Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
(Di Paris -Part-2)


__ADS_3

***


"Di sana saja Zello," tunjuk Veron.


Mereka sudah sampai di restoran outdoor.


"Di dalam nggak ada. Di sini yang paling dekat dari sana," jelas Zello sembari menarik kursi untuk Veron.


"Terima kasih, Suamiku." Akhirnya Veron menuruti Zello untuk segera duduk di kursinya.


Waktu yang mulai menggelap membuat hawa menjadi dingin, Zello memasang outer miliknya ke pundak Veron. "Ini akan membuatmu sedikit hangat."


"Dan, akan membuatmu sedikit kedinginan," balas Veron.


"Kamu bisa memelukku kalau tidak ingin aku kedinginan."


"Hallo, Mrs and Mister. Good Evening .... Here is a special menu at our restaurant," sela waitress dengan buku menunya.


"Aku ... ikut. Aku nggak paham mana yang enak," cetus Veron.


Zello menukikkan kedua alisnya, "baiklah." Yang kemudian melihat aneka menu camilan berat di sana.


"I want this," ucap Zello sembari menunjuk beberapa pesanannya.


"Ok. is there anything i can help again?"


"Nothing."


"Mrs." Sela Veron. "He needs warmth, can you hug him?"


"What?" tanya waittres syok.


Sementara Zello mendelik dan nggak lama mencubit hidung Veron. "Sorry, she was just kidding. She is my wife, i will get warmth from her later."


"Oh, My God. You are a very sweet couple."


Zello tersenyum tipis sembari menatap Veron yang malah buang muka dengan gaya jual mahal.


"Apa lihat-lihat."


Zello terkekeh kecil.


"Ok, the order will be ready soon. Excuse me."


"Ok."


"I invy you," ucap waittres manis sembari berlalu.


Hm?


***


Veron dan Zello sudah berada di depan kincir angin persis, senyum mengembang dari bibir keduanya.


'Bukankah ini terlalu romantis' batin Veron. Matanya tidak lepas dari benda besar yang ada di depannya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Zello.


"Mm ... semuanya."


Zello meraih pundak Veron, menatapnya lembut. "Udara akan semakin dingin," ucap Zello sembari memakaikan outer miliknya dengan sempurna di badan Veron.


"Biasanya kamu yang memakaikan untukku, sekarang gantian aku yang memakaikannya," sambungnya.


Terpaku. Itulah yang Veron rasakan. Bibirnya mengulas senyum sesaat.


"Zello, apa kamu akan memperlakukan semua wanita seperti ini?" Suara Veron lemah.


"Kenapa? Kamu cemburu? Atau kamu mulai tertarik denganku?" Cecar Zello dengan senyum menggoda.


"Mungkin ... dua-duanya." Veron menundukkan pandangannya sesaat dan kemudian tersenyum tipis ke Zello.


Terpaku. Rasa itu beralih ke Zello, setelah mendengar ucapan Veron. Tangan Zello terulur meraih tangan Veron, menggenggamnya lembut.


"Kamu belum menjawab ucapanku?"


"Kamu ... yang kedua, setelah Rossa."

__ADS_1


"Apa semua laki-laki seperti itu, tidak cukup dengan satu wanita," cibir Veron pelan.


Dahi Zello berkerut, "apa aku di matamu seperti itu?"


"Menurutmu? Semua laki-laki itu sama." Veron berpaling dari Zello. "Tidak cukup dengan satu wanita."


"Wah." Zello meraih pundak Veron. "Kamu sangat cemburu ternyata," ucap Zello. Bibirnya tersenyum mekar.


"Bukan ... jangan terlalu cepat beramsumsi. Aku hanya risi di jadikan pelampiasan. Sudahlah nggak usah bahas itu. Ayo selfi!"


'Jadi, dimata dia aku seperti demikian.' batin Zello.


"Terserah mau bilang apa. Yang penting sekarang aku lagi senang." Zello berkata santai, menghadap kincir angin.


Veron membalik tubuh Zello kasar, "menghadap sini."


Cekrek.


***


Brakk. Pintu mobil tertutup sempurna. Veron langsung menyandarkan tubuhnya. "Melelahkan, tapi aku senang." Veron tersenyum manis tanda puasnya.


"Itu tempat sederhana, dengan mudah kamu merasa bahagia," ucap Zello.


Mobil bergerak, perlahan menjauh dan membelah keramain kota Paris di malam hari. Udara dingin membuat ia mendekap tubuhnya sendiri erat.


"Kenapa, apa aku terlihat berlebihan?"


"Apa kamu pernah berkuda, atau naik helikopter? Kita bisa melakukan itu nanti kalau kamu mau."


"Benarkah?"


"Tentu."


"Di Paris sekarang?"


"Mm ... itu kalau kamu mau?"


"Sepertinya aku akan sangat terlihat keren bila melakukan hobbimu itu."


"Aku akan mempersiapkannya."


Zello mengacak rambut Veron lembut, dan mengacaknya. "Tidurlah!"


"Zello." Veron yang mulai terpejam matanya kembali membuka mata. "Nanti kalau sudah sampai bangunkan aku. Kamu tidak perlu mengangkat tubuhku."


"Kenapa? Lagi pula terserah aku. Kalau tidak mau diangkat coba saja untuk tidak tertidur."


"Aku pasti tertidur." Cetus Veron.


"Ya, berarti aku akan mengangkatmu. Lagipula itu hakku. Aku berhak atas semua yang ada padamu."


