebat. Apa kamu yakin?!"
"Ya-yakin."
"Zein kamu sudah gila. Aku benci kamu. Kamu terkutuk. Kamu bukan manusia." Julia menangis histeris. "Kamu jahat, Zein."
"Kamu keluar!" titah pria ke Julia. Dengan cepat Julia menggeleng. Julia memeluk erat tubuhnya sendiri. Merasakan ketakutan yang teramat dalam.
"Kalau tidak aku akan melepas bidikan ini."
Julia melihat Zein yang masih tidak berdaya di sana. Tapi apa bedanya sekarang. Zein sudah mati di mata Julia.
"Satu-"
"Aku tidak mau." ucap bringas Julia.
"Lalu? Kamu ingin membiarkan aku membunuh suamimu? Begitu Nona?"
Air mata tak hentinya mengalir di pipi Julia. Apa harus menyerahkan diri untuk membuat suaminya bebas. Sementara Zein tidak pernah memikirkannya. Julia menggeleng lemah. Tapi dirinya juga tidak sanggup melihat suaminya di bunuh. Ini sangat menyakitkan.
Julia bergeming di tempatnya. Buliran air matanya seakan tak akan pernah bisa surut.
"Baiklah, aku akan melakukannya sekarang."
Julia bergeming, dalam keadaan sedikit menunduk karena ketakutan.
"Dor."
"Zein!!" Raga Julia seakan ikut melayang mendengar bidikan pistol itu. Dilihatnya Zein yang masih dalam keadaan yang sama. Tak ada yang kurang dalam dirinya. Hanya saja Zein terlihat ketakutan seperti dirinya.
Dada Julia naik turun. Meski bidikan itu tidak ditujukan ke Zein, tapi berhasil membuat dirinya semakin ketakutan.
"Kamu masih ada kesempatan. Sini!"
Dengan tangan gemetar Julia membuka pintunya. Turun dari mobil. Berdiri cukup lama di depan pintu. Titah untuk mendekat dari pria jahat itu terpaksa ia turuti. Jalan perlahan mendekat ke pria tadi.
"Rogoh celanaku!"
"A-apa?"
"Saku celanaku."
Sedikit bingung Julia merogoh saku celananya. Dirasakan oleh tangannya seperti kain. Dia ambil dan tunjukkan ke arahnya.
"Kembali ke mobil dan bawa sapu tangan itu!"
Julia menurut, keringat dingin sudah ia rasakan di semua bagian tubuhnya.
Julia kembali duduk di kursi mobilnya, menatap kosong benda yang ada ditangannya.
"Nona!"
Suara pria itu berhasil membuatnya tersentak. Menoleh ke pria yang masih dengan kuasa memperdaya Zein. Hanya saja posisi tangannya beralih mengapit leher Zein. Sementara tangan satunya masih memegang pistol.
"Nona coba kamu cium sapu tangan itu!"
"Ayo! Lakukan!" sentaknya.
Dengan perlahan Julia mencium sapu tangan itu perlahan. Dan- tubuh Julia bersandar lemas di kursinya.
"Nona!"
"Nona!"
Penjahat itu menoleh ke Zein dengan wajah datar. "Sekarang saatnya."
"Mak- maksudnya," tanya Zein terbata. Dirinya tahu betul ujung pistol itu menekan pelipis keningnya. Tangannya bergetar hebat dan menelan salivanya dengan susah payah.
"Bukankah sudah kuberi semua? Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Sayangnya tuanku tidak menginginkan semua itu. Tuanku menginginkan ....kamu."
Dorr.
Dorr.
Brukk.
Tubuh Zein terkulai jatuh ke tanah. Dua bidikan peluru berhasil menembus dada Zein. Aliran darah dengan perlahan menjalar ke jalan.
Dengan membungkuk, pria itu mendekatkan jarinya tepat di depan hidung Zein.
Helaan nafas keluar dari pria itu. Tugasnya sudah selesai dan pekerjaannya akan berakhir sebentar lagi. Dirinya tidak akan pernah membunuh orang lagi.
Diraihnya ponsel yang ada di sakunya. Mengirim pesan ke tuannya dengan segera.
Zein hanyalah sekedar ceo. Tapi keluarga istrinya punya kendali dalam segala hal.
Bila dirinya sampai tertangkap, meninggalnya Zein tidak ada artinya bagi tuannya. Misinya dianggap gagal oleh tuannya.
Gagalnya misi akan berimbas ke semua orang yang ia cintai. Inilah resiko jadi bala seorang mafia. Sudah banyak juga rekannya mengalami hal serupa dengan dirinya. Ah, sebentar lagi dirinya akan menyusul mereka ke neraka.
Setitik embun muncul di sudut mata. Ia biarkan terjatuh bergulir di pipi. Inilah tangis terakhirnya.
