Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Jalan-jalan


__ADS_3

***


"Wah, ini nggak boleh disia-siakan." Veron menatap masakannya, menjadikan dalam satu piring. Yang membuat piringnya penuh dengan lauk. Dan ia tambahkan nasi sedikit sebagai syarat.


Veron tersenyum geli melihat sarapannya yang seperti tumpukan pakaian yang nggak di setrika selama satu minggu.


"Aku seperti tidak makan selama satu minggu," ucap Veron. Veron mengambil sendok dan mulai mengisinya penuh. "Seharusnya habis. Aku kan sudah biasa makan banyak," ucapnya lagi. Memasukkan ke dalam mulut dan mengunyahnya pelan, mencoba merasakan detail rasa hasil olahannya.


"Sudah biasa makan masakan koki yang enak. Ini rasanya biasa aja. Apa karena di dipanasin rasanya jadi berubah." Meski begitu, Veron mencoba menghabiskannya, terus menyendok dengan suapan penuh.


"Lilie." ucap Zello dengan tubuh terengah-engah.


"Zello, kapan kamu datang? Ada apa denganmu?"


"Aku lapar."


"Tapi- "


'Nggak ada makanan selain yang ada di piringku.'


"Mm ... Zello, duduklah! Aku akan buatkan roti selai untukmu." Veron menaruh piringnya dan langsung membuat roti yang kebetulan di meja yang sama. Sedangkan Zello langsung duduk dan meraih sarapan Veron dan menyantapnya.


"Kamu ini, nggak sabaran sekali. Aku lagi buatkan roti untukmu," gerutu Veron.


Zello enggan menjawab, memilih untuk menyantap sarapannya dengan cepat. "Air putih." Pinta Zello.


Veron menggeser gelas miliknya ke depan Zello. "Sekalian saja minumku kamu yang habiskan!"


Zello memijit hidungnya sembari melirik Veron yang fokus menyantap roti selainya yang kemudian beralih ke sarapannya lagi.


Nggak butuh waktu lama Zello menghabiskan sarapannya. "Sarapanku sudah habis," ucap Zello.


Terus? (Batin Veron)


Apa dia memberi kode ingin di antar ke depan?


"Ayo kuantar sampai depan." Veron berdiri berjalan beriringan dengan langkah Zello.


"Aku baru sadar, kamu nggak pakai pakaian kantor," ujar Veron.


"Nggak, hanya pertemuan sebentar di resto." Jelas Zello.


"Oh." Veron mengangguk kecil. Berhenti dengan menatap Zello yang keluar apartemen bersitatap dengan dirinya.


"Apa kamu ingin bilang sesuatu?" tanya Zello.


Veron mengernyitkan dahi, yang kemudian menggeleng kecil.


"Oh, baiklah," ucap Zello melangkahkan kaki beranjak dari sana.


"Zello." Panggil Veron.


"Hm."


"Hati-hati."


Zello terdiam, menatap Veron, yang menjadikan saling bersitatap dan sekian detik sama-sama melempar senyum.


Brak. Veron menutup pintu.


Baru berbalik badan sensor alarm tamu apartemen sudah berbunyi. Veron bergegas membuka pintu, yakin Dahlia yang sudah berada di depan apartemen.


"Nona," ucap senang Dahlia sembari masuk ke apartemen.


"Apa kamu tadi berpapasan dengan Zello?" tanya Veron.


"Iya, Nona. Nona sudah selesai bersiap?"


"Apa yang harus disiapkan. Paling cuma bawa baju ganti kan?"


"Mm, rencananya mau jalan-jalan kemana?"


"Enaknya kemana?"


Veron menggaruk dagunya yang nggak gatal, berfikir.


***


Di sinilah Veron mengajak Hanif jalan-jalan, ditemani Dahlia dan Beni. Di musium yang terkenal di jakarta, musium macan. Sangat cocok dengan segala umur, termasuk Hanif.


Mengamati indah dan uniknya seni modern dan kontemporer Indonesia dan internasional, mahakarya langka seniman ternama dunia dan tanah air.


