Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Kembalinya Rossa


__ADS_3

Jempol Veron dengan lincah memberikan sentuhan-sentuhan di ponselnya. walau hanya sekedar melihat kabar atau postingan orang.


Teman mengobrolnya sudah tidak membalas pesannya lagi. Bagaimana tidak. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, pastilah Anita sudah tertidur. Sedangkan Desy lagi kerja.


Ingin memejamkan mata, tapi rasa ngantuk tidak kunjung menghampirinya.


'Sedang apa dia sekarang?'


Arghhh ....


Veron menepuk dahinya, kesal dengan pikirannya yang baru saja melintas.


Tidak mau semakin terbawa suasana hening, Veron keluar kamar melangkah menuruni tangga, mengikuti langkah kakinya sendiri.


Terhentinya langkah Veron di dapur, mungkin karena ada aroma menyeruak hidungnya. Yang membuat langkah Veron tertuntun menuju tempat itu.


"Nona." Ucap salah satu pelayan yang sadar kehadiran Veron.


"Malam-malam begini apa yang kamu masak?" tanya Veron.


"Ini Nona. Saya sedang buat mie instan, bawaannya pengin makan terus."


Mendengar ucapan pelayan itu, membuat Veron menyadari perut pelayan sedikit membuncit yang terlihat samar di baju tidurnya yang longgar.


"Kamu hamil?"


"Hehehe iya, Nona. Jalan empat bulan." Wajahnya merona bahagia sembari membawa mangkok ke meja makan.


"Makan mie instan?"


"Hehe kalau sedang ingin saja Nona."


"Oh." Veron duduk di kursi nggak jauh dari tempat pelayan menyiapkan mienya.


"Nona mau. Saya bisa buatkan. Masih ada stok Nona."


"Tidak perlu. Aku hanya ingin duduk saja," ucap Veron. "Jangan terlalu sering makan yang instan-instan. Aku rasa itu tidak bagus untuk orang hamil," imbuh Veron.


"Hehehe tidak Nona. Tapi terima kasih untuk perhatiannya." Pelayan yang bernama Ita itu duduk bersejajar dengan Veron dan tengah bersiap menikmati makanannya. "Saya makan dulu ya, Nona."


"Iya, silakan!"


Veron menatap Ita yang dengan rakus menikmati mienya, membuat Veron sedikit terkekeh kecil. Dan tangannya stanpa sadar terulur meraba perutnya sendiri. Perasaan yang aneh menjalar di dadanya, Veron menunduk menatap perutnya.


"Nona hamil juga?" celetuk Ita.


"Ah nggak," sahut Veron cepat. "Aku -hanya merasa sedikit lapar setelah melihatmu makan."


"Oh ... saya pikir. Tidak apa Nona. Nona kan masih terhitung pengantin baru. Hamilnya nanti saja hehe," ucap Ita canggung melihat raut wajah Veron.


"Ah iya. Aku tidak memikirkan itu." Dalih Veron. Dan berdiri dari kursinya sembari tersenyum kecil.


"Mau apa Nona?"


"Aku mau buat juga," sahut Veron menuju dapurnya.


Di dapur Veron langsung menyiapkan air untuk memasak mienya dan nggak selang lama Ita sudah di sampingnya.


"Nona. Saya sudah selesai makan. Biar saya buatkan." Tawar Ita.


"Tidak perlu, aku bisa membuatnya. Kamu duduklah di sana. Tunggu aku dan temani aku mengobrol nanti. Itu kalau belum ngantuk," ucap Veron dengan di bubuhi senyum di bibirnya.


"Belum Nona. Saya belum ngantuk. Kalau begitu saya kembali ke meja makan ya Nona."


"Hm." Tanpa menoleh Veron terus fokus dengan masakannya. Sesaat Veron memijit hidungnya, merasakan dirinya yang semakin aneh. Yang pertama selalu teringat dengan Zello, yang kedua dengan perasaan aneh saat melihat Ita hamil.


'Sepertinya aku sudah gila.'


Veron menggigit bibir kesal, di tengah pikirannya yang konyol.


***


Seperginya Zello ke luar kota, Veron pastinya tidur di rumah Hanif. Sudah hari ketiga Veron tidak melihat wajah Zello. Jangankan melihat wajahnya, suaranya saja tidak ia dengar.


