
***
Karena mereka pulang saat jam santai, nggak butuh waktu lama mereka sampai rumah. Meski sudah seharian di luar, penampilan Veron tidak berubah. Masih betah Zello memandang wajah Veron yang terlelap tidur di kursinya.
"Lie," ucap Zello pelan. Diguncangnya bahu Veron dengan lembut.
Tanpa sadar sudah ada Panee berdiri di samping mobil Zello. "Zello." Panee melongok melihat dalam mobil. "Dia terlihat sangat pulas. Gendong saja! Belajarlah jadi suami romantis!"
Tidak menggubris ucapan Panee, Zello mengguncang bahu Veron lagi.
"Aku saja yang gendong," ucap Panee kemudian.
"Papa." Sergah Zello.
"Mangkanya."
"Iya, aku akan menggendongnya. Apa semua sudah tidur?"
"Baru jam segini mana ada yang sudah tidur. Kami baru saja selesai makan malam. Kenapa? Nggak perlu malu. Dasar pengantin baru."
Bibir Zello mencebik mendengar kecerewetan Panee. Nggak lama, Zello mengangkat tubuh Veron. Menggendongnya ala bridaystyle sampai memasuki rumah.
Saat melewati ruang keluarga, Zello berpapasan dengan Hanif, Maria dan Rossa. Semua terlihat senang melihat pemandangan itu, kecuali sang model.
"Sayang ... suapin." Ceracau Veron dengan gaya bicara penuh drama. Rossa yang mendengarnya bahkan hampir muntah, tidak hanya dengan kalimatnya tetapi juga karena gaya bicaranya yang lebay ala abg.
"Astaga, Lilie ... dia manja sekali. Apa dia juga semanja ini di kamar? Dia sangat menggemaskan." Tanpa sadar Maria mengekor Zello yang tengah membopong Veron di anakan tangga.
"Mama kamu mau ngapain?" ucap Panee di bawah tangga.
"Eh iya."
"Turun!"
"Iya iya, Pah. Habis lucu banget. Gemas ...." Maria mengepal kedua tangannya di depan dada karena gemas.
Di lain sisi, Zello yang masih mendengar ceracauan Veron merasa tergelitik. Senyum penuh puas menghiasi bibirnya.
***
Pagi hari, awal yang indah untuk bergelut di bawah selimut. Meski sudah sadar sepenuhnya, Veron masih betah di bawah selimutnya. Nggak peduli dengan pakaian yang masih sama dengan pakaian yang ia pakai kemarin, hanya saja scarf kecil sudah terlepas. Mungkin Zello yang melepaskannya. Benak Veron. Dan nggak peduli juga dengan Zello yang tidak ada di kamar mereka. Palingan juga di kamar Rossa.
Hari makin siang, pukul enam lewat Veron baru masuk kamar mandi. Sudah siangnya hari, dia nggak luangkan di dapur. karena sarapan pasti sudah selesai di buat.
Selesai urusan di kamar mandi,masih dengan rambut basah Veron keluar kamar.
__ADS_1
"Seharusnya Zello sudah bangun, ini sudah siang," gumam Veron. Veron berdiri di depan kamarnya. Melihat kamar Rossa dari tempatnya berdiri.
Ceklek. Suara jauh dari arah kamar Rossa. Sekian detik munculah Zello dari kamar itu. Dengan wajah datar, Zello melangkah menuju tempat berdirinya dan yang nggak lama keluar juga Rossa, menyadari ada Veron yang tengah menatap mereka berdua. Senyum kemenangan terulas sempurna di bibir Rossa.
"Zello, pinjam kunci mobilnya. Aku mau ambil belanjaan kemarin." Pinta Veron.
"Sebentar."
Nggak lama, Zello datang dengan membawa kuncinya. "Apa kamu hari ini akan ke perusahaan?" tanya Zello.
"Buat apa?"
"Kemarin kamu hanya tidur di sana. Nanti datanglah ke kantor!"
"Oh ...." Memang kemarin Veron juga ngga ada niat untuk tidur seharian di kantor. Tapi dirinya kalau sudah memejamkan mata pasti akan langsung kebablasan.
"Baik," imbuh Veron. Dan beralih menuruni tangga yang akhirnya berpapasan dengan Rossa di sana.
"Bagaimana tidurmu?" ucap Rossa pelan, dengan nada nggak enak untuk di dengar.
Veron benar-benar merasa heran, bukankah seharusnya mereka berkawan baik. Karena Rossa sendiri yang memintanya dia untuk menjadi istri bayaran Zello. Dasar aneh. Umpat Veron dalam hati.
