
"Lilie!" panggil Zello.
"Jangan terlalu percaya diri aku akan mengantarkan kamu pulang. Aku hanya ingin berbicara yang penting dengan kamu. Ingin tanya sesuatu," sambung Zello.
Langkah Veron terhenti, dan mengarahkan pandangannya ke Zello yang sudah ada di depannya. "Bicaralah!"
"Masuk dulu ke mobil!" Melihat Veron yang tengah menurunkan pandangannya, Zello yakin Veron akan menuruti ucapannya. Zello akhirnya menuju mobilnya terdahulu. Dan ya, Veron membututi Zello menuju mobilnya.
Brakk. Suara pintu mobil yang tengah tertutup sempurna.
Zello memandang Veron sekilas, memastikan Veron sudah duduk dengan nyaman di kursinya.
"Apa yang ingin kamu bahas Tuan Zello?" Veron menatap lurus ke jalan. Dan begitupun Zello, Zello dengan mantap melajukan kendaraannya.
"Mau kemana Tuan? Aku sedang tidak ingin pulang," jelas Veron.
"Kamu mau kemana?"
"Mau ke butik jl King A."
"Ok."
"Kamu mau bicara atau mau jadi sopir?" ucap Veron.
"Mau jadi suami kamu," celetuk Zello.
"Hahaha lucu sekali," Veron tertawa garing mendengar ucapan Zello.
"Aku hanya penasaran saja. Apa yang kamu bicarakan dengan kakek waktu itu."
Veron menukikkan alis menatap Zello, "menurutmu? Bukankah kamu juga nggak jauh dari sana. Nggak mungkin nggak dengar kan?"
"Aku hanya dengar sebagian. Aku rasa banyak yang nggak aku dengar. Terutama saat kamu berbicara dengan cara berbisik dengan Kakek."
"Berbisik?" Veron mengerutkan kening. Kapan ia berbisik ke Kakek?
"Iya. Kenapa kamu pelupa sekali," keluh Zello.
"Aku lupa," sahut Veron acuh tak acuh.
"Coba di ingat!"
Veron malas mengingat, ia membuang pandangannya ke jalan.
Melihat Veron yang dengan wajah santai, membuat Zello berfikir Veron tidak berniat untuk mengingatnya.
"Sepertinya kamu memang tidak berniat untuk mengingatnya." Aura dinginnya seakan bocor lagi di diri Zello. Entah sadar atau tidak, Zello menatap tajam ke Veron.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu nggak bisa mengira sendiri. Pasti nggak jauh dari tentang pasti atau nggaknya hubungan kita, tepatnya perasaan kita.
'Kenapa kamu menunjuk aku sebagai orang yang kamu kenalkan ke kakek', semacam itu b intinya." sahut Veron cepat.
Setelah mulutnya bungkam, Veron seakan teringat dengan kejadian saat dirinya berbisik ke Hanif. Veron yang awalnya malas jadi tertawa lebar. "Hahahaha."
"Sepertinya kamu sudah gila," ucap Zello. Zello juga mengernyitkan dahi ke arah Veron, "apa yang kamu tertawakan?"
Tawa lebar Veron akhirnya surut, berubah jadi kekehan kecil, dengan pandangan konyol ke Zello.
"Katakan? Apa yang kau ingat? Bualan apa yang kau ucapkan ke Kakek?"
"Aku boleh tanya? Kamu memperkenalkan aku ke Kakek sebagai apa?" ucap Veron dengan senyum, meskipun senyumnya masih terlihat sangat aneh.
"Apa maksudmu? Tentu saja sebagai kekasih," raut wajah Zello mendadak aneh, merasa ada firasat buruk.
"Hahahaha."
__ADS_1
"Astaga, bualan seperti apa yang kau bisikkan ke Kakek?" Zello geram dengan ulah Veron. Tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu, Veron sudah mengambil tindakan sendiri.
"Yang jelas, Kakek menerima ucapanku dengan baik. Seharusnya kamu bersyukur mendapat rekan yang sangat bisa diandalkan seperti aku."
"Lilie," ucap Zello geram.
"Ah iya iya. Aku-hanya bilang sejujurnya. Aku cuma bilang, 'sebenarnya kita hanya teman, tapi karena dirimu takut dijodohkan dengan wanita asing, kamu milih mending milih menikah dengan diriku, alias temanmu'," saut Veron santai.
"Kamu berbicara seperti itu?" Zello terkejut dengan ucapan Veron yang dengan mudah berbicara dengan Kakek. Dan Kakek malah dengan gampangnya suka Veron dengan kepribadiannya.
"Yang penting kan Kakek kamu bisa menerima alasan aku dengan baik."
"Iya, kamu benar." Zello menatap Veron yang tengah duduk santai di kursinya.
"Jadi, kamu tetap mau menikah denganku kan?"
"Mm ... "
"Kenapa? Apa kekasihmu tidak mengizinkan?" tanya Zello serius.
"Kekasih? Tahu dari mana aku punya kekasih?"
"Apa perlu aku ucapkan? Bekas di lehermu belum hilang dengan sempurna. Tolong beri penjelasan ke kekasihmu dengan sebaik mungkin, supaya dia mau mengizinkan mu. Atau, kamu sekalian rahasiakan dari kekasihmu."
