
Zello nampak begitu bahagia saat mengutarakan niatannya. Dan menurunkan Veron perlahan.
Sebenarnya Zello ingin memberikan surprise itu nanti. Tapi melihat sedihnya Veron membuat dia reflek mengatakan itu. Berharap juga itu akan menghibur Veron.
"Bagaimana?"
"Lihat wajahku! Aku syok." Veron menatap Zello sesaat dan berhambur di dada Zello memeluknya. "Terima kasih," imbuh Veron.
Tidak ada pilihan lain selain pura-pura menerima niatan Zello. Mungkin sudah seharusnya dirinya mengatakan yang sebenarnya.
"Aku senang melihat wajah syokmu itu." Zello terkekeh senang.
Melihat rona bahagia Zello di tengah hatinya yang bimbang, Veron hanya bisa tersenyum tipis menanggapi ucapannya.
"Mandilah sana!"
"Iya." Sahut singkat Zello. Meraih dagu Veron dan membungkam bibir tipisnya.
"Bye." Zello mengakhiri dan ngeloyor ke kamar mandi.
Veron terduduk lesu di ranjangnya. Hati meyakinkan untuk berbicara jujur. Tapi semakin meyakinkan diri semakin besar ketakutan Veron. Masa lalunya bukanlah hal yang sepele.
Terlebih dirinya berhenti kerja ketika menjelang menikah. Andai Veron mengatakan itu masa lalu, mungkin orang tidak akan membenarkannya.
Air mata Veron luruh begitu saja. Dave benar, dirinya tidak memiliki keberanian sebesar itu.
Dengan lunglai Veron beranjak dari ranjang, beralih ke meja rias. Menghapus air mata dan sisa sembabnya. Merapikan penampilan nya yang sedikit berantakan. Veron tidak mau Zello menaruh curiga dengan penampilannya.
Masih dengan hati yang bimbang Veron bercermin. Menatap wajah ayu dirinya. Tapi apalah arti sebuah paras dibanding dengan dosa yang ada pada dirinya.
Sekelebat bayangan masa lalu seakan terlihat di cermin. Sewaktu dirinya masih kecil yang jadi anak jalanan, di pungut diasuh sampai besar oleh seorang pria asing, saat remaja pria itu yang sudah ia panggil 'ayah' malah menodainya berkali-kali, berusaha kabur namun selalu tertangkap, dan yang terakhir dirinya dapat perlindungan dari Dave. Apa masih bisa dikatakan memberikan perlindungan, karena Veron sendiri harus tinggal dan jadi pemuas nafsu para lelaki hidung belang. Namun anehnya Veron merasa itu jauh lebih baik ketimbang harus jadi korban dari pria yang sudah ia anggap ayah.
Seorang pria yang mengajari membaca, menulis, mengantar dan menjemput sekolah, namun pada akhirnya pria itu malah jadi predator.
Digauli pria yang sudah dianggap ayah, sangat menjijikkan dan terlalu menyakitkan untuknya.
Meski Dave menempatkan di tempat terkutuk itu tapi Veron benar-benar merasa aman. 'Ayah'nya tidak pernah menemukannya lagi. Ketika tanpa sengaja mereka bertemu di luar club. Pria itu masih saja ingin melakukan hal keji terhadap dirinya. Dan beruntung Dave langsung datang. Dave sudah siap untuk membunuh. Tapi rasanya Veron tidak tega melihat pria itu terbunuh. Sehingga Dave hanya bisa menjebloskan pria itu ke dalam penjara. Dan Dave meyakinkan akan di sana seumur hidup. Dan dari kejadian itu Veron menyadari kalau Dave punya kuasa.
Rasa trauma dan juga balas budi terhadap Dave membuat dirinya memilih bertahan di tempat itu. Tidak di pungkiri juga, Dave selalu memperlakukan dirinya dengan spesial. Mungkin bisa dibilang di tempat itu dirinya yang paling di spesialkan. Bukan hanya Veron yang beranggapan, tapi beberapa temannya juga mengatakan demikian. Setiap Dave keluar negeri tak jarang Veron ikut di bopongnya dan di manjakannya. Hubungan tanpa ikatan, kata para teman Veron.
Suara knop pintu kamar mandi yang terbuka menyadarkan Veron dari bayangan masa lalunya.
Senyum merekah terpampang di bibir Zello dengan penampilan handuk sebatas pinggangnya. Dada bidangnya yang rata terpampang jelas di mata Veron.
"Sengaja menggodaku?" tanya Veron.
