
***
"Zello, ini jalan menuju rumah Kakek." Veron melongokkan kepalanya keluar jendela karena terlalu antusias. Pertama dirinya diajak dinner, kedua melihat pemandangan kota di malam hari dan sekarang menuju rumah Hanif. Hati Veron seakan sesak oleh begitu banyak bunga yang bermekaran di dalamnya, terlalu indah, terlalu senang tapi susah untuk mengutarakannya.
Bahkan perilaku Zello terhadap dirinya ketika mereka menghabiskan malam di pusat ibu kota masih terngiang-ngiang di Veron, Zello yang selalu bersikap posesif terhadap dirinya, tidak pernah melepaskan tangannya sendiri dari tubuh Veron. Hanya saja tangannya suka berpindah, kadang merangkul di pundak, ke pinggang dan juga sering beralih menggenggam tangannya.
Veron memang selalu dapat perlakuan manis dari semua pria yang selalu ia puaskan. Tapi dengan Zello ia merasa lain, seakan ada kehangatan di dalamnya. Tubuh dan hatinya seakan bersekongkol, 'menikmati yang ada', dadanya pun berdegup kencang setiap mendapat perlakuan hangat dari Zello.
Zello bilang mereka tidak bisa bersikap selayaknya suami istri, tapi mereka bisa bersikap menjadi teman. Apa berteman itu seperti ini? Apa berteman dengan seorang pria seperti ini perlakuannya, dan juga seperti ini... rasanya?
Kepala Veron melongok keluar jendela, dengan tangan memegang dadanya yang tidak pernah merasakan perasaan yang belum ia pernah rasakan sebelumnya.
"Awas kepalamu." Ucap Zello.
"Kamu tidak memberitahuku tadi." Veron memasukkan kepalanya lagi, menoleh ke Zello. "Lagipula Kakek masih di luar kota kan?"
"Sudah balik."
"Oh."
"Kamu tumben tidak tidur. Biasanya kamu seperti orang pingsan bila sudah di mobil."
"Ah, iya. Aku juga ngerasa heran." Veron memegang dadanya, menyadari rasa gelisah yang ia rasakan menjadi penyebab ia tidak bisa tertidur seperti biasanya.
"Kamu kenapa?"
"Nggak- sepertinya aku sudah mulai ngantuk." Veron menguap palsu dan membuat posisi sandaran lebih nyaman di duduknya.
"Tidurlah!" Zello menatap lembut Veron sembari senyum tipis.
"Ah iya." Veron duduk bersandar sedikit miring yang sedikit memunggungi Zello. Memejamkan mata, pura-pura tidur. Andai ia bisa tidur sungguhan Veron tentunya akan lebih bersyukur.
Veron yang pura-pura tidur tetap di posisi awal, rasa tidak nyaman mulai ia rasakan di bahu dan kakinya.
Sudah lumayan lama, Veron tetap terjaga di matanya yang terus terpejam. Bukan hanya bahu dan kaki saja yang tidak nyaman, bahkan matanya juga terasa pegal dan perih karena terlalu lama ikut mendrama.
Setelah sekian lama berharap, mobil Zello berhenti. Dahi Veron berkerut, bingung antara mau melanjutkan pura-pura tidur atau pura-pura terbangun dengan sendirinya.
Ah, nggak lucu sekali, masa iya bisa kebetulan sekali kebangun saat mobil sudah berhenti. Bukankah terlalu kelihatan mendramanya?
Veron memilih untuk tetap memejamkan matanya.
Brakk. Suara pintu tertutup pelan.
Klek.
Veron baru menyadari, dirinya sudah sering di bopong oleh Zello. Bodoh sekali ia menduga kalau Zello akan membangunkan dirinya dan dia akan pura-pura terbangun saat itu juga. Namun yang ada? Dengan jelas Veron bisa merasakan tangan Zello dengan lembut melalui punggung dan juga bawah pahanya dan dengan gampang tubuhnya diangkat oleh Zello.
__ADS_1
Brakk.
Dan merasakan ayunan lembut dengan tumpuan tangan kekar Zello.
"Bik. Nutup pintunya pelan-pelan saja ya! Takut Kakek terbangun. Juga bilang ke Mang Udin untuk menaruh mobilku di garasi, kuncinya masih nempel."
"Iya, Tuan."
Ayunan lembut naik, Veron tahu pasti mereka sedang menaiki tangga. Veron dengan wajah nyaman bersandar di dada Zello. Hatinya bersorak senang, malu dan juga canggung. Merasa ada desiran yang begitu kentara di dadanya, berharap Zello tidak akan bisa mendengar detak degup di dadanya.
Ceklek. "Silahkan Tuan."
"Turunlah! Aku bisa sudah bisa mengatasinya."