__ADS_1
Dorr.
***
Dahlia menyilangkan kedua tangannya di dada. Zico benar-benar dingin.
"Zico," panggil Dahlia. Sementara Zico hanya diam fokus di jalannya.
Dahlia dan Zico sebelumnya sekedar kenal. Karena Zico sekali-kali ke rumah Hanif. Berbeda dengan sekarang. Karena jadi asisten nonanya, Dahlia sering berjumpa dengan Zico.
Hahh. Dahlia membuang nafas kasar. Kesal dengan dirinya sendiri. Terlalu terbawa perasaan. Padahal waktu itu Zico tidak melakukan apapun. Hanya menunggui dirinya saat menelepon nonanya. Itupun hanya itungan menit.
'Oh, astaga Dahlia kamu memang tidak waras. Memiliki rasa untuk pria macam bongkahan batu. Kapan pula batu itu berubah jadi bongkahan es batu?!'
"Zico." ulang Dahlia.
"Hm."
"Mm, tadi suaraku bagus tidak?"
"Aku tidak mendengarnya."
"Masa tidak mendengar," cetus Dahlia.
Dilihatnya Zico yang acuh tak acuh. "Huh, untung aja ganteng."
"Zico karena tadi kamu tidak mendengar laguku. Sekarang aku nyanyi ya?!"
Tanpa persetujuan Zico suara Dahlia mengalun indah.
"Sudah hentikan!" ucap Zico.
"Kenapa? Suaraku tidak bagus?"
"Bagus."
"Lalu?"
Zico mendesah kesal. Dan langsung menambah kecepatannya. "Brummmm."
"Aaa." Teriak Dahlia terkejut. Tapi itu hanya sekian detik. Karena suara Dahlia jadi tawa lebar setelah mobil melaju normal. "Hahahaha. Kamu ini. Selalu saja begitu," ucap Dahlia. Meski begitu dia memegang sealtbeltnya karena terkejut.
"Kalau aku tidak boleh bernyanyi apa aku boleh mencium?"
Brummm.
"Aaaa..... Zico... .." Tidak yang seperti sebelumnya Zico melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hanya sekedar untuk menggertak. Tapi kali ini mobil melaju dengan kencang tanpa ia kurangi sedikit pun kecepatan dalam waktu yang lama. Lengangnya jalan membuat Zico semakin leluasa menambah kecepatan.
"Zico sudah ....!"
"Aku mohon Zico. Maafkan aku."
Hampir setengah jam Zico melajukan mobilnya dengan brutal.
"Zico ...." Lirih Dahlia berbaur isakan kecil. Dirinya benar-benar ketakutan.
Suara derungan mobil mengalahkan isakan Dahlia. Yang membuat Zico nyaman di kecepatan penuhnya.
"Bruuuummm."
Tidak butuh waktu lama memasuki area perumahan Hanif. Zico mengurangi kecepatannya. Mobil melaju normal.
Mata Zico memicing melihat satu tangan Dahlia yang memegang erat tuxedonya. Baru ingin bersuara Zico terkejut dengan isakan Dahlia.
"Dahlia," ucap Zico pelan.
Tidak ada sahutan dari Dahlia. Dirinya masih terisak karena takut. Jemarinya pun masih sangat erat memegang erat tuxedo Zico.
"Dahlia buka matamu!"
Dahlia menggeleng cepat. Zico menatap lekat Dahlia yang tengah terpejam. Dahlia terlihat sangat ketakutan.
Bunyi klakson dan berhentinya mobil membuat Dahlia tahu mereka sudah sampai di rumah Hanif. Perlahan Dahlia membuka mata dan melepas tangannya dari pakaian Zico.
"Dahlia-"
Enggan mendengar ucapan Zico, Dahlia langsung keluar mobil dan segera berhambur masuk ke rumah.
Zico meraup wajahnya dengan kasar dan terdiam melihat punggung Dahlia yang menghilang di balik pintu.
Zico mengacak rambutnya, gusar. Baru kali ini dia membuat wanita menangis.
***
"Sayang, itu mobil Zico." Unjuk Veron. Zello yang tengah menyetir pun memicing melihat mobil yang berlawanan arah dengan dirinya.
Tin. Bunyi klakson Zello.
Dilihatnya Zico yang tak merespon klaksonnya. "Hm, asisten yang sombong," ujar Zello.
"Hahahaha, mungkin dia marah karena kamu mendesaknya untuk mengantar Dahlia."
"Ya, bisa jadi." Zello manggut-manggut setuju. Zello menoleh ke Veron sepenuhnya. Sebentar lagi mereka akan sampai rumah. Rasanya ingin segera istirahat dengan memeluk guling hangat kesayangan.