Rindu? Tepisan rasa Veron membuat dirinya sendiri uring-uringan. Sudah sesibuk mungkin melakukan kesibukan, namun kesibukan itu selalu mengingatkan ke Zello. Bagaimana tidak, seperti saat ini Veron yang tengah menyibukkan perawatan, Dahlia selalu menyinggung nama Zello.


"Nona, Anda semakin cantik. Aku rasa nanti Tuan Zello bakal pangling dengan Nona." Dahlia tertawa kecil.


"Baguslah, semoga saja sekalian lupa ingatan."


"Hahaha, kalau Tuan Zello sampai lupa. Saya bakal mengingatkannya."


"Dasar, Tukang Ikut Campur."


***


[Kamu dimana? Aku di apartemen Zello. Kesinilah! Aku ingin bicara hal penting]

__ADS_1


'Rosa di apartemen?!'


Ada rasa tidak nyaman mengetahui Rossa kembali ke kota ini. Membayangkan cepat atau lambat mereka berdua- Rossa dan Zello- bertemu satu sama lain.


Dengan enggan Veron ke apartemen di antar oleh Dahlia. Dalam perjalanan Veron banyak menghabiskan dengan berdiam diri.


"Nona, apa ada masalah?" tanya Dahlia.


"Tidak. Sebenarnya aku hanya malas saja ke apartemen."


Dahlia tersenyum tipis sesaat menanggapi ucapan Veron dan memilih fokus mengemudi lagi.


Veron yang sudah sampai depan pintu apartemen langsung masuk dengan menekan pinnya. Sementara Dahlia langsung pamit pulang, tanpa ikut masuk ke apartemen.


Veron mendengar suara barang terjatuh dari dalam. Sudah menduga itu pasti ulah Rossa.


Veron menghembuskan nafas kasar dan segera menuju di mana Rossa berada.


Di ruang tengah, Veron terdiam terpaku melihat Rossa tengah duduk. Tepatnya duduk di pangkuan Zello dengan tangan yang terkalung di leher Zello, dan tidak adanya jarak di antara wajah mereka satu sama lain.


Bodohnya Veron, bukannya pergi. Veron tetap mematung dengan detak jantung yang seakan berhenti saat itu juga. Tanpa sadar, bulir bening keluar dari mata Veron.


Sekian menit, Veron berdiri tanpa ucap. Veron memalingkan wajah dan menghapus air matanya.


"Lilie." Suara Rossa membuat Veron tersenyum tipis ke arah mereka berdua. Dilihatnya Rossa turun dari pangkuan Zello, sementara Zello juga langsung berdiri dari duduknya.


"Kamu sudah sampai? Kenapa diam saja. Ayo, duduk dulu!" Rossa berucap sembari merangkul lengan Zello dengan posesif. Rossa menatap Zello dengan penuh kerinduan, dan juga langsung mencium pipi Zello lembut. "Miss u Darl."


"Aku - sepertinya harus keluar dulu. Kalian pasti ingin saling melepas rindu." Veron berkata dan berlalu dari sana.


"Terima kasih pengertiannya Lilie." Rossa tersenyum puas dan melambai kecil ke arah keluarnya Veron.


***


Andai saja Dahlia tidak langsung pulang. Dia pasti punya teman mengobrol dan tidak seperti orang bingung sekarang. Bahkan Veron berjalan pun seakan harus butuh pegangan.


Veron menghentikan langkah kakinya, tidak hanya kaki. Bahkan tubuhnya seakan tidak ada tenaga. Veron melihat sekelilingnya, masih tidak jauh dari apartemen. Kejadian barusan membuat dia seperti linglung di tengah jalan. Di posisinya yang masih mematung tanpa sadar buliran air mata jatuh lagi dengan perlahan. Dengan cepat Veron hapus namun air matanya seakan bertambah deras. Tidak hanya air mata, sekarang isakan tangis juga keluar dari bibir tipis Veron.


"Kamu payah, Veron. Bisa-bisanya kamu terjebak dalam perasaan."


Veron membungkuk dengan lutut sebagai penopang kedua tangannya. "Zello, bukankah kamu bilang pergi tiga bulan. Kenapa belum ada satu minggu sudah kembali. Aku belum siap untuk melihat semua ini."


