Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Dave


__ADS_3

"Anita aku sudah capek. Aku pulang ya?" keluh Veron.


"Karyawan macam apa kamu? Pulang nentuin sendiri?" Cibir Anita.


"Kamu kan tahu sendiri, aku masih harus kerja malam hari," ucap Veron.


"Siapa suruh kerja disana?!"


"Sudah, jangan mulai lagi. Bukankah aku akan kesini lagi besok." Veron dengan sigap merapikan tas dan penampilannya.


"Hm, yaudah. Hati-hati, kalau ada apa-apa bilang ya." Anita menatap tulus ke Veron. Anita mengenal Veron karena kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat dirinya frustasi karena seorang pria dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari jembatan sungai. Saat itu Veron seperti wonderwomen layaknya yang suka tayang di televisi, menahan dan menarik Anita yang tengah tergelantung di bawah jembatan. Hanya Veron dan Tuhan yang tahu, bahwa Veron sendiri waktu itu juga ingin mengakhiri hidupnya. Veron yang dalam keadaan frustasi juga tidak sadar dengan adanya orang lain disana. Suara dentingan pembatas jembatan yang tersenggol oleh kaki Anita membuatnya tersadar dan langsung sigap meraih tangan Anita yang tengah tergantung dengan tangan berpegangan besi jembatan.


"Hm," sahut singkat Veron dan langsung berlalu meninggalkan tempat itu.


***


Selain mendrama di butik Anita dengan berdalih sebagai karyawan disana. Veron juga harus mendrama di club sebagai waittres, konyol memang kalau sudah berurusan dengan orang berkuasa semacam Zello atau yang lainnya. Paling tidak, drama dia sebagai waittres akan mengalihkan pandangan orang saat dia kena jepret keluar masuk di club itu.


Sesampai sana, Veron langsung mengistirahatkan tubuhnya sejenak, tugasnya belum selesai sampai larut malam nanti. Dia harus mengumpulkan banyak tenaga untuk malam ini.


Tap tap tap. Suara langkah yang dengan leluasa menuju ranjang Veron.


Veron menggeliat merasakan benda kenyal di bibirnya, menjelajahi bibir dan isinya. Gerakan tangan dengan halus menyapu isi tubuhnya, meremas dan memainkan dibalik bajunya. Bibirnya yang masih menyatu dengan bibir lain otomatis membuat Veron mengenali aroma pemilik tubuh. Rasa ngantuk Veron hilang sudah, hanya digantikan dengan rasa panas ditubuhnya. Tangan Veron terulur mengalungkan di leher pria itu, bahkan Veron juga menjambak rambut itu kala tangan kekar menjelajahi area bawah perutnya.


Tubuh Veron menegang. "Dave ... aarghh."


Dave tersenyum senang ke Veron karena melihat ekspresi Veron.


Dilihatnya Veron yang tengah menatapnya juga. Senyum manis terpampang di wajah Veron, menambah kecantikan yang alami di diri Veron.


Tidak puas dengan hanya memandangnya, Dave merapatkan tubuhnya kembali, mengabsen bibir Veron dengan kasar dan menikmati lekuk leher Veron dengan bringas. yang kemudian ia melonggarkan jarak tubhnya dengan Veron, memberikan keleluasan ke Veron untuk melepaskan kancing-kancing bajunya. Veron yang sudah berhasil melepas pakaian Dave beralih memberikan gerakan sensual di dada bidang Dave.


Haah.... Helaan nafas kasar Dave, hawa panas sudah berada di puncaknya. Dave dengan cepat meloloskan dress Veron dan melemparnya asal. Melepas sisa kain-kain di tubuh Veron hingga membuatnya polos.

__ADS_1


"Sayang," ucap Dave kembali menikmati bibir Veron dengan tangan sibuk melepaskan celananya sendiri. Mulut Dave beralih ke tubuh Veron, menikmati setiap jengkal tubuhnya. Dan sesuatu yang mengeras didirinya langsung ia tanamkan di diri Veron.


"Veron ... "Ceracau Dave yang terus membuat gerakan di pinggulnya. Menghancurkan milik Veron dengan kasar, setelah sekian lama berlangsung Dave menarik pinggul Veron sehingga tubuh mereka menyatu dalam keadaan tubuh Veron duduk di pangkuannya. Veron kini beralih mengambil peran, memberikan kepuasan Dave, wajah dan nafas Veron menyapu area lehernya, membuat Dave mencubit pinggang Veron karena gemas dengan ulah Veron.


Gerakan tubuh Veron berhenti digantikan dengan Dave yang membaringkan tubuh Veron kembali. Menghujamkan kembali dengan kasar dan cepat.


"Dave aku... -"


"Sebentar lagi- bertahanlah."


"Astaga Veron." Suara parau Dave. Sekian detik Dave memberikan gerakan lagi di pinggulnya.


"Dave biarkan aku is- emhh -"


Bibir Dave membungkam bibir Veron dengan pinggang terus berpacu.