"Iya. Tapi sayangnya istriku belum tergoda sama sekali."
Zello berdiri di samping Veron, melihat pantulannya sendiri di cermin. Berdiri tegap dan menepuk pipi kiri kanannya. "Memangnya kurang apa aku?"
Tangan Zello beralih mengelus dadanya sendiri. Tidak sampai di situ, Zello juga memperlihatkan ototnya bak binaragawan.
Tawa Veron hampir meledak melihat tingkah Zello. Dipeluknya Zello karena gemas.
Zello meraih tangan Veron dan di letakkan di dadanya yang polos. Masih dalam tuntunan tangan Zello, tangan Veron meraba-raba di sana. Mata Zello terpejam menikmati gerakan tangan halus Veron.
Desiran yang memabukkan menjalar di diri mereka. Mata manik Veron mengamati wajah tampan Zello yang terpejam. Bibir Veron tersungging, bangga telah membuat Zello menikmati sentuhan sederhananya. Meski sentuhan itu ulah dari Zello sendiri.
Ingin sekali Veron melakukan lebih jauh, namun dirinya merasa belum siap. Bagaimana bisa dia melakukan dengan ada kebohongan didirinya. Tangan Veron kaku, menahan gerakan tangan Zello. Perlahan mata Zello terbuka, dilihatnya Veron yang tengah tersenyum manis ke arahnya.
"Nanti akan jadi yang spesial buat kita," tutur Zello. Dirinya bisa saja meminta cara lain ke Veron untuk memuaskannya. Tapi Zello bukan pria yang bisa merasakan kenikmatan sendirian.
"Karena kamu spesial." Ucap mereka bersamaan. Mereka terhenyak sesaat yang kemudian sama-sama tertawa.
"Kok bisa sama." Veron tersenyum geli.
Masih dengan sisa senyum di wajahnya, Zello memainkan bibir Veron dengan tangannya. "Entahlah, Aku nggak mau memikirkan itu. Aku mau ini."
***
Pagi hari, Dahlia yang tengah berada di kursi pengemudi berucap doa supaya tidak melihat adegan yang seperti sebelumnya. Dahlia memegang dadanya, teringat kejadian beberapa hari yang lalu.
Beda dengan Dahlia. Zello tengah santainya duduk bersebelahan dengan Veron. Tangan satunya mengapit pinggang Veron. Sepertinya dia sudah candu akan hal itu.
Obrolan dan tawa kecil dari bangku belakang membuat Dahlia banyak senang, sedikit iri. Dahlia sudah bekerja lama di keluarga Hanif. Dahlia tahu dengan tabiat Tuan Mudanya. Pekerja keras dan setia. Terbukti menjalin hubungan dengan Rossa sampai bertahun-tahun dan selalu menolak setiap wanita yang datang kepadanya.
'Setia? Tapi sekarang Tuan bisa berpaling dari Rossa. Atau malahan bukan berpaling, tapi malah dapat dua-duanya.'
'Apa benar kata Nona Lilie, kalau laki-laki tidak hanya cukup satu wanita. Jadi, Nona Lilie sendiri sudah terperangkap. Ah, Nona.... kamu hutang penjelasan kepadaku'
Meski Dahlia senang Lilie jadi Nona yang sebenarnya, tapi dirinya tentunya penasaran.
Walau tanpa ada adegan uwu-uwuan di mobip, tetapi membuat Dahlia seperti patung. Tidak berani berkomentar, tidak berani menoleh ke belakang, apalagi mengintip dari kaca.
Dahlia membatin kesal ke kedua orang yang duduk di belakang. Bisa-bisanya Dahlia tidak dikasih obrolan walau hanya sekedar ditanya. Perjalanan hampir satu jam, bibirnya tidak mengeluarkan suara sama sekali, sungguh tersiksa. Dan sialnya nggak ada minuman.
Sesampai kantor Veron langsung ikut Zello ke ruangannya. Veron memang sengaja ikut karena ingin melihat keseharian suaminya di tempat kerja.
"Sini!" titah Zello yang melihat istrinya akan duduk di sofa.
"Baik, Pak."
"Ck, manggil pak lancar sekali, giliran disuruh manggil mas tidak mau."
"Hehe, iya Mas. Kenapa nggak papa aja manggilnya?" Veron duduk di kursi kebesaran Zello sesuai titahnya.
"Papa panggilan bagus, tapi tidak terdengar romantis."
"Oh .... ok Mas Agra," celetuk Veron dengan mimik menggoda.
Zello terdiam dan menatap penuh arti.