***
Sesampai depan rumah. Zello dengan sigap keluar mobil dan segera menuju pintu istrinya. Tanpa memberi Veron izin untuk menginjak bumi. Zello langsung meraih tubuh Veron dan di bopongnya.
"Zello," ujar Veron. Namun begitu Veron sangat senang. Ada perasaan yang menggebu-gebu dalam dirinya.
Untuk memberi nyaman ke Zello, Veron mengalungkan tangannya di leher Zello.
"Aku tahu kamu lelah," ucap Zello. Seperti tanpa beban, Zello dengan mudahnya membawa Veron menaiki tangga yang masih dalam posisi yang sama.
Sampainya mereka di depan pintu, Veron mendorong handle pintu dengan satu tangan.
Zello menurunkan Veron dengan perlahan dan tapi tidak memberi kesempatan Veron untuk memberi jarak ke mereka berdua. Dengan erat Zello memeluk tubuh istrinya. Merasakan degub jantung mereka yang saling bersautan. Tanpa melakukan apapun nafas mereka sudah naik turun.
Dicakupnya wajah Veron dengan kedua tangannya, dan melabuhkan bibirnya di bibir istrinya.
Menikmati bibir istrinya yang sudah membuat dirinya candu. Zello dengan rakus memakan bibir manis Veron. Ulah Zello akan membuat bibir istrinya bengkak karena kerakusannya.
Veron terengah-engah, sangat menikmati kerakusan Zello. Mengimbangi dengan cara yang sama. Melahap satu sama lain.
Zello beralih ke leher Veron, menikmati manis dan wangi kulit istrinya.
Desisan Veron membuat Zello semakin liar. Tangannya dengan perlahan menurunkan resleting dress Veron. Terbukanya punggung Veron membuat Zello leluasa memasukkan tangannya, menggerilya dengan bebas di tubuh halus Veron. Meremas kulit Veron dengan lembut dengan bibir yang masih berpacu di leher.
Nafas Zello terengah-engah, tidak hanya memberi ruang untuk mereka istirahat, tapi juga menahan hasrat yang sudah di ubun-ubun.
Lusa mereka akan pergi. Dirinya ingin itu yang menjadi spesial. Lagipula lampu merah Veron belum selesai.
"Aku mandi dulu," ujar Zello. Ia mendaratkan kecupan di kening Veron dengan cepat dan segera berlalu menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Veron tertegun di tempatnya. Setelah Zello memasuki kamar mandi dirinya seakan baru saja bernafas. Veron memegang dadanya yang masih naik turun. Hasratnya sudah menggebu-gebu.
"Apa aku bilang saja kalau aku sudah bersih," gumam Veron.
Wajah Veron bersemu merah, mengingat kebrutalan Zello. Sesaat Veron menyentuh bibirnya. Bengkak?
Veron beranjak ke meja rias. Melihat bibirnya yang benar-benar bengkak. Tidak hanya itu. Mata Veron juga tertuju ke lehernya yang tertinggal dua jejak Zello. Veron menyentuh bekas itu lama, entah kenapa hatinya berbunga-bunga melihat kissmark dari Zello.
Suara handle kamar mandi membuat Veron melepaskan tangannya dari leher. Beralih melihat pintu kamar mandi, dan menyembulah Zello dengan rambutnya yang basah menggoda.
Senyum tipis bertengger di bibir bengkak Zello. Hampir saja Veron tertawa.
Zello melangkah menuju ranjang, dirinya sudah memakai boxer. Dan tanpa memakai baju. Membuat Veron menelan salivanya.
"Sayang. Buruan bersihkan dirimu!" ucap Zello.
"Ah iya." Sahut Veron. Pandangan matanya terarah ke Zello yang melepas sprei.
"Mau ganti sprei sendiri? Tumben?"
"Hah? Iya." Zello dengan cepat menggulung sprei itu siap dia bawa ke ranjang kotor.
"Kamu tembus," bisik Zello.
"Hah?"
***
Veron yang di kamar mandi merutuki dirinya yang sekarang benar-benar lampu merah. Padahal lusa mereka akan berangkat. Apa yang akan ia katakan nanti?
Selesai membersihkan diri Veron keluar dan langsung merangkak naik menyusul suaminya yang sudah ada di ranjang. Mata Veron tertuju dengan sprei yang sudah di pasang Zello.
"Sayang," ucap Zello.
"Hm."
"Sini!" titah Zello sembari menarik tubuh istrinya.
***
"Aduh... jam berapa sekarang? Alarmnya berisik sekali," gerutu Zello.
Veron pun demikian merasa terganggu. Dengan segera ia menutup wajahnya penuh dengan selimut untuk meredam suara bisik itu.
