Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Kebetulan?


__ADS_3

"Apa? Rossa?"


Dengan wajah pucat Zico berdiri dari duduknya. Dirinya naik di mana kamar Zello berada. Kebetulan Veron yang sedang santai di bawah penasaran dengan tindakan Zico yang terlihat sangat gelisah.


Dengan cepat Veron menyusul dimana Zico berada.


"Apa?" suara Zello syok.


"Apa kamu sudah selidiki akurat atau tidaknya."


"Tentu saja, Bos."


Zello bergegas menuju kamar mandi, tidak menghiaraukan Veron yang masuk ke dalam kamar dengan wajah cemas.


"Zico ada apa?" tanya Veron cepat.


"Rossa koma."


"Apa?" Veron tak kalah syok. Bahkan sendi-sendinya seakan luruh dari tempatnya. Dirinya lunglai duduk di bibir ranjang. Air mata keluar dari sudut mata Veron yang tidak luput dari pandangan Zico.


"Zico ayo!" ucap Zello cepat.


Zello melangkah lebar melewati Veron yang masih tergugu di tempatnya. Buliran air mata yang terjatuh secepat mungkin ia hapus. Meski air mata itu terus mengalir.


Tak hentinya air mata Veron tak berhenti juga usaha Veron untuk menghapusnya.


"Sayang," ucap Zello yang kembali masuk ke kamar. Dilihatnya dengan lekat wajah istrinya di yang sudah basah karena air mata.


"Mengertilah. Ini bukan karena peduli dengan mantan kekasih. Tapi karena peduli dengan sahabat. Kamu percaya kan? Jangan menangis lagi! Aku akan cepat kembali. Aku janji." Zello meraih kepala Veron dan memberikan ciuman di keningnya.


"Aku pergi dulu. Nanti ku kabari lagi."


Zello menghapus sisa jejak air mata Veron dan segera melangkah menuruni tangga. Menyusul Zico yang sudah menunggunya di mobil.


***


"Dave..." Pekik tertahan Veron kesal. Sprei dan bantal yang tidak bersalah pun jadi pelampiasan Veron membuat teronggok di lantai.


Dadanya terasa sangat sesak. Menanggung beban pikiran semua yang sudah terjadi.


Dalam keadaan kacau Veron melangkah ke dalam kamar mandi.


Dibawah guyuran air shower dengan tangis yang teredam di tenggorokan. Dirinya sudah terlalu lelah untuk menangis.


"Sebenarnya apa maumu Dave?"


"Kamu menyiksaku Dave. Kamu menyiksaku. Mau sampai kapan."


***


Tubuhnya yang kian menggigil menyadarkan Veron dirinya sudah terlalu lama di bawah guyuran air dingin. Air matanya pun seakan sudah mengering, sekarang yang ada hanya sisa pening di kepala. Entah karena guyuran air atau terlalu banyak beban fikiran.


Dengan malas Veron keluar dari kamar mandi. Dilihatnya kamarnya yang mirip kapal pecah.


"Tok tok."


"Nona."


Dahlia?


Belum menjawab Dahlia sudah masuk kamar Veron yang membuat nonanya terkejut. Dahlia pun juga tak kalah terkejut melihat keadaan kamar nonanya.


"Nona, apa yang....?


"Tolong panggilkan pelayan untuk membereskannya, Dahlia! Aku sedang lelah," ucap Veron pelan.


Dahlia menatap Veron yang berwajah pucat.


"Nona, Anda sakit?"

__ADS_1


"Ah, sepertinya tidak. Hanya karena belum pakai alas bedak saja."


"Yakin, Nona? Kupanggilkan dokter ya?"


"Tidak, Dahlia. Panggil pelayan saja untuk membereskan kamar ini."


Dahlia membuang nafas kasar karena keras kepalanya Veron. "Nona silahkan duduk di meja rias. Biar saya yang membereskan."


"Apa kamu yakin?"


"Tentu saja, Nona. Apa Nona lupa, saya dulu kerjaannya seperti ini."


"Hm. Yasudah terserah."


***


Keesokan hari, di lain tempat. In Los Angeles


Zello dan Zico yang baru saja istirahat sejenak langsung menuju di mana Rossa di rawat.


Rossa di dalam sebuah ruang dengan satu perempuan yang menjaganya- pelayan. Kabar komanya Rossa tidak di dapatkan karena pesan dari Rossa atau orang sekelilingnya. Tapi dari media. Dari media itulah orang Zico tahu lalu mengabarkan kondisi Rossa setelah mengecek kebenaran berita tersebut terlebih dahulu.


Disana pelayan Rossa yang awalnya bingung dengan kehadiran Zello dan Zico akhirnya bisa bernafas lega. Dirinya juga memberitahukan bahwa nonanya dapat insiden seperti demikian saat di luar apartemen. Keadaan Rossa ditemukan oleh polisi dan sekarang dalam penyelidikan.


Kekhawatiran Zello yang beralasan bukan karena tanpa sebab. Zello tahu, Rossa dan keluarganya sekarang lost contack. Dan tidak adanya keluarga yang disampingnya sekarang membuatnya prihatin.


"Coba hubungi keluarganya, Zico. Mungkin keluarganya belum tahu!" ucap Zello.


Zello menatap Rossa yang terbujur lemah di ranjang rumah sakit.


"Baik, Bos."