"Iya iya. Saya akan manggil blue red Zel ...lo."
"Kamu ...." Zello merangkul bahu Veron dan menolehkan kepalanya untuk menatap Veron.
"Kamu tahu, kenapa aku tidak suka di panggil Agra?"
"Kenapa?"
"Itu panggilan Rossa untukku saat kami duku masih bersahabat. Setelah menjalin hubungan kekasih baru dia memanggilku Darl."
Veron mengangguk kecil dan membalas tatapan Zello yang sedikit rumit.
"Kamu pasti terluka. Dia sahabatmu dari kecil. Cinta pertamamu," ujar Veron pelan.
"Terluka bila aku masih mencintainya. Tapi nyatanya aku sekarang sudah mencintaimu." Ciuman lembut Zello berikan di pipi Veron. "Wangi."
__ADS_1
Wajah Veron memerah mendapat perlakuan manis dari Zello. Meski ia sudah sering mendapatkannya.
"Tapi kalau kamu ingin memanggilku Agra tidak masalah mulai sekarang."
"Enak saja. Nanti kamu keinget mulu sama dia." Bibir Veron mencebik kesal.
"Kenapa? Cemburu ya?"
"Iya. Puas."
Tawa kecil keluar dari bibir Zello. Dirinya beralih meraih laptop tanpa mengubah posisi tubuhhnya. Seakan Veron terperangkap dalam pelukan Zello.
Tangan Zello menuntun kedua tangan Veron untuk membuka laptop. Menuntun tangan istrinya juga untuk mendeal keyboard laptopnya.
"Ini baca sampai selesai! Jangan sampai ada yang salah!"
"Semua? Sebanyak ini?"
"Iya. Jangan sampai ada yang salah!"
"He em."
Veron menatap tangan Zello yang sudah melingkar di pinggangnya serta dagu menempel di bahunya.
"Modus."
"Apa aku harus modus ke istri orang?"
"Jangan!" Veron mengeratkan tangan Zello yang di pinggangnya.
'Hehe dia sudah mulai berani. Asyik' batin Zello.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" ucap Veron.
"Pakai tanya, aku lagi bahagia." Zello mencium dalam pipi Veron.
'Tuhan, hidupku suram sedari kecil. Biarkan aku egois untuk pertama kalinya.'
Di lain sisi, Dahlia yang sudah puas berleha di cafe hendak pulang. Karena Nonanya nanti akan pulang bersama tuan. Hanya saja dia harus ke butik dulu untuk mengambil gaun pesenan Veron.
Notif pesan menghentikan langkah Dahlia yang hendak keluar cafe. Dibacanya pesan dari Veron.
[Sudah diambil?]
[Baru mau jalan kesana Nona hehe. Jangan marah Nona, kan yang penting saya jujur hehe] send.
[Tidak masalah. Aku hanya ingin sekalian minta tolong. Selesai di ambil nanti gaunnya di pisah. Jangan di masukan ke lemari. Gantung saja di luar]
[Di luar rumah?] send.
[Di luar almariiiii. JANGAN DI DALAM ALMARI]
[Loh, biar Apa Non?] Send.
[Nggak tahu]
"Loh, kok aneh." Gumam Dahlia.
*
Setiba di butik, Dahlia tidak langsung mengambil gaunnya. Dia berniat untuk mencari gaun lain untuk dijadikan cadangan. Meski sudah ada, tapi wajib beli lagi.
"Ah, sering-sering saja ada acara. Kan lumayan," gumam Dahlia. Tangannya sibuk memilah-milah gaun dengan intens.
"Warna pink atau warna kuning?!" Dahlia menimbang-nimbang dua gaun itu. "Apa yang kemarin kucancel saja."
"Kenapa nggak tiga-tiganya saja. Ambil lagi dua, tanpa cancel yang lain."
Dahlia menoleh ke arah suara bariton yang bersumber dari depannya. Tak ada respon dari Dahlia. Memasang wajah datar dengan melihatnya sekilas. Arah matanya beralih lagi ke dua gaun yang tengah ia pegang.
"Ambil saja dua-duanya! Biar aku yang bayar."
Merasa diacuhkan, pria yang tak lain Dave melambaikan tangan tepat di wajah Dahlia.
"Hai.... apa kamu melupakanku?"
"Siapa ya?"
'Kalaupun tidak ingat, paling tidak pura-pura saja ingat atau mengenal. Baru kali ini aku diacuhkan perempuan' (batin Dave)
"Aku teman Veron Lilie. Yang beberapa hari lalu bertemu di resto."
