
Sesampai apartemen pun Zello terlihat gelisah, mondar mandir membuat Veron tidak nyaman, lebih tepatnya menjadi cemas. Apa Dave melakukan macam-macam, karena perdebatan kecil mereka barusan?
"Kenapa sih, Mas? Dave berulah ya?!" cecar Veron.
"Nggak. Ini soal perusahaan kok."
"Terus kenapa kamu mondar-mandir gitu. Biasanya ngga sampai segitunya soal perusahaan."
"Nggak kenapa-napa, Sayang. Cuma ada sedikit problem saja. Biasanya kan aku nggak pernah ngalamin. Mulus-mulus aja. Tapi saat ada masalah aku sedikit cemas. Sepertinya aku saja yang terlalu berlebihan," ujar Zello meyakinkan. Zello menuntun Veron untuk duduk di ranjang.
"Sayang, aku bakal keluar sebentar ya ngurusin pekerjaan. Aku sudah panggil Dahlia untuk kesini menemani kamu."
"Malam-malam begini?"
"Iya, soalnya kakek belum tahu. Aku mau ke rumah kakek lagi untuk bahas ini."
Veron mengangguk kecil meski sebenarnya ragu. Zello tersenyum tipis melihat istrinya yang menurut, ia kecup kening istrinya, membelainya penuh kelembutan. Masa lalu Veron, semua yang dilalui Veron kemarin membuat Zello merasa sakit. Hidup istrinya tidak pernah mulus sedari kecil. Dan sekarang, Zello tidak akan membiarkan semua mengganggu kebahagiaan istrinya lagi.
****
"Kek." Zello mengambil nafas dalam, duduk di ranjang Hanif.
Hanif yang tengah duduk di ranjang menatap cucunya yang tak biasanya. Apalagi sampai malam-malam masuk kamarnya.
"Mana Lilie? Apa ada masalah?" terka Hanif.
Zello bungkam beberapa saat, tidak hanya istrinya yang kena masalah, tapi mungkin berimbas ke perusahaan dan keluarga mereka juga. Zello berharap Hanif juga sudah wanti-wanti dari awal karena masa lalu istrinya, sehingga tidak akan membuat kesehatan Hanif drop.
"Semua ini berkaitan masa lalu Lilie dengan perusahaan, Kek."
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Hanif, dirinya juga berusaha membetulkan duduknya yang di langsung dibantu Zello.
"Katakan! Aku sudah siap mendengarnya."
"Tersebar broadcast tentang masa lalu Lilie. Dan.... mulai berimbas dengan perusahaan kita. Cepat atau lambat kakek pasti tahu, mangkanya aku ingin kakek mendengar langsung dari Zello."
Dada Hanif naik turun dengan berat, ucapan Zello sedikit mempengaruhinya. Tapi mengingat foto yang pernah dikirimkan waktu lalu tentang Veron, membuat Hanif menerka semua ini akan terjadi.
"Ladeni saja! Yang mau pergi biarkan pergi. Besok pagi kita adakan konferensi pers."
Zello mengangguk setuju, sesuai dengan pikiran Zello. Bagaimana pun semua harus dihadapi. Menyuruh Veron kembali sama saja sudah memikirkan resiko yang akan ia ambil.
"Terima kasih, Kek." Mata Zello memerah berembun. Mengingat perusahaan kakeknya akan menjadi taruhannya.
"Kakek sudah tua. Kakek hanya ingin menjalani kehidupan yang kakek inginkan. Kita ikuti saja alurnya. Tidak perlu memikirkan hal lain."
Zello merangkul Hanif erat, air matanya menetes karena haru.
Hanif menepuk bahu Zello. Hanif menilai Zello terlalu berlebihan. "Benar kata Panee, kamu terlalu enak mengelola bisnis dan jadi ahli pewaris. Baru ada masalah seperti ini kamu sudah demikian. Pekerjaan artis saja tidak berpengaruh dengan masa lalunya. Apalagi pebisnis. Orang yang sudah tahu kinerja kamu pasti juga bakal ambil tindakan bijak."
