Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Tinggal Berdua


__ADS_3

***


"Kamarmu yang kiri, dan aku yang kanan," jelas Zello. "Aku sudah ngantuk. Kamu juga beristirahatlah!"


Veron melihat isi apartemen yang akan ia tempati. Apartemen yang mewah dengan kombinasi warna abu dan putih. Warnanya maskulin para pria, berjalan menuju kamar yang ditunjukan oleh Zello.


"Selamat malam," ucap Zello yang sudah di depan pintu kamar miliknya.


Senyum aneh terulas di bibir Veron menanggapi ucapan Zello yang terdengar manis. Tanpa kata, meninggalkan Zello yang masih di depan pintu.


***


Masih dengan rambut basah, Zello bergegas menuju dapur membuat sarapan. Mengoleskan selai ke rotinya. Membuat satu lapis roti selai dan satu gelas susu hangat. Zello menatap sarapannya itu sejenak, sesaat tangannya membuat satu lapis roti dan susu hangat lagi. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Melangkah cepat ke sudut ruang tamu mngambil secarik kertas dan pulpen.


Makanlah sarapanmu!


Segera Zello menaruh catatan itu di meja makan, dan beralih menyantap sarapannya secepat kilat.


"Zello." Veron datang dengan wajah bantal, berdiri di samping Zello yang tengah menyantap sarapannya.


"Kamu sudah bangun?"


"Aku kesiangan." Veron memasang wajah bersalah sesaat.


"Terus?"


"Bukan apa-apa." Veron melihat sarapan yang ada di meja lengkap dengan catatan kecilnya. "Ini untuk siapa?"


"Makanlah!"


Tanpa sungkan, Veron duduk dan menyantap sarapannya.


"Aku sudah terlambat." Zello mengunyah habis roti dan meneguk susunya. Melangkah lebar ke sofa mengambil jas dan dasi yang sudah ia siapkan. Dilihatnya Veron yang mengunyah sembari mengamati pergerakannya.


"Sini!" titah Zello.


"Kenapa?" sahut Vero malas.


"Sini!" Tekan Zello.


Sedikit dongkol Veron melangkahkan kakinya, meraih dasi yang di sodorkan Zello.


Mengalungkan dasi ke leher Zello dan memasangnya dengan rapi.


"Jas!"


Dahi Veron berkerut, tapi nggak mau ambil pusing. Dipakaikan jas ke tubuh Zello.


"Manja." Sungut Veron.


"Di kulkas ngga ada yang bisa di masak," ujar Zello.


"Bagus. Aku juga nggak bisa masak."


"Aku akan cari koki nanti, siapa tahu kamu ingin makan sesuatu. Biasanya pagi ada pekerja yang akan datang untuk bersihin apartemen. Tapi hari ini dia belum datang, aku lupa memberi tahunya. Mungkin dia akan datang sore hari," jelas Zello.


"Biasanya kamu nggak ada koki?"


"Nggak, aku jarang makan di apartemen."


"Nggak perlu cari koki. Aku akan makan tempat Kakek saja."


"Maksudnya?"


"Aku berkunjung ke rumah Kakek dari pagi sampai kamu menjemputku. Kalau kamu nggak jemput, aku nggak pulang."


Zello menatap Veron dalam, "kenapa?"


"Kenapa apanya?"


"Kenapa harus dari pagi sampai aku menjemputmu. Apa kamu merasa bosan?"


"Kamu terlalu banyak tanya. Sudah, sana berangkat! Dan pekerja ya membersihkan apartemen suruh besok pagi saja datangnya. Karena aku pasti sedang di rumah Kakek nanti."


Zello menatap Veron, bersitatap dan tidak lama kemudian ia tuntun Veron keluar samppai delan pintu apartemen.


Tanpa kata, Zello langsung melangkah pergi dari hadapan Veron. Bingung dengan tingkah Zello, Veron hanya bisa melambai kecil.