Zello yang melihat tingkah Veron menggeleng lemah. Di ciumnya pipi Veron dengan dalam. Yang kemudian beralih mencari alarmnya. Tapi ini bunyi ponselnya. Batin Zello yang baru tersadar.
"Siapa pagi-pagi begini."
Zello segera mengangkat panggilan yang ternyata dari Zello. Sudah pasti ada hal yang penting.
"Ada apa?" hardik Zello. Meski tahu itu penting. Tapi tetap saja membuatnya kesal.
"Apa?" Zello langsung bangun dari tidurnya. Beralih duduk di bibir ranjang.
Veron yang mendengar suara terkejut merasa terganggu. Perlahan dirinya membuka selimut yang menutup wajahnya. Mengamati suaminya dalam diam.
Zello dengan sigap menuju kamar mandi. Dan berhasil membuat Veron terheran.
Veron turun dari ranjang. Menunggui Zello yang sedang di kamar mandi dengan gelisah.
Zello yang baru keluar kamar mandi langsung menuju almari pakaiannya. Memilah baju yang akan ia kenakan.
"Zello ada apa?" tanya Veron panik.
Gerakan tangan Zello terhenti, sesaat menoleh ke Veron. "Zein meninggal."
"Apa?"
"Kenapa bisa?" Detak jantung Veron berdetak lebih kencang. Ini seperti mimpi baginya.
"Dia dibunuh," ucap Zello pelan. "Aku harus kesana."
"Kamu mau ikut?" sambungnya.
"Aku... mungkin nanti siang."
"Baiklah."
***
Dave sudah rapi dengan setelan casualnya. Kemeja celana panjang dengan sepatu kulitnya.
Dirinya yang baru saja ingin masuk mobil tertunda karena kehadiran Veron. Dilihatnya Veron dengan tshirt yang menutupi sampai leher dan bawahan celana jeans. Rambutnya yang bergelombang sebahu melambai-lambai menambah nilai plus untuk wajahnya.
"Dave," ucap Veron dengan nafas terengah dan mata memerah.
"Ada apa denganmu? Aku harus segera pergi."
"Dave katakan, kalau bukan kamu pelakunya."
"Maksudmu apa?"
"Aku sudah bilang Dave. Dia biar aku yang mengurusnya." Veron menangis isak di tempatnya.
"Dia pantas mendapatkannya. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang dia bicarakan denganmu di acara semalam?!" sinis Dave.
"Aku bisa mengatasinya Dave."
"Dia tidak akan menyerah Veron. Aku hafal betul karakter dia." Dave meraih handle pintu mobil siap untuk masuk.
"Dave," cegah Veron. "Apa kamu tidak melihat betapa besar rasa Julia ke Zein, Dave. Kamu tidak hanya melenyapkan seorang suami. Tapi juga seorang ayah. Kamu jahat Dave." Lirih Veron berbaur isakan tangis.
"Tidak Veron. Dia tidak pantas menjadi suami, ayah atau pun kekasih. Dia sudah pergi. Biarkan dia pergi! Jangan pernah menangis untuknya! Pulanglah! Jangan membuat orang di sekelilingmu curiga. Dasar ceroboh."
"Kamu salah Dave. Dia akan jadi suami dan ayah baik. Dia akan berubah Dave. Kenapa kamu terlalu egois!" hardik Veron.
"Dengarkan ini baik-baik!"
Dave memutar kiriman rekaman suara yang ada dalam ponselnya. Terdengar jelas percakapan dengan tiga suara berbeda, Zein, Julia dan seorang pria. Tidak banyak percakapan itu. Tapi yang jelas Zein menyerahkan Julia ke pria asing itu.
"Dia tidak pantas jadi suami, Veron." ucap Dave.
"Tapi tidak seharusnya kamu berbuat semaumu Dave," lirih Veron.
"Aku berbuat demikian untuk kebahagiaanmu, Veron. Untuk senyummu. Tapi apa yang kamu lakukan? Pulang! Tindakanmu ini akan membuat semuanya berantakan."
"Untuk senyumku? Apa aku sekarang terlihat sedang tersenyum, Dave? Hah? Justru karena tindakanmu aku tak kan pernah bisa senyum lagi karena dihantui rasa bersalah."
Dave menatap Veron frustasi, Veron sangat keras kepala.
"Pulang....! Atau hidup bersamaku?" Tekan Dave sembari menarik pinggang Veron cepat. Menghapus jarak antara mereka.
Tangan Dave yang perlahan mengendur membuat Veron langsung mundur memberi jarak. Veron tahu, Dave tidak main-main di setiap ucapannya.
__ADS_1
Dengan pikiran kacau Veron beranjak menjauh dari pandangan Dave. Melangkah dengan perasaan kecewa, sedih dan penuh penyesalan.