Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Aktivitas Veron


__ADS_3

"Lilia, menikahlah denganku!"


Veron tertegun mendengar suara merdu Zello. Suara Zello yang biasanya datar, namun saat mengucapkan kalimat itu terdengar sangat lembut dan manis.


Kalau tidak mengingat mereka adalah partner, Veron mungkin sudah menitihkan air mata karena terharu.


Tapi apalahdaya, kalimat itu hanya ucapan tolong, bukan dilamar sungguhan.


"Aku-aku ngantuk." Dalih Veron menanggapi ucapan Zello. Dengan segera Veron duduk memunggungi Zello yang tengah menatapnya. Lumayan lama Veron untuk terlelap dalam tidurnya. Yang awalnya pura-pura tidur jadi tidur sungguhan.


Zello menghembuskan nafas kasar, berharap Veron tetap mau menikah dengannya.


***********************************************


Setelah sekian lama perjalanan, mobil Zello sudah berhenti di depan sebuah apartemen.


"Lilie." Panggil Zello mencoba membangunkan Veron. Sampai panggilan yang entah keberapa, namun Veron nggak kunjung membuka matanya. Veron hanya menggeliat yang kemudian kembali terdiam lagi melanjutkan mimpinya.


TIN TIN TIN TIN TIN


"ARGH, berisik sekali." Pekik Veron nggak kalah kencang dengan suara klakson yang Zello bunyikan.


"Kamu tidur atau pingsan?! Aku sampai capek membangunkanmu." Suara keras balik dari Zello.


"Apa? Dimana ini. Sudah sampai mana ini?" Veron yang belum sembuh dari rasa terkejut suara keras Zello, ditambah dengan dirinya di depan sebuah apartemen.


'Apartemen? Ah iya, aku sampai lupa. Aku kan tinggal disini mulai malam ini.' Batin Veron akhirnya.


"Tuan, terima kasih." Ucap Veron dan langsung membuka pintu mobilnya.


Apartemen ini juga di sewakan oleh Rossa. Tanpa sepengetahuan Zello tentunya. Sebenarnya sudah sedari beberapa hari lalu apartemen ini dibayar. Namun memang Veron baru menginginkan tinggal disana malam ini. Mangkanya dia baru menginjakkan kakinya di apartemen ini. Dan tinggal sendirian disana.


*********************************************


Pagi menjelang siang, Veron menggeliat karena silau sinar matahari yang menembus kaca karena tidak tertutup dengan sempurna tirai di kamar apartemennya.


"Jam berapa ini?!" Tanya Veron pada diri sendiri.


"Ah, sial. Aku harus membicarakan perihal permintaan Kakek Hanif ke Rossa. Rossa menjamin bahwa aku bakal hanya bertunangan, bukan menikah. Bagaimana jadinya kalau aku jadi bagian dari keluarga mereka dengan keadaan diriku yang sebenarnya." Veron mengumpat dengan mendesih-mendesih seperti ular. Diraihnya tas yang ada di ranjang itu dan mengambil ponselnya. Mendeal kontak Rossa segera.


Cukup lama Veron menanti panggilanmya diangkat, setelah panggilan ketiga baru ada suara dari sebrang. "Rossa, bisakah kita bertemu siang ini?"


"Sepertinya aku nggak bisa, mungkin sore, tapi nggak janji juga." Suara dari sebrang.


"Siapa Sayang?" Suara dari sebrang yang terdengar oleh Veron.


Zello. Batin Veron.


"Usahakanlah!" Ucap Veron.


"Hm."


Tut.


Veron langsung menaruh ponselnya lagi di tas, keningnya berkerut mencoba mengingat aktivitas apa yang akan dia lakukan sekarang. "Ah iya, ke butik Nita," gumam Veron.

__ADS_1


Veron juga langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. "Wait... Aku nggak ada baju ganti," cebik Veron. Untungnya Veron ingat, andai sudah terlanjur mandi apa yang bakal ia lakukan.


Waktu yang sudah siang, namun ia belum mandi. Perutnya keroncongan. Yang akhirnya dia memutuskan segera keluar apartemen untuk ke butik Anita langsung, biar sekalian dapat ganti baju dari butik temannya itu dan sekaligus jadi karyawan ala-ala di butik itu.


Veron yang dalam taxy pun sembari memegang perutnya, menahan lapar. Nggak pakai berfikir, Veron langsung mengirim pesan ke Anita untuk menyiapkan makan.


***


"Pagi Ka ..." Sapa salah satu karyawan butik Anita. Veron yang baru saja memasuki butik itu tersenyum senang dapat sapaan dari mereka.


"Pagi... Aku ke dalam dulu ya." Sahut Veron tersenyum hangat yang langsung masuk ke ruang istirahat Anita.


Dilihatnya Anita yang tengah megang gadget dan di di atas meja sudah ada makanan yang ia request tadi.


Tring Tring. Bunyi notif pesan ponsel Veron.


"Astaga kamu disini. Aku malah mengirim pesan untukmu." Celoteh Anita.


"Aku makan ya," ucap Veron sembari meraih makanan yang ada di atas meja dan nggak lupa menyiapkan minum yang ia isi dari dispenser. "Nih minumnya, ayo makan," ucap Veron lagi.


"Aku sudah kenyang, makanlah!" sahut Anita.


"Jadi, aku makan sendiri?"


"Aku baru selesai sarapan satu jam yang lalu, " sahut Anita. Seakan masa bodoh dengan ucapan Anita, Veron langsung menyantap makanannya tanpa menjawab ucapan Anita dulu.


Anita menopang dagunya di atas meja melihat rakusnya Veron menyantap makanan yang ia pesankan. "Kamu sudah berapa hari nggak makan?" ucap Anita.


