
****
"Nona, makan dulu sedikit sebelum di rias ya. Biar nanti enak juga saat pesta." Ucap seorang wanita. Veron menatap wanita itu yang ia taksir seumuran dirinya. Dan berdiri juga wanita lain disambungnya, yang Veron rasa adalah sang perias.
"Kamu orang rias atau suruhan Tuan Hanif?"
"Saya asisten Nona sekarang." Senyum mengembang dari bibir wanita kecil itu.
'Asisten hanya di sini apa seterusnya?'
Veron tersenyum kecil dengan pikirannya. Menghalu dapat aaisten pribadi seperti artis-artis di luar sana.
"Siapa namamu?" tanya Veron.
"Dahlia, Nona."
"Wah, nama yang bagus." ucap Veron.
"Terima kasih, Nona."
Setelah sekian jam, Veron dirias dengan make up artis dan juga sudah selesai dengan gaunnya. Dengan tatanan rambut yang menyatu di bagian belakang kepala, dengan susunan jepit rose putih mewah di rambutnya menyisakan sedikit helaian rambut gelombang di sisi kiri kanan telinga, menambah kesan menawan di penampilannya.
"Nona cantik sekali. Nanti Tuan Zello pasti akan langsung tunduk," ucap Dahlia.
"Iya, dia akan aku buat tunduk dan akan kujadikan budak nanti."
"Hahaha Anda lucu sekali Nona."
Nggak hanya Dahlia, bahkan perias pun juga ikut tersenyum geli dengan ucapan Veron.
"Saya izin kebelakang dulu Nona. Ini minumnya. Sekarang Nona bisa istirahat sebentar."
"Baiklah."
"Siapa tadi yang akan menjadikan diriku budak?" ucap Zello yang langsung masuk ke kamar.
"Sayang, bagaimana penampilanku?" ucap Veron manja.
"Aku rasa aku bakal rela jadi budakmu seumur hidup."
"Manis sekali."
Senyum manis mengembang dari bibir Veron. Beda dengan Zello, hanya tatapan mata yang nggak bisa Veron baca.
Siapa yang peduli? Veron nggak mau ambil pusing dengan kelakuan Zello yang berubah-ubah.
***
Suasana yang ramai, para kolega telah memenuhi aula hotel bintang lima. Dengan penampilan dan hidangan kelas atas.
Suasana yang mulanya ramai menjadi hening dengan munculnya sepasang pengantin yang datang dengan lengan pengantin perempuan yang diapitkan di lengan pengantin pria.
Decak kagum tersorot dari para mata tamu, suasana hening berubah menjadi bisik-bisik kekaguman.
Di tempat mempelai sudah ada Hanif dan kedua orangtua Zello. Yang menatap senang dengan munculnya sepasang pengantin.
Maria, Ibu Zello. Mengulurkan tangan untuk menyambut menantunya yang akhirnya Veron melepaskan tangannya dari dari lengan Zello dan menerima uluran Maria.
"Selamat Sayang," ujar Maria ke Veron, yang disusul Panee, Ayah Zello.
__ADS_1
"Terima kasih Mah."
Berkumpulnya sepasang pengantin dengan keluarga inti Zello mengundang tepuk meriah dari para tamu undangan.
Ucapan selamat terhitung sangat lama karena begitu banyaknya undangan.
"Selamat Zello."
"Terima kasih," sahut Zello hangat.
"Selamat." Sang tamu pria berganti memberi ucapan ke Veron.
"Terima kasih Tuan." Senyum tipis menghiasi wajah cantik Veron.
"Dahlia," panggil Veron dengan menoleh kebelakang sesaat.
"Ya Nona."
"Ambilkan heels yang lain, yang lebih rendah," bisik Veron.
"Baik Nona."
"Sayang, apa kamu mau minum juga?" tawar Maria.
"Mm, boleh Mah."
"Selamat Madam Maria," ucap tamu pria kemudian. Tamu pria, Zein.
Veron sengaja mencari cara supaya ada kesan alami saat dia ingin menunjukkan leher jenjangnya bagian bawah telinga yang ada tanda lahir ke beberapa pria yang dikenalnya, saat menjadi pelanggannya di club.
"Selamat Tuan Panee."
"Terima Kasih, mana istrimu?"
"Bisa-bisanya kamu meninggalkannya. Hahaha."
"Dia juga menginginkan Mr. Panee."
"Hm, baiklah."
"Permisi Mr Panee."
"Hm, buatlah dirimu nyaman."
Dengan wajah linglung, Zein menatap pengantin wanita sekilas dan berlalu dari sana.
"Nona Lilie. Ini heels yang sesuai pestanya. Walaupun masih tinggi, saya rasa ini lebih nyaman. Untuk sementara tahan dulu ya Nona. Karena sebentar lagi akan ada pesta dansa, tidak elegan kalau Nona pakai heels yang rendah," jelas Dahlia.