Zello melepas pelukannya, menatap Hanif yang mudahnya berbicara santai sedemikian rupa. Tapi nyatanya, ucapan Hanif sedikit menghiburnya. Perasaan was-wasnya berkurang mendengar ucapan Hanif.
"Suruh Zico menyiapkan untuk mengadakan konferensi pers besok pagi!"
*****
(Pagi hari)
Zello menatap ponsel milik istrinya. Veron menanyakannya, tapi dirinya berdalih lupa menaruhnya sehingga belum ia temukan. Konferensi pers tentang dunia bisnis tentunya beda jauh dengan kabar soal artis yang langsung menyebar luas di media mana saja. Berbeda dengan kabar bisnis, belum tentu masuk layar televisi. Di surat kabar saja juga terbatas. Biasanya hanya orang kalangan bisnis juga yang hanya tertarik. Zello merasa yakin, istrinya tidak akan mengetahui perihal yang akan terjadi. Kecuali ada yang memberitahu atau mengirim pesan ke istrinya. Maka dari itu ponsel Veron masih ada di dirinya. Berjaga-jaga ada yang meneror atau mengirim pesan istrinya lagi lewat ponsel.
Semua yang bersangkutan sudah duduk di mejanya -Hanif, Zello, pengacara, Zico-. Beberapa wartawan juga sudah siap dengan alat perekam dan catatan yang sudah mereka siapkan. Masih banyak juga yang kemudian menyusul, seperti orang yang berkaitan kerja sama dengan perusahaan Hanif.
"Disini, ada Tuan Besar Hanif, Tuan Zello dan yang bersangkutan lainnya, sudah siap untuk menerima pertanyaan dari teman semua," ujar pengacara mempersilahkan.
"Pagi Tuan Hanif. Kalau boleh tahu untuk berbosa basi, sekarang dimana Cucu Menantu Anda?" ujar reporter.
"Ada di rumah. Sengaja saya tidak bawa kesini. Ini berita yang sangat memukul emosi untuk semuanya, terlebih untuk dirinya. Tapi saya bertekad untuk tidak melibatkan dirinya untuk saat ini. Tapi bila nanti Anda semua belum puas, pasti lain kali akan saya bawa." ujar Hanif.
__ADS_1
"Bagaimana bisa, Tuan. Ini semua kan berkaitan dengan dia. Kenapa tidak dilibatkan?"
Hanif tertawa santai, "saya rasa masalah pribadi tidak ada pautnya dengan dunia bisnis. Jadi itu tidak diharuskan. Sementara kami disini untuk membahas pekerjaan sesama pebisnis dan sedikit klarifikasi saja."
"Ini untuk Tuan Zello dan juga Tuan Hanif. Mm, apa sebelumnya Anda berdua sudah tahu tentang masa lalu istri Tuan Zello itu? Dilihat dari santainya Tuan Hanif dan Tuan Zello saat ini."
"Tepat sekali, itu masa lalu. Jadi kita tidak terlalu mengambil tindakan yang tergesa-gesa," ujar Zello.
"Jadi? Pernah lihat foto itu sebelumnya?"
"Sudah. Dan yang pasti dari orang yang ingin menjatuhkan kita dan tidak suka dengan keharmonisan rumah tangga saya."
"Anda langsung memahami dan percaya begitu saja?"
"Istri saya selalu di samping saya. Bila tanpa saya, dia selalu bersama asisten alias orang kepercayaan saya. Jadi saya tidak peduli dengan masalalunya. Yang penting keseharian ia saat ini."
"Benarkah demikian Tuan Hanif?"
"Mungkin dulu cucu mantu saya punya masalalu dengan Tuan Zein. Tapi broadcast tentang masa lalu pekerjaannya itu hanyalah tambahan dari orang yang tidak suka dengan yang kini diperoleh oleh cucu mantu saya. Tidak ada bukti selain tulisan itu yang menyudutkan bahwa cucu mantu saya adalah wanita malam 'kan? Jadi saya pastikan itu hanya karangan semata."
"Tapi kematian Tuan Zein menurut saya itu termasuk bukti yang kuat."
