
****
"Kenapa hanya sayuran, kenapa tidak dengan bunga-bunga juga?" ujar Veron. Veron dan Susi sedang memanen kangkung yang sudah dewasa, sayuran yang ditanam Susi dan yang lainnya. Sementara sayuran yang Veron tanam belum siap untuk panen.
"Kemaruk. Ceritanya kamu sudah nggak takut panas nih?" Ledek Susi. Veron hanya nyengir.
"Tapi ide kamu lumayan juga. Nanti aku akan minta penjaga membeli beberapa benih bunga. Mungkin saja akan dituruti."
Veron mengangguk puas.
Sudah banyak sayuran yang ia panen. Susi dan yang lainnya membawa ke dapur untuk tambahan makan siang nanti. Sedangkan dirinya memilih untuk langsung membersihkan diri.
Beberapa hari kemudian, Seperti keinginan Veron, orang kantor memberikan bibit/benih beberapa bunga. Tidak hanya bunga, tapi lengkap dengan potnya.
"Urus yang benar, supaya bisa jadi cantik-cantik kaya kalian. Lumayan kan nanti kalau dijual," seloroh petugas.
Veron terdiam, ucapannya menohok, jujur Veron merasa tersinggung.
"Yah, malah aji mumpung si bapak ini," ucap Susi terkekeh.
"Kok aji mumpung, kalian nggak tahu ya?! Sekarang lagi pada viral tanaman hias. Kalau sukses, kalian nanti juga dapat upahnya."
"Benarkah, Pak?!"
"Mm, nanti ku mintain sedikit."
"Ah, terima kasih Bapak."
Hm.
****
Semakin hari Veron semakin menyibukkan dengan tanamannya. Tak peduli dengan tubuhnya yang sering dilanda drop. Selama dia bisa menahannya maka ia akan mengacuhkan rasa sakitnya, kalau sudah dirasa terlalu parah baru Veron minta tolong Desy untuk mengerok, memijit punggungnya.
"Ayo, Lie istirahat! Jangan kemaruk juga."
Waktu yang diberikan untuk mengolah tanaman tak harus di isi dengan full time kegiatan. Paling tidak seru-seruan juga boleh. Tapi Veron seakan kalap. Melampiaskan rasa sedih, benci, putus asa dengan lahan tanaman yang tak seberapa.
"Aku akan minta bibit bunga Lili nanti," gumam Veron. Dirinya menatap kagum tanaman bunga yang tumbuh subur.
Veron memijat pinggangnya sendiri dengan lembut, sementara matanya masih betah melihat hasil tangannya.
'Padahal aku saat masih kecil suka tidur di jalanan, tapi kenapa badanku manja sekali.'
"Sudah selesai pandang-pandangannya dengan kebon? Ayo, udahan. Kita santai di sana," ujar Susi. Leletnya Veron membuat Susi harus menggiring paksa Veron. Veron terkekeh kecil, andai Susi laki-laki, dirinya akan minta gendong. Dirinya malas untuk sekadar berjalan kala tubuhnya sudah merasa letih.
****
Zello berdiri menatap jauh dengan tatapan kosong. Dirinya tengah di Swedia, tulang-tulangnya seakan luruh, memijat pelipis merasakan pening karena kurang tidur. Sementara Zico bersandar di badan mobil, merasakan hal yang sama. Lelah yang teramat.
Tidak terasa sudah hampir dua minggu dirinya dan Zico berada di Swedia, sesuai informasi yang mereka dapat. Ailia Veron monic melakukan penerbangan ke Swedia.
Putus asa mulai menggerogoti Zello yang belum menemukan titik terang. Perusahaannya yang di Indonesia ia tinggalkan, padahal banyak tanggungan yang harus ia selesaikan.
__ADS_1
Zico menatap penuh iba ke bosnya, tak jarang, malam hari Zico memergoki Zello yang menitihkan air mata dengan gumaman menyebut nama istrinya.
Diri Zico ikut gelisah, mau memberi saran untuk pulang tidak tega, tapi bertahan di negara orang tanpa titik temu juga sangatlah melelahkan, dan selain itu banyak mengorbankan banyak hal juga.
Tak banyak yang bisa Zico lakukan kecuali menuruti ucapan Zello yang terus mencari Veron di negara besar itu. Tak hanya mereka berdua, Zico juga mengarahkan bala bantuannya.
