
"Maaf Nyonya. Anda dalam keadaan hamil seperti ini, datang kesini hanya sendirian?" tanya Veron hati-hati.
"Maksudnya suami saya ya?" sahutnya.
"Hehe iya." Veron tersenyum canggung.
"Ada, dia sedang mengambilkan sepeda," sahutnya lembut.
Oh, Veron mengangguk puas ditambah melihat pria yang tengah mengayuh sepeda mendekat ke arah mereka.
"Itu suami saya." Tunjuknya senang.
"Selamat bersenang-senang Nyonya. Semoga kalian berdua sehat terus." Veron membelai lembut perut rata wanita itu.
"Terima kasih. Usia kandunganku baru dua bulan."
"Pantas, belum kelihatan," ujar Veron.
"Saya permisi Nona. Saya doakan Anda segera hamil juga."
"Terima kasih." Veron melambai, dilihatnya wanita itu yang tengah naik ke jok bagian belakang dengan senyum lebar yang menawan.
Wajah Veron beralih ke Zello yang masih merangkul pundaknya.
"Mau punya anak berapa?" tanya Zello seketika.
"Kita?" tanya balik Veron terkejut. Zello mengangguk kecil menyeringai.
"Mm ... satu, yang tampan seperti kamu," sambung Veron jahil. Yang kemudian menjulurkan lidahnya "Weekkk."
"Zello, aku mau itu," ucap Veron sembari berdiri. Sedangkan Zello hanya mendongak, menatap polahnya.
Dengan semangat Veron menuju penjual arum manis, yang setelahnya mendapatkan ia menuju tempat Zello. Sebelum sampai tempat Zello, Zello memberi arahan untuk berhenti di tempat berdirinya. Menyuruh membuka dan memakannya arum manis itu di tempatnya berdiri, di tengah ramainya orang lalu lalang. Di ambilnya ponsel dari saku dan mengambil gambar Veron dengan memberi nuansa blur di sekitarnya. Zello tersenyum puas mendapati hasil jepretannya, dan menyimpan kembali ponselnya.
Di lain sisi, Veron yang merasa jadi model dadakan melanjutkan langkahnya sambil menikmati arum manisnya yang super besar. Bergabung kembali dengan Zello. Menikmati bersama arum manis itu.
"Mau naik sepeda juga?" Tawar Zello tanpa sungkan.
"Kamu bisa naik sepeda?"
"Hobbiku bersepeda."
"Ini belum habis," sahut Veron.
"Kalau kita naik sepeda seperti yang di sewa wanita hamil tadi. Kamu bisa menghabiskannya sembari bersepeda," jelas Zello.
"Baiklah," sahut Veron akhirnya.
Zello dan Veron menuju tempat penyewaan sepeda yang jaraknya lumayan dari sana, harus lima belas menit berjalan dari tempat semula.
__ADS_1
"Sepedanya tinggal ini Tuan." Jelas Penyewa sepeda.
"Bagaimana?" tanya Zello meminta pendapat.
Veron melihat sepeda yang tersisa, hanya sepeda biasa alias sepeda khusus sendirian.
"Yaudah, kamu saja. Aku nunggu di sini." Veron sibuk menikmati arum manisnya dan berusaha mencari tempat duduk nggak jauh dari penyewaan sepeda. Sedangkan Zello terdiam sesaat, berfikir.
"Ayo!" ucap Zello kemudian.
"Apa?"
"Pasti bisa." Bujuk Zello yang tetap tidak membuat Veron mengerti. Veron melihat Zello yang menaiki sepeda dan menepuk bagian depan sepeda.
"Aku duduk di situ?" Terka Veron terkejut.
"Iya." Zello mengkayuh sepedanya, berhenti persis di tempat berdiri Veron.
Sedikit ragu Veron mendekat dan mencoba duduk di bagian depan sepeda. Dirinya tidak pernah duduk dalam keadaan seperti itu, bahkan naik jok sepeda saja belum pernah. Tapi paling tidak dirinya sering lihat drama film yang perempuan duduk menyamping sepeda itu. Dan di ikutilah cara duduknya itu. Yang akhirnya tubuhnya seakan bersandar di dada Zello. Setelah Zello mulai mengkayuh sepedanya, dirasakan pergerakan dada Zello di punggungnya. Kedua lengan Zello yang melewatinya nggak hanya mengurung tubuhnya, tetapi juga menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh.
Terkurungnya tubuh Veron membuat dirinya leluasa untuk menikmati arum manisnya, dengan sesekali menyuapi Zello dan juga bersitatap. Veron tidak menyangka, Zello bisa sehangat dan semanis itu. Veron sangka, Ceo itu hanya bisa gila kerja.