"Ah yasudah terserah," sahut Veron. Dia melepas dan mengganti heelsnya. Wah, seperti nginjak spons yang lembut. "Kenapa nggak sedari tadi, ini jauh lebih nyaman."
"Yang pertama lebih berkilau," bisik Dahlia.
Hm? Dengan polosnya Veron mengangkat gaunnya sedikit dengan kedua tangannya hanya untuk melihat heels yang ia kenakan sekarang.
"Apa yang kamu lakukan?" Zello menatap heran ke tingkah Veron.
"Tidak ada."
Setelah satu jam berlalu, pesta dansa sudah dimulai. Diawali dengan dansa sepasang pengantin.
__ADS_1
Dengan susana hening yang di iiringi alunan musik yang lembut, membuat susana hati semua orang yang melihat seakan ikut terbuai di dalamnya.
Kedua tangan Veron berada di bahu Zello, sementara Zello melingkarkan kedua tangannya di pinggang Veron dengan kaki sama-sama bergerak mengikuti alunan musik. Posisi yang ideal sebagai pasangan, tatapan mata yang saling bertemu dan terpaan nafas saling terlempar satu sama lain. Senyum tipis mengiringi wajah Veron, yang membuat dirinya semakin bersinar di pesta itu.
"Cium cium cium." Teriak salah satu tamu yang kemudian di susul oleh teriakan dari yang lain.
"Cium cium cium."
Veron mengedipkan matanya secara beruntun dengan membabi buta.
"Ada apa dengan matamu?" ucap pelan Zello. Sedangkan Veron tersenyum geli dengan ulah anehnya sendiri.
"Apa kamu menantangku?"
"Astaga. Aku hanya tidak ingin membuat suasana kita menjadi kaku. Pikiranmu benar-benar salah jalur Tu-"
Hmmhp ... ciuman hangat membungkam bibir Veron, sementara tubuh mereka terhalang oleh kedua tangan Veron, namun tidak berpengaruh buat Zello untuk menjelajahi bibir dan isinya. Ciuman hangat yang berubah menjadi liar dan dalam, yang seakan sudah siap untuk melemparkan tubuh Veron ke atas ranjang.
"Ah." Veron mengecap bibirnya yang sudah mulai kebas. Dan tidak lupa mengambil nafas setelah Zello mengakhirinya.
'Dia yang berlebihan atau aku yang terbawa suasana?' Veron membatin dengan dungu.
Belum selesai Veron berfikir, tangan Veron diputar Zello 180 derajat, yang memnuat tubuh Veron juga berputar dengan indah dan mendarat dengan posisi memunggungi tubuh Zello. Dengan gerakan lembut, Zello meraih tubuh Veron hingga merapat berada di pelukannya, kedua telapak tangan Zello mengenggam tangan Veron sehingga kedua tangannya mereka bertumpu di perut Veron.
"Gerakan kakimu!" bisik Zello.
Veron dan Zello dengan gerakan kecil mengikuti alunan musik, sementara wajah Zello menempel di bahu Veron.
Suasana romantis membuat semua tamu iri.
Tepukan kagum dan histeris kecil terdengar sayup-sayup karena mereka hanya bisa mengucap pelan, tidak mau mengganggu suasana romantis.
"Lilie." Ucap Zello.
"Hm?" Wajah Veron beralih menoleh ke wajah Zello yang dibahunya.
"Senyumlah!"
"Iii." Senyum kuda Veron terpampang nyata di depan wajah Zello. Zello terkekeh dengan tubuh bergetar mendapati tingkah konyol Veron.
Cukup lama mereka berdansa dalam posisi demikian. Sampai saat Zello memutar tangan Veron lagi sehingga mereka berhadapan kembali, bersitatap lagi. Dengan perlahan Zello mencakup wajah Veron dan mendaratkan bibirnya di kening Veron.
Wo wo wo. Teriakan histeris para tamu.
Pandangan Zello ke Veron teralihkan saat pelayan memberikan mic kepada dirinya.
"Selamat malam semua, disini, kami yang sangat berbahagia. Mengucapkan banyak terima kasih untuk teman semua, menjadi saksi dimana saya akan bermula menjadi seorang suami dari perempuan yang sangat saya cintai. Dari ini, saya persembahkan aula ini untuk kalian semua sehingga bisa merasakan kebahagiaan kami juga. Terima kasih dan nikmatilah malam ini!"
Dengan teratur, para tamu satu persatu masuk ke aula tempat Zello berdiri. Saling berpasangan dan mulai menggerakkan kaki dan tubuh mereka dengan iringan melodi.
"Wah, Tuan sangat pintar mendrama," ujar Veron.
"Nikmatilah lakonmu!"
"Tentu, aku sangat menikmati semuanya. Sekarang aku akan menikmati semua apa yang kamu miliki hihihi."
"Dasar matre."
"Bukan matre, realistis."
__ADS_1
"Aku heran, Rossa bisa-bisanya menolak menikah denganmu."
"Jangan pikirkan Rossa. Pikirkan tentang bulan madu kita."