Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Memiliki Seutuhnya


__ADS_3

"Zello, aku benar-benar minta maaf sama kamu. Tidak bisakah kamu memaafkan aku. Aku janji tidak akan mengkhianatimu lagi." Rossa yang masih terbaring di ranjang rumah sakit tidak ada cara lain untuk memohon dengan cara yang halus. Hadirnya Zello pertanda Zello masih ada rasa untuknya. Dan itu membuat Rossa senang.


Rasanya ingin mengatakan lagi, kalau Veron adalah seorang wanita malam kepada Zello. Namun Rossa juga tidak memiliki keberanian sebesar itu. Takut Zello malah marah dan menjauh dari dirinya. Karena dirinya hanya punya bukti berupa foto yang ia kirimkan ke Zico. Apa Zello akan percaya denganku bila aku menunjukkan foto itu? Batin Rossa.


"Mm, Zello. Kamu tahu Zein kan? Apa menurutmu Zein pernah bertemu dengan Lilie?"


"Kenapa kamu berbicara mengenai hal itu?!"


ucap Zello tidak suka.


"Aku hanya saja punya foto mereka berdua."


Ada rasa tidak nyaman saat Rossa mengatakan demikian. Huufz, lagi-lagi soal foto itu. Kemarin Julia sekarang Rossa.


"Aku sudah tahu," ucap datar Zello.


"A-apa?"


"Itu hanya masa lalu, Rossa. Jangan bahas itu. Aku tahu kamu belum bisa menerima semua," ucap dingin Zello.


Rossa tergugu di tempatnya. Tidak menyangka pria yang ada di depannya bisa berbesar hati dengan Veron. Sebegitu besar rasa cinta Zello ke istrinya.


"Oya, karena kamu kenal Zein. Mungkin kamu perlu tahu. Zein sudah meninggal."


"A-apa?"


"Rossa. Sekarang sudah ada keluarga yang yang menungguimu. Tanpa persetujuanmu pun aku akan tetap pulang."


Rossa menatap dalam Zello, air matanya memerah dengan genangan air sudah berada di pelupuk matanya. "Aku benar-benar menyesal, Zello," lirih Rossa.


Rossa tak kuasa menahan air matanya untuk tidak terjatuh. "Aku tersiksa tanpa kamu."


"Jaga dirimu baik-baik Rossa," ucap Zello dingin. Zello melangkahkan kaki menjauh guna keluar ruangan.


Rossa semakin merasakan sesak di dadanya. Zello sebelumnya tidak pernah berbicara acuh kepadanya. "Apa tidak ada sedikit pun rasa yang tersisa untukku, Zello?"


Zello yang sudah diambang pintu pun menoleh ke Rossa. "Ada, untuk pertemanan. Maka dari itu aku sempatkan kesini."


Zello meraih handle pintu ingin segera cepat keluar.


"Aku ingin berbicara dengan Zico, Zello. Aku ingin berterima kasih kepadanya." ucap Rossa kemudian.


Keluarnya Zello berganti dengan Zico yang masuk menemui Rossa. Sebenarnya Zico enggan untuk menemui Rossa. Tapi karena Zello yang meminta ia pun menyempatkan untuk ke ruangannya.


"Zico."


Zico menggaruk lehernya yang tidak gatal, sudah hafal dengan apa yang akan di ucapkan Rossa. Memang mau bicara apa lagi dengan dirinya selain mengucapkan kata-kata licik.


"Aku dengar Zein meninggal?!" ucap Rossa kemudian.


"Iya. Dibunuh."


"Apa?" Rossa cukup terkejut dengan ucapan Zico. Rossa awalnya ingin menanyakan perihal foto yang sudah ia kirim. Tapi dirinya malah mendapatkan fakta yang mengejutkan.


"Mm, Zico aku benar-bemar syok mendengarnya. Kenapa bisa kebetulan seperti ini. Zein dibunuh dan aku juga ingin dicelakai orang. Bukankah sangat ganjal. Karena yang mengalami orang terdekat Lilie. Maksudnya, Zein dibunuh setelah aku mengirim foto itu dan aku pun begitu. Apa menurutmu ini kebetulan? Tidak kan? Pasti Lilie merasa terancam. Sehingga dia bisa melakukan semua itu. Zico aku benar-banar takut."


"Huuh. Soal penyelidikan polisi. Zein dibunuh oleh istrinya karena merasa sudah di khianati. Dan mungkin, ini juga yang berlaku sama kamu. Coba di ingat! Apa kamu pernah tidur dengan pria yang sudah beristri? Aku rasa itu dari istri yang pernah satu selimut denganmu."