"Bye." Veron berucap riang. Menutup pintu segera. Melanjutkan sarapan dan mandi.


"Manja." Ujar Veron lagi mendapati sifat Zello.


***


Dengan senang Veron berada di rumah Hanif, merasakan enaknya jadi cucu mantu Hanif.


"Lilie ...." Panggil Hanif.


"Iya Kek."


Hari sudah siang, Veron tengah duduk santai di ruang keluarga. Sementara Hanif baru saja bangun dan keluar dari kamarnya.


"Kakek sudah bangun?"


"Seperti yang kamu lihat," sahut Hanif hangat. Menatap Lilie dengan hangat selayaknya cucu sendiri. Tidak pernah ada keramaian di rumahnya, ketika Lilie menjadi istri Zello dan berada di rumahnya membuat perasaannya sangat terharu.


"Bagaimana keahlianmu memasak?" tanya Hanif.


"Baru belajar Kek. Tadi juga cuma bantu motong-motong," jelas Veron. Veron sudah siap untuk di tuntut bisa memasak. Lagi pula, dirinya mulai menyukai memasak.


"Masaklah di dapur! Nanti akan di bimbing sama Dini," ujar Hanif.


"Mm ... apa kurang banyak masakannya tadi Kek?" Rasanya masakan tadi lebih dari cukup, bisa buat makan malam juga.

__ADS_1


"Nggak apa. Kedapurlah, masak yang enak!" Hanif tersenyum kecil, dan berlalu dari sana.


"Baik Kek. Apa yang nggak buat Kakek." Veron ke dapur yang di temani oleh koki dan juga Dahlia.


Memasak dengan arahan dari koki dan juga dengan bantuan Dahlia.


"Potong serong seperti ini Nona!" Dahlia memberikan intruksi ke Veron. Dahlia memang lebih berani dalam bersikap ke Veron selayaknya teman. Berbeda dengan koki, berbicara dengan sangat hati-hati dengan Veron.


"Dagingnya juga Nona, dipotong kecil-kecil!" Dahlia memberikan tempat untuk memotong daging.


Setelah satu jam lebih, Veron baru bisa menyelesaikan masakan sederhananya. Karena lamanya Veron menyiang sayuran dan yang lainnya.


Omelet full sayur dengan daging asam pedas sudah tersaji. Dahlia menyisikan di piring lauk, dan memberikan box makan ke Veron. "Yang sebagian taruh sini Nona!"


"Buat apa?"


"Ini perintah Tuan Besar Nona."


Sedikit heran, namun Veron melakukanya juga.


"Sudah selesai. Sekarang Nona bisa dehmandi," ucap Dahlia senang.


"Iya, badanku sudah lengket. Aku mandi dulu."


Dahlia membuat simbol ok ke Veron dan tersenyum geli ke arah box makan tadi.


***


Hanif mengunyah makanan dan mengangguk kecil. "Lumayan."


"Terima kasih Kek."


Veron tersenyum puas, Hanif memakan masakannya dengan lahap.


"Istirahatlah sebentar lalu pulang!" ucap Hanif. Menatap Veron yang tercengang karena ucapannya.


"Mm ... Kek?" Veron merasa aneh. Diusir? Aku di usir?


Hanif tertawa kecil. "Lilie."


"Jarak perusahaan dengan rumah Kakek lumayan jauh, akan sangat capek bila Zello bolak balik."


Oh. Veron tertegun dengan yang di dengarnya. Hanif sangat memikirkan Zello, sedangkan Zello?


"Nanti dia akan istirahat di sini dulu sebelum melanjutkan pulang Kek," tutur Veron.


"Bila demikian, berarti akan pulang larut malam."


Veron terdiam, membenarkan ucapan Hanif.


"Istirahatlah dulu. Nanti Dahlia akan mengantarmu. Dan kembalilah kesini kapanpun kamu mau. Kamu pasti punya kesibukan lain, punya teman lain. Kamu akan bosan bila kesini setiap hari."


