
Sebenarnya masih banyak yang ingin ditanyakan oleh Dahlia. Tapi dirinya sudah terlanjur kecewa. Yang benar saja, dirinya jadi asisten wanita seperti Veron, wanita yang rela jadi istri bayaran demi uang.
"Kasian banget Tuan Zello, dikelilingi wanita-wanita gila," gumam Dahlia.
Di lain tempat, setelah perginya Dahlia, Veron menuju kamar Zello. Memasuki ruang itu dan langsung mendapati Zello yang tengah memegang gawainya.
"Sudah rapi?" tanya Zello tanpa melihat wajah Veron.
"Hm. Tinggal nunggu sarapan, habis itu kita bisa pulang." Veron juga langsung beralih duduk di ranjang ikut memainkan ponselnya.
[Sombong banget ]
Satu pesan dari Anita yang membuat Veron mengkerutkan dahi.
[Sombong apa] balas Veron.
[Bisa-bisanya kamu tidak menyapaku sama sekali saat pesta semalam]
[Aih, seriusan aku lupa. Maklum, sekarang aku sudah jadi horang kaya]
Senyum tipis tersungging di bibir Veron, terbayang Anita yang tengah manyun dengan bibir ke kiri dan kekanan. "Hahaha." Tawa Veron pecah membayangkan wajah kesal Anita.
Tubuh Veron juga beralih tiduran, dengan senyum tipis dia menggerak-gerakkan kakinya di kasur. Susana hatinya benar-benar sangat baik dan dia merasa bahagia sekarang.
"Kamu sakit." Zello berucap dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi Veron.
Eh.
"Iya aku sakit, sakit hati. Bisa-bisanya kamu menikah denganku tapi malam pertamanya dengan dia huhuhu." Veron sudah seperti artis papan penggilisan, berucap dengan mendrama guna menggoda Zello. Bahkan ia juga langsung memeluk pinggang Zello.
"Wah, sudah berani kamu." Pletak. Zello menyentil dahi Veron hingga memerah.
"Aw sakit."
"Telepon Dahlia! Aku sudah lapar."
"Sabar, sebentar lagi juga sampai."
Tok tok tok. "Nona, Tuan. Sarapannya."
"Tuhkan." Veron bergegas bangun untuk membuka pintu kamarnya.
"Nona, ini sarapannya ...." Dahlia memasang wakah datar ke Veron, tidak seperti sebelumnya yang selalu masang sikap manis.
"Terima kasih. Kan ada pramusaji juga. Kenapa kamu repot-repot mengantarnya sendiri?"
"Nggak apa Nona. Ini juga termasuk tugas saya."
"Hm, yaudah terserah."
"Sini, aku bantu!" Zello mengambil piring dan minumnya sendiri dan juga langsung duduk di kursi makannya.
__ADS_1
"Itu bukan bantu. Tapi keburu laper." Veron juga langsung mengambil sarapannya. "Terima kasih ya Dahlia."
"Sama-sama Nona. Permisi."
Dengan cepat Veron duduk di samping Zello, ikut makan dalam diam. Dan sesekali mencuri pandang ke pria yang bersandang 'suami' untuknya.
"Kenapa?" Suara datar Zello yang sadar akan ulah dan tatapan Veron.
"Mm ... aku baru tahu. Kalau ternyata kalian berdua adalah sahabat di mata orang lain."
"Siapa yang memberitahumu?"
"Nggak ada, aku sendiri. Aku nggak sengaja melihat foto kalian berdua di kamarmu. Foto saat masih kecil, terlihat jelas kalian bersahabat dengan baik di foto itu."
"Benarkah? Tahu dari mana itu foto kami?"
"Mm, kalian mirip saat masih kecil." Dengan cepat Veron menjawab, walau sebenarnya ia demikian supaya Zello nggak curiga.
"Aku fikir dari Dahlia. Karena, foto itu sudah lama aku simpan."
"Oh." Merasa terjebak dengan ucapannya sendiri. Sekarang Veron hanya diam dan sedikit menunduk.
"Makanlah yang benar!"
"Hm."
***
Siang hari, Zello dan Veron sudah berada di rumah besar Hanif. Disana juga ada Panee dan Maria.
"Terima kasih Mah."
"Sudah pada makan?"
"Sudah tadi sarapan Mah. Kebetulan sarapannya telat, jadi jam segini masih kenyang." Veron tersenyum tipis ke semua anggota rumah ini. Tidak lupa mencium punggung tangan Hanif dengan bakti. Senyum senang tergambar jelas di wajah Hanif. Veron merasa Hanif sangat tulus dengan kehadiran dirinya sebagai anggota baru di keluarga itu.
"Kalau sudah makan. Kalian istirahat saja lagi di kamar. Lagipula siang-siang seperti ini nggak cocok untuk melakukan rutinitas." Panee bersuara dengan kesan yang sangat hangat. Meskipun dia adalah laki-laki. Seperti mimpi, Veron mendapatkan keluarga yang benar-benar bisa menerima dia dengan sangat baik.
