Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Di Paris


__ADS_3

***


"Mama," ucap Veron, membalas pelukan mama mertuanya. Dia baru saja sampai setelah perjalanan panjangnya. Hilang sudah rasa penat dan lelah setelah melihat mama mertuanya.


"Ayo masuk! Istirahatlah sejenak nanti baru makan." Maria merangkul Veron menuju kamarnya.


"Nah, ini kamar kamu."


Maria mengajak Veron duduk di ranjang itu.


"Bagaimana?" tanya Maria.


"Makasih, Mah. Ini sangat nyaman," sahut Veron. Matanya berkelana melihat tata ruang itu yang terlihat sempurna.


"Yaudah, kalian istirahat dulu ya! Nanti kalau sudah siap untuk makan turun saja," ucap Maria.


"Iya, Mah. Oya, papa mana?"


"Baru saja berangkat kerja." Maria berdiri dari duduknya dan tersenyum hangat ke Veron. "Sayang, makasih ya. Sudah lama sekali Zello nggak berkunjung ke sini. Beberapa minggu yang lalu Zello bilang akan berlibur kesini, tetapi saat selalu mama tanyakan Zello selalu jawab belum sempat."


"Mm ... Zello - memang ingin berlibur ke sini?"


"Iya ... dia nggak bilang ya? Ah, tapi yang jelas kamu berhasil membawa Zello kesini langsung. Padahal mama baru ngundang kamu kemarin. Mama semakin yakin, Zello sangat menyayangimu."


'Mungkin tepatnya kasian, Mah. Karena ucapanku kemarin.'


"Iya, Mah. Kan, suami istri memang harus menyayangi," sahut Veron.


"Yaudah, kamu istirahatlah. Mama keluar ya."


"Iya, Mah."


Maria yang baru saja sampai anak tangga bertemu dengan Zello, "darimana, Zello?"


"Tadi ada telepon dari kantor, Mah."


"Oh ... sekarang istirahatlah dulu. Nanti Lilie kalau sudah lapar ajak turun ya."


"Tentu, Mah. Makasih ya."


"Iya ... mama senang bila Lilie bisa membawa dampak yang baik buat kamu. Selama ini kamu tidak pernah kepikiran buat ngunjungi mama papa."


"Iya, Mah. Maaf ya ... kan, yang penting sekarang semuanya membaik. Mm ... mama sendiri kapan menetap di rumah Kakek?"


"Ck, sebentar lagi. Tapi jangan bilang-bilang dulu sama Kakek," ucap Maria.


Zello tersenyum dengan memberikan simbol ok dan kemudian memeluk Maria senang. "Terima kasih, Mah."


"Sana, buruan masuk! Sudah di tunggu Lilie." Goda Maria.


"Hm."


***


Sesampai di kamar Zello langsung menemukan Veron yang tengah berbaring di ranjang tersenyum manis ke arahnya.


"Zello."


"Bagaimana, suka?"


"Sangat." Veron memalingkan muka dari Zello, menatap Zello lama-lama membuat dirinya menjadi salah tingkah tanpa alasan.


"Lie," ucap Zello, sembari melangkahkan kaki menuju ranjang yang sama dan kemudian duduk di bibir ranjang.


"Iya."


"Geser!"


"Mm ...." Veron melihat lagi kamar itu dan baru sadar kalau di kamar itu tidak ada sofa.


"Baiklah, tapi ...-"


"Tenang saja, paling aku hanya minta cium kening dan ..." Zello tersenyum penuh arti.


"Apa?"


"Kamu akan tahu nanti."


Veron terdiam, mencoba menerka apa maksud ucapan Zello. Dan sekian detik, jantungnya hampir loncat karena tubuhnya sudah di angkat oleh Zello dan di baringkan lagi ngga jauh dari tempat semula. Selesai membaringkan Veron, Zello mulai membaringkan tubuh untuk istirahat sejenak.


"Zello," ucap Veron mirip gumaman yang sangat pelan.


"Hm," sahut Zello singkat dan menoleh ke Veron. Zello perlahan memajukan bibirnya di kening Veron, mengecupnya lembut, yang membuat Veron mematung sepenuhnya. Bukan yang pertama buat Veron dan Zello. Tetapi membuat keduanya sama-sama merasakan getaran hebat dari dalam diri mereka.

