
***
Zello dan Veron jalan beriringan dengan jari saling bertaut erat. Memasuki resto mewah di kota tersebut.
"Mau di sini atau di room private?" tanya Zello.
"Di sini aja. Seru." Veron berupaya melepaskan jemarinya yang menempel di jemari Zello.
"Room private aja deh." Celetuk Zello, sembari melepas tautan jemarinya juga.
"Modus."
"Cuma minta disuapin." Lepas dari jemari Veron, tangan Zello beralih ke pinggangnya. Berjalan dengan mesra ke room privat mengikuti jalan pramusaji.
"Silahkan." Pramusaji berhenti mempersilahkan mereka berdua. Yang kemudian menyebutkan beberapa menu andalannya.
"Mau apa?" tanya Zello ke Veron.
"Mm ... "
"Ini aja dua ya?" ucap Zello lagi.
"Jangan samaan dong. Yang satu ini aja. Desertnya kita pilih-pilih dulu deh. Tolong siapin makanan sama minumnya dulu!" ucap Veron.
"Baiklah Nona - Tuan, permisi."
Sepeninggal pramusaji, Zello semakin merapatkan jarak mereka yang sudah rapat.
"Zello." Suara Veron yang tidak nyaman karena pinggangnya di peluk sangat erat oleh Zello. Melepaskan tangan Zello yang di pinggangnya.
"Kalau nggak nyaman duduk sini saja." Zello menepuk pahanya menggoda Veron.
"Hm." Sahut Veron malas.
"Sini." Zello meraih pinggang Veron lagi dengan lembut supaya Veron nyaman. Namun juga langsung di lepaskan oleh Veron, Veron beralih mengapit lengan Zello dan menyandarkan kepala di bahunya.
"Ini baru nyaman," ucap Veron dengan senyum tipis. Nyaman dan hangat (Batin Veron). Menatap sekilas ke Zello yang tengah menatapnya juga.
"Zello, coba pilih desertnya yang mana!" Veron menenggelamkan wajahnya di bahu Zello. Baru kali ini ia berani melakukan itu, dan seakan sudah menjadi candu baginya. Sangat betah di bahu dan lengan Zello. Nggak selang lama Veron merasakan gesekan lembut di jemarinya.
"Lenganmu sangat nyaman."
"Hm, nikmatilah."
Terlalu nyaman di bahu Zello, membuat Veron tidak melepaskan tangannya sampai makanan itu datang.
"Ayo makan dulu!" ucap lembut Zello.
"Ok." Veron melepaskan tautan tangannya yang kemudian memandang makanan mereka.
"Yang ini dulu ya," ucap Veron yang langsung dapat anggukan Zello.
Veron mulai menyendok makanannya, tapi sementara Zello tengah memotong beef yang ada di piringnya. Satu suapan penuh Veron sodorkan ke Zello.
"Sebelum menyuapiku, seharusnya kamu dulu yang pertama." Zello selesai memotong daging dan menusuknya dengan garpu. Menyodorkan ke Veron.
"Kamu sendiri juga begitu," ucap Veron.
Zello tersenyum manis, " yaudah kita suap-suapan aja."
Tanpa menjawab Veron langsung makan daging yang disodorkan Zello. Zello juga demikian. Dinner yang sangat menyenangkan buat mereka berdua, sama-sama menikmati indahnya kebersamaan mereka berdua.
"Ini desertnya Tuan Putri." Zello menyodorkan ke Veron yang tengah bergelemayut di lengannya.
Sesaat kemudian Veron mengeluarkan ponselnya. "Tolong ambilkan gambarku, Zell." Veron menyodorkan ponselnya dan ambil posisi dengan memegang desertnya.
__ADS_1
Cekrek. "Ganti posisi." Atur Zello.
"Nggak usah. Udahan aja. Buat apa banyak-banyak." Veron meraih ponselnya dan melihat hasil jepretan Zello dan memposting di sosmednya.
"Kamu nggak mau ngajak aku foto," ucap Zello.
"Hah, buat apa?" sahut Veron malas.
"Aku ini suamimu."
Iya, tapi suami ....
"Hm, yaudah ayuk. Kamu yang pegang ponselnya. Selfi saja," ujar Veron.
"Ok. Zello mengambil foto mereka berdua dengan manis dengan Veron yang masih setia memegang desertnya.
"Ini." Zello memberi ponselnya ke Veron. Dan langsung juga Veron memposting hasil selfie mereka.
Caption?
Veron terdiam sesaat, memikirkan caption yang akan ia cantumkan. Pandangannya juga ke arah Zello yang tengah menukikkan kedua alis menggoda dirinya. "Hayoo ... captionnya apa?"
"Mm ..." Veron tersenyum dengan idenya.
"Sini aku yang ketik," ucap Zello dan langsung mengambil ponselnya dan mengetik ' Teman Hidup'.
"Sudah kan? Sini." Veron mengambil alih ponselnya menatap selfi mereka.
Veron juga beralih ke beranda publiknya. Mengagumi potret-potret yang lewat di berandanya. Rossa?
"Zell, lihat! Kekasihmu masuk di hot news American. Rossa sudah terkenal dari dulu ya? Atau aku yang baru tahu." Veron memperlihatkan isi berandanya ke Zello.
Zello mengambil dan membaca isi dari kabar itu. "Memangnya sudah berapa lama kamu kenal Rossa? Bukankah kalian berteman akrab?" tanya Zello datar.
Zello melihat tampilan cantik Rossa sebagai model di kabar berita itu. Terlihat dalam berita itu, Rossa is ambassador brands of marcetplace the biggest in America.
"Impiannya sudah terwujud," ucap Zello sembari menyerahkan ponsel ke Veron.
"Aku turut berbahagia. Aku harus minta traktiran kalau dia kembali nanti." Ucap Veron senang yang membuat Zello langsung melihat ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Veron.
"Tidak apa-apa." Zello terdiam sesaat, sampai ponselnya menerima sebuah panggilan.
"Rossa." Pekik kecil Veron melihat layar ponsel. "Wah, umur panjang." Tambah Veron.
Dengan segera Zello menjauh dari Veron.
"Zello ...." ucap kesal Veron. Veron mendekat dan bergelemayut di lengan Zello dengan intim.
"Menjauhlah dulu!"
"Nggak mau ...." sahut Veron jahil.
Mendapat perilaku demikian pipi Zello memerah karena senang, meskipun tahu Veron hanya berniat usil saja.
"Menjauhlah dulu!" Zello mencium kening lembut Veron dan menggeser tubuhnya.
Veron tercengang dengan perlakuan Zello. Dicium lalu ditutupi?
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Zello.
"Aku ... aku seperti wanita simpananmu hahaha."
Dahi Zello berkerut. "Diamlah dulu, aku akan mengangkat panggilan Rossa."
__ADS_1
"Iya iya. Aku tidak akan mengganggumu." Veron beralih sibuk dengan desertnya yang belum ia sempat nikmati.
"Darl." Suara Rossa di layar.
"Iya Sayang."
"Youre busy."
"I has meeting with client."
Sudut bibir Zello terangkat sedikit karena melihat sekilas Veron yang sedang mencibir-cibir tanpa suara, sudah dipastikan Veron tengah menguping obrolannya.
Rossa membuang nafas kasar. "Ok, if you have finish in your project. Please, call me!"
"Ok. Bye."
"Bye Darl."
Zello menaruh ponselnya, menatap Veron yang masih sibuk dengan ponselnya. "Sini!"
Veron bergeming, masih sibuk dengan ponselnya.
"Lilie, sini!" ulang Zello.
"Oh, aku." Sahut Veron mendrama. Dan dirinya tidak bergerak dari tempatnya duduk.
"Sini," ulang Zello.
"Nggak mau. Bukankah tadi kamu yang menyuruhku untuk jauh-jauh." Veron mendrama kesal.
"Kenapa? Apa kamu cemburu?" Goda Zello. Veron yang tak kunjung mendekat membuat Zello yang bergerak ke arahnya.
"Jangan dekat-dekat." Tolak Veron.
"Kamu iri sama dia karena bisa melakukan panggilan video kepadaku? Kamu juga bisa melakukan panggilan video atau apapun itu bila merindukanku."
"Siapa yang iri, siapa yang cemburu." Tanpa sadar Veron menanggapi ucapan Zello dengan serius.
"Jangan bohong."
"Nggak."
"Kalau bohong nanti ...."
"Nanti apa?"
"Nanti- akan tumbuh jerawarmt di wajahmu."
"Hahaha. Lucu sekali."
Zello meraih pinggang Veron dengan satu tangannya, merapatkan jarak antara mereka.
"Zello, ponselmu bunyi." Veron menggeliat dari rangkulan Zello.
"Biarkan."
"Zello, siapa tahu itu Rossa."
"Biarkan."
"Yaudah terserah."
Ponsel Zello terus berbunyi, membuat suara mereka bertabrakan. Veron sendiri sudah berhasil lepas dari rangkulan Zello dan duduk nyaman di tempatnya.
Merasa terganggu dengan suara ponsel, Zello mengambil ponselnya yang ada di meja. Senyum tipis mewarnai bibirnya melihat layar di ponsel miliknya. "Dasar usil." Zello meraih pinggang Veron dengan kedua tangannya, memeluk erat gemas, senyum tipisnya berubah menjadi senyum lebar.
__ADS_1
Veron yang di pelukan Zello, tanpa sengaja melihat layar ponsel milik Zello. 'Panggilan Tak Terjawab. My Wife'.
My wife?