
Sedikit tersentak, namun tidak membuat Rossa untuk menuruti ucapan Veron. Malah senyum tipis mengulas bibir Rossa.
'Kamu pikir kamu siapa? Lihat saja apa yang bisa aku lakuin?' Batin Rossa.
Melihat Rossa yang bersikeras di posisi berdirinya tidak membuat Veron getar, ia melangkahkan kaki dan dengan sengaja menyenggol bahu Rossa.
'Kamu sok sekarang, karena semua keluarga Zello bersikap hangat ke kamu. Lihat saja bila mereka sudah kembali keluar negeri. Siapa yang berpihak kepadamu?'
Dengan sigap Dahlia membukakan pintu buat Veron.
"Lilie." Panggil Panee. Senyum menghiasi wajah kokoh mertua Veron.
"Papa." Dengan hangat Veron membalas senyum Panee. Diurungkan niatnya untuk memasuki ruangan Zello.
Sementara Rossa merasa jengah dengan situasi seperti itu, menghindarinya itu lebih baik. Karena itu akan merusak moodnya. "Om, Rossa harus pergi dulu. Nanti sampein ke Zello aku ada keperluan."
"Baiklah, nanti om sampein." Panee tersenyum hangat ke Rossa.
"Lilie, kamu datang juga. Kata Rossa kamu ada hal penting di butik," ucap Panee.
Kata-kata Panee masih terdengar jelas oleh Rossa yang mulai jauh dari sana.
"Iya, Pa. Tadi ada panggilan urgent dari butik. Mangkanya Lilie kesana dulu. Tapi sekarang sudah clear kok." Sayup-sayup suara Veron masih terdengar oleh Rossa.
Rossa yang sudah masuk lift merasa suasana hatinya nano-nano. Mengingat perlakuan keluarga Zello yang begitu hangat ke Veron membuatnya berandai-andai. keluarga Zello begitu hangat memperlakukan Veron, padahal Veron awalnya hanyalah orang asing buat mereka. Andai dirinya yang menjadi istri Zello, bukankah mereka akan memperlakukan dirinya seperti berlian kelak. Mengingat dirinya sudah lama kenal dengan Zello dan juga keluarganya.
Senyum licik mengulas bibir Rossa, merasa beruntung mendapatkan wanita malam untuk jadi istri kontrak Zello.
Di lain tempat, Veron masih mengobrol dengan Panee di depan pintu ruangan Zello.
"Sebentar lagi meetingnya selesai. Papa akan menemui beberapa rekan bisnis Zello untuk menyapanya. Kamu masuklah ke ruangan Zello. Zello akan menemani kamu ngobrol pastinya," ucap Panee.
"Baik, Papa."
"Istirahat saja di ruang istirahatnya. What a surprise for him. Good luck." Goda Panee dengan senyum anehnya. Panee kemudian beralih menjauh dari Veron.
"Papa." Panggil Veron.
"Iya."
"Tak bisakah Papa lebih lama di Indonesia?!" Rujuk Veron. Dari hati kata itu terucap. Tidak menggubris ucapan Panee yang menggodanya.
Panee terdiam sesaat, dari jarak beberaoa meter dari Veron, hanya bisa menatap Veron yang seakan ucapan menantunya itu tulus apa adanya.
Tidak tega dengan tatapan Veron, Panee mendekat ke tempat Veron berdiri.
"Lilie." Suara lembut Panee.
"Sebenarnya, semua keluarga menginginkan anggota keluarganya untuk kumpul bersama. Papa sama mama akan usahakan untuk secepatnya tinggal bersama kalian. Tapi tidak dalam waktu yang dekat." Imbuh Panee.
Sesaat Veron menelan salivanya, mencerna ucapan jelas Panee. "Baiklah Pah."
"Ok." Tepukan kecil Panee berikan di kepala Veron. Sesaat mereka saling melempar senyum tipis.
"Papa kesana dulu."
"Hm." Anggukan kecil Veron. Ada sedikit di dada Veron.
Huh. Veron mendesah kasar.
"Mari Nona!" Dahlia membuka pintu kembali.
"Iya."
Veron mendudukkan dirinya di sofa di ruangan itu. Yang jaraknya lumayan dari meja Zello.
"Nona nggak mau istirahat di ranjang?" tanya Dahlia.
"Nggak perlu. Aku disini saja."
"Nona, mata Anda merah," ujar Dahlia hati-hati.
Veron menatap lemah Dahlia, "iya, aku ngantuk."
__ADS_1
"Tapi, seperti bukan karena ngantuk." Dahlia tersenyum kecut karena takut dianggap lancang.
"Ponsel." Pinta Veron.
"Baik, Nona."
"Ini."
Veron memilih menyibukkan diri dengan ponsel, mengisi isi akun sosial media miliknya dengan foto-foto mewah.
Di lain sisi, Dahlia menatap lama wanita yang menjadi Nonanya. Menerka-nerka.
"Apa yang kamu lihat?" Tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel, Veron bisa menangkap tatapan aneh Dahlia.
"Maaf, Nona."
"Buatkan aku minum!"
"Baik, Nona. Laksanakan."
Nggak lama Dahlia keluar ruangan, Zello sudah memasuki ruangannya. Langsung duduk di kursi kebesarannya.
"Kamu cepat sekali kembali?!" tanya Veron.
"Memang sudah selesai sedari tadi."
"Oh."
"Sudah di makan nasinya," sambung Veron.
"Sudah."