"Apa Kakek tidak senang aku berkunjung kesini?"


Hanif tersenyum hangat, "Kakek nggak mau menyita banyak waktu kamu. Kamu masih muda. Sampai kapan kamu akan seperti ini. Nikmatilah hidupmu!"


"Bagaimana kalau kita besok jalan-jalan Kek. Kakek takut aku bosan kan?" Dalih Veron.


Hanif merenung, memikirkan sesaat dan mengangguk setuju.


"Asyik."


"Lilie. Kalau ada waktu luang. Seringlah ke kantor juga!"


Dengan senyum kaku, Veron mengangguk.


***


Veron menata makanannya yang ada di atas meja makan. Dirinya tidak mengira kalau ternyata makanan yang ia masak tadi adalah masakan kesukaan Zello. Veron menggeleng kecil, memikirkan sang Kakek yang sangat perhatian dengan Zello, tapi Zello yang seakan kebalikannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat. Dirinya sudah sampai di apartemen sedari jam empat sore. Dahlia juga cuma numpang duduk sebentar, takut Zello keburu pulang dan akan mengganggu pengantin baru dia bilang.


Rasanya Veron mau mites Dahlia tadi. Sudah tahu mereka hanya nikah kontrak. Tapi bisa-bisanya selalu menggoda dirinya.


Ting. Bunyi notif pesan di ponsel.


Veron melirik benda pipih itu, melihat isi chat dari layarnya langsung.


Veron menggigit bibirnya, membaca pesan dari Dahlia. Duduk termangu sesaat yang kemudian beralih meraih ponselnya.


[Zello. Sorry, aku lupa ngasih tahu. Aku sudah di apartemen]


[Sekarang kamu sampai mana? ]


Ceklist dua. Satu menit berganti setengah jam sudah berlalu pesannya belum dibaca juga.


"Apa dia marah?" gumam Veron.


Melihat waktu yang tertera di ponselnya. Sudah hampir jam delapan. Jam berapa dia sampai?


Beralih ke ruang tamu. Duduk bersandar di sofa memainkan game di ponselnya untuk mengalihkan rasa ngantuk yang sudah menderanya.


Veron yang tengah main game melihat arah pintu, terdengar pintu apartemennya terbuka yang beriringan masuknya Zello. Zello melepaskan sepatu dan menaruhnya di rak.


"Zello." Sambut Veron, berdiri dari duduknya melihat wajah Zello yang baru saja pulang.


"Aku- lupa memberitahumu," sambung Veron.


"Nggak masalah. Ambilkan piring, aku ingin makan di sini," ucap Zello. Duduk di sofa dan menyalakan televisi yang ada di sana.


Mendengar ucapan Zello, Veron baru sadar kalau Zello pulang bawa makanan buat makan malam.


"Baiklah." Melangkahkan kaki menuju kitchen set, dan melalui meja makan yang di samping dapurnya persis. Melihat masakannya sekilas dan memasukkan ke dalam lemari pendingin.

__ADS_1


Melangkahkan kaki cepat bergabung dengan Zello. Menyajikan makanannya di piring, dan duduk bersebelahan dengan Zello. Menikmati makan dengan nikmat, karena sama-sama lapar.


"Air." Veron menepuk jidatnya, baru ingat setelah merasa haus di tengah makannya.


"Biar aku yang ambil." Zello bergegas menuju lemari pendingin. Pandangan matanya tertuju langsung dengan box makan trasparan. Tangan Zello terulur untuk mengambil dan melihatnya.


Sedikit berfikir, mencicipi sedikit dan menaruhnya lagi. Beralih mengambil air puih dingin dari sana.


"Minumlah!" Zello menyerahkan minuman air mineral.


"Terima kasih."


"Apa kamu tadi bawa masakan dari tempat Kakek?" tanya Zello, kembali duduk di sebelah Veron.


"Iya."


"Kenapa nggak bilang, ada masakan dari rumah Kakek?"


"Nggak masalah. Masih bisa di hangatin besok buat sarapan." Veron menatap Zello. "Beda sama makanan ini. Kalau tidak di makan sekarang, nanti bingung cara manasinnya."


Zello sudah selesai makan, meminumnya dan bersandar di sofa menonton acara televisi. Sedangkan Veron yang selesai juga merapikan perabotan bekas makan mereka.


Tidak banyaknya perabotan membuat Veron langsung mencucinya, menaruh di tatakan piring. Dan kembali ke tempat Zello berada.


"Zello, ini sudah malam. Kamu nggak mau tidur?"


"Sebentar lagi bola mulai."


"Baiklah, jangan terlalu larut tidurnya."


Zello mengulas senyum, "tentu."


"Kamu nggak mau mandi dulu?" ucap Veron lagi.


"Aku tadi sudah mandi di tempat kakek."


"Oh ... yaudah. Malam." Veron berlalu dengan perut dan hati yang damai. Melangkahkan kaki menuju kamarnya.


Senyum tipis masih tersisa di bibir Zello, mengamati punggung istrinya ketika memasuki kamar.


***


Semalam Veron yang tidur lebih awal bangun dengan wajah segar. Melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Dan dengan segera beralih ke dapur. Merebus teh tubruk yang dibawanya dari rumah Hanif dan juga memanaskan masakan kemarin.


Selesai menyajikan, Veron beranjak ke kamar. Mandi dan bersiap.


***


Berbeda dengan Veron, Zello telat bangun.


"Kenapa dia tidak membangunkanku," sungut Zello. Menuju kamar mandi dan cepat-cepat ingin membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai mandi dengan pakaian casual celana panjang ia keluar kamar. Dan langsung bisa melihat Veron yang tengah duduk santai sembari memainkan gadgernya di ruang santai.


"Sudah bangun?" ucap Veron.


"Aku sudah telat."


"Telat kemana?"


"Aku ada pertemuan untuk membahas proyek. Kamu tidak membangunkanku," keluh Zello.


"Maaf, aku pikir kamu libur. Ini kan hari sabtu."


"Iya, ini permintaan client. Kalau Zico tidak menelponku aku mungkin belum bangun."


"Aku benar-benar minta maaf."


"Ada minuman?"


"Aku seduhkan susu ya?"


"Hm." saut singkat Zello mengiyakan. Zello memakai sepatu sembari menunggu Veron mengantarkan minumnya. Tersenyum tipis dengan situasi sekarang. Merasa benar-benar terlengkapi dengan adanya istri.


"Zello. Ini!" Veron menyodorkan satu gelas susu.


"Terima kasih." Meneguk setengah dari isinya.


"Bye." Bergegas keluar apartemen segera mungkin.


"Bye," balas Veron. Entah di dengar atau tidak, Veron mengucap pelan. Memandang susu separo gelas itu dan kemudian meminumnya, sayang-sayang kalau dibuang.


Dilain sisi, Zello yang sudah sampai tempat parkir tidak sengaja bertemu dengan Dahlia.


"Tuan." Sapa Dahlia.


"Tolong jaga Lilie." Zello meraih handle pintu mobil guna masuk.


"Baik Tuan."


Brakk. Zello menutup pintunya kencang.


"Eh Tuan." Panggil Dahlia.


"Kenapa?"


"Bagaimana masakan Nona?"


"Maksudnya? Masakan apa?" tanya Zello heran.


"Daging asem pedas sama omelet sayurnya. Itu masakan Nona. Bagaimana rasanya?" cecar Dahlia.


"Itu- masakan Lilie?"

__ADS_1


"Iya," sahut Dahlia antusias.


'Aku belum memakannya.'


__ADS_2