Seakan ada yang menekan dada Veron dengan kuat, terasa sesak. "Aku belum siap Zello. Aku butuh waktu. Biarkan rasaku terkubur dulu."


Veron merasakan tungkainya semakin lemas, meski begitu Veron mencoba berdiri tegap berusaha untuk melangkah lagi.


Veron menoleh ke arah sumber suara yang bersumber dari sampingnya. Seorang pria berdiri di sampingnya dengan tatapan cemas.


"Anda terlihat mengkhawatirkan."


Sekian detik Veron terdiam dan menggeleng lemah dengan senyum paksa di bibirnya.


"Tidak apa-apa Tuan."


"Tidak bagus keluyuran sendirian dalam suasana hati yang tidak bagus. Kamu bisa kenapa-kenapa di jalan. Mau aku temani?"


Sang pria memang bisa mendengar jelas gumaman Veron tadi, tahu betul suasana hati Veron sedang dalam kondisi tidak.


Veron terdiam sesaat, dan akhirnya menggeleng lemah lagi.


"Aku hanya berniat baik. Aku tidak berniat-"


"Dia tidak mau, jangan dipaksa!"


"Anda siapa?" tanya sang pria dengan tatapan mengintimidasi.


"Suaminya."


"Oh, Zello. Orang yang sudah membuat istrinya ini menangis." Cibir sang pria.


"Bukan urusanmu."


"Benarkah? Nona, aku tidak akan ikut campur bila kamu menyuruhku pergi."


Veron tergugu di tempatnya. Pikirannya menjalar dengan pertanyaan kehadiran Zello yang membuatnya terkejut setengah mati.


"Nona?" tegur sang pria.


"Aku-"


Bug. Layang tinju mengenai wajah sang pria asing dari kepalan tangan Zello.


"Zello! " Histeri Veron yang kemudian menatap tidak enak dengan pria asing tersebut.


"Pergilah, Tuan. Sudah biasa pertengkaran dalam rumah tangga. Kami akan menyelesaikannya."


Sang pria asing menatap lekat Veron, antara iba tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Baiklah. Permisi." Dengan melihat wajah Zello bergantian akhirnya sang pria berlalu dari sana.


Sementara Veron melirik ke arah Zello, yang akhirnya membuat perasaannya tambah kacau dan bingung.


Zello terus menatap tajam Veron yang masih dengan mata sembabnya.


"Zello, bagaimana kamu bisa ada di sini, bukankah kamu sedang bersama Rossa." Ucap Veron pelan.


"Seharusnya aku yang tanya. Kamu ngapain nangis di jalan?"


"A-aku." Veron tergagap dan tak mampu melanjutkan ucapannya. Bibirnya kelu. Veron melangkahkan kaki ingin menghindar dari Zello. Namun cekalan tangan Zello membuat Veron mematung. Veron menelan salivanya dengan berat.


Zello mencekal tangan Veron dengan erat, tahu Veron sengaja ingin menghindar dari dirinya. Dan dirinya tidak ingin Veron bisa lepas begitu saja.


"Lepaskan Zello!" pinta Veron lemah. Veron benar-benar merasa lemah. Ingin berontak, tapi merasa tidak berdaya. Pandangannya terus ke depan, tidak berani menatap wajah Zello.


"Seperti pria asing tadi yang mendengar ucapanmu. Aku pun begitu. Bisa mendengar jelas ucapanmu."


"Apa kamu masih ingin menghindar lagi?!" Zello menarik tangan Veron hingga posisi Veron berhadapan dengan dirinya.


"Apa yang kamu bicarakan Zello?" Dalih Veron.


"Siapa tadi yang bilang ingin mengubur perasaannya, melupakannya. Tadi siapa yang terus menyebut namaku. Kamu tidak bisa memungkiri lagi, Lie. Kamu mencintaiku, itulah kenyataannya. Dan aku sudah dengar langsung, melihat langsung." Dada Zello naik turun menatap dalam Veron.


"Aku senang Lie. Terima kasih. Aku juga mencintaimu." Zello berucap dengan mata berbinar.


"Zello, hentikan! Rossa menunggumu." Veron berusaha menghempaskan cekalan Zello, namun cekalan Zello tidak terlepas juga.