"Silahkan selidiki. Bila sampai dapat kita malah akan berterima kasih," ujar Hanif santai. Tidak ada cara lain untuk menutupinya. Lagipula yang ia katakan juga benar, 'tidak ada bukti.'
Reporter yang sudah silih berganti mengangguk puas dengan hasil yang mereka dapat.
"Pesan untuk teman pebisnis Anda, Tuan!"
Hanif mengarahkan pandangannya ke semua yang ada di depannya, mengambil nafas dalam.
"Seorang pebisnis selalu mencari pundi-pundi keuntungan. Tapi ternyata tak selamanya mulus. Disini saya tidak akan memaksa. Dan karena berita yang tidak bertanggung jawab ini, sudah pasti kami yang merasa dirugikan. Seperti pebisnis lainnya. 'Kami tidak mau rugi', walau nyatanya kini kami sudah mengalaminya. Saya mohon kerjasamanya. Yang ingin tetap bekerja sama silahkan, yang mau memutuskan silahkan! Jangan lama-lama ambil keputusan. Kami tidak mau rugi di tengah jalan. Lebih baik sekarang. Sebelum semuanya terlanjur. Waktu, tenaga, dan keuntungan adalah inti dari pebisnis. Yang ingin menyudahi kerjasama silahkan temui asisten Zico. Terima kasih." tegas Hanif.
****
"Aku ingin bubur ayam Dahlia!" rengek Veron.
"Aku lagi ingin yang digerobak pinggir jalan Dahlia."
"Mm, tapi apa tidak apa-apa bila saya tinggal."
"Cuma sebentar. Aku rasa tidak jauh dari apartemen pasti ada. Biasanya banyak tukang bubur pagi-pagi jam segini Dahlia."
"Hm, baiklah. Memang ya. Kamu manja," ujar Dahlia sembari membelai perut Veron.
Sesuai dengan permintaan Veron, Dahlia langsung keluar apartemen untuk mencari bubur pinggir jalan.
****
"Cepat sekali Dahlia," ujar Veron girang. Dengan semangat menuju pintu dan membukanya.
Veron yang awalnya ceria jadi bungkam, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat, tapi sesaat juga berganti dentuman keras di dalamnya.
"Veron," ujar Dave dengan senyum tipis. Melangkah bebas masuk ke dalam karena Veron masih saja membatu.
"D-Dave."
"Buatkan aku minum!" ucap datar Dave, yang malah membuat Veron merasa ngeri. Veron menelan salivanya.
"Kenapa? Kamu terlihat sangat ketakutan saat melihatku?" Dave menyeringai.
"Lebih baik kamu pulang! Nanti Zello salah paham."
"Iya aku akan pulang. Aku tidak mungkin menginap disini. Aku sedang ingin minum minuman yang manis buatan kamu. Please, aku merindukan itu." Dave menatap perut Veron sekilas yang kemudian membuang arah pandangannya.
"Iya, tunggu sebentar!" ucap Veron berusaha santai.
Veron menuju kitchen setnya dan segera membuat minuman buat Dave.
__ADS_1
"Veron," suara parau Dave dengan tangan sudah melingkar di perut buncit Veron.
"Lepas!" sentak Veron kasar.
Dave menyeringai. "Kamu terlalu sombong, dan tidak tahu terima kasih," ujar Dave.
"Aku akan buatkan minum. Kamu diamlah disitu!" ucap Beron berusaha meredam emosi dan ketakutannya.
Dave tergelak, melangkahkan kaki mengikis jarak mereka.
"Dave, kamu mau apa?" Tatapan Dave yang tak biasa benar-benar membuat Veron ketakutan.
"Aku yang tanya. Kamu mau apa? Kenapa kamu mundur-mundur seperti itu. Apa aku sangat menakutkan? Hm."
"Ini nggak lucu Dave. Please!"
"Kamu keterlaluan Veron, aku sudah berikan semua untukmu. Tapi apa balasanmu. Hah."