Veron mengambil banyak foto dengan Hanif di sana. Hanif juga sangat menikmati jalan-jalannya. Sudah lama dia tidak menikmati suasana luar seperti ini.


"Itu tempat yang bagus untuk aku taruh di story," ujar Veron. Menunjuk tempat ramainya satu sudut ruang desain penuh gemerlap.


"Kakek, ayo!" ajak Veron.


"Itu buat anak muda."


"Yaudah, aku kesana sebentar ya Kek. Ayo Dahlia. Ambilah gambarku nanti yang bagus!"


"Iya Nona."


Percakapan ringan Veron dan Dahlia membuat Hanif tersenyum senang.


Veron dan Dahlia cukup lama antri untuk memasuki tempat itu, setelah di dalam hanya sebentar untuk mengambil angel foto yang pas. Untungnya Dahlia pintar mengambil angel, dua bidikan membuat Veron tersenyum puas.


"Ayo, Kakek akan lama menunggu!"


Keluar dari sana, Veron mendorong kursi roda Hanif berhenti di ruang apung.


"Wah ini buat anak-anak. Kakek bagaimana kalau kita istirahat dulu," ucap Veron.


"Boleh. Ayo!"


"Nona," ucap Dahlia pelan.


"Ada Tuan Zello."

__ADS_1


Hm? "Mana?"


Sebelum Dahlia menjawab, Veron sudah melihat Zello yang tengah jalan ke arah mereka. Melangkah tenang dan tengah menjadi pusat perhatian para wanita.


"Apa aku sudah ketinggalan?" tanya Zello.


"Kita mau istirahat dulu di sana." Veron menatap Zello, yang terlihat seperti buah strowberry yang sangat menggoda.


"Zello, kamu tahu dari mana kita sedang jalan-jalan?" sambung Veron.


"Tahu dari asistenmu."


"Oh ... "


Zello mendekati Veron, berbisik, "lain kali kalau pergi, bilanglah padaku!" Zello menatap dalam Veron, bersitatap.


Apa harus, bersikap sedemikian, seperti pasangan yang sesungguhnya? (batin Veron)


"Kenapa?" tanya Zello.


"Apa penting, harus izin, harus memberitahu mu," sahut Veron pelan.


Zello terdiam sesaat, "tidak. Kamu tidak perlu melakukannya." Zello mengucapkan dengan datar, yang malah membuat Veron merasa bersalah.


"Aku akan memberitahumu nanti. Mm ... mengajakmu juga," ucap Veron.


Hanif yang melihat Zello dan Veron saling berbisik berdehem pelan.


"Kek," ucap Veron dan mendorong kursi roda Hanif.


Mereka beristirahat sejenak sembari melemaskan otot kaki. Berseberangan dengan Infinity Mirrored Room dan dikelilingi oleh dinding kaca dengan pemandangan lengkap kota Jakarta yang indah. Terdapat sebuah coffee shop di sana. Beristirahat, menikmati kopi dan mengobrol santai. Kebetulan Veron duduk di sebelah Zello persis, membuat Zello sesekali menoleh untuk melihat wajahnya dari samping. Dan sering juga bersitatap karena saling timpal obrolan.


"Setelah ini mau kemana?" tanya Zello.


"Kemana Lie?" tanya Hanif.


"Mungkin makan Kek."


Zello mengangguk kecil, "jadi aku benar-benar ketinggalan."


"Pengen bermain burung merpati. Di dekat sini ada wisata burung merpati nggak Dahlia?"


"Mm ... saya searching dulu Nona." Dahlia dengan sigap mengeluarkan benda pipihnya.


"Di luar kota Non," ucap Dahlia kemudian.


"Hm ..." sautan kecewa Veron.


"Masih banyak tempat bagus. Besok aku juga masih libur," sahut Zello.


"Benarkah? Beneran besok jalan-jalan lagi ya," rengek manja Veron, tangannya ia kaitkan di lengan Zello tanpa merasa canggung sama sekali. Berbeda dengan Zello, yang wajahnya menjadi merah antara malu dan ... senang.