"Hehehe, aku benar-benar lapar. Entahlah, padahal semalam makan," sahut Veron yang terus sambil ngunyah. Semalam makan? Iya kan semalam makan malam di rumah Kakek Zello. Terlalu jaga image dan sungkan juga menjadikan dia harus makan yang nggak sesuai porsinya. Siapa sangka, Veron mempunyai nafsu yang bagus. Porsi makan malam di rumah Hanif semalam nggak ada apa-apanya di banding porsi makan dia sebenarnya.


"Kamu seperti orang yang baru saja terkuras tenaganya," celoteh Anita lagi.


Terkuras tenaga? Yang ada pikiranku yang terkuras. Batin Veron.


"Begitulah," sahut Veron malas. "Sepertinya kalau aku mandi akan sangat membantu. Iya kan?"


"Kamu belum mandi?"


"Kamu nggak nyangka kan kalau aku belum mandi. Aku sudah atau belum memang selalu cantik dan wangi hahaha." Nggak mau menunda-nunda, Veron langsung menuju kamar mandi dan membawa handbagnya yang berisi pakain dalam baru yang ia beli sebelum ke tempat butik ini.


"Yut, bagi baju ya," ucap Veron cengengesan.


"Jangankan satu biji. Semuanya juga boleh," sahut Anita.


"Astaga, andai kamu pria. Kamu sudah kumangsa dari dulu. Sana ambilin baju yang pas buat aku!"


"Sudah mandi aja sana. Aku mau minum dulu."


***


Veron setelah melakukan pengecekan barang di gudang, beralih pengecekan barang yang tengah berjejer rapi dalam ruangan itu. Dan juga membantu memasang beberapa gaun atau dress terbaru di manekin. Tanpa Veron sadari, sudah ada orang yang dengan lihai terus mengambil gambar dirinya saat beraktivitas di ruang itu.


Setelah berjam-jam di ruang itu yang diselingi dengan banyak melepas rindu dengan Anita dan karyawannya juga. Veron melihat jamnya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Dia juga langsung mendeal nomer Rossa.


"Hallo," ucap Veron membuka obrolan.

__ADS_1


"Ya, ada apa?"


"Sudah ada waktu senggang kan? Aku pengen bahas sesuatu."


"Aku sedang di kantor Zello. Zello juga sudah cerita tentang soal kalian kemarin."


"Bukankah kamu tahu. Akan ada versi lain dari ku. Kamu tahu itu? Aku ingin bicara langsung sama kamu." Tandas Veron.


"Aku sibuk. Aku baru ingin mempersiapkan untuk pemotretanku nanti malam."


"Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau sore kamu ada waktu."


"Iya, sorry sorry. Kita bakal ketemu nanti. Tapi sore ini aku nggak bisa. Mm... sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan?" Suara Rossa mendadak tengah berbisik.


"Aku-" Veron menjeda ucapannya, melihat situasi, takut dalam keadaan tidak aman untuk membicarakan masalahnya.


"Aku ingin bertemu denganmu di club. Kapan kamu ada waktu?"


"Kapan pun. Yang jelas tidak malam ini. Aku buru-buru. Bye." Tandas Rossa langsung dan memutuskan teleponnya sepihak.


"Iuuhh dasar." Veron melihat ponselnya dengan kesal.


"Apa ponsel itu melakukan kesalahan terhadap mu. Kamu menatapnya tanpa belas asih." Ujar Anita yang langsung nongol di sampingnya.


Huufz. Untung aku nggak membicarakannya di telpon. Batin Veron.


"Rasanya aku ingin ngirim guna-guna ke orang lewat ponsel ini," gerutu Veron.


"Bicara apa kamu?! Oya, tadi sepertinya ada detektif baru, kamu beruntung kesini hari ini," ucap Anita pelan.


"Benarkah? Aku memang selalu cerdas," ucap Veron bangga. "Tapi-aku akan tetap kesini seminggu penuh, aku nggak mau setengah-setengah," imbuh Veron.


"Hm, kamu pemain ulung," cibir Anita pelan.


***


Di lain tempat, Rossa yang tengah di ruang Zello langsung memeriksa laci dan meja di ruangan itu. Sudah sedari tadi Rossa menunggu Zello keluar dari ruangan ini. Sekarang Zello sedang rapat, dia akan menggunakan waktu ini sebaik mungkin.


Setelah sekian menit, Rossa langsung menemukan apa yang ia cari. Map coklat dengan adanya foto Veron disana.


"Pekerjaan karyawan butik dan waittress club," ucap Rossa membaca tulisan itu.


Rossa tersenyum licik setelah membaca dokumen itu. Dan perkiraannya memang benar, pasti Zello akan menyelidiki perihal Veron. Dan yang tertulis seperti yang ia inginkan.


"Benar kata Luna, wanita malam itu bisa menyembunyikan identitasnya sendiri. Hebat sekali. Aku penasaran siapa yang dibelakang dia. Ah-tapi itu nggak penting sekarang. Yang penting sekarang aku bernafas lega." Rossa yang sudah puas dengan yang ia baca langsung merapikan dokumen itu lagi.


***


Zello yang tengah diruang rapat mengernyitkan dahi tidak puas dengan yang ia dengar. Zello mengibaskan tangannya kecil, pertanda ingin mendengar presentasi dari tim lain.


Thin Thin. Notif pesan di ponsel Zello.


"Boss." Zico yang tengah memegang ponsel Zello langsung menyerahkan benda itu ke Zello.


Dilihatnya isi pesan itu, Zello mengangguk puas. Pesan dengan beberapa foto seorang wanita yang tengah beraktivitas di butik.

__ADS_1


__ADS_2