"Istirahat dulu ya," ucap Zello setelah sekian lama menjatuhi. Bahkan suara Zello juga terdengar sangat manis di telinga Veron.
"Terserah saja. Non stop juga ok. Aku berasa naik permainan gratis," sahut Veron dengan tawa kecil.
"Isi saja sendiri." Veron duduk di bangku panjang, dan yang kemudian di susul Zello. Duduk bersebelahan dengan sama-sama terdiam cukup lama. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Zello, aku tidak menyangka. Kamu bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini." Veron menoleh ke Zello.
"Maksudnya?"
"Ya seperti sekarang ini. Bersepeda, jajan di tempat sederhana, suka mengambil gambar," tutur Veron.
"Oh ... sebenarnya memang semua atasan gila kerja. Kalau tidak, kita tidak akan bisa mempertahankan kejayaan. Hanya saja, tetap ada waktu buat keluarga."
"Bohong." Tandas Veron. "Kamu tidak pernah ada waktu buat Kakek," sambungnya.
Zello menatap dalam Veron, "ada, setiap hari Sabtu dan Minggu aku selalu tidur di rumahnya, menemaninya mengobrol dan menghabiskan akhir pekan bersama meski hanya di rumahnya," jelas Zello.
"Tapi itu kurang Zello, terlebih di umurnya yang mulai menua. Kakek sangat menyayangimu, tapi kamu ... " Veron menggantung ucapannya, malas bila harus berdebat kembali.
"Aku menyayanginya."
"Tapi-"
'sayangmu lebih besar ke Rossa ketimbang ke Kakek.'
"Apa?"
__ADS_1
"Zello, Kakek-"
"Apa?" tanya Zello pelan, meskipun nadanya penuh frustasi karena Veron selalu menggantung ucapannya.
'Kakek terlihat menyedihkan tinggal di rumah itu sendirian.'
Andai Veron bisa mengucapkan itu, tapi Veron merasa itu hanya akan menjadi awal perdebatan saja.
"Lilie!" Tekan Zello.
"Nggak jadi," ucap Veron malas. "Aku lupa,"
dalih Veron.
Zello menatap tajam Veron, tahu itu hanyalah jawaban asal saja.
"Jangan menatapku seperti itu! Kamu terlihat sangat menakutkan," ucap Veron.
Mendengar celetukan Veron, Zello membuang nafas kasar menutupi wajah kesalnya. "Katakanlah! Aku janji tidak akan marah."
"Janji akan mengabulkan juga nggak?"
"Tergantung," sahut Zello datar.
LALU, APA GUNANYA AKU BERBICARA. Andai Veron bisa meneriakkan kalimat itu secara langsung, bukan membatin. Veron memejamkan matanya sekilas, menahan emosi.
Mungkin harus seperti caranya, menggunakan kesempatan dalam kesempitan. (Benak Veron)
Wajah Veron Veron yang awalnya tertekuk berubah manis, menampilkan senyuman manisnya dan menatap dalam Zello.
"Zello," Veron berucap sembari meraih tangan Zello, bersitatap. Zello sendiri juga menatap dalam Veron, merasakan hangat remasan jemari lembut Veron yang lembut nan hangat. Sesuatu yang tidak pernah Veron lakukan ke dirinya, membuat dirinya menghangat tapi juga tanda tanya, kenapa?
"Bagaimana kalau kita tinggal bersama Kakek lagi."
Terjawab sudah terkaan Zello. Zello tidak menyangka, Veron akan bersikap demikian untuk melancarkan niatannya. Zello hanya bisa tersenyum kecut menanggapi ucapan Veron.
"Lilie, aku ucapkan terima kasih atas perhatianmu terhadap Kakek. Termasuk hari ini juga. Aku sudah lama tidak meluangkan waktu untuk mengajak Kakek berlibur. Untuk tinggal di rumah Kakek ... aku juga sangat menghargai kebaikanmu, Lilie. Tapi maaf."
Veron tersenyum kecut dengan jawaban Zello, pegangan tangannya mengendur. "Iya. Baiklah."
Heh, seharusnya aku tahu ini tidak akan berhasil, siapalah aku?
"Lilie, mau es krim?" Tawar Zello.
"Boleh," sahut Vero datar.
Zello beranjak menuju kedai es krim tidak jauh dari sana. Dari kedai es krim itu, Zello melihat wajah raut kesal Veron. Semakin yakin, kalau Veron kecewa dengan ucapannya.
Bibir Zello mengulas senyum tipis, "terima kasih sudah menyayangi keluargaku."
__ADS_1