
***
(Pagi Hari)
Zello memasak dengan santai di dapur, meski dengan mata yang sedikit cekung karena semalam yang tidak bisa tidur.
Tidak hanya hati, kepala Zello juga berdenyut karena kurang tidur. Membuat dirinya harus memasak dengan lesu.
Meski sarapan, Zello memutuskan memasak masakan berat seperti daging asam manis, dan juga capcai. Mengingat mereka semalam hanya makan beberapa suap.
Zello tersenyum sinis, menertawakan dalam hati karena Veron yang tidak pandai menutupi perasaan untuk dirinya. Sikap canggung dan ke hati-hatian Veron membuat Zello yakin, kalau Veron berada di posisi serba salah alias tidak bisa mengacuhkan dirinya, tapi di sisi lain berusaha menjaga jarak untuk mereka. Dan alasannya? Apalagi kalau bukan perjanjian antara Veron dan Rossa, yang memang Zello tidak paham isinya. Namun Zello yakin, berjalannya hari identitas Rossa yang akan terkuak membuat Veron berani untuk menerima dan membalas perasaannya.
"Zello," ucap Veron pelan yang menyusul ke dapur.
"Hm." Sahut Zello datar.
"Apa yang bisa ku bantu?"
"Tidak ada. Duduklah!" ucap Zello dingin.
Rasanya Veron ingin berucap lagi, namun nada dingin Zello membuat dirinya menciut. Dan mengingatkan dengan perlakuan awal Zello ketika mereka baru saja mengenal.
'Itu artinya Zello menyetujui semua, seperti yang kuinginkan? Syukurlah.'
Dan inilah pertama kali keinginan Veron yang terkabul namun tidak ada rasa kebahagiaan di dalamnya.
Veron menatap Zello yang masih sibuk dengan dagingnya sementara sayur sudah siap di atas meja. Hampir selesainya masakan, Veron menyiapkan piring dan minumnya. Dan ... sarapan mereka seperti bertemu pertama kali. Tanpa banyak obrolan, tanpa sikap manja satu sama lain. Yang benar-benar membuat Veron menelan makanannya dengan sulit.
"Kenapa? Apa tidak enak?" tanya Zello.
"E-enak."
"Hm."
Selesai makan, Zello mengambil laptopnya dan duduk santai di balkon.
Di lain sisi, Veron yang sudah selesai membereskan perabotan makan mereka sengaja mengamati Zello dari dalam. Terlihat Zello yang tengah sibuk dengan laptop yang tengah ia pangku dengan kaki selonjoran. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat Veron bisa melihat dengan jelas wajah tampan Zello.
Terlihat wajah Zello yang santai dengan pekerjaannya, dan nggak lama Zello tersenyum tipis dengan pandangan ke langit yang berhias gerimis berseteru dengan cahaya matahari yang lembut.
Cukup lama Zello memandang langit itu dengan senyum manis yang membuat Veron menerka-nerka. "Cahaya matahari dan juga gerimis, pasti Zello melihat pelangi." Veron menggumam senang.
"Sini!" Titah Zello.
Veron sedikit tersentak dengan wajah yang langsung berubah merona malu, karena terpergok tengah memandang ke arahnya.
Dengan perlahan Veron menuju balkon dan langsung menuruti titah Zello untuk duduk di sebelahnya.
"Mana pelanginya?" tanya Veron, matanya melihat langit mencari apa yang di terkanya.
"Pelangi?" Zello tersenyum geli mendengar ucapan Veron. "Memang aku bilang ada pelangi?!"
Veron menatap Zello dengan mimik heran, "lalu, apa yang membuatmu tersenyum?"
"Sejak kapan kamu lihat aku tersenyum?"
__ADS_1
"Mm ... tadi, nggak sengaja ...." Dalih Veron sembari membuang arah pandangannya.
"Oh ... aku hanya ingin menunjukkan itu." Zello menunjuk langit dan fokus ke titik benda yang tengah melayang di udara.
Dahi Veron bertaut melihat sebuah layangan yang tengah Zello tunjuk. "Nggak masuk akal."
"Apanya?"
"Siapa yang menerbangkan layangan di tengah-tengah kota seperti ini. Terlebih ini masih sangat pagi dan juga gerimis," cetus Veron.
"Memang. Tapi, dia bisa membuktikan kepada orang-orang yang sudah meremehkannya, misalnya kamu. Andai, kamu tidak lihat semua ini pasti kamu menganggap semua ini adalah mustahil."
"Iya." Veron menunduk sesaat, sibuk dengan pikirannya yang melintas sesaat.
"Seperti sebuah hubungan."
Perlahan Veron menatap Zello. "Memang. Hubungan itu ibarat layangan. Bisa kita kendalikan atau malah putus. Sang pengendali hanya ingin memuaskan kehendaknya saja, tidak melihat situasi. Bagaimana kalau nanti langsung hujan lebat. Tidak putus memang, tapi tetap saja akan pergi dari pandangan."
"Sepertinya kamu salah paham, Lie. Aku berbicara soal hubungan bukan ketakutan."
"Ah, entahlah," sahut Veron pelan dan tertegun sesaat.
Veron menatap lagi layangan yang tengah terbang dengan tenang di langit dan nggak selang bangun dari duduknya ingin beranjak dari sana.
"Lie." Panggil Zello menghentikan langkah Veron.
"Kenapa?"
"Aku besok akan keluar kota untuk meninjau proyek."
"Berapa lama?" tanya Veron.
"Ti-ga bulan?!" lirih Veron. Entah kenapa Veron merasa sedikit kesal mengetahui rencana Zello. "Kamu mau meninjaunya atau jadi pekerjanya. Lama sekali," gumam Veron.