"Ya," Zello mengangguk pelan.


Dahlia nyengir melihat kelakuan Veron yang kekanakan ke Zello.


"Nona Lilie sama Zello ku foto bareng ya. Kan belum berduanya," ucap Dahlia.


Veron ambil posisi berdiri di belakang diantara Hanif dan Zello yang sama-sama duduk.


Klik. Bidikan potret Dahlia diambilnya dengan sempurna.


Masih di posisi yang sama, Veron melihat hasil bidikan Dahlia.


Manis sekali. (batin Veron)


"Sekarang Tuan Zello dan Nona Lilie," ucap Dahlia sembari mengambil ponselnya lagi.


"Ah iya," ucap pelan Veron. Veron berdiri di samping Zello yang masih duduk di kursinya.


"Ah kurang cocok," ujar Dahlia.


"Iya. Zello berdirilah!" ucap Veron melihat posisi Zello. Zello mendongak menatap Veron, dengan tatapan yang tidak bisa Veron pahami.


Klik. Bidikan Dahlia dengan posisi Veron dan Zello tengah bersitatap.


"Sepertinya Nona yang harus duduk lagi di kursi." Saran Dahlia.


"Sok tahu," gerutu Veron sembari duduk juga di kursinya.


Dahlia mengambil posisi supaya bisa ambil foto Zello dan Veron dengan angel background jendela kaca transparan. Tanpa memberi aba-aba, tanpa arahan, Dahlia mengambil potret mereka berdua. Dengan posisi Veron yang tengah bersandar meraih gelas kopinya, menyesapnya dengan nikmat.


Klik.


"Sudah! Kurang kerjaan." Veron menggerutu, mendapati Dahlia mengambil foto candid dirinya.


Puas istirahat di ruang kaca sembari menikmati kopi, mereka keluar dari musium menuju restoran outdoor nggak jauh dari tempat sana. Posisi Veron yang sudah menjadi istri Zello membuat dirinya terus duduk bersebelahan dengan Zello.


"Zello, bagaimana dengan pertemuanmu tadi?" tanya Veron.


"Selalu memuaskan."


"Wah sombong." Goda Veron.


"Kamu iri." Balas Zello.


"Ihh."


Bibir Hanif tersungging mendengar percakapan Zello dan Veron.


"Kakek sudah merasa capek. Setelah makan, Kakek mau langsung pulang. Zello kamu temanilah Lilie jalan-jalan, mumpung kamu ada waktu."


"Kakek .... " Keluh Veron.


"Kakek sudah tua, staminanya sudah tidak seperti kalian yang masih muda."


"Aku terserah Lilie saja," ucap Zello. Ekor matanya melirik Veron yang tengah berfikir.


"Nona, mumpung masih di sini. Datanglah ke wisata kuliner, nggak jauh dari sini." Saran Dahli semangat.

__ADS_1


"Entahlah." Veron menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya menukik ke Zello, meminta pendapatnya.


"Apa salahnya kesana. Paling tidak kamu nggak akan penasaran lagi setelah mendengar saran dari Dahlia," ucap Zello.


"Ah yasudahlah."


"Nona, apa mau kuambilkan baju gantinya sekarang?"


"Yaudah yuk, ketoilet bareng." Ajak Veron berdiri.


***


Veron kembali dengan wajah mencebik, kesal karena baru tahu Dahlia ternyata nggak ikut. Yang artinya hanya Zello dan dirinya yang melanjutkan bepergian kali ini.


"Nona, Anda sangat cantik sekarang. Sudah seperti artis favorit drakor aku. Jadi, berhentilah cemberut seperti itu!"


Veron enggan menjawab godaan Dahlia, dia hanya menatap tajam dengan wajah masih di tekuk-tekuk.


Veron memakai jumsuit putih kombinasi abu-abu di atas lutut lengan panjang dengan tali di bagian dada dilengkapi flatshoes dan tas selempang kecil. Penampilan sederhana yang berhasil membuat Zello menatap penuh kagum karena pesonanya.


Tidak lama Veron sampai di tempat makan itu, Hanif dan yang lain pamit untuk pulang, yang menyisakan Zello dan Veron saja.


Mereka berdua mengendari mobil Zello dan menuju tempat selanjutnya dengan bantuan google map.


"Akhirnya sampai juga." Ucap Zello lega. Pandangannya terarah di depannya yang begitu banyak makanan khas. Pandangan Zello beralih ke Veron yang duduk dengan mata sayu karena mengantuk.


"Lilie," panggil Zello pelan. Di acaknya rambut Veron pelan.


Mmmhh ... erang malas Veron.


"Mau tidur dulu?" Tawar Zello.


Veron tersenyum tipis ke wajah Zello yang terlihat buram, mengangguk tipis. "Zello, kamu hari ini tampan sekali," ucap Veron.


Zello menggeleng kecil, "nggak hanya hari ini. Tapi setiap hari aku memang selalu tampan." Zello menatap teduh Veron yang bersandar di tempat duduknya. "Kamu ini ngantuk tapi kaya orang mabuk."


Zello juga menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata, istirahat.


Nggak lama Veron bisa memejamkan mata, suasana ramai membuatnya melirik dan langsung melebarkan mata.


"Zello." Veron membangungkan Zello dengan semangat. Menarik-narik lengan bajunya.


Hm. Zello mengerjapkan matanya.


"Ayo!" Rengek Veron. Turun dari mobil dengan semangat.


"Aku nggak pernah jalan-jalan sebebas ini. Ahh, seharusnya Kakek ikut." Gumam Veron. Matanya menjelajahi setiap makanan yang begitu nampak menggoda imannya.


Hem. Dehem Zello.


"Mau makan apa dulu?" ucapnya santai. Tapi terdengar begitu memanjakan bagi Veron. Veron menggeleng dengan pikirannya.


"Mm ... sebenarnya aku masih sedikit mengantuk. Bagaimana kalau es dulu sebagai pembuka." Ucap Veron semangat.


Veron melangkah menuju pedagang es selendang mayang yang di ekori oleh Zello, berdiri di belakang Veron dengan kedua tangan berada di saku celana.


"Es ini?" tanya Zello yang sudah di sampingnya persis.


"Iya. Es ini agak susah di cari. Kalau yang lain kan pasti ada."


"Pesan satu aja!" ucap pelan Zello.


"Kenapa? Es ini sangat enak Zello."


"Iya, aku tahu. Pesanlah satu!" Ucap Zello datar sembari duduk di tempat yang di sediakan.


Veron menggerutu dalam hati, berpendapat Zello terlalu menjaga kebersihan dan sudah berperilaku sombong. "Yaudah terserah. Pak, satu ya!"


Nggak lama Veron bisa mendapatkan esnya. Duduk di samping Zello persis yang tengah bberada di bangku panjang.


Veron sangat menikmati esnya. Dan sesekali melihat Zello yang hanya duduk diam yang sesekali ikut membalas tatapannya.


"Yakin nggak mau?" ucap Veron pelan. Zello hanya tersenyum tipis.


Veron mengernyitkan dahi mengartikan senyum tipis Zello. Dengan perlahan Veron menyenddokkan es dan disodorkan ke depan mulut Zello. Zello sudah sedikit mengenal Veron, kalau dirinya tidak bisa makan sendirian. Terbukti Veron berinisiatif menyuapi dirinya supaya ada teman makannya. Zello membuka mulutnya dan langsung es segar masuk ke dalam mulutnya.


"Enak?" tanya Veron.


Zello mengangguk, "enak. Aku pikir tidak akan seenak ini." Selesai menelan suapan pertama, Zello membuka lagi mulutnya dan langsung dapat suapan lagi dari Veron, hingga es dalam mangkoknya habis.


"Bilang aja mau di suapin. Manja," ucap Veron.


"Takutnya kalau aