
"Lilie, kamu yakin?" ulang Susi.
"Iya."
"Kenapa?"
"Kamu jangan terlalu ikut campur! Itu sudah menjadi keputusannya." Ujar Lana. Sedangkan bibir Susi langsung mencebik.
*****
"Bos." Ujar Zico yang masuk ke kamar Zello. Mereka tengah di apartemen, mereka menyewa apartemen untuk sementara waktu di sana. Meski nyatanya mereka lebih banyak di luar.
"Kenapa?"
"Ada kabar dari rumah," ucap Zico cemas. Melihat wajah Zico, perasaan Zello jadi tidak nyaman.
"Tuan Hanif masuk rumah sakit."
"Apa?"
"Iya. Lebih baik- kita pulang dulu."
Pikiran Zello berkecamuk penuh dilema. Namun dirinya juga merasa ucapan Zico ada benarnya, dirinya tidak boleh egois. Rumah tangganya tengah goyah, jangan sampai perusahaan dan kesehatan Hanif ikut ia abaikan dan akan berdampak buruk yang sama.
"Urus kepulangan kita!"
****
Mengingat lama perjalanan pulang yang lama, Zello dan Zico langsung menuju di mana Hanif di rawat.
"Kakek," Zello menatap cemas Hanif yang terbaring di ranjang.
"Kakek tidak apa-apa. Kakek sudah boleh pulang malahan," ujar Hanif.
"Benarkah?"
"Iya. Tanya saja sama perawat disini!"
"Ah, syukurlah. Tapi kenapa kakek bisa masuk rumah sakit lagi."
"Tidak tahu, kakek cuma tiba-tiba sesak dan lemas saja. Oya, bagaiamana dengan pencarian kalian. Apa sudah ada titik terang?"
Zello mendengus kecil, 'belum, Kek."
"tenang saja, nanti kita bakal cari lagi."
Hanif menghela nafas kasar, ada rasa sedikit penyesalan dalam dirinya.
"Aku akan urus administrasi. Dini, bantu kakek berkemas!"
"Baik, Tuan."
****
"Lilie, ayo keluar!" ucap penjaga lapas. Dahi Veron berkerut.
"Ada yang besuk Lilie, Pak?" antusias Susi.
"Nggak. Kamu di panggil kepala lapas."
Veron enggan menerka-nerka. Dirinya mengekor di belakang petugas.
Sesampai meja polisi, dirinya langsung duduk yang sebelumnya sudah dipersilakan.
"Siang Pak"
"Siang, Lilie."
"Lilie, untuk membuat akurat laporan mengenai perkara kamu. Anggota kepolisian akhirnya melakukan penyelidikan, di lokasi, memberi pertanyaan juga dengan anak yang bersangkutan. Sesuai dengan hasil penyelidikan, kamu dibebaskan saat ini juga," ucap kepala lapas sembari senyum tipis.
"Apa, Pak?" Veron tersentak dengan yang di dengarnya.
"Iya. Kamu nggak salah dengar. Selain kamu baru pertama kali alias dapat tanggapan dengan coba-coba. Hasil cctv mall dan kesaksian bocah itu menyimpulkan kamu tidak bersalah."
__ADS_1
"Ta-tapi, Pak."
"Kenapa?" Tanyanya dengan alis bertaut. "Biasanya orang girang keluar dari lapas. Tapi kamu malah kebalikannya." Kepala lapas menatap intens Veron. "Apa kamu sengaja, ingin dipenjara. Kamu bersembunyi dari siapa?" selidiknya.
Apa aku harus jujur? Tapi Dave orang berkuasa. Apa polisi yang ada di depanku akan berpihak denganku?
"Ng-nggak, Pak."
"Serius?"
"Saya hanya, kepepet saja waktu itu dan baru pertama kalinya. Tapi bukan berarti saya main-main ingin menculik anak."
"Aneh sekali. Dikasih kebebasan malah ngomong berbelit-belit seperti itu. Pada intinya kamu bebas, hukum membebaskan kamu. Karena tidak ada bukti kuat yang menunjukkan kamu untuk menculik anak."
"KAMU BE-BAS." Tekan kepala lapas lagi.
Hah. Veron menghela nafas kasar. Menelan ludahnya dengan kasar.
"Terima kasih, Pak." Veron tersenyum masam. Berdiri dari duduknya dan kembali ke dalam lapas untuk mengganti pakaiannya sekaligus berpamitan dengan temannya.
"Apa - apa serius kamu?" ujar Susi. Matanya melotot lebar mendapat pamitan dari Veron.
He em. Veron mengangguk, menampilkan senyum paksanya.
"Lilie bebas?" ujar yang lain.
"Iya." Veron mengangguk, dirinya berada di dalam sel. Beberapa teman lapas yang awalnya duduk langsung berdiri, terkesiap haru. Memberi selamat dan pelukan perpisahan.
"Rezekimu. Ternyata anakmu memberi keberuntungan buat kamu." Ujarnya dengan senyum tipis.
"Terima kasih."
"Lilie, bagaimana ini. Aku tidak punya teman untuk berkebun," keluh Susi.
"Astaga. Kamu yang dipikirkan malah kebun. Kamu tidak senang temanmu itu keluar dari penjara?" seloroh Runi.
"Ada Madu yang akan membantumu. Berkawan baiklah dengan dia!"
"Iya." Ucap Susi masam.
"Terima kasih. Bye."
"Lilie. Aku ada ini. Ini oleh-oleh dari keluargaku. Kebetulan aku ada lebih. Anggap saja itu kenang-kenangan dari kami."