"Baik, Tuan. Saya pamit ke bawah. Kalau ada perlu lagi silahkan panggil lagi."
"Hm."
Setelah sekian detik, Veron sudah bisa merasakan empuk dan nyamannya sebuah kasur. Veron membuat gerakan kecil di kakinya yang tidak Zello sadari. 'Aow ... ' jerit Veron dalam hati. Kakinya masih sangat tidak nyaman. Karena kesemutan.
Baru Veron merasakan hening sesaat, tetapi kemudian ia merasakan tekanan lembut di keningnya karena benda kenyal.
Zello mencium keningku?
Sentuhan lembut juga terasa di kepala Veron, membuat Veron terkejut berkali-kali di tidur palsunya.
Terdengar langkah menjauh dari tempat Veron, membuat dirinya merasa sedikit lega.
Aku harus apa sekarang? Pura-pura terbangun atau bagaimana, aku sudah tidak tahan lagi. Kakiku ... aku juga kebelet b-a-k ...
Setelah sekian lama berfikir Veron mengerjapkan mata, membuka mata dengan di iringi gerakan kecil tangan dan kakinya.
"Aduh." Rasa kaki Veron yang tidak nyaman, membuat dia tidak bisa menahan suaranya.
"Kenapa?" Zello yang tengah duduk di sofa, berdiri mendekat ke Veron.
"Aow." Veron mengaduh, sembari menggerakkan kakinya dengan sangat pelan.
"Kakimu sakit?"
"Kesemutan hehe ...."
"Rilekskan kakimu, nanti akan cepat pulih."
"Iya ...." Tapi masalahnya aku kebelet ....
"Zello, tolong aku. Aku butuh toilet." Terlihat wajah Veron yang memelas, yang membuat Zello tersenyum kecil tapi juga langsung bergegas membopong Veron lagi.
__ADS_1
'Sudah berapa lama kamu menahannya?' batin Zello.
Sesampai di toilet, Veron langsung di turunkan Zello dengan perlahan.
"Ada yang kamu butuhkan lagi?"
"Tidak Zello, makasih." Veron bertumpu dinding dengan tangannya, sementara Zello langsung keluar toilet.
Waktu yang lumayan Veron keluar dari kamar mandi, dan setelah keluar dari kamar mandi Veron sudah terlihat jauh lebih baik.
"Kakimu sudah pulih?"
"Sudah." Veron menyahut pelan sembari menuju lemari pakaiannya, mengambil sepasang baju tidur dan masuk kembali ke kamar mandi.
Zello masih duduk di sofa menunggu keluarnya Veron. Nggak selang lama, Veron keluar kamar mandi dengan baju tidur satinnya, melangkah menuju ranjang, menaiki dengan posisi awal duduk di bibir ranjang.
"Lilie."
"Hm?" Veron yang posisi duduk di bibir ranjang mau nggak mau menatap Zello.
"Lilie - bolehkah aku meminta satu permintaan?"
"Hah, permintaan apa?"
"Ini lebih ke aktivitas suami istri. Ya walaupun kita hanya di atas kertas, tapi aku berhak mendapatkannya."
Veron tercengang dengan yang di dengarnya, "a-apa?"
"Bolehkah sekarang aku men-cium keningmu?"
Ha? Veron sedikit geli yang di dengarnya, menduga Zello akan meminta yang lebih dari itu, aktivitas panas misalnya hehe ... ternyata mencium kening ...
"Bukannya tadi sudah?"
"Apa?" Zello terkekeh kecil dengan Veron yang keceplosan.
Baru Veron ingin menyahut tapi bibirnya merapat lagi, wajahnya sudah seperti tomat sekarang.
"Bagaimana? Boleh? Setiap hari menjelang tidur misalnya," tanya Zello lagi. Kapan lagi dapat kesempatan emas dalam kesempitan ini.
"Ah yaudah terserah." Veron menjawab dengan cepat dan langsung menaikkan kaki, menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
'Yes.' Zello sudah menduga Veron akan menjawab dengan cepat tanpa pikir untuk segera mengakhiri obrolan mereka karena terlalu malu. Ternyata tidur palsu Veron membawa keberuntungan buat dirinya.
Zello menaiki ranjang dan berbaring dengan senyum puas. Awalnya, dia tidak sadar kalau Veron hanya pura-pura tidur. Tapi melihat wajah Veron yang mendadak memerah setelah ia mencium keningnya, baru ia mengetahui ulah konyol istrinya.
Bibir Zello tersungging ke atas mengingat dirinya yang setiap menjelang tidur, masuk ke kamar Veron memberikan ciuman di keningnya dengan cara diam-diam. Tapi mulai sekarang dia tidak perlu diam-diam seperti maling.
__ADS_1
Zello memiringkan tubuhnya, menghadap dimana Veron tidur.