__ADS_1


Saling memandang dengan penuh arti. Namun sekian lama bersitatap tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka.


Veron yang bingung dengan situasi tersebut, mencoba mengalihkan perasaannya, menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya dan menutup mata.


***


Veron yang bangun terlebih dahulu langsung menarik tangannya dari tubuh Zello. Sedari kapan dia memeluk Zello yang tengah terlelap juga.


Memang Veron sudah sering melihat wajah tampan Zello dari jarak dekat. Namun baru kali ia melihat Zello jarak dekat saat masih terlelap.


Dilihatnya Zello yang posisi miring ke arahnya, wajah tampan dan teduhnya membuat Veron terpesona. Terlebih, Zello adalah ... suaminya. Merasa berhak namun di bentengi. Apa karena Zello adalah suaminya atau ada alasan lain, Veron merasakan perasaan aneh saat bersama dirinya. Merasa tak perlu di utarakan, Veron hanya perlu menikmati. Mungkin ... 'inilah cinta', meski cintanya bertepuk sebelah tangan atau tidak akan pernah menyatu. Tapi paling tidak hubungan ini membawa Veron merasa mengembara ke tempat asing yang sangat indah.


Tak kuasa menahan rasa, tangan Veron terulur menyentuh alis Zello perlahan. Veron melakukan sangat hati-hati tidak ingin mengganggu tidurnya, atau lebih tepatnya tidak ingin sampai di ketahui oleh Zello sendiri.


Veron masih setia menatap wajah Zello sementara tangannya seakan terpaku sesaat di alisnya. Perlahan kemudian, tangannya berpindah ke rambut Zello, menyisir lembut dengan jari dan mengacaknya pelan. Bibir Veron mengulas senyum seakan puas dengan ulahnya.


Keluar hembusan kasar oleh Zello, dengan cepat Veron menghentikan ulah tangannya. Dan bergegas turun dari ranjang untuk ke kamar mandi.


Bergegas Veron mengganti pakaiannya di kamar mandi, dirinya juga sudah sangat lapar.


"Lilie." Suara Zello dari kamar.


"Iya."


"Oh, bukan apa-apa. Aku pikir sudah keluar kamar."


Nggak lama, Veron keluar dengan setelan atasan perpaduan rok selutut.


"Cantik." Puji Zello yang masih di ranjang.


"Tampan." Balas Veron, sembari berusaha menyembunyikan senyumnya.


"Sudah berani sekarang?" Goda Zello.


"Biasa saja. Semua pria tampan di mataku," Dalih Veron.


Zello hanya ber-oh menanggapi ucapan Veron, meskipun ucapannya bukanlah kata pujian atau rayuan, tapi Zello tersenyum senang.


***


Siang menjelang sore, setelah makan di rumah Maria. Zello mengajak Veron keluar untuk menikmati suasana Paris di sore hari.


Veron menoleh ke Zello sembari memasang seatbeltnya, "kita mau kemana?"


"Mengenal Paris."


"Menara."


"Eiffel?" ucap Veron girang.


"Hm," sahut Veron dengan senyum kecil dan mulai mengemudikan mobilnya.


"Terima kasih ya, Zello."


"Mau berapa kali bilang terima kasih."


"Pengennya seribu kali, tapi takut kehabisan oksigen sampai sana."


Zello tertawa kecil mendengar ucapan Veron. "Aku akan mengenalkan Paris ke kamu."


"Aku sudah kenal."


"Hah? Apa?"


"Kamu pikir aku baru kesini pertama kali? Aku sering kesini, dulu ...."


"Oh ... kamu terlihat antusias sekali, aku pikir baru pertama kali."


"Hahaha, semua orang juga antusias kalau di ajak jalan-jalan."


"Hm."


"Aku sudah mengenal banyak tempat di sini. Di gereja Katedral yang terkenal di sini, gembok cinta, musium Louvre, sungai Siene, taman yang terkenal di Paris, aku sangat menyukainya."


"Jadi, kita mau kemana?" tanya Zello.


"Kan kamu sopirnya."


"Iya, aku sopir, berarti kamu Nyonya. Kamu yang tentukan."


"Mm ... kalau ke taman apa masih jauh?"


"Taman apa?"

__ADS_1


"Aku lupa namanya. Tapi yang jelas taman yang terkenal, yang suka di jadikan tujuan wisatawan," cetus Veron.


