
Zello merangkul bahu Veron, matanya menatap tajam ke orang Dave yang berjumlah dua orang itu.
Bagaimana Anita bisa bersama mereka? Rasanya Veron ingin menanyakannya. Tapi tenggorokannya tak hanya tercekat, tapi dadanya bertalu dengan hebat. Rasa takut menguasai pikirannya.
"Zello," ucap Veron dengan bibir sedikit gemetar. Rasa takut dan cemasmya melebihi saat dirinya dulu pernah diteror Zein. Veron yang jelas-jelas melakukan tindakan kabur dari Dave tidak mungkin tidak merasa takut. Melihat orang Dave sama saja seperti melihat Dave langsung.
"Tidak apa. Mereka tidak akan melukaimu bila ada aku."
"Bilang dengan Dave! Lilie sudah kembali padaku. Suruh Bosmu berhenti mencari Lilie, apalagi mengganggunya."
Orang Dave saling melempar pandang dengan senyum sinis. "Tanyakan pada istrimu, apa tuanku pernah mengganggunya?"
Tangan Zello mengepal dengan dada bergemuruh. Orang -orang Dave berbicara demikian seakan tidak pernah melakukan tindakan licik, itu membuat Zello muak mendengar ucapannya. Zello ingat betul ucapan Desy siapa Dave. Dan betapa besar keinginan Dave untuk memiliki Veron.
"Lilie tengah hamil besar. Andai keberadaan kalian membuat istriku tidak nyaman aku tidak akan tinggal diam." Zello yang masih merangkul Veron melangkahkan kaki, menuntunnya menjauh dari orang Dave.
"Anita ...." ujar Veron.
"Dia datang bersama orang Dave, aku rasa orang Dave akan mengurusnya. Dia akan baik-baik saja. Ok"
Rasanya berat sekali meninggalkan Anita. Anita tengah tergolek tak sadarkan diri dan sialnya malah bersama orang Dave. Apa yang terjadi? Apa Anita akan baik-baik saja? Terka Veron.
Sepanjang perjalanan pulang Veron tak bisa tenang, menyesal telah meninggalkan Anita, terlebih bersama orang Dave.
"Sayang!" Zello menggenggam erat tangan Veron.
"Aku takut dia kenapa-kenapa? Andai dia bangun nanti dan orang Dave masih disampingnya, apa Anita tidak syok, apa Anita akan baik-baik saja? Ah, Kenapa mereka bisa bersama?"
"Nanti kita akan ke rumahnya, sekarang yang penting adalah dirimu. Kamu tengah hamil, jangan banyak pikiran. Andai orang Dave sudah berniat jahat, pasti dia tidak mau mengantarkan Anita ke rumah sakit, bisa saja dia membiarkan Anita begitu saja, tapi buktinya orang Dave mengantar dan menungguinya."
Hah, Veron menghembuskan nafas kasar.
'Apa ini ada hubungannya denganku? Sebelumnya Anita tidak pernah kenal dengan Dave.'
"Sudah Sayang. Nanti aku suruh orang untuk ngawasi Anita. Ok!" hibur Zello.
Setelah hampir setengah jam mereka sampai di sebuah apartemen. Karena mereka masih berjaga-jaga dari peneror Veron. Semoga saja peneror itu bukan Dave. Kalau tidak entah tindakan apa yang akan dia pilih.
"Kok di sini? Bukan apartemen yang dulu?" tanya Veron.
"Iya." Zello menekan kata sandinya dan yang kemudian menuntun istrinya untuk masuk. "Kita sudah berniat untuk tinggal di rumah kakek, jadi aku sudah menjual apartemen yang lama," sambung Zello.
__ADS_1
"Oh." senyum tipis mewarnai bibir Veron. Dirinya beralih duduk di sofa.
"Kenapa?" Heran Zello melihat senyum Veron.
"Aku senang kamu menjualnya. Aku nggak bisa bayangin kalau kamu masih punya apartemen. Rumah tangga tak selamanya mulus. Aku takut saat itu semua terjadi kamu memilih tidur di apartemen," ucap Veron lirih.
"Kamu tidur di ruang kerja saja aku sangat tersiksa." Veron teringat bagaimana Zello terus mengurung dirinya di ruang kerja hanya untuk menghindarinya. Sakit... meski masih satu rumah.
"Maaf.... aku sungguh menyesal. Itu takkan pernah terjadi lagi," sesal Zello.
Veron mengangguk kecil, menatap dalam suami yang tengah duduk bersimpuh karena mengimbangi dirinya yang duduk di sofa.
"Tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang berterimakasih karena sudah mau menerimaku." Veron meremas balik telapak kokoh suaminya. "Aku tidak menyangka kalau suamiku ini terus mencariku. Aku pikir... perasaan suamiku sudah lama terkikis."
"Ssst, mungkin di awal aku merasa dibohongi. Terlebih dengan kejadian yang menimpa Rossa. Bagaimana pun Rossa teman masa kecilku."
Veron membuang nafas kasar. "Aku tidak melakukan itu. Dia memang licik, tapi dia yang mempertemukan aku dengan keluargamu. Aku merasa berhutang budi dengannya."
"Iya, aku percaya."
"Percayamu hanya dimulut saja." Lirih Veron
Matanya berkaca-kaca karena sedih.
"Dia aktif sekali," ujar Zello kemudian.
"Terima kasih, Mas."
Zello menatap dalam istrinya "Sama-sama." Berdiri dari duduknya yang kemudian perlahan membawa istrinya dengan cara digendong ala briday style menuju kamar. "Istirahat yuk!"
Tidak seperti ucapannya, Zello yang sudah di berbaring di samping tubuh istrinya tak pernah berhasil menghentikan ulah tangannya ke lekuk tubuh istrinya. Sentuhan-sentuhan yang membuat jiwa hasrat mereka sama-sama bergelora.
Setelah sekian lama, mereka bisa meluapkan rasa kasih sayang lagi. Penuh hasrat yang tak terbendung. Desas desus suara dan racauan membuat mereka semakin membakar hasrat. Entah berapa lama dengan kuburan keringat mereka bersamaan menumpahkan rasa surgawi mereka. Lenguh lelah mengintari mereka yang baru saja selesai melakukan ritual panas, mengantarkan ke mimpi yang indah.
***
Waktu sudah senja, Zello dan Veron masih merapat seperti perangko. Perut keroncongan membuat Veron menggeliat di posisinya. Ia singkirkan pelan tangan suaminya yang menempel di perut besarnya. Menarik selimut yang melorot dan membetulkan untuk menutupi tubuh polos mereka. Suaminya masih pulas di sampingnya, tidur dengan wajah damai dengan dengkuran halus.
Melihat Zello yang tertidur pulas membuat Veron tidak tega untuk membangunkannya.
Perlahan Veron menyibak selimutnya, turun dari ranjang dan segera menuju kamar mandi. Berendam dalam bathup untuk merilekskan tubuhnya. Tidak dipungkiri Veron masih kepikiran dengan semua masalahnya. Bagaimana bila peneror itu nekat? Seperti apa reaksi Dave setelah mendengar laporan anak buahnya?
__ADS_1
"Aww." Tendangan kuat dalam perutnya membuat pikiran Veron buyar. Tendangan kuat yang membuat Veron merasa ngilu tapi juga tersenyum manis. "Kamu lapar ya, Nak?" gumam kecil Veron sembari mengelus perutnya.
Tidak ingin lama-lama Veron segera membilas tubuhnya.
*****
Apartemen baru saja dia singgahi, jadi hanya beberapa barang yang ada di sana. Tapi Zello sangat pengertian, pakaian khusus buat orang hamil dan buat dempul Veron sudah ia siapkannya.
Selesai memakai pakaiannya, Veron segera memoles dikit wajahnya yang kemudian beralih untuk memesan makanan.
Sembari menunggu makanan datang Veron berbaring di samping suaminya, menatap lekat wajahnya. Seakan terbawa suasana, Veron memberikan sentuhan lembut di bibir Zello dengan bibirnya yang tipis hingga mulut Zello terbuka menyambut gerakan lincah lidah istrinya memasuki rongga mulutnya. Saling mengecap satu sama lain hingga waktu lama yang membuat mereka kehabisan nafas dan melepas pagutannya.
Belum puas Veron mengambil nafas, Zello sudah melahap kembali bibir istrinya. Zello yang masih polos tanpa baju membuat Veron bisa merasakan detak jantung dada yang berdegub kencang. Hingga lelah mereka bermain lidah, dan berhenti karena alarm apartemen.
"Siapa?" Heran Zello.
Veron terkekeh kecil, "aku dilevery."
"Oh ....aku pikir."
Segera Veron turun dari ranjang untuk mengambil makanannya.
"Terima kasih, Pak," ujar Veron. Aroma masakan yang ia pesan sangat menggugah seleranya. Dirinya sedang ingin makan rawon. Bukan karena pernah makan sebelumnya. Tapi karena melihat gambar menu rekomendasi di aplikasinya. Gambar yang penuh menggoda, semoga saja tidak zonk. Selesai menyiapkan Veron menuju kamarnya, ingin menjewer suaminya. Sudah tahu istrinya menyiapkan makanan buat mereka tapi Zello tak kunjung keluar.
"Apa dia mau mandi dulu?!" gumam Veron sembari melangkah menuju kamar mereka.
Veron tersenyum tipis melihat suaminya. Tidak turun untuk menyusulnya tapi juga mandi. Malah anteng main dengan ponselnya. 'Ah, ternyata melakukan video call' batin Veron. Terlihat layar dari sebrang yang belum terlihat sepenuhnya oleh Veron.
"Dimana dia sekarang?" Suara yang sangat tidak asing buat Veron. Dada Veron berdegub kencang. 'Suara Kakek.'
***********************************************
Assalamualaikum, loha teman-teman. Thor n family mengucapkan selamat hari raya idul fitri 1443 H.
Minal Aidzin Wal Faidzin
Maafkan lahir dan batin
Di hari fitrah ini semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih pandai bersyukur karena telah bertemu di hari raya besar ini. Dan semoga kita selalu diberikan kesehatan dan umur panjang umur sehingga bisa bertemu di raya berikutnya. Amiin.
*****
__ADS_1
Nb:
Jangan pelit untuk kasih like n komentar ya Sayang ....