"Dave, maaf." Veron bersandar di pintu belakang. Matanya membulat yang tidak sengaja melihat beberapa orang Dave berada di ruang tengah.
"Kenapa? Apa mereka juga menakutimu?"
"Kita bicarakan baik-baik Dave. Ayo duduk!"
"Tidak perlu. Aku hanya merindukanmu." Dave membuka kancing baju atasnya.
"Kamu mau apa Dave?"
"Aku hanya ingin menyadarkan siapa kamu?"
"Dave! Kamu licik. Kamu yang bilang akan melepaskan ku bila aku sudah menikah. Karena kamu sendiri sangat menjunjung pernikahan. Tapi nyatanya itu hanya bualan saja!"
Dahi Dave berkerut, sementara tangannya masih melanjutkan membuka kancing bajunya. Memperlihatkan dada dan bagian perutnya yang mulai terekspos. "Aku tidak suka dengan perempuan yang suka berbelit-belit."
Veron membuka pintu belakang, menuju balkon. "Tolong.....!"
Tangan Dave dengan cepat membungkam mulut Veron menggunakan tangannya yang kokoh, sekian detik digantikan dengan bibirnya. Melahap bebas dan rakus hingga Veron tidak bisa berbuat banyak. Perut Veron sendiri merasa tidak nyaman dengan tubuh Dave yang seakan menekannya tanpa sengaja.
"Dave!" plakkk.
Dave lagi-lagi tersenyum menyeringai. Menyentuh pipinya dan kemudian menghirup telapak tangannya, seakan aroma tangan Veron beralih menempel di sana.
"Kamu licik. Kamu bilang akan melepaskanku. Nyatanya kamu selalu berusaha untuk menjeratku. Membuat kost-kostanku terbakar, mencelakai Zein dan Rossa secara bersamaan, mengirim foto ke kakek. Kamu mengatur semua itu supaya aku kembali kepada kamu kan?"
Tawa Dave meledak. Membuat Veron terdiam tak habis fikir.
"Dan satu lagi. Aku juga mengirim foto itu secara broadcast ke grub bisnis."
"Apa?" Seakan ada yang meledak di diri Veron.
"He em." Dave meringsek jaraknya lagi, menyudutkan Veron yang bersandar ketakutan di besi balkon.
"Kamu sudah tahu semua. Sekarang aku ingin mengakuinya. Aku-mencintai mu Veron. Aku mungkin terlambat. Aku nggak bisa tanpamu." Lagi-lagi tatapan lapar Dave membuat Veron ketakutan.
Tangan Dave bermain-main di wajah Veron. Membuat Veron marah tapi juga waspada. Otaknya buntu. Dirinya nggak ada ponsel. Di depan ada orang Dave. "Tolong..... " Hanya itu yang bisa Veron lakukan.
Bug. Veron menendang ************ Dave yang langsung membuat Dave merasa nyeri sekaligus terpancing emosinya. Habis kesabaran Dave. Dave dengan kasar merobek baju Veron.
"Ahh." Teriak Veron panik. Berusaha menutup bagian dadanya. "TOLONG......!"
"Emmm." Lenyap sudah suara Veron karena ciuman Dave. Dengan emosi dan tanpa henti Veron menginjak dan menendang-nendang kaki Dave, tangannya juga tak henti memberikan perlawanan. Memukul, menjambak, mendorong,...
"D-DAVE. DAVE! .....DAVE........ "Jerit Veron.
Entah kekuatan dari mana, tapi Dave benar-benar terlempar melewati besi balkon karena perlawanannya. Jantungnya seakan ikut meloncat bersama Dave yang terjun ke bawah.
Bug. Suara samar yang hampir tidak terdengar. Veron membungkam mulutnya. Dari ketinggian lantai tujuh terlihat Dave tergeletak dengan susulan darah di kepalanya.
__ADS_1
Tangan Veron beralih ke perutnya. "Aarghhh ...." Rasa sakit yang luar biasa yang disertai aliran darah segar mengalir di sela kedua kaki. Dengan jantung yang masih syok karena Dave, Veron juga syok melihat darah di sela kakinya. "Aaarghhh......"