Setelah sekian belas menit gerakan Dave berhenti, menatap licik ke Veron. "Bagaimana, apa harus berhenti sekarang?" goda Dave.


"Selesaikan Dave, please!"


***


"Hm."


"Berapa lamu kamu akan diluar sana?"


"Entahlah," sahut Veron yang beralih membalikkan tubuhnya menghadap Dave.


"Jangan lama-lama, aku nggak suka dan tidak akan mengizinkan."


"Kalau lama?" tanya Veron serius. Meskipun dia belum memberikan keputusan ke Zello, tetapi dia harus tinggal di apartemen sementara waktu. Belum lagi kalau memang dirinya harus menikah beneran. Sial, jerit frustasi Veron.


"Aku memberikan perlindungan untukmu. Menyembunyikan identitasmu dari kekasih-kekasih bayangan mu itu. Apa kamu tidak berfikir, kalau aku menspesialkanmu."

__ADS_1


Kamu menspesialkanku untuk terus disini, mrnjeratku. Supaya bisa menghasilkan uang terus untukmu. Batin Veron.


"Sepertinya aku telah salah karena memberikan kamu kebebasan," imbuh Dave.


Ya, Veron dulu memohon-mohon untuk memberikan sedikit kebebasan. Mangkanya dia bisa sedikit leluasa dan menerima job jadi kekasih bayaran ke sejumlah orang besar. Berniat bisa mengumpulkan uang banyak dan bisa keluar dari tempat ini. Karena Dave mempunyai kekuasaan yang bisa membuat dia bergidik ngeri dan takut dirinya akan terus terjerat di tempat ini. Tapi, di lain sisi, Dave juga sudah memberikan perlindungan besar untuknya juga.


Andai dirinya punya begitu banyak uang, bukankah ada kesempatan dirinya untuk menghilang dari tempat ini dari Dave dan juga dari seseorang yang tengah berada di balik jeruji besi.


"Kenapa terdiam?" tanya Dave, Dave merapikan anak-anak rambut Veron, memberikan sentuhan ke wajahnya dengan tangannya yang kemudian menarik pinggang Veron dengan erat sehingga tubuh mereka saling merapat.


"Aku menjeratmu di tempat ini, meminta bayaran ke kamu. Padahal aku tidak kekurangan uang sama sekali." Dave menenggelamkan wajah Veron di dadanya. Sementara wajah Dave nampak berfikir. Dirinya menjerat seorang wanita, namun karena dirinya sendiri seorang penjelajah wanita. Membuat Dave tidak bisa menaruh perasaan ke wanita itu dengan terus berbuat baik kepadanya, yang akhirnya Dave meminta Veron untuk melayani pria hidung belang. Meskipun Dave sendiri tidak memaksa Veron. Tapi Dave tahu, Veron terpaksa karena Veron terlalu takut diluar sana. Yang akhirnya Veron menuruti kemauan Dave supaya ia mendapatkan tempat tinggal dan perlindungan dari Dave. Andai Dave mau, dia bisa memberikan perlindungan ke Veron meski Veron tinggal di luar sana. Tapi dia memilih menjerat wanita itu supaya terus dekat dengannya ditempat ini.


"Sebenarnya, tidak salah bila kamu menginginkan kebebasan Veron. Tidak selamanya orang terus berjuang di tempat ini. Hanya saja, aku takut merindukan mu," ucap Dave serius. Hembusan nafasnya menyapu kening Veron dengan hangat.


'Aku ragu untuk menyimpulkan perasaanku untukmu saat ini. Tapi aku juga nggak bisa terus menjeratmu bila aku sendiri tidak memberikan status untukmu' batin Dave.


"Tapi kamu tahu kan, kalau kamu spesial untukku?" tuntut Dave akhirnya.


Veron tertegun dengan semua ucapan Dave. Dengan sadar atau tidak, Veron mengeratkan pelukannya. "Aku pikir semua yang tinggal disini spesial untukmu hehehe." Veron mengadahkan wajahnya ke atas, menjangkau dagu Dave dengan bibirnya dengan dalam, membuat mereka saling memejamkan mata secara bersamaan.


"Cuma kamu yang paling spesial, dasar bodoh."


"Tapi -kamu tadi bilang tidak bisa selamanya menjeratku? Itu artinya kamu membebaskanku kan?" tanya Veron hati-hati. Ehh, keluh Veron dapat cubitan di hidungnya.


"Kamu hanya fokus ke kalimat itu. Apa segitunya ingin cepat bebas dari sini? Apa kamu tidak mendengar saat ada kalimat 'aku nggak suka kamu tinggal diluar sana lama-lama'." Tegas Dave.


Ah iya. Batin Veron.


"Kecuali-" Dave menggantung kalimatnya. Menatap langit-langit kamar, ragu meneruskan kalimatnya.


"Kecuali apa?" rengek Veron.


"Kecuali... "

__ADS_1


************************************************


__ADS_2