Wajah Rossa merah padam karena muak dengan Zico. Zico benar-benar susah untuk ia kendalikan.


"Ta-tapi, Zico. Bukankah foto yang aku kirimkan termasuk bukti kuat."


"Bukti kuat untuk masa lalu?! Andai Lilie punya hubungan dengan pria beristri waktu itu. Itu hanyalah masa lalu, Rossa. Aku yakin Lilie bukan wanita bodoh. Yang akan melakukan kesalahan sampai dia kehilangan semua yang sudah ia miliki sekarang."


Rossa benar-benar muak mendengar ucapan Zico. Matanya mendelik tidak suka menatap Zico.


Tanpa kata lagi, Zico langsung keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Rossa yang semakin uring-uringan.


***


Perjalanan yang lama tapi perhitungan yang tepat buat Zello. Dirinya sampai rumah saat malam hari.

__ADS_1


Pukul sebelas malam, Zello dan Zico yang sudah sampai di rumah langsung masuk dengan hening. Zello selain takut mengganggu tapi juga ingin membuat kejutan buat Veron.


Awalnya Zico bingung dengan cara berjalan bosnya yang seperti tidak nampak lantai sangking hati-hatinya, tapi lihat wajah bosnya yang berbinar baru ia paham.


Zico sendiri langsung masuk ke kamar tamu. Karena sudah larut malam dan terlalu lelah untuk pulang ke apartemennya.


Sesampai kamar Zello langsung membersihkan wajahnya dan memakai celana boxer buat tidur.


Dengan gerakan pelan menaiki ranjang supaya tidak mengganggu tidur istrinya. Zello ingin pagi nanti akan jadi kejutan buat Veron dengan dirinya yang sudah dalam pelukannya.


Tapi semua hanya niatan Zello semata. Dirinya yang sudah menahan rindu sejak lama malah terus menganggu istrinya. Terus mencumbu Veron yang terlelap dengan sangat berhati-hati. Dan kehati-hatian Zello berubah seiring durasi.


Cumbuan yang ia berikan penuh hasrat. Sudah tidak ada namanya kehati-hatian sama sekali. Yang ada hanya ingin melepas rindu.


Dada Zello naik turun, bersamaan terbukanya mata Veron, yang tidak disadari oleh Zello sendiri.


Veron sangat menikmati Zello yang terus mencumbunya di bahu. Gesekan bibir Zello sangat terasa bila dirinya sedang menahan tindakan lebih lanjut.


Betapa senang Veron mengetahui Zello telah kembali. Veron tersenyum tipis melihat ulah suaminya yang masih leluasa memainkan bibirnya. Dan Veron yakin kalau suaminya belum menyadari kalau dirinya sudah terbangun.


Ada perasaan yang membuncah dari diri Veron. Selain pulangnya Zello, tapi kabar Rossa yang sudah sembuh membuat dirinya sangat bersyukur dan bisa bernafas lega.


Veron dengan kehati-hatian membuka kancing piyamanya. Zello yang sadar ada pergerakan dari istrinya menghentikan sejenak. Zello tersenyum senang berbaur malu karena sudah kepergok. Tapi rasa malumya lenyap saat melihat piyama Veron yang sudah terbuka semua kancingnya. Memperlihatkan benda kenyal yang menyembul di balik kain kacamata yang dipakai istrinya.


Zello menatap bringas dengan sedikit keraguan. Dirinya dipersilahkan? Apa artinya istrinya sudah bersih.


"Sudah bersih?" tanya Zello memastikan. Veron mengangguk dengan senyum simpul yang berhasil membuat Zello beringas.


Untuk pertama kalinya mereka memiliki satu sama lain seutuhnya. ******* yang saling bersautan dan jeritan kecil yang melengking berulang kali keluar dari bibir mereka. Entah sampai berapa mereka melakukan. Mereka seakan tak kenal lelah. Terus meluapkan rasa yang ada dalam diri mereka. Keringat bercucuran tidak menghentikan mereka untuk terus berpacu dengan dasyat. Mereka yang sudah puas tergolek dengan memeluk satu sama lain.


'Melakukan penyatuan dengan orang yang aku cintai, rasanya seindah ini.'


Dada Veron bertalu dengan kencang, melihat suaminya yang nampak kelelahan. Tidak pernah ia rasakan indahnya penyatuan selain ini sebelumnya. Mungkin ikatan mereka yang membuat dirinya sangat menikmati perlakuan dari Zello. Senyum tipis menghias bibir Veron, teringat wajah sexy Zello yang terus berpacu di atas tubuhnya. Membuat tubuhnya seakan melayang dengan desiran yang menggelitik di tubuhnya.


***


Suara ketukan pintu yang berulang mengganggu mereka yang sama-sama yang masih tidur pulas.


"Sayang," ucap Veron. Membangunkan Zello dengan membangunkan menggoyangkan bahunya. Tidak kunjung bangunnya Zello membuat Veron iseng memberikan sentuhan nakal di dada bidang suaminya.


Dalam keadaan mata masih tertutup Zello dengan cepat menarik tubuh Veron hingga berhasil berada di atas tubuhnya.


"Kamu berhasil membangunkannya," ucap Zello. Dengan perlahan membuka mata dan melihat tubuh istrinya yang polos berada di atas tubuhnya.


"Mau tanggung jawab?!" goda Zello.


Semalam mereka yang saling bertukar posisi masih terngiang-ngiang di ingatan Zello. Zello tersenyum tipis melihat tubuh sintal istrinya.


Zello membuang selimut yang diantara mereka hingga teronggok di lantai.


"Ayo lagi!"


Mereka sama-sama polos dalam posisi demikian. Apalagi yang lebih indah selain mengulang.


"Kakek sudah menunggu kita untuk sarapan," jelas Veron.


"Ah iya. Jam berapa sekarang?"


"Jam delapan."


"Mm, ikut sarapanlah. Nanti kesini lagi!"


Zello memeluk Veron. Merasakan tubuh mereka yang saling menghangatkan. "Nyaman sekali," ucap Zello.


Dengan perlahan Veron berontak dari pelukan Zello. Menuruni ranjang mereka.


"Tidak akan selesai bila aku terus di sini."


"Apa kamu belum sadar? Kamu sudah membuatku candu."


"Suami yang baik."

__ADS_1


"Hah?"


"Iya, suami yang baik akan candu dengan yang dimiliki istrinya. Bye." ucap Veron cepat menuju kamar mandi.


"Berarti kamu juga harus candu dengan tubuhku!" teriak Zello.


"Sudah!"


***


"Maaf, Kek. Harus menunggu."


"Mana, Zello?"


"Sepertinya dia masih lelah, Kek. Jadi sarapannya mungkin akan terlambat."


"Oh, yasudah ayo makan!"


"Ayo, Zico!"


Veron seperti biasa mengambilkan sarapan buat Hanif. Yang tidak luput dari pandangan Zico yang tengah bersama mereka.


"Oya, nanti temani Dahlia belanja bulanan, Nak. Takut dia kerepotan kalau sendirian."


"Tentu, Kek. Pasti akan sangat menyenangkan."


Tepat jadi bahan obrolan, Dahlia jalan melewati meja makan.


"Dahlia mau kemana?" tegur Veron.


"Mau ke mini market dulu, Nona. Apa Nona ingin menitip sesuatu?"


"Eh, tidak. Hati-hati bawa motornya."


"Siap, Nona" ucap Dahlia sembari berlalu.


"Dahlia itu perempuan yang baik juga cerdas. Rasanya nanti ingin berbesan dengan dia. Karena pasti anaknya akan mirip dengan kepribadiannya."


"Apa Dahlia sudah menjalin dengan pria?" tanya Hanif.


"Belum, Kek. Mungkin sebentar lagi.


Iya kan, Zico?!"


"Huk huk."


Zico segera membersihkan akibat semburannya dengan salah tingkah.


"Zico, maaf." ucap Veron.


"Tidak masalah," sahut datar Zico.


***


Selesai makan, Zico berniat langsung pulang. Karena banyak tugas yang sudah menantinya. Tidak lupa juga dia akan berkunjung ke panti asuhan dimana Veron dulu tinggal. Sesuai informasi yang ia dapat dulu. Meski jauh.


Lumayan lama Zico sampai dimana panti asuhan dulu ia kunjungi. Perjalanan jauh membuat dirinya sedikit kelelahan.


Seperti orang kebingungan, Zico tidak melihat panti itu sekarang. Yang ada hanya rumah biasa. Tidak ada plang nama, atau keramaian anak-anak disana.


Seorang pria yang melihat raut wajah Zico mendekat karena iba.


"Lelah, Den?"


"Eh, Pak. Hehe apa terlalu kelihatan?!"


"Dari fisik tidak. Tapi Aden seperti orang bingung. Apa Aden lagi capek?"


"Nggak, Pak. Saya cuma penasaran. Panti asuhan Kasih Bunda bukannya kemarin disana ya. Kenapa sekarang berubah jadi rumah?"


"Panti asuhan? Tidak ada, Den. Tapi dulu ada sekitar satu bulan untuk syoting film. Ya gitu buat latar belakang yang Aden bicarakan. Sepertinya Aden dulu sudah salah tanggap.

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2