"Kamu bisa ikut bila mau."
"Aku .... mau di sini saja," ucap Veron pelan. Walau hatinya bersorak dapat tawaran itu, tapi bagaimana bisa dia bilang 'ikut' sementara dirinya sudah memutuskan menciptakan jarak.
"Aku sudah menduganya," ucap Zello, dan langsung fokus dengan pekerjaannya lagi.
"Aku mau ke rumah Kakek. Apa kamu mau ikut? Sekalian berpamitan dengan Kakek." Saran Veron.
"Mm, aku masih banyak pekerjaan."
"Hah. Aku juga sudah menduganya." Veron tersenyum mencibir. Dan berlalu menuju kamarnya.
***
Kediaman Hanif.
"Jadi?" tanya Hanif. Hanif tersenyum teduh sembari memperhatikan bidak caturnya.
"Ya, dia tidak bisa kesini Kek," jelas Veron.
"Oh ...."
__ADS_1
"Cuma oh, Kek?"
"Iya, kan kamu bilangnya Zello sibuk. Mangkanya Kakek maklum. Kecuali kamu bilangnya seperti ini 'Zello, memang keterlaluan Kek. Menyempatkan untuk pamit saja tidak bisa. Zello hanya memikirkan pekerjaan saja. Tidak memikirkan perasaan Kakek sama sekali'," ucap Hanif meniru gaya ucapan Veron. Hanif terkekeh kecil.
"Kakek ini lucu sekali," gerutu Veron. Dan menatap serius Hanif yang masih sibuk dengan bidaknya.
"Tapi, Kakek tidak berfikir demikian kan?"
"Hahaha, tenang saja. Kakek bisa mengatasinya."
"Kek. Sibuknya Zello bukti rasa tanggung jawabnya dan tidak ingin perusahaan Kakek memiliki kekurangan, meski hanya setitik debu. Zello sangat menyayangi Kakek, itulah kenyataannya."
Hanif tersenyum senang mendengar ucapan cucu menantunya. "Kamu tahu, Lie. Ucapanmu itu sudah membuat jiwa pria tua ini merasa sangat teduh." Hanif membuang nafas kasar dan menatap hangat ke Veron. "Zello, sangat membanggakan dari dulu. Sesibuk apapun dia, Kakek sangat menyayangi dia. Kakek juga yakin, Zello juga sangat menyayangi Kakek. Dulu Kakek mungkin memang merasa kesepian, tetapi sekarang tidak lagi. Semenjak Zello menikah denganmu," cetus Hanif.
"Kakek ...." Veron beralih mendekati Hanif dan bersandar di lengannya manja. "Pastinya Kek. Karena Lilie bakal terus menemani hari-hari Kakek," ucap antusias Veron. Namun perasaan di hatinya sedikit berkecamuk, mengingatkan status dirinya yang tidak bisa selamanya jadi istri Zello. Apa dirinya nanti bisa terus sedekat ini dengan Hanif?
Semburat raut sendu terlihat di wajah Veron, melontarkan kata-kata indah buat Hanif berujung membuat perasaannya terkatung-katung.
Getaran di ponsel Veron mengalihkan sedihnya sesaat, terlebih itu ternyata panggilan dari Zello. Tanpa sadar bibir Veron mengulas senyum manis.
"Hallo." sambut Veron menerima panggilan Zello.
"Aku ingin bicara dengan Kakek."
"Oh." Veron menyerahkan ponselnya ke Hanif. Meski bukan buat dirinya, namun paling tidak Veron bisa mendengar suara Zello. Bahkan walau cuma suara, tapi bisa membuatnya tersipu. Padahal Zello tidak mengatakan apa-apa untuk dirinya, dasar aneh. Veron merutuki dirinya sendiri, yang tidak konsisten dengan pendiriannya untuk belajar membuang perasaannya.
'Tiga bulan? Seharusnya tiga bulan cukup untuk mengubur perasaannya dan perasaanku'
Veron mendesah pelan, diawal senang mendengar suara Zello. Namun kata hatinya condong untuk mengubur perasaannya.
"Kakek, maaf tidak bisa ke rumah Kakek terlebih dahulu." Suara jelas Zello sembari yang bisa di dengar juga oleh Veron.
"Iya, tidak masalah. Bukankah kamu memang seperti ini. Terlebih sekarang ada Lilie. Jangankan tiga bulan, tiga tahun juga tidak masalah buat kakek."
"Hahaha, tapi akan sangat bermasalah buat Zello." Sahut Zello, yang disambut senyum penuh makna dari Hanif.
"Iya, kakek tahu. Bicaralah dengan Lilie!" Ucap Hanif sembari menyerahkan benda pipih itu ke Veron.
"Hm." Ucap Veron datar.
"Tolong jaga kakek untukku!"
"Aku akan jaga kakek untuk diriku sendiri."
"Baiklah, bye."
Veron menutup panggilan itu tanpa membalas ucapan Zello.
"Apa kamu sedang marah dengan Zello?" tanya Hanif.
"Tidak Kek. Mm ...." Veron menggigit bibir bawahnya sesaat dan tersenyum tipis ke Hanif." Aku hanya mewakilkan perasaan Kakek saja." Lanjut Veron.
"Benarkah?"
"Iya." Sahut Veron singkat. Moodnya mendadak jelek. Tiga bulan lost contack. Dan saat mereka bertemu, Zello pasti sudah melupakannya, membuang rasa untuk dirinya.
__ADS_1
'Dan aku, apa aku sudah bisa melupakannya?! Dia cinta pertamaku'
***