'Eh, astaga. Kenapa aku jadi seperti pengemis' batin Dave.
Dahlia mendongak "Oh iya iya."
Dahlia pura-pura teringat. Padahal dia memang tidak lupa. Tapi ilfiel dengan pria yang suka bersikap manis ke semua perempuan. Aissh, bukannya cemburu. Bukan. Tapi kesel. Perempuan itu sensitif, gampang terbawa perasaan. Contohnya Dahlia ini. Sudah terlanjur terlena, eh prianya sok asyik sama perempuan lain, kan kesel.
"Lalu?" Dave terheran dengan sikap acuh wanita yang ada di depannya.
"Lalu apanya Tuan?"
"Ah, bukan apa-apa." Dave mendesah kesal. Dave menyadari, kalau dirinya memang suka urakan. Tapi biasanya, penampilan dan tampangnya membuat wanita tidak peduli dengan sikap yang sudah mendarah daging di dirinya itu.
"Tapi, serius. Ambil saja! Aku akan membayarnya."
"Ah, tidak perlu."
"Aku bilang ambil!" Dave tidak pernah dapat penolakan. Dirinya sudah mulai jengkel dengan Dahlia yang dianggapnya jual mahal.
Dahlia mendelik mendengar suara Dave yang terdengar nyolot. Dirinya membuang wajah saat Dave menatapnya dengan tatapan menohok.
Dahlia yang membuang arah tidak sengaja melihat orang yang di kenalnya baru saja masuk butik.
Seketika Dahlia tersenyum tipis dan beralih menoleh ke Dave. "Tuan, tidak perlu. Kekasihku sudah datang." Dahlia berucap bangga dengan pandangan mata terarah ke pria yang dikenalnya, Zico.
Tatapan Dahlia membuat Dave tahu pria yang di maksud Dahlia.
"Sayang ..." Teriak Dahlia tanpa malu. Zico yang mendengar menoleh ke arah sumber suara. Bukan karena tahu yang di maksud dirinya. Tapi penasaran siapa wanita yang tidak tahu malu berteriak kencang di dalam ruangan itu.
Alis Zico bertaut, terlebih melihat pandangan Dahlia yang ke arahnya. Dirinya menoleh ke samping kiri kanan dan belakangnya. Tidak ada orang selain dirinya.
'Sepertinya dia sudah gila' batin Zico.
Tanpa mempedulikan tatapan Dahlia, dirinya melangkah berniat langsung menuju ke pelayan butik.
Dahlia yang awalnya tersenyum semringah seketika meredup melihat Zico yang mengacuhkannya.
__ADS_1
"Zico Sayang!" Teriak Dahlia.
Langkah Zico terhenti, menoleh ke Dahlia tajam. Dirinya terdiam sesaat dengan mata tajam ke Dahlia.
"Sayang.... sini.... "
Dengan kedua tangan di saku, Zico melangkah lebar menuju di mana Dahlia berdiri. Bukannya peduli dengan Dahlia. Tapi malu karena teriakan Dahlia yang terus tertuju ke dirinya. Rasanya mau nyumpal mulut cempreng Dahlia dengan baju yang tengah di pegangnya.
Langkah lebar Zico yang dengan mantap ditambah balutan tuxedo yang pas body membuat Dahlia melihat penuh binar. Rasanya ingin berhambur dan memeluk Zico. Tapi tidak mungkin, Dahlia hanya bisa memeluk erat gaun yang tengah dipegangnya sebagai pelampiasan.
Zico yang sudah berada di depan tidak hanya fokus ke Dahlia, tapi juga ke pria yang disebelahnya, Dave. Salah satu investor yang menanam saham di perusahaan Zello.
"Tuan." Sapa Zico tanpa jabat tangan.
"Hai." Dave tersenyum kecut.
'Matilah aku. Mereka saling mengenal' (batin Dahlia)
"Anda di sini juga?"
"Iya. Kebetulan saja." Dave melirik Dahlia. Alasan dirinya mlipir di butik ini. Tadi, tanpa sengaja Dave melihat Dahlia masuk ke butik, tepat saat Dave keluar dari resto tidak jauh dari sana.
"Oh."
"Dia kekasihmu?"
Zico menatap tidak suka ke Dahlia. Menjengkelkan. Batin Zico.
Berbeda dengan Dahlia yang menatap penuh permohonan.
"Iya." Cukup lama Zico melontarkan kata itu. Itupun rasanya menyesal. Andai ia bisa membatalkan. Terlebih melihat tingkah Dahlia yang semakin aneh.