Veron memperhatikan Zello yang tengah sibuk mengamati berkas-berkasnya. Sesaat Veron berdiri dan melangkah mendekat meja Zello. "Aku pinjam ranjangmu ya. Aku mau istirahat," ucap Veron.
"Kamu mau istirahat?"
"Iya, kamu pikir aku mau ngapain di sini?! Nggak mungkin kan aku bermesraan dengan dirimu," sahut Veron asal.
"Hm, pakailah!"
***
"zello?" Gumam Veron, mendapati Zello yang tengah tiduran di sebelahnya.
"Sudah bangun?"
"Kamu ngapain disini?"
"Istirahat. Papa masih di perusahaan. Bisa masuk ke ruangan ku kapan saja. Akan mencurigakan kalau istirahat di tempat terpisah," jelas Zello.
Oh, sahut singkat Veron.
"Kamu nggak bawa mobil kan?! Kita pulang bareng, tapi mampir tempat perbelanjaan dulu. Aku mau nyari sesuatu."
"Siap Bos."
***
"Zello. Ini bagus," ucap Veron. Diambilnya dasi navy terang dengan line gelap.
Diraihnya dasi yang disodorkan Veron, "bagus. Pilihkan dua warna yang berbeda!"
"Warna apa? Kan harus disesuaikan dengan jasnya."
"Mm ... coba kamu ambil warna yang bagus disana. Nanti aku akan beli jas untuk nyesuain dasinya."
"Bisa terbalik begitu Pak Bos?"
"Sudah, buru pilih!"
Semua bagus. Gumam Veron dalam hati. Namun diambilnya warna jas yang sering dipakai Zello, abu-abu muda, navy muda, maroon.
"Zello." Veron memamerkan tiga dasi pilihan warnanya.
__ADS_1
"Keren." Puji Zello.
Senyum tipis terulas di bibir Veron, " lebay. Semua dasi di sini memang keren."
"Yaudah. Jelek. Selera kamu benar-benar payah." Dengan tawa kecil, Zello pergi dari sana.
"Nggak begitu juga ngomongnya Ferguso." Veron mensejajari langkah Zello dan berhenti di depan kasir.
"Kamu mau beli sesuatu?" tanya Zello, sembari mengeluarkan blackcardnya.
"Niatnya nggak ada rencana. Tapi sudah terlanjur masuk sini. Jadi sekalian deh."
"Ok."
Nggak jauh keluar dari toko pertama, mereka memasuki toko ke dua.
"Ayo!" Veron gandeng tangan Zello dengan antusias.
"Sekarang gantian. Pilihkan ootd buat aku!" Veron berkata dengan puas.
"Mau cari yang model apa?" sahut Zello santai. Veron ternganga sesaat, begitu mudahnya Zello mengabulkan permintaannya.
"Mm ... skirt diatas lutut, blazer, celana pensil jeans, celana scuba boleh kulot pensil standart blouse, t-shirt-"
"Kamu-" Zello memijit pelipis hidungnya, geram.
"Ada yang bisa saya bantu."
Zello bernafas lega dengan pelayan yang menghampiri mereka tepat waktu.
"Ulangi lagi!" ucap Zello ke Veron.
"Celana pensil, blazer, blouse, t-shiryt, skirt selutut."
"Tolong siapkan!" ucap Zello ke pelayan toko.
"Zello, aku maunya kamu." Rengek Veron mendrama dengan manja. Seketika Zello menukikkan kedua alisnya.
"Hahaha Zello aku bercanda. Tapi aku serius soal mau belanja."
"Aku hanya tidak tahu penuh soal seleramu. Memangnya kamu akan memakai semua pilihanku?"
"Tentu saja, kenapa tidak?" Veron dengan antusias ke area rok, sibuk dengan memilih milih. Selesai dengan rok, beralih ke blazer dan beberapa blouse.
"Zello, sudah," jelas Veron. Entah sudah berapa lama Veron sibuk dengan pilihannya tadi. Dipikirnya Zello masih dibelakangnya.
"Tolong bawakan ke kasir ya!" ucap Veron kemudian. Senyum senang mengulas bibir Veron yang sudah menemukan beradaan Zello dengan matanya.
"Baik Nona. Silahkan."
Untungnya tadi Veron memilih blouse memang nggak jauh dari tempat kasir, jadi langsung lihat Zello yang sudah disana.
Veron dengan senang menerima tas belanjaannya. Yang jumlahnya jadi banyak.
"Kenapa banyak sekali?" tanya Veron heran.
"Tadi Suami Nona sudah membungkuskan beberapa pakaian juga Nona," ucapnya sopan.
"Oh." Veron menatap Zello yang tengah menunggu nggak jauh dari tempat berdirinya.
Veron mendekati Zello dengan tangan penuh dengan belanjaan.
"Tolong bawakan sampai luar!" ucap Zello ke pelayan.
"Baik Tuan."
"Makasih ya Zello. Sering-sering saja begini," ucap Veron senang.
"Mau makan?" Tawar Zello. Mata hangatnya menatap intens ke Veron.
Sedikit aneh dengan sikap baik Zello, membuatnya menerka-nerka, apa Zello punya niat tersembunyi.
"Boleh." Veron benar-benar hanya ingin menikmati hidupnya. Entah apa maksud Zello. Lagipula, Veron cukup tahu, Zello bukanlah orang licik.
__ADS_1
Mungkin, itu memang dari dasar kebaikan Zello. Zello mendapatkan sifat baiknya dari keluarganya. Benar-benar beruntung kalau aku jadi istri sungguhan Zello. Arrgh ... sial. (Batin Veron).