Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Ada Yang Nyari Lilie


__ADS_3

Ternyata begini rasanya bila punya urusan dengan Dave. Sudah di kelilingngi banyak anak-anak yang selalu membuatnya tertawa, ada bunda yang selalu memberi petuah. Tapi hati Veron masih ketar-ketir. Membayangkan Dave yang sekarang berusaha untuk mencarinya. Dan kalau sampai dirinya tertangkap sudah pasti tidak akan bisa lepas lagi.


Malam yang sudah larut namun mata Veron masih terjaga, dirinya gelisah.


Kriett.


Ranjang sederhananya berdecit ketika Veron turun dari sana. Veron menuju tempat dimana anak-anak terlelap. Membuka pintu perlahan, masuk ke dalam ruangan yang luas seukuran ruang kelas. Ruang yang lebar dengan ranjang- ranjang size 3 dengan muatan dua bocah di atasnya. Di semua sudut tepi disusun dengan ranjang susun. Tidak hanya anak-anak, disini juga ada beberapa orang yang membantu menjaga anak-anak, mereka yang berjumlah tiga orang dewasa sengaja tidur disini untuk menjaga mereka di malam hari. Banyaknya yang menghuni ruang ini, membuat anak-anak bising karena berseteru, iseng, dan yang lainnya. Di situlah peran penting mereka bertiga, menjadi penengah anak-anak.


"Kakak...." Teriak tertahan dari Arya. Veron terkesiap, apa kehadirannya menganggu Arya yang tengah terlelap.


Dengan langkah hati-hati Veron menuju di mana Arya terjaga. Senyum mengembang di tengah mata yang terlihat jelas masih mengantuk. Menggemaskan sekali.


"Ayo, tidur lagi!" Veron memberi tepukan kecil di paha Arya.


"Kakak nggak tidur?"


"Belum bisa tidur."


"Kenapa?"


"Nggak tahu, mungkin karena belum mengantuk."


"Sama kaya Arya. Arya juga nggak bisa tidur."


"Bohong, kelihatan matanya sangat ngantuk. Sudah, tidur lagi ya!"


"Arya sungguhan nggak bisa tidur. Nggak tahu juga kenapa. Kakak nggak pergi kan?"


Veron terdiam heran yang kemudian mengulas senyum manis. "Nggak, kakak nggak pergi."


"Lilie kamu belum tidur?" tanya Aida. Yang mendekat ke Lilie.


"Apa aku mengganggu kalian?"


"Tidak, kebetulan aku memang lagi ke kamar mandi. Kebelet."


"Ohh."


"Kalau kak Lilie pergi, Arya nanti main sama siapa dong?" sela Arya.


"Arya ngomong apa sih. Nggak ngerti," cetus Aida. "Lie, nitip sebentar ya, aku mau ke kamar mandi sebentar."


"Iya, sana! Nanti keburu ngompol."


"Kak Lilie punya keluarga?" tanya Arya.


"Mm, punya. Kenapa?"


"Arya juga punya. Bunda sama teman-teman disini. Kalau Kakak keluarganya dimana?"


"Ada, kak Lilie punya kakek. Kakek Hanif namanya," ucap Lilie. Veron rasa matanya pasti memerah sekarang.


"Kakek Hanif baik?"


"Baik sekali. Persis seperti Arya. Sering mengajak kakak mengobrol, sering senyum. Terus kakek Hanif juga jago main catur loh."

__ADS_1


"Main catur, apa itu?"


"Mm, kamu nggak tahu ya. Yaudah nggak apa. Nanti suatu saat kamu juga tahu."


"Hm."


"Sekarang tidurlah!"


Tepukan hangat dari tangan Veron membuat Arya tak lama kemudian memejamkan matanya.


"Arya memang mirip kakek. Hangat ke semua orang."


"Hoaam," Aida menguap ngantuk. "Ayo, tidur. Kamu tidur sini saja!" ucap Aida yang sudah kembali. Sementara Veron masih menatap intens wajah Arya.


Melihat Veron demikian, Aida yang sudah naik ranjang turun lagi dari sana. Mendekat dimana Veron terlihat tulus dengan Arya.


"Menurutmu bagaimana Arya?"


"Dia manis sekali."


"Iya, dia memang manis. Hangat ke semua orang. Kata bunda, ibu Arya meninggal saat melahirkan dia. Dan sebelum meninggal ibu Arya berpesan kepada bidan yang membantu melahirkan dia untuk di titipkan di sini." Tangan Aida menyentuh pipi Arya, menyubitnya dengan lembut.


"Awas nanti kebangun dianya," tegur Veron.


"Tidak. Dia kalau sudah terlelap tidak akan bangun. Kalau dia tadi bilang belum tidur ke kamu berarti dia memang belum tidur."


"Sayang sekali ya ibunya meninggal. Andai masih hidup, pasti dia akan sangat bangga," imbuh Aida.


"Aku rasa ibunya yang sudah di surga pun juga bangga."


"Iya, kamu benar."


****


"Kakak .... kakak Anita. Ada orang-orang nyariin Kak Lilie."


Dada Anita berdegup kencang, Anita merasa pemilik club pasti akan mengamuk. Pakaian yang yang ada ditangannya ia taruh asal. Melongok dimana Dave dengan banyak laki-laki di belakangnya.


'Kenapa dia bawa pasukan? Kaya bos-bos mafia saja,' batin Anita.


Semakin dekat Dave,semakin kencang pula detak jantung Anita.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap Anita. Meski hatinya bertalu karena takut.


"Bawa dia ke ruangannya!"


"Baik, Bos."


"Apa yang kalian lakukan?" Bawahan Anita dengan panik mengejar Anita yang sudah di seret ke ruangannya.


"Jangan ikut campur!" Anak buah Dave dengan cepat mencekal tangannya. Membawa dia bersama yang lain di sudut butik. Membekap dan mengikat tangannya erat. Mulut dan tangannya tak berhenti untuk berontak. Tapi tentu saja itu hanyalah sia-sia.


Sementara Dave sudah berada di ruangan bersama Anita. Menatap dingin, dengan jarak yang sangat minim.


"Kamu yang sudah membantu Veron kabur?! Hm?!"

__ADS_1


"Veron Lilie maksudnya? Kabur apa? Apa yang Anda maksud?" ucap Anita tergagap.


"Jangan bohong kamu! Aku sudah tahu. Sekarang lihat saja apa yang bisa aku lakukan."


"Kamu mau apa?"


"Mau apa? Mau menghancurkan apa yang kamu punya."


"Menghancurkan butikku? Kalau kamu menghancurkannya, aku yakin Lilie akan membencimu seumur hidup."


"Kamu berani menggertakku?" Dave memmncekram pipi Anita kuat.


"Aku tidak menggertakmu, tapi memang itu kenyataannya."


"Hahaha. Kamu mau sok jadi pahlawan. Kamu tahu peran Veron buat aku? Dia itu partner *** ku. Kalau dia tidak bisa kutemukan. Kamulah yang akan jadi penggantinya. Kamu paham?!" Zello mengikis wajah mereka, menyemburkan nafas hangat ke wajah Anita.


"Dasar gila!"


Sreek.


"Aaa." Dengan cepat tangan Anita menutup dadanya. Baju yang tengah dipakai dengan mudahnya disobek oleh Dave dengan satu tarikan.


Tidak sampai disitu, di tengah wajah Anita yang syok, tangan Dave masuk menyelip ke bra Anita. Meremasnya kasar.


Plakk. Spontan Anita menampar Dave.


"Hahaha." Dave tertawa menyeringai. Menjambak rambut Anita kuat. Sakitnya jambakan Dave membuat Anita meringis, mencoba membuka jambakan Dave dengan kedua tangannya.


"Kamu pikir aku main-main." Dave melirik buah dada Anita yang terpampang dengan menyembul.


"Bug."


"Aoow."


Dave spontan memegang pusakanya. Tak peduli dengan rambut Anita lagi. Wajah meringis penuh kesakitan.


"Syukurin, pecah tu telor puyuh kamu."


"Nantangin kamu?!" Tidak menghiraukan rasa yang masih nyeri, Dave membuka bajunya. Dengan tangannya yang kuat, dengan mudah Dave membuat Anita tersungkur ke sofa.


"Ka-kamu mau apa?"


Dada Dave naik turun. Kalau tidak ingat dirinya masih berharap sama Veron, rasanya ingin memberi pelajaran ke Anita sampai pingsan. Tapi itu tidak mungkin. Dave masih berharap dengan Veron. Jika ia melakukan itu, Veron akan semakin menghindarinya.


Dave memakai pakaiannya kembali, menatap bengis ke Anita. "Kamu beruntung kali ini."


****


Dengan setengah berlari Aida menuju dimana Veron dan Bunda panti yang tengah menyiapkan makan malam untuk anak-anak.


"Bunda," ucap cemas Aida. Nafasnya sedikit tersengal.


"Kamu kenapa?"


"Ada preman yang nyariin Lilie. Banyak," bisik Aida.

__ADS_1


Ucapan Aida membuat Bunda menatap intens Veron.


"A-ada apa?" tanya Veron.


__ADS_2