Dengan Posesif Dahlia mengapit lengan Zico sesaat dan tersenyum mesra.
"Sayang, aku mau ini. Kamu tidak keberatan kan?" ucap Dahlia manja.
"Ya terserah."
Dengan senyum mengembang Dahlia menoleh ke Dave. "Tuan. Saya sudah selesai. Permisi."
Zico mengangguk serta tersenyum tipis sebagai tanda hormatnya ke Dave. Melangkah mengekor Dahlia.
Dahlia dengan segera menuju ke ruang Anita. Mengambil gaun yang sudah nonanya pesan. Begitu juga Zico, dirinya juga keruangan Anita.
"Saya disuruh ambil pesanan Tuan Zello," jelas Zico.
"Eh iya. Sudah saya berikan ke Dahlia." Anita menatap heran ke Dahlia yang memang di antara mereka. Merasa heran dengan ucapan Zico. Apa mereka tidak datang bersama.
"Kamu mengambil pesanan bos?"
"Iya. Pesanan nona kan pesanan tuan juga. Aku di minta mengambilnya sekarang. Kalau bukan sekarang kapan lagi."
"Lalu kenapa bos menyuruhku mengambilnya kalau kamu sudah kesini."
Dahlia menghendikkan bahu. Tapi bibirnya melengkung ke atas. Beda dengan Zico yang raut tidak suka.
"Sudah biarkan saja. Sudah terlanjur berada di sini. Oya. Ini - jadi ya. Sekali-kali traktir teman." Dahlia menggantungkan gaun pilihannya di depan wajah Zico.
Meski tidak rela tapi Zico mengangguk juga.
"Terima kasih." Wajah Dahlia bersemu merah mendapat baju dari Zico.
Dahlia beralih ke Anita untuk proses pembayaran satu gaunnya. Sementara sisa gaunnya adalah urusan Nonanya.
Selesai pembayaran Dahlia keluar beriringan dengan Zico. Terlebih dilihatnya yang masih ada Dave. Dengan posesif Dahlia mengapit lengan Zico. Dan dengan cepat dapat penolakan dari Zico. Dengan segera ia melepaskan tangan Dahlia.
"Zico please! Dave masih ada. Nanti dia curiga." Hiba Dahlia.
"Tidak perlu percaya diri terlalu tinggi. Dave nggak pernah kekurangan wanita. Buat apa dia mendekati kamu."
"Tapi dia masih lihatin kita terus."
"Mangkanya jadi perempuan jangan suka tebar pesona sama laki-laki. Jual mahalah sebagai perempuan."
"Aku tidak pernah tebar pesona."
"Hm."
"Zico aku satu mobil sama kamu ya. Dia masih mengawasiku. Aku takut."
Zico menoleh ke Dave yang memang masih menatap ke arah mereka. Dan memberikan senyuman sopan ke Dave.
Tanpa persetujuan Zico, Dahlia langsung ikut masuk ke dalam mobil yang dibawa Zico.
Brakk. Zico menutup pintu mobil kencang.
"Kalau kamu ikut bagaimana dengan mobil yang kamu bawa?! "Zico berucap kesal.
"Tidak masalah. Nanti aku bakal ambil. Yang penting sekarang aku terbebas dari pria aneh itu."
"Dasar penggoda." gumam Zico yang mirip umpatan.
"Aku tidak menggodanya. Mana pernah aku menggoda pria."
Zico masih diam di kursi pengemudinya. Sorot matanya seakan menguliti Dahlia.
Tidak pernah menggoda pria? Tapi sedari kemarin selalu menempel ke dirinya.
Seakan tahu maksud tatapan Zico. Dahlia tersenyum kaku dan meremas ujung kain yang tengah dipakainya. "Aku hanya menggodamu saja."
Hembusan nafas kasar keluar dari hidung Zico. Dan segera melajukan mobilnya.
Bruuumm.
"Aw."
"Hati-hati!" Dengan segera Dahlia memasang sealt beltnya.
"Lagipula kata nona pria itu akan segera ke luar negeri. Kenapa belum pergi juga. Bukankah seharusnya dia sudah pergi." Dahlia menggerutu kesal.
"Apa?"
"Iya. Kata nona, Dave akan segera keluar negeri. Tapi sampai sekarang belum pergi juga. Ah, mungkin dia mencancel ya. Kenapa harus dicancel?! Malah bagus kalau dia pergi."
"Nona kenal Dave."
"Iya. Dia sahabat nona."
__ADS_1
'Lilie punya sahabat seorang mafia?'