Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Egois


__ADS_3

Selama sisa jalan-jalan mereka, Veron tetap mengikuti semua tawaran maupun kemauan Zello, meski hatinya terasa nyeri karena gagalnya dia membujuk Zello.


Dalam perjalanan pulang, Veron tertidur di mobil. Dengan hembusan teratur, seperti bayi yang terlelap dari tidurnya.


Sesampai rumah Hanif, Zello juga langsung mengangkat tubuh Veron. Membaringkan tubuhnya di ranjang king size, melepaskan flatshoes dan menyelimutinya.


"Tidurlah yang lelap sampai pagi. Besok kita bersenang-senang lagi," ucap Zello lembut. Zello menatap wajah Veron, yang membuat hatinya menghangat tapi sekaligus bergemuruh.


***


Pagi sekali Veron yang tengah merasa ada panggilan alam terpaksa terbangun dari tidurnya. Saat membuka matanya, ia langsung tahu kalau dirinya tengah di rumah Hanif.


Selesai urusan dari toilet, Veron kembali tiduran di ranjangnya. Memandan sejenak Zello dari ranjangnya, Zello yang tidur di sofa. Masih terlalu pagi untuk bangun, Veron kembali memejamkan mata, tidur kembali.


Pukul 08:00 Wib.


"Lilie." Zello menusuk-nusuk pipi Veron. Veron masih pulas dari tidurnya. Setelah sekian menit, dan panggilan Zello yang sudah sekian kali baru Veron membuka matanya.


"Zello," ucap Veron. Dilihatnya Zello yang di depan wajahnya persis. Duduk berjongkok untuk mengimbangi wajahnya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Veron sembari menggosok pelan matanya. Dan duduk perlahan di ranjangnya.


"Jam delapan."


"Hah?" Veron terkejut karena sudah siangnya hari.


"kenapa? Tidak sabar untuk jalan-jalan lagi ya," ledek Zello, yang kemudian berdiri dengan mata masih tertuju ke Veron.


"Nggak, bukan begitu. Hanya saja aku pikir ini masih pagi."


"Kamu mau sarapan bareng atau nanti saja. Kebetulan Kakek sudah menunggu," jelas Zello.


"Terus kenapa kamu baru membangunkan ku?" ucap kesal Veron.


"Kamu terlelap seperti bayi. Aku tidak bisa membangunkanmu."


"Tapi ini?" Veron berdecak kesal. Beranjak langsung menuju toilet untuk mencuci mukanya. Dan keluar toilet masih mendapati Zello yang masih di kamar.


"Zello, aku mau ganti baju. Keluarlah dulu, bergabung dengan Kakek. Aku akna segera menyusul," ucap cepat Veron.


"Ok." Zello melangkahkan kaki, menuruni tangga bergabung dengan Hanif yang sudah menunggu mereka di meja sarapan.


"Mana Lilie?" tanya Hanif.


"Sedang berganti baju." Zello duduk di sebelah Hanif. Dan hanya adanya mereka bertiga di rumah itu, sudah di pastikan Veron akan duduk di sebelah Hanif sisi yang lainnya nanti. Yang akan membuat Zello dan Veron akan sarapan dengan bertatap muka.


"Kalian akan kemana hari ini?" tanya Hanif.


"Belum pasti, biar Lilie yang pastikan. Kakek juga ikut kan?"


"Kalau aku ikut, kapan kalian bisa slaing dekat," ceplos Hanif.


"Kita setiap malam selalu seranjang. Apa itu kurang dekat," tutur Zello.


"Seranjang tanpa pendekatan tidak akan membuat perasaan kalian mengalir secara alami. Itu tidak akan membuat kokoh hubungan kalian."


Huh, Zello membuang nafas kasar. "Yasudah, terserah Kakek saja."


Obrolan mereka terjeda dengan langkah pasti dari tangga. Dilihatnya Veron yang menuruni tangga dengan pakaian casual celana jeans, mini t-shirt yang berlapis jaket denim dengan rambut terurai seperti biasanya. Zelli tersenyum senang, melihat Veron yang masih setia dengan menjepit rambut poninya ke atas. Menyisakan rambut bergelombang sebahunya yang cantik.


"Kakek. Sudah berapa lama Kakek menungguku? Maaf aku terlalu nyenyak tidurnya."

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu. Itu sudah jadi tradisi pengantin baru." Goda Hanif.


"Kakek ini ...," sahut gemas Veron.


Mereka sarapan dengan senang, tidak seperti biasanya yang sepi saat makan. Sarapan mereka di penuhi oleh obrolan mereka, terutama ocehan Veron.


Veron yang sudah selesai makan langsung membersihkan area bibirnya pakai tissu.


"Jadi, kalian mau kemana hari ini?" tanya Hanif.


"Oh, aku sebenarnya lupa memberi tahu Zello. Aku nggak bisa ikut jalan-jalan hari ini. Ada panggilan dadakan dari butik," jelas Veron.


Zello sedikit terkejut, meskipun sadar Veron masih menaruh kesal terhadapnya. Tapi tidak menduga akan membatalkan acara mereka. Zello merasa hatinya tidak nyaman, antara sedih dan juga kesal.


"Sepenting apa? Apa Anita masuk rumah sakit." Cetus Zello.


"Kamu ini kalau ngomong." Bibir Veron mencebik kesal.


Hanif sendiri menyimak perdebatan mereka. "Lilie. Bukankah kamu bilang akan keluar dari butik itu?" tanya Hanif.


