
Beruntung Dahlia langsung pulang setelah mengantar Veron. Andai tidak, entah apa yang dipikirkan Dahlia nanti.
Tidak ada teman, tidak ada bahu untuk bersandar. Veron bimbang entah mau kemana. Tidak hanya kepala, tubuh rasanya juga sangat penat.
Veron yang sedari jalan kaki tanpa sadar dirinya sudah di tepi jalan. Dan beruntungnya ada taxy kosong yang lewat.
Dengan lambaian kecil taxy langsung berhenti memberikan tempat untuk Veron.
"Mau kemana, Non?"
"Jalan saja dulu, Pak."
Entah sudah berapa lama Veron berada dalam taxy. Sopir pun juga tidak menanyakan tujuannya lagi. Veron melihat sisi kiri kanan yang tidak dia ketahui dimana.
"Ini dimana, Pak?"
"Masih di kota, Nona. Karena Nona tidak menentukan tujuan saya hanya berputar sekitar ibukota saja."
Veron terdiam, berfikir.
"Pak, apa ada tempat untuk sendiri. Maksudnya tempat yang sepi yang.... "
"Yang sepi? Adanya di kuburan Nona."
Veron tercengang tak percaya. Apa sopir itu tak tahu dirinya sedang frustasi hingga melemparkan lelucon seperti itu.
"Maaf, Nona. Jangan marah!"
Veron enggan menjawab. Dirinya sedang tidak bisa di ajak bergurau. Dalam benaknya yang ada hanya kesedihan.
Veron menyandarkan tubuhnya penuh disandaran. Seakan sudah tak peduli taxy melaju kemana. Tatapannya kosong. Sesekali Veron menghapus air mata dengan punggung tangannya.
Hampir setengah jam berlalu, taxy berhenti di sebuah pinggiran danau. Veron yang tersadar berhentinya taxi, melihat luar dengan tatapan hambar.
Dibukanya pintu taxy. Panorama indah meski tengah hari. Mungkin karena mendung. Angin sepoi-sepoi sedikit menghibur hatinya yang tengah gulana.
"Nona, mau ditunggu atau di tinggal?"
"Mm, tunggu sebentar, Pak. Nanti mau ikut pulang lagi atau tidak saya akan tetap bayar Bapak lebih."
"Siap, Non."
Veron mengangguk kecil dan berlalu dari taxy. Jalan lebih mendekat ke danau buatan. Bukan tempat sepi, karena ternyata banyak orang yang berkunjung ke tempat itu. Meski begitu pepohonan yang rimbun sisi kiri kanan dan adanya danau buatan membuat tempat ini cocok untuk mengurangi penat.
Veron duduk dengan memeluk lututnya. Bayangan tak tahu malu dan tak sadar diri akan jati dirinya terus membayanginya, memohon, menjelaskan ke Zello untuk memahami dirinya.
Veron tertawa kecil. Menertawakan dirinya sendiri yang tidak hanya murahan tapi juga tidak tahu malu. Bagaimana bisa perempuan seperti dirinya masih punya wajah untuk meminta tinggal di rumah besar itu, menjadi bagian keluarga yang sudah ia bohongi.
Veron memegang dadanya yang sesak. Bayangan dirinya yang akan hidup sendirian membuat dirinya ketakutan. Semasa kecil dirinya sendirian. Tanpa tahu keluarganya siapa, kemana. Apakah dirinya sekarang harus hidup sendiri lagi.
Andai Zello tidak menawarkan cinta, mungkin rasanya tidak sesakit ini.
Andai Zello tidak menawarkan cinta, tidak adanya kehancuran seperti ini. Kehancuran dirinya dengan keluarga Hanif, termasuk dengan Zello, karena tidak akan pernah merasa dibohongi karena status yang hanya orang luar. Dengan begitu mereka tetap dekat meski tidak ada hubungan keluarga.
__ADS_1
"Kamu yang salah, Zello, bukam aku!!! Kamu yang licik. Kamu yang jahat. Kamu yang memohon-mohon untuk mendapatkan balasan cintamu, tapi kamu dengan gampangnya menyuruhku pergi."