"Tapi perjanjian itu."


"Perjanjian itu aku yang membuatnya, ada hak aku juga untuk merubah isi itu."


"Hah, benarkah? Licik sekali kamu."


"Ya, begitulah." Zello berucap santai dengan bibir menyeringai licik.


Veron memutar bolanya jengah, "terserah."


'Terserah, kalau kamu sampai yang menyentuhku. Aku tidak merugi, justru kamu.' cibir Veron dalam hati


***


"Kamu memang terbangun atau pura pura tidur lagi?"


Zello menaiki tangga dengan tubuh Veron di tangannya. Menggendong seperti bridaystyle.


Rasa lelah dan mengantuk membuat Veron malas membalas ucapan Zello. Sesampai kamar, Veron juga langsung menikmati kasurnya yang empuk. Matanya terbuka sesaat melihat gerakan kasar di sebelahnya.


"Zello, kamu tidur di sini?"


"Apa kamu terganggu? Aku bisa tidur di bawah."


"Di bawah?"

__ADS_1


"Iya, di lantai. Walaupun, sebenarnya aku ada hak atas ranjang ini maupun dirimu."


'Di lantai? Apa dia gila'


"Nggak perlu, Zello. Tidurlah di sini. Tapi ...."


"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun kalau tidak kamu izinkan." Goda Zello.


Veron hanya ber-oh panjang mendengar godaan Zello.


"Tenang saja. Aku tidak akan merugikanmu. Aku hanya ... akan memberi ini." Zello mengecup manis kening Veron, menatapnya lembut. Rasanya ingin sekali mendekap tubuh Veron, tapi ia ragu Veron akan menerimanya. Zello terpaksa memendam keinginannya. "Tidurlah!" Zello berkata lembut, yang kemudian merapikan anak-anak rambut Veron.


Veron tergugu dengan perlakuan Zello yang semakin menjadi, semakin manis, semakin membuat dirinya terlena.


"Kamu lucu," ucap Veron dengan mengulas senyum. Senyum yang manis dan dapat balasan senyum manis juga dari Zello. Meski ucapan Veron membuat dia sedikit heran.


"Buat apa kamu merapikan rambutku? Aku mau tidur, bukan mau bepergian. Nanti akan berantakan lagi saat aku tidur."


"Oh." Zello terdiam sesaat dan kemudian mengacak-acak rambut Veron.


"Aduh ...." Keluh Veron. "Tapi, terima kasih. Ini jauh lebih baik." Veron menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


'Kamu juga lucu dan ... menggemaskan'


***


"Kamu yang memelukku duluan." Zello berkata sembari melepas pelukannya dari tubuh Veron.


Semalam Zello tidak kuasa untuk tidak membalas pelukan hangat Veron. Rasa indah itu masih terngiang-ngiang di pikiran Zello, bagaimana mereka saling memeluk erat dengan nafas saling menerpa satu sama lain. Hanya satu kekurangannya 'Veron dalam keadaan tertidur alias tidak sadar'. Andai, mereka melakukan saat sama-sama menyadari pasti akan sangat menyenangkan. Bibir Zello terangkat sedikit mengingat hal itu.


Wajah Veron memerah, malu. "Aku kan tidur, aku tidak sadar."


"Iya, aku tahu. Aku maafkan kamu." Zello merubah posisi tubuhnya menjadi duduk, meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya, merasa hatinya berbunga-bunga untuk yang kesekian kalinya karena Veron.


"Siapa juga yang meminta maaf. Yang ada kamu malah kesenangan," cibir Veron.


"Itu kan rezeki, pamali buat nolak."


"Yaudah terserah."


Veron menatap Zello yang nampak sibuk dengan ponsel yang ada di tangannya. Terlihat wajah datar saat Zello memainkan ponselnya. Melihat wajah Zello demikian membuat Veron merasa itu menyangkut pekerjaan.


Menyadari tatapan istrinya, Zello menoleh, "ada apa?"


"Nggak, lanjutkan saja! Aku mau ke kamar mandi dulu."


"Katakan!" Zello mencekal tangan Veron, dan menaruh ponselnya.


"Mm ... Zello, soal ngajak mama papa ke menara. Nanti kamu yang bilang, kan?"


"Aku? Kenapa harus aku?"


Veron melepaskan cekalannya perlahan, dan duduk di samping Zello. "Zello, aku malu buat mengatakannya."


Zello tertawa kecil menanggapi ucapan Veron. "Nggak perlu malu, kamu itu menantu satu-satunya. Mereka pasti akan menurutinya."


"Aku malu, bukan ragu."


"Mm ... kita lihat saja nanti."


Veron mendesah pelan, kesal.


"Soal berkuda, kita tidak jadi ya. Mungkin lain kali," ucap Zello.


"Iya, nggak apa. Terserah."


"Kamu kan perlu belajar dulu. Nanti belajar dekat rumah Kakek saja. Biar Kakek juga bisa lihat kamu belajar berkuda, pasti Kakek senang."


"Ah iya." Veron menjawab senang. Wajahnya yang sendu berganti riang.


"Kamu senang sekali dengar nama Kakek."


"Iya, dong."


"Oya, aku lupa. Kamu kan pernah bercita-cita jadi nenekku."


Veron tertawa geli sembari menatap wajah Zello. "Aku membayangkan, bagaimana wajah tuamu nanti. Apa akan setampan kakek?!"

__ADS_1


"Apa kamu ingin menua bersamaku?"


***


__ADS_2