Veron langsung mengambil bedak minimalisnya yang berada di tas, menggunakan cermin untuk melihat lehernya. 'Sial, gara-gara Zean. Dave saja nggak berani memberikan jejak,' gerutu Veron dalam hati.
"Kamu ragu karena kekasihmu ya?"
"Hm? Bisa jadi. Kalau aku menikah dengan mu. Terus ketahuan oleh dia, bagaimana nasib hatiku nanti. Nanti dia pasti bakal mengakhiri semua." Veron mendramisir dengan jelek.
"Gampang, nanti tinggal nyari kan," goda Zello.
"Kau ini, kamu saja yang ganti pasangan. Yang bisa kamu ajak nikah. Putuskan hubungan mu dengan Rossa terkutuk itu," celoteh Veron.
"Apa? Katakan sekali lagi," semburat jahat keluar dari mimik Zello.
Ciiiiit, mobil Zello langsung terhenti.
Pletak, sentilan keras mendarat di kening Veron.
"Aw," lirih Veron peringisan, Veron langsung menarikan jari telunjuk dan jari tengahnya di keningnya yang sudah memerah.
Pletak.
"Zello!"
"Berhentilah membual!"
***
Mobil mewah Zello sudah berhenti di depan butik Anita. Tanpa kata Veron turun dan masuk ke butik, sementara Zello langsung melajukan mobilnya menuju tempat ... parkir.
"Anita," seru Veron.
"Pegawai macam apa kamu?"
"Enak ya jadi pegawai kesayangan," ucap Veron bangga.
"Sudah makan?" tanya Anita. "Aku sedang pesan makanan," sambung Anita sembari memperlihatkan layar ponselnya.
"Sudah, pesanlah buat kamu sendiri. Pesankan aku minum saja."
"Hm. Ok."
Veron beralih melihat-lihat pakaian bermerk yang bergantung disana, ikut merapikan selayaknya pegawai sungguhan.
__ADS_1
"Sudah rapi," ujar Anita.
Veron menatap blouse yang tengah ia pegang. "Aku rasa ini akan cocok di taruh di maneken. Dan ... akan cocok dengan bawahan ... ini." Veron sudah menenteng kedua kain itu menuju sisi depan.
"Alena, tolong lepaskan dress itu. Jangan terlalu banyak dress yang di pasang," ujar Veron.
"Baik Ka."
"Yah bagus. Kamu gantung saja terus taruh dibagian depan!"
"Siap Kak."
Veron beralih memasang bawahan kulot premium di manekin full body dan juga memasang blousenya juga.
Pandangan Veron yang sudah selesai dengan manekin beralih ke pria sampingnya. "Ada yang bisa sa- Zello?"
"Hm."
"Ngapain kamu disini?Kenapa nggak pulang?"
"Kenapa, bukankah tidak ada larangan buat orang masuk ke sini?"
"Mm ... kamu mau mencari dress buat Rossa ya. Biar aku carikan."
"Terserah."
"Terserah terserah," cibir Veron sembari memilih-milih blouse yang sesuai dengan selera Rossa. Rossa itu sering banget nonjolin bahunya dan bawahan minimnya. Mungkin dia ingin nonjolin tubuh edealnya sebagai model.
"Lie, kamu pilih baju buat siapa?" tanya Anita.
"Buat ... kado teman pacar aku." Sanggah Veron.
"Pacar kamu disini?" tanya Anita yang celingukan.
"Ada di depan," sahut Veron sembari menenteng pakaian yang sudah ia pilih. Dan langsung menuju ke tempat duduk Zello, dan yang Zello ternyata sudah ditemani ngobrol oleh Anita.
"Ini, bisa di cek dulu," ujar Veron.
"Bagus. Sama turunkan ini juga."
"Ini?" tanya Veron memastikan.
"Iya."
"Eh itu makan pesenan aku sudah datang," ujar Anita senang. Tanpa pamit Anita berlalu untuk mengambil makanannya.
"Ini sudah juga. Bayarnya ke kasir langsung," ucap Veron.
"Begini pelayanan kamu? Seharusnya kamu yang membawakan bukan. Bukankah kamu juga pelayan di sini," ucap Zello.
"Ah iya Tuan. Aku lupa," ucap Veron. Dan langsung menenteng pakaian itu ke meja kasir.
"Pakaiannya di pisah," titah Zello ke kasir.
"Baik Tuan," sahut kasir.
Veron melihat kartu yang tengah disodorkan oleh Zello.
"Triple 2 triple 3 triple 4 - 1," ucap Zello.
"Ok," sahut Veron sembari mengerjabkan mata tertegun. Setelah sekian detik, dari rasa terkejut Veron langsung menekan kode yang disebutkan Zello.
"Ini Kak." ucap kasir sembari menyerahkan dua kantong belanjaan ke Veron.
"Ok." Dengan sigap Veron menerima dan langsung menyerahkan dua bag itu ke Zello. Karena Zello nggak kunjung menerima bag itu sehingga kantong itu terus menggantung.
__ADS_1
Kening Veron berkerut dalam, "apa aku harus membawakan ke mobilmu juga?"
"Menurutmu?"