"Seperti yang kau lihat." Veron melebarkan langkahnya dan segera mungkin meninggalkan Rossa.
Dengan antusias, Veron memasuki rumah segera. Untungnya Rossa yang di meja makan tengah sibuk dengan gadgetnya. Kalau tidak, pasti akan banyak pertanyaan dari dirinya.
Sesampai depan kamar Veron masih dengan sumringah menenteng belanjaannya.
Ceklek.
"Sorry," ujar Veron. Veron melangkah keluar berniat untuk keluar kamar lagi. Bagaimana tidak?! Zello tengah melilitkan handuk sebatas pinggang saja. Veron sudah biasa melihat yang lebih dari itu. Hanya saja, takut Zello nggak nyaman dan marah lagi seperti dulu.
"Lilie, nggak perlu." Sergah Zello.
"Hah? Nggak perlu apa?" Masih di posisi keluar pintu kamar, yang artinya membelakangi pemandangan indah yang ada di belakangnya.
"Nggak perlu untuk keluar kamar. Aku yang akan masuk kamar mandi," ujar Zello.
"Oh ... Ok."
Setelah bunyi kamar mandi tertutup baru Veron melihat semua belanjaannya. Menata sebagian di lemari pakaiannya.
Veron yang sudah selesai dengan pakaiannya beralih menatap pintu kamar mandi. Dilihatnya juga atas ranjang yang tidak tersedia jas di sana. Tidak mungkin kan Zello memakai jas di kamar mandi?!
"Zello. Apa perlu aku siapkan jas untukmu," ucap Veron setengah teriak.
__ADS_1
"Boleh."
"Ok," gumam kecil Veron. Dicarinya jas - baru ingin mencarikan jas untuk Zello. Dirinya teringat dengan dasi yang ia pilihkan kemarin. Warna grey akhirnya menjadi pilihan Veron, yang akhirnya Veron carikan jas grey yang sesuai juga. Dan dia letakkan di atas ranjang.
Veron tengah menimbang-nimbang, haruskah turun duluan atau menunggu Zello.
"Lilie." Suara Zello dari kamar mandi.
"Jangan keluar dulu, tunggu aku!" sambung Zello.
"Ok." Nggak perlu berfikir lagi sekarang. Veron hanya tinggal duduk manis di bibir ranjang menunggu pangerannya keluar dari kamar mandi.
Ceklek.
Dia benar-benar pangeran. Gumam Veron membatin.
Badannya yang atletis sama sekali tidak bisa tertutupi oleh Zello, meskipun ia sudah memakai kemeja putih lengan panjang.
"Terima kasih." Zello meraih dasi dan memakainya. Sesekali ekor mata Zello mencuri pandang ke arah Veron. Yang akhirnya mata mereka tanpa sengaja bertabrakan. Tentu saja, Veron masih setia mengagumi tubuh Zello.
"Hem." Dehem Zello. Wajah Zello sedikit merah, karena malu terpergok mencuri pandang ke Veron.
"Pakaikan dasinya!" Alibi Zello.
Ha? "Baiklah, akan kucoba."
Dengan cepat Veron menepis jarak antara mereka. Berdiri tepat di depan Zello dan menerima dasi dari tangannya.
Dengan pelan Veron membuat simpul dasi. Ada rasa penasaran saat dia menggerak-gerakkan dasi itu. Berhasilkah ia kali ini? Terka Veron pada diri sendiri.
Mata Veron menatap Zello sekilas. Penasaran juga. Apakah Zello akan menatapnya juga seperti kemarin.
"Berhentilah tersenyum!" ucap Veron, matanya beralih kembali ke dasi Zello.
Sedari tadi Zello tersenyum kecil ke arah Veron. "Kenapa? Aku hanya penasaran saja. Apa sekarang kamu sudah benar-benar bisa memasangkan dasi," ucap Zello.
"Ini, selesai," ucap Veron bangga.
Terlihat Zello tengah mencoba kenyamanan dasi yang sudah Veron lakukan, "perfect," Zello beralih mengambil jas dan memakainya. Dipakainya di depan Veron.
"Bagaimana?" Goda Zello. Zello menaik turunkan ke dua alisnya menggoda Veron.
'Dasar laki-laki. Habis tidur dengan wanita lain, tapi bisa-bisanya sekarang dia menggoda wanita yang berbeda.' batin Veron.
Meski begitu Veron senang, sikap Zello yang hangat semakin membuat dirinya merasa nyaman di rumah itu.
__ADS_1