Eh. "Iya, Kek. Hanya saja pemilik butik itu adalah teman baikku. Dia tidak akan sampai meneleponku bila tidak dalam keadaan darurat," ucap Veron bersikeras. Pandangan Veron juga beralih ke Zello, " maaf ya Zello. Hari ini kamu temanilah Kakek. Kita bisa keluar lain waktu," ungkap Veron.


"Baiklah, aku akan mengantarmu," ucap Zello akhirnya.


"Sudah ad dahlia yang mengantarku Zello," terang Veron.


Zello menukikkan kedua alisnya, "yauda terserah."


***


"Anita ...." Pekik Veron berhambur ke tempat istirahat Anita.


"Aku takut cepat hamil kalau terus-terusan sama dia," cetus Veron.


"Apa?" Anita menoleh, terkejut dengan candaan Veron.


"Hari ini aku bantu-bantu ya. Aku kangen...."


"Kamu nggak boleh ngomong sembarangan. Bagaimana kalau keluarga Zello dengar? Mereka akan menganggap serius ucapanmu. "


Anita beralih keluar ruangan yang di ekori Veron.


"Iya. Aku menyesal," sahut Veron pelan. "Menurutmu, apa aku sudah cocok jadi seorang ibu?" Dalih Veron.


"Ah, Lilie. Tentu saja, kamu pikir kamu masih bocah."


"Anita, kamu sudah sarapan belum? Mumpung Dahlia belum balik cari makanan."


"Wah boleh, pesankan aku makanan. Apa kamu belum sarapan?"


"Sarapan sudah, mandi belum."


"Apa?" Anita melongo dengan ucapan Veron, dilihatnya yang sekarang sudah jam setengah sepuluh. "Kasian sekali Zello, punya istri jorok seperti kamu."


Nggak selang lama, Dahlia sudah membawa sarapan, cemilan dan pakaian dalam baru buat Veron. Dan soal pakaian ganti, ... minta Anita.


***


Sore hari, di Butik Anita.


Dahlia nampak mencari Veron diantara banyaknya pakaian yang berjejer rapi di gantungan dan juga beberapa pengunjung di butik tersebut, mengingat hari Minggu membuat butik Anita lumayan ramai. Sejak pagi, butik Anita tidak pernah sepi dari pengunjung.

__ADS_1


"Nona," ucap Dahlia yang sudah di samping Veron.


"Ada apa, Dahlia?" sahut Veron.


"Saya izin pulang ya. Mumpung masih sore. Tuan Zello juga bilang sudah dalam perjalanan kesini dan juga sudah memberi izin untuk saya pulang," terang Dahlia.


"Apa? Sebentar." Veron menjeda ucapannya.


"Apa maksudnya Zello akan menjemputku? Buat apa?"


"Sepertinya Tuan sudah sangat merindukan Nona." Dahlia berucap dengan menahan tawanya.


"Permisi Nona." Dahlia langsung kabur meninggalkan Veron dalam wajah masamnya.


Veron mendengus kesal. "Terserah dia saja. Lagian aku bisa apa."


"Lilie."


"Ya." Sahut spontan Veron terkejut. Meski belum melihat wajahnya, namun Veron tahu itu Zello.


"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Veron.


"Belum lama. Aku yang menyuruh Dahlia supaya pamit sama kamu." Zello menatap Veron. Veron yang dalam wajah bingung dan juga masam.


Aku benar-benar sudah di kerjain sama Dahlia. Apa Zello tadi mendengar gerutuanku?!


"Oh, pantas," sahut kaku Veron. Veron beranjak dari sana, mencari keberadaan Anita.


"Nit, aku pulang ya. Sudah di jemput suami tercinta." Veron berucap masam dan menuju ruang istirahat mengambil tasnya.


"Zello, sejak kapan kamu datang. Bagaimana kalau ku pesankan kopi dulu," ucap Anita hangat.


"Tidak perlu repot-repot. Kami takut kena macet di jalan. Sebentar lagi jam macet."


"Ah iya, kamu benar sekali. Baiklah hati-hati nanto di jalan." Pandangan Anita beralih ke Veron yang sudah berada di pintu masuk.


Zello yang mengikuti mata Anita, tersenyum kecil sebagai perwakilan pamitnya.


Veron yang sudah melihat Zello ke tempatnya melangkahkan kaki terlebih dahulu, dan sampai duluan memasuki mobil Zello terlebih dahulu.


Brakk. Zello menutup pintu mobil.


Mobil Zello bergerak perlahan menjauh dari tempat butik Anita. Melajukan dengan santai dan dengan kecepatan sedang. Pandangan matanya menjalar kemana-kemana, ramainya jalanan, suasana sore hari di sepanjang perjalanan, dan juga ke wanita yang di sebelahnya.


Dilihatnya Veron yang tengah fokus dengan gadgetnya. "Lie."


"Hm." Sahut Veron tanpa mengalihkan pandangannya dari gadget.


"Mampir ke restoran ya." Ajak Zello.


"Iya."


"Mau ke restoran apa?"


"Aku sedang lapar, Zello. Resto manapun aku akan ikut," sahut Veron, yang terdengar sangat datar oleh Zello.


Mendengar sahutan Veron, Zello mendengus kesal. "Apa kamu masih marah padaku?"


"Marah? Sejak kapan aku marah?" Dahi Veron berkerut menutupi dramanya.


"Sudahlah, lupakan," ucap Zello pasrah, sangat paham Veron tidak akan mengakuinya.

__ADS_1


__ADS_2