"AAAARGH ...." Tangan Veron yang kosong dengan rakus mengambil banyaknya kerikil dalam genggamannya. Membuangnya jauh ke dalam danau. Mengambil lagi membuang lagi mengambil lagi membuang lagi hingga dirinya lelah.
***
Setelah dirinya mulai membaik Veron menuju butik Anita. Paling tidak dirinya akan jauh lebih baik nanti setelah dari sana. Tidak mungkin dirinya pulang dalam keadaan masih kacau seperti demikian. Nanti alasan apa yang akan ia berikan ke Hanif. Untuk menghindarinya Veron ingin melepas penat dan rindu dengan mengunjungi Anita. Tinggal dia satu-satunya teman yang ada. Itu pun Anita juga tidak tahu jati diri aslinya. Andai Anita tahu, mungkin dirinya akan sama seperti Zello yang meneriaki dirinya pembohong.
"Astaga, Lilie. Kemana saja kamu?" cecar Anita. Tak menghiraukan pertanyaan Anita, dirinya langsung duduk di sebelah Anita.
Anita memberi tekanan di bahu Veron hingga mereka saling berhadapan.
"Apa ada masalah?"
Veron mengangguk. Melihat sekilas wanita yang ada di hadapannya.
"Ceritakan, ada apa? Siapa tahu itu bisa mengurangi bebanmu."
Gelengan kecil Veron membuat Anita menghela nafas. "Yasudah, tidak perlu bicara sekarang. Kamu pasti butuh waktu."
Anita menatap intens tampilan Veron. Wanita yang selalu tersenyum manis untuk pertama kali dirinya melihat wajah sedih sahabatnya.
"Makan ya?!"
"Iya," sahut singkat Veron.
Anita sedikit bingung melihat Veron yang demikian. Apa begitu rumit permasalahannya. Terka Anita.
Veron terlihat seperti orang memprihatinkan. Tidak ada jawaban panjang setiap dirinya melontarkan pertanyaan. Makanan yang sudah di depan matanya pun hanya di aduk-aduk tanpa ada sesuap sendok pun yang masuk ke dalam mulutnya.
Veron yang dalam ruangan Anita masih dalam tatapan kosongnya. Flashback kebersamaan bersama Zello dan keluarganya selalu melintas membuat Veron semakin hanyut dalam duka laranya sekarang.
Mata yang sudah mengering mulai membasah lagi. Veron menggigit bibirnya, mencoba menahan isak, mencoba tidak mengeluarkan air mata lagi.
Lamunan Veron buyar saat terbukanya pintu ruangan Anita. Dengan menyembulnya kepala Anita dan perlahan disusul oleh tubuhnya.
"Sepertinya aku sudah terlalu lama di sini," ucap Veron. Veron menatap makanan yang ada di depannya. Dirinya menghela nafas, nafsu makannya hilang. Padahal dirinya merasa lapar.
"Aku ingin makan di rumah saja, Nit," ucap Veron.
"Yasudah, tidak masalah. Itu malah bagus," ujar Anita lembut. "Nanti kalau kamu sudah baikan bicaralah denganku! Jangan dipendam sendiri! Ok!"
Veron mengangguk, yang disusul senyum kecil tipis di bibirnya.
"Aku pulang ya." Veron berdiri dan langsung dapat sambutan pelukan hangat dari Anita.
"Baik-baik di jalan."
***
Pukul tiga lewat, Veron sampai di kediaman Hanif. Kebetulan Hanif yang seakan sudah rutin dengan jam sekian sudah duduk di ruang keluarga.
"Kek," ucap Veron sesampai ruang keluarga.
__ADS_1
"Sayang," sahut Hanif dengan senyum khasnya. "Mana, Zello?"
"Kebetulan Lilie memang keluar dari kantor sudah sedari tadi, Kek. Karena Lilie tadi main ke butik, sudah lama tidak mengunjungi temanku yang di sana. Mm, mungkin Zello sebentar lagi sampai rumah," ujar Veron setelah melihat jam di tangannya.
"Oh, baiklah."
"Kek, Lilie lapar. Tidak masalah kan Lilie makan dulu."
"Hahaha tumben sekali."
"Iya, Kek. Nafsu makan Lilie sedang bagus. Lilie ke dapur dulu ya, Kek. Oya apa Kakek ingin makan juga?"
"Tidak. Kakek masih kenyang. Makanlah!"
"Baik, Kek." Veron beranjak menuju dapur. Mengambil nasi lauk dan dibawanya ke meja makan. 'Aku akan merindukan masakan koki disini nanti'
Veron menyuapkan nasi ke mulutnya dengan perasaan getir. Setiap yang ada di rumah Hanif akan ia jadi kenangan nanti.
Selesai makan, Veron mencuci piringnya dan yang kemudian beralih menyiapkan buah untuk Hanif. Dipotong-potongnya buah apel menjadi beberapa potongan. Ahh. Tidak hati-hatinya Veron membuat jarinya luka tergores pisau. Darah segar keluar dari jarinya. Dengan cepat ia membersihkan dan memberikan plester luka.
***
Potongan buah yang sudah siap Veron taruh di meja ruang keluarga. Hanif dengan senang memakan buah yang disediakan oleh Veron. Meski Hanif sebenarnya tidak sedang ingin memakan buah. Tapi bentuk peduli dan sikap hangat Veron membuat Hanif memberikan sambutan yang hangat pula.
"Lilie, sebelum kamu kerja di butik. Kamu kerja dimana?"
"Mm, saya kerja... "
"Kerja di club, Kek." Potong Zello. Dirinya yang bertubuh tegap tampak tidak jauh dari mereka. Melangkah lebar dengan wajah datar.
Sementara Veron terkejut dengan apa yang diucapkan Zello. Veron beralih menatap Hanif yang memasang wajah tidak bisa Veron artikan.
"Sebagai.... waittres." Sambung Zello.
Sesaat Veron terpaku dengan yang di dengar dan dilihatnya. Rasanya Veron tidak mengenal suaminya lagi. Dan apa maksud ucapan Zello? Apa ingin mengatakan jati dirinya secara perlahan ke kakek?! Terka Veron.
"Kek, maaf Lilie tidak memberi tahu soal pekerjaan itu. Itu pekerjaan yang buruk. Lilie takut kesehatan kakek akan terganggu."
Terlihat helaan nafas Hanif. Tersenyum tipis dengan sangat hangat. "Itu masa lalu. Yang penting sekarang kamu sudah jadi bagian keluarga Hanif. Kamu tidak kekurangan uang untuk hingga harus kerja lagi, terlebih kerja di tempat seperti itu."
"Terima kasih, Kek."
"Zello ke kamar dulu, Kek." Sela Zello. Melangkah melewati Veron dengan acuh.
"Temani Zello ke kamarnya, Nak."
"Iya, Kek." Veron dengan cepat menyusul suaminya yang sudah dianakan tangga. Mensejajari langkah Zello, mengamati wajahnya yang berubah dingin.
Veron yang sudah di kamar langsung duduk di ranjang. Mengamati pergerakan Zello. Tepatnya menyayangkan hubungan mereka saat ini. Kemarin bukankah baru saja cinta mereka berkemekaran dan belum lama diutarakan. Namun dengan cepat semua berubah.
Zello sendiri meski sadar terus diamati istrinya memilih acuh. Hatinya yang kecewa menorehkan luka yang menganga.
Brakk. Ditutupnya kasar pintu kamar mandi. Dirinya sudah muak. Wajah Veron yang terus terlihat olehnya mengingatkan dengan kelicikannya. Cinta? Cintanya tertutup rasa kecewa dan amarah. Zello menyalakan shower, tanpa mengatur ke suhu hangat. Bermandikan air dingin, berharap dapat meredakan emosionya. Jangan sampai emosinya meluap saat dirinya berada di rumah. Itu tidak akan baik buat kakek.
__ADS_1
Dibawah guyuran air, Zello memikirkan kalimat yang pas untuk Hanif agar setuju dirinya akan melepas Veron.