"Banyak taman di Paris."


"Benarkah? Cari taman yang enak buat dinikmati waktu malam hari, sebentar lagi sore."


"Mm ...."


"Di mana?"


"Lihat saja nanti! Ke menara?"


"Ke menara nanti sama mama papa boleh nggak? Mereka pasti mau kan?" tanya Veron hati-hati.


"Baiklah," ucap Zello dengan senyum mengembang.


Veron menatap Zello yang tengah fokus dengan jalan. Perasaan aneh namun indah itu bergejolak dengan teratur di dadanya.


"Menurutmu bagaimana rasa makanan tadi?"


"Sangat enak. Dan ... kira-kira siapa yang masak?" tanya Veron.


"Yang pasti bukan mama," sahut Zello.


"Hahaha iya, aku tahu itu."


***


Mereka yang sudah sampai di tempat tujuan langsung bergabung dengan wisatawan juga di sana. Waktu yang tepat untuk mengunjungi tempat itu membuat suasana di sana ramai pengunjung. Menambah Veron bersemangat menikmati taman yang tengah ia kunjungi.


Veron dan Zello melangkah pelan menikmati suasana sore hari sembari melihat indah dan asrinya taman yang di tata dengan penuh pesona ala modern.


Dari tempatnya berdiri terlihat kincir raksasa yang masih dalam lingkup taman itu.


"Zello, tempatnya sangat bagus." Veron masih sibuk mengedarkan pandangan yang ada di sekelilingnya meskipun begitu langkahnya tidak pernah berhenti, membuat dia hampir terjatuh bila Zello tidak segera meraih tangannya.


"Berhati-hatilah!" Zello menahan tangan Veron supaya tidak terjatuh dan membantunya untuk berdiri sempurna kembali.


Veron memegang dadanya, masih syok karena tubuhnya hampir menyentuh tanah.


"Apa kamu belum pernah ke sini?" tanya Zello.


"Belum."


"Katanya sering ke sini," cibir Zello.


"Ya, berarti ini tempat terlewat," sahut Veron. Veron menghentikan langkahnya dengan mengarahkan pandangannya ke kincir raksasa. "Zello, itu sangat indah." Tunjuk Veron.


"Iya." Zello meraih tangan Veron megandenganya lembut, dan menuntunnya dan nggak lama Zello mengajak Veron duduk di luasnya rumput hijau, yang banyak pengunjung jugs tengah duduk bersantai.


"Kita akan kesana saat hari mulai gelap, itu akan sangat indah," lanjut Zello dan merubah posisi tubuhnya dengan tiduran di hamparan rumput itu. Menjadikan kedua telapak tangannya sebagai bantal.


"Tidurlah sini!" ajak Zello. Menepuk rumput di sampingnya.


"Buat apa? Aku kesini mau menikmati pemandangan, bukan untuk tidur."


"Iya, maksudnya beristirahatlah!" tekan Zello.


"Aku duduk saja," ucap Veron, sembari melihat Zello yang mulai memejamkan matanya. "Zello, berapa lama kita di sini?"


"Satu minggu, dan satu minggu di Italia."


"Kita ke Italia juga?"


"Iya."


"Untuk apa?"


"Kamu juga akan tahu nanti."


***


"Apa ini masih disebut taman?! Ini terlihat seperti surga dunia. Iya kan, Zel?"


"Iya, surga duniaku ada di depanku," ucap Zello. Menatap puas surga dunianya, sementara Veron menatap puas pemandangan rumah-rumah terang dengan warna kombinasi.


"Andai kita melihatnya dari atas pasti tempat ini terlihat seperti kota lentera," ujar Veron, yang kemudian menari kecil dengan berputar dengan langkah seperti baleter.


"Berarti aku nggak salah mengajakmu kesini," cetus Zello.


"Tidak sama sekali Zello, kamu sangat pintar."


"Ayo, sembari nyari makan."

__ADS_1


"Zello, di sana saja," tunjuk Veron, ke arah kincir raksasa.


"Ayo, kita jalan sembari menuju ke sana," ucap Zello sembari menautkan jemarinya ke sela jemari Veron dengan posesif dan kemudian jalan beriringan bersitatap sesaat, sibuk dengan perasaan masing-masing juga sibuk menerka arti tatapan mereka satu sama lain.


__ADS_2