"Makasih Lana."
Veron keluar dari sel. Dirinya belum mengenal banyak tentang teman-temannya. Teman-teman dengan kepribadian baik. Tapi kenapa mereka bisa masuk penjara? Kenapa bisa melakukan kejahatan? Hidup memang rumit.
"Nak Lilie!" ujar penjaga lapas.
"Iya, Pak."
Mereka berhenti sesaat di depan sel.
"Tadi bapak tidak sengaja dengar obrolan kamu dengan kepala. Apa Nak Lilie ada masalah? Dan sengaja sembunyi di sini?!"
"Mm, itu-"
"Jujur aja. Nanti saya akan bantu kamu. Tapi kamu juga harus bantu bapak!"
"Begini, bapak minta tolong ......." bisik Pak Adi.
Veron terdiam, menimbang-nimbang tawaran Pak Adi. Sekian menit Veron mengangguk kecil.
"Baiklah!" ujar Pak Adi semangat. Dirinya melangkah beriringan mengantar Veron ke depan.
"Veron Ailia Monic?" Suara samar kepala lapas.
Veron dan Pak Adi saling melempar pandang, menerka dengan siapa kepala lapas berbincang.
Veron membeku. Sementara Pak Adi melongok ke meja polisi.
"Ada yang nyariin kamu sepertinya?" bisik Pak Adi. Dada Veron bedegup kencang. Takut, Veron yang rasakan. Dengan perlahan Veron ikut melongokkan kepalanya.
__ADS_1
Jantung Veron seakan meloncat. Orang Dave ada di depan. Veron mundur beberapa langkah karena syok.
"Kenapa?"
"Pak, tolong!"
Pak Adi dengan inisiatifnya menyuruh Veron untuk mengganti pakaiannya dengan baju petugas kebersihan. Dan membantu Veron untuk keluar lapas segera mungkin.
"Ada urusan apa?" ucap Kapolda.
"Kami keluarganya."
Kapolda menatap penuh selidik. Menghela nafas kasar dan melongok sediikit ke dalam.
"Dia sudah bebas dari penjara. Baru saja."
"Benarkah?"
"Iya."
"Boleh kami masuk ke dalam?!"
"Kalian tidak percaya?!"
Di posisi lain, Pak Adi tersenyum tipis melihat Veron yang sudah menghilang dari pandangan. Naik kendaraan yang melintas di depan rutan. Setelah memastikan selamatnya Veron, Pak Adi bergegas berlari menuju tempat yang ia sudah rencanakan.
"Aku sudah bilang, Lilie sudah bebas. Tapi kalau kalian tidak percaya aku bisa dampingi kalian." Tantang polisi. Dengan didampingi polisi orang Dave memeriksa seluruh sel.
Orang-orang Dave yang berjumlah tiga orang itu saling lempar pandang.
"Boleh kami lihat cctv?!"
"Terserah!" polisi kembali ke tempatnya. Sementara orang Dave di bantu polisi lain. Dan ternyata, cctv yang terpasang di depan area halaman lapas dalam kondisi rusak. Dan beberapa memori ikut terhapus terutama kejadian hari ini.
Tidak masalah mereka melihat aktivitas Lilie ketika di lapas. Yang penting mereka tidak melihat kemana arah Lilie keluar dari sini. Batin Pak Adi.
Dengan kecewa berat orang Dave keluar dari lapas. Hampir saja mereka menemukan Veron.
"Untung saja kita belum lapor Tuan Dave kalau kita sudah mendapatkan jejaknya. Kalau tidak, Tuan akan marah besar karena kita telah kecolongan."
"Hah. Entahlah. Kita istirahat dulu."
*****
Beberapa hari kemudian di kediaman Hanif.
Zello yang baru saja pulang dari kantor langsung mempersilakan teman koleganya yang mampir ke kediamannya. Mereka baru saja mengadakan rapat di perusahaan Zello. Teman kolega Zello yang mengetahui perihal kesehatan Hanif berinisiatif untuk menjenguk orang besar dalam perusahaan, Hanif. Dirinya bersama putranya yang seharian ini terus menguntitnya. Untungnya saat rapat, bocah itu mau menunggu dengan tenang.
'Anak yang sangat manis'. Batin Pak Selta, teman kolega Zello.
Sekian menit, Zello sudah keluar menemui mereka lagi dengan Hanif yang tengah di dorongnya.
"Tuan." Selta berdiri, sedikit membungkuk, yang diikuti putranya tanpa disuruh.
"Hanif tersenyum kecil. Wajahnya terlihat sangat gemas dengan putra Selta.
"Silahkan duduk! Tidak perlu sampai segitunya." Ujar Hanif. Pandangan Hanif tertuju dengan putra Selta yang tampan dan sangat manis. Putra Selta sendiri tengah asyik menyapu ruangan itu dengan matanya.
"Papa. Rumahnya besar, bersih seperti rumah papa." Selta tersenyum, mengelus pucuk kepala putranya.
"Dia sangat manis," puji Zello.
"Terima kasih," sahut Selta.
"Kakek. Kakek Hanif ya?!" ujar putra Selta.
Semua yang disana terheran dengan ucapan putra Selta.
"Kamu tahu dari mana, Nak?" tanya Selta.
"Dari itu." Tunjuknya dengan foto yang menggantung di dinding. "Kak Lilie. Kak Lilie banyak cerita tentang Kakek Hanif."
"Sekarang kak Lilie mana, Kek? Kak Lilie ninggalin panti tapi nggak pamit sama Arya," ucap Arya berubah sendu.
__ADS_1
"Apa?"