Tapi apa boleh buat, Zico tidak bisa melakukan dengan bantuan polisi atau semacamnya, itu akan berdampak buruk untuk nama perusahaan keluarga Hanif, bahkan perusahaan cabang milik Panee. Andai sampai masuk surat kabar, lebih akan membuat rugi keluarga Hanif, tidak hanya perusahaan, tapi juga nama baik keluarga Hanif sendiri.
'Mementingkan nama baik perusahaan diatas kepentingan pribadi.'
Jahat memang, tapi itu sudah jadi hukum alam buat orang-orang besar seperti mereka.
"Zico, minta bantuan sama polisi!"
Zico meraub wajahnya kasar, baru saja dirinya memikirkan hal itu.
"Bos, nanti kemungkinan akan bocor ke umum bila nanti kita minta bantuan polisi," ucap Zico.
Zello menoleh, detik itu pula Zico langsung menelan salivanya.
"Bos, ini bukan hanya tentang Bos dengan nona, tetapi juga dengan menyangkut nama baik perusahaan. Terlebih lagi bila semua ini masuk kabar berita. Bukan hanya perusahaan saja, tapi kesehatan Tuan Hanif juga."
"Sialan kamu, Zico!" umpat Zello.
"Bersabarlah dulu! Nanti bila kita tak kunjung membuahkan hasil, kita cari cara lain."
"Bug."
Zello menatap bengis Zico yang tengah meringis kesakitan.
Zico menghapus darah di sudut bibirnya, membalas Zello dengan senyum kecut. "Kamu selalu bodoh bila menyangkut perempuan."
"Dasar bedebah! Kamu tidak tahu apa-apa tentang perempuan," gumam kesal Zello.
"Satu minggu lagi. Kita coba satu minggu lagi." Tawar Zico meyakinkan.
Dengan wajah masam Zello masuk mobil. Brakk.
****
Tidak seperti saat awal Veron masuk bui, Susi sekarang selalu berdekatan dengan Veron meski di dalam sel.
"Ayo, masuk!" titah penjaga lapas.
Wanita muda dengan wajah sembab masuk ke sel.
"Siapa namamu?" suara sangar Runi.
"Madu." sahutnya takut.
"Hahahaha, madu. Sayang sekali, nasibmu tidak seberuntung namamu," cibir wanita lain.
Madu menunduk takut.
__ADS_1
"Kamu kenapa ketakutan seperti itu? Bukankah kamu seorang penjahat."
"Hahahaha."
Madu menundukkan wajah, isak tangis seakan musik bagi yang mencibirnya. Membuat mereka semakin terkekeh.
"Hahaha lucu kan?" ujar Susi ke Veron.
"Kamu gila."
"Hahaha. Kamu itu tidak bisa menikmati suasana."
"Hm."
****
"Susi, tolong! Tubuhku masuk angin lagi."
"Apa?" Susi menggosok-nggosok matanya. "jam berapa ini?" keluh Susi.
"Mungkin jam setengah lima."
"Ah, ini masih pagi sekali."
Veron masih duduk menunggui Susi untuk bangun.
Dengan mata memicing, Susi duduk dari posisinya, "sebenarnya kamu sakit atau apa?"
"Sebentar, sepertinya kamu tidak butuh kerikan," ujar antusias Susi.
"Ayo, ikut aku!" ucap Susi cepat, dirinya langsung minta petugas untuk membukakan pintu untuk mereka.
Susi dengan cepat menuntun Veron, menuju kamar mandi.
"Dimana ya?!" ujar Susi sembari mencari benda pipih yang ada dalam kotak kamar mandi.
"Ini dia." Susi menelisik benda yang di pegangnya. "Nggak tahu ini masih bisa digunakan atau tidak, tapi seharusnya ini masih bisa. Masih utuh dan bagus kok tempatnya."
"Ini..... "
"Ini alat tes kehamilan," ucap Susi menyerahkan tespect dan gelas plastik yang berhasil ia temukan.
"Apa?" sahut syok Veron.
"Kamu disini sudah hampir dua bulan, coba ingat, kapan terakhir haid?!"
Veron terdiam, pikirannya berkecamuk.
"Malah ngelamun. Sana!"
Susi mendorong bahu Veron hingga dirinya memasuki toilet.
"Tahu kan caranya?! Tampung, terus celupkan!"
__ADS_1
****