Sekian detik Zello melepaskan cekalan Veron. Tapi pandangan Veron seakan tidak rela cetakannya dilepas Zello. Dirinya memang bingung dengan situasi tersebut, terlebih lepasan tangan Zello membuat Veron merasa kehilangan sesuatu. Seakan tidak rela Zello akan merelakan dirinya.


Ah, andai saja dirinya bisa. Namun kenyataannya Veron menyadari kalau dirinya tidak akan bisa. Tidak akan bisa membalas perasaan Zello, apalagi untuk memiliki.


Veron melangkahkan kaki, merasa tidak ada yang perlu dibahas lagi.


"Lilie." cegah Zello dengan meraih tangan Veron dan menariknya cepat. Ulah Zello membuat Veron langsung mendarat di pelukannya.


"Zello." Pekik Veron. Berusaha memberontak di pelukan Zello.


Zello melepaskan pelukan Veron, bukan berarti melepasnya. Kedua tangan Zello beralih menangkup kedua pipi Veron yang membuat mereka bersitatap.


Tatapan dalam Zello membuat Veron terkesiap di posisinya, seakan tidak mampu melakukan pemberontakan lagi. Tatapan Zello semakin dalam dan tidak bisa diartikan oleh Veron. Zello bahkan mendekatkan wajahnya, yang membuat Veron langsung gelagapan.


"Zell-"


Dengan hitungan detik Zello menikmati bibir Veron dengan lembut dan dalam dan mengakhirinya dengan manis, kemudian menyatukan kening mereka.


"Apa yang kamu takutkan? Rossa?"


Zello menjeda ucapannya, nafasnya naik turun. Dia sendiri juga bisa merasakan nafas Veron yang sama. Perlahan wajah Zello menjauh, namun tangan masih berada di kedua pipi Veron. Zello menatap lembut, menatap wajah Veron yang memerah seperti tomat.


"Zello, aku-"


"Aku sudah tahu semua."


Hah?


Tanpa Zello sadari, Veron sudah berubah tegang.


"Aku sudah tahu semua tentang Rossa."


Veron terpaku di tempatnya. Menerka apa yang akan di ucapkan Zello. Apakah dirinya akan berkaitan juga dengan apa yang akan dikatakan Zello. Apakah rahasia identitasnya sudah diketahui oleh Zello.


"Rossa menghianatiku, Lie. Sudah lama, tapi aku baru menyadarinya."


"Apa?" ucap Veron syok.


"Iya, dan aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya. Aku ingin mengatakan ini dari kemarin sama kamu. Tapi waktunya belum tepat. Sekarang saatnya, supaya kamu percaya, aku ingin mengatakan juga di depan Rossa. Kalau aku hanya berbicara sama kamu tanpa Rossa, aku takut kamu beranggapan aku hanya membual. Mangkanya aku menunggu Rossa kembali dulu," ucap Zello serius.


Diujung sudut hati Veron, dirinya merasa senang. Artinya Zello benar-benar mencintainya. Ucapannya, perilaku hangatnya. Namun ada rasa khawatir lebih besar yang tengah ia rasakan.


"Ayo kembali ke apartemen, selagi ada Rossa disana."


"Tapi Zello, mungkin saja kamu salah paham. "


"Aku sudah punya buktinya."


Veron merasa bibirnya kelu, 'kalau Zello memutuskan hubungannya dengan Rossa. Bagaimana denganku? Rossa pasti tidak tinggal diam. Aku belum siap kehilangan keluarga Zello.'


"Zello, apa ini jalan terbaik?! Nanti Rossa akan memberitahu Kakek. Aku-"


"Tenang saja, kakek sudah tahu."


"Tahu apa?"


"Kalau kamu istri sewaan. Jadi kalau Rossa sampai bicara dengan kakek. Tidak ada yang perlu di takutkan lagi."


Sudah tidak ada cara lagi, Zello menuntun tangan Veron cepat. Sedangkan Veron merasa dunianya sudah berputar. Rossa tidak mungkin diam saja. Identitasnya akan segera terbongkar. Tidak hanya Rossa yang berakhir, tapi dirinya juga.

__ADS_1


__ADS_2