"Baik, Yah." Dengan perlahan Veron meninggalkan ruangan itu melangkah beriringan dengan Zello menaiki tangga.
"Lie!" Panggil Zello.
"Kamu mau ngapain?" tanya Zello yang melihat Veron menuju kamar tamu.
"Istirahat sebentar."
"Kamarmu bukan disitu. Tapi di sini, sekamar denganku." Cegah Zello di depan kamarnya, tepatnya di sebelah kamar tamu Veron.
"A-apa?"
"Nggak usah pura-pura terkejut. Bukanya kamu menginginkannya."
__ADS_1
Ah iya ya, kenapa aku terkejut. Bukankah aku sudah biasa tidur dengan lelaki. Tetapi masalahnya, apa pernikahan kontrak itu wajar kalau sekamar? Apa pernikahan kontrak itu harus ada adegan panas di ranjang? Tapi Rossa bilang ...
"Lihat kamarnya sekiranya apa yang kurang bisa kamu bilang langsung ke Dahlia atau Pak Diman." Zello memasuki kamarnya dan duduk di bibir ranjang dengan sembari tangan membuka sepatunya.
Hm? Veron yang fokus dengan pikirannya sebagai istri kontrak, sampai tidak sadar langkah kakinya sudah berada di kamar Zello.
Terpampang kamar Zello yang sudah jauh berbeda dengan yang terakhir dilihatnya. Ada tambahan sedikit sentuhan berupa barang untuk wanita. Dan tambahan perabot mebel khusus untuk tempat barangnya nanti.
"Mungkin kalau aku sudah tidur disini sehari dua hari baru tahu apa yang kurang." Veron ikut mendudukkan dirinya di bibir ranjang. Menyentuh ranjang kasurnya yang empuk yang akan ia tidur nanti, tepatnya yang akan mereka tidur.
"Tidurlah!" ujar Zello.
"Kamu?"
"Kenapa? Apa kamu ingin di temani tidur?" senyum licik keluar dari bibir Zello.
"Aku hanya ingin tanya. Mm ... nggak jadi."
Veron langsung membaringkan tubuhnya dan mengambil guling untuk dipeluknya. Baru dua detik Veron memejamkan mata terdengar kekehan Zello.
"Kenapa?" tanya Veron .
"Nggak ada."
Meski begitu, masih ada kekehan kecil dari bibir Zello.
"Aku tahu maksud dari kekehanmu itu." Veron beralih duduk dengan memeluk gulingnya. "Bisa-bisanya kamu menertawakan orang tidur dengan memeluk guling. Hal seperti ini lumrah."
"Lumrah? Yang ada seperti anak kecil."
"Anak kecil?" Buk. Guling yang awalnya ia peluk ganti ia pukulkan ke tubuh Zello berulang. Buk buk buk.
"Berhenti! Apa kamu gila?"
"Aku nggak gila. Aku sakit. Sana keluar! Ganggu orang istirahat saja." Gerutu Veron, masih memukulkan guling ke tubjh Zello.
"Dasar anak kecil," ucap Zello sembari menjauh dari ranjang itu.
Sepeninggal Zello, Veron kembali memeluk gulingnya. Menyadari yang dirinya sekarang seorang istri, seorang menantu seorang cucu mantu. "Aku benar-benar punya keluarga sekarang." Buliran air mata merembes dari sudut matanya. Meskipun hanya istri kontrak tapi hatinya terus bertalu-talu, mendapatkan sesuatu yang tidak pernah ia duga secepat ini. Membuat dirinya merasa sangat senang.
"Aku nggak lama tinggal di sini. Aku harus menggunakan waktu sebaik mungkin." Senyum tipis mengiringi jatuhnya air mata yang terus merembes dari air matanya. Sampai lelah, Veron akhirnya larut dalam tidur siangnya yang nyaman.
Terlalu lama Veron tidur siang, masih seperti mimpi ia berada di kamar Zello. Dengan mata masih sayu, Veron menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan dengan manis ia duduk di meja riasnya. Meskipun ia tidak ingin keluar rumah. Paling tidak ia harus memperhatikan penampilannya.
Di keringkannya rambut gelombang sebahunya dengan hairdryer. Dan menjepit bagian poninya ke atas. Tidak lupa memakai bedak dan liptint, tidak lupa menyemprotkan parfum sedikit. Veron berdiri mematut diri yang tengah memakai gap button Front midi dress full flower.
Puas dengan penampilannya,Veron bergegas menuruni tangga. Terlebih ada suara ramai di bawah tangga. Yakin ada tamu, atau kerabat dari keluarga yang berkunjung di rumahnya.
Dengan antusias Veron menuruni tangga, dan yang akhirnya membuat dia tersenyum kecut di tengah anakan tangga.
"Sayang, kebetulan sekali. Mama kenalkan dengan teman masa kecil Zello, dan dia sudah seperti anak mama juga." Maria dengan semangat mengucapkan kalimat itu, sesaat kemudian Maria terlihat menuju ke arah tangga seakan nggak sabar menunggu turunnya Veron.
__ADS_1
Rossa?
"Iya, Mah."