Dengan susah payah Zico menghubungi keluarganya. Menghubungi lewat perantara nama perusahaan yang di kelola keluarga Rossa. Karena Zello sendiri juga tidak pernah berkomonikasi dengan keluarga Rossa. Sehingga membutuhkan waktu yang lumayan untuk bisa menghubungi keluarganya.


Selesai menghubungi kelurga Rossa, Zello dan Zico menemui dokter yang menangani Rossa langsung. Dan hasilnya sama dengan yang diceritakan oleh pelayan Rossa.


Zello tinggal memastikan keluarga Rossa datang. Setelah itu ia berencana untuk segera pulang.


***


***


Setelah lima hari disana. Sesuatu yang diharapkan semua orang telah terlihat. Rossa yang keadaan mulai membuka mata tersenyum saat ada Zello di ruangan itu.


"Baby," ucap Geena-ibu Rossa- menyambut kesembuhan Rossa. "You are aware."


"Mom. Aku dimana?"


"You're in hospital."


Rossa terdiam beberapa saat, mencoba mengingat apa yang sebenarnya sudah terjadi. Rossa yang menyadari adanya Zello tersenyum tipis. Mengulurkan tangan seakan menggapainya.


Zello perlahan mendekat dengan wajah yang tidak bisa Rossa artikan. Tapi yang jelas diri Rossa sangat merindukan Zello.


"Zello, aku merindukanmu," ucap Rossa.


Zello tertawa dalam hati. Mendengar ucapan Rossa membuat Zello segera ingin pulang.


"Ada mamamu yang sudah tidak lama kamu jumpai, Rossa. Aku senang kamu sudah sadar. Sebentar lagi aku akan pulang."


"Zello," lirih Rossa.


"Madam, I will call the police. seems like Rossa is ready to be asked a question, about what happened to her."


"Ah, Zello. You're right. please call immediately."


***


Zello dan yang lain berada di luar ruang rawat Rossa. Karena polisi sedang melakukan pemeriksaan kasus insiden lebih lanjut ke Rossa.

__ADS_1


Bunyi handle pintu ruang inap membuat yang lain langsung sigap mendatangi polisi.


"Turns out it's a lot more complicated than we thought." Ujar polisi.


(Ini lebih rumit yang kita duga)


"What does that mean?" tanya Geena.


(Maksudnya)


"According to Rosa's statement. She and her male friend are not taking drugs. But the stone finished eating. So, this is probably a case of someone deliberately trying to kill Miss Rossa."


(Sesuai pernyataan Rossa. Dia dan teman prianya tidak dalam keadaan mengonsumsi obat. Tapi baru saja selesai makan. Jadi kemungkinan besar ada yang sengaja ingin mencelakai Nona Rossa."


"Hah?" Geena mendelik karena syok. Dan langsung masuk ke ruang anaknya.


Zello melempar pandang ke Zico. Setahu mereka dengan pemberitaan di media. Rossa dan kawannya overdosis karena obat yang sudah mereka konsumsi. Tapi yang baru saja mereka dengar membuat mereka syok. Siapa yang ingin mencelakai Rossa?


Setelah berucap demikian polisi undur diri untuk segera menyelidikinya.


Zello dan Zico saling terdiam cukup lama.


'Apa ada yang tidak suka dengan Rossa di lingkungan modelnya?'


'Atau ada kemungkinan yang lain' sambung batin Zico.


Ponsel Zico berdering, panggilan dari Hanif. Sudah hampir seminggu mereka di luar negeri. Apa mungkin perusahaan sedang bermasalah?


"Iya, Tuan."


"Zico, apa kamu sedang bersama Zello?"


"Benar Tuan. Apa Anda ingin bicara dengan bos?"


"Tidak. Tapi aku ingin berbicara denganmu. Aku hanya ingin tanya. Apa Dave selain investor di perusahaan orang-orang dia punya kuasa yang lain?"


Hah? Buat apa Tuan Besar-nya menanyakan hal itu. Apa ada yang ingin diketahui oleh Tuan Hanif?


Zico tahu tidak semua tahu kalau Dave seorang mafia. Selain dirinya dan Zello, entah siapa lagi yang tahu.


"Yang saya tahu dia investor tapi juga mengelola beberapa club di kota besar, dan tempat wisata," sahut Zico berbohong.


"Apa kamu yakin?"


"Tentu saja, Tuan."


"Hm, baiklah. Bagaimana kabar Rossa?"


"Rossa sudah sadarkan diri Tuan. Dan sekarang polisi sedang menanganinya. Dan kemungkinan kami akan segera pulang."


"Ah, baiklah. Aku sangat syok. Minggu lalu Zein, berganti Rossa. Aku harap kalian di sana baik-baik saja."


"Tentu saja, Tuan. Disini saya juga akan menjaga bos."


"Baiklah." Tut.


'Zein dan Rossa dicelakai dalam waktu yang hampir bersamaan?'


'Kebetulan atau apa? Tapi kalau sengaja tidak mungkin dari dunia pekerjaan Rossa. Karena Zein tidak mungkin akan terpaut'


'Apa aku harus menyelidikinya lagi' batin Zico.


'Tidak ada salahnya juga. Apabila tidak terbukti aku akan mengabdi ke Lilie seumur hidupku. Dan bila memang ada yang ditutupi akan berbeda lagi ceritanya.'


"Apa yang kakek bicarakan?" tanya Zello.


"Mm, tidak ada. Kita hanya disuruh cepat kembali. Karena kita berdua sama-sama di sini."


"Oh."

__ADS_1


"Besok kita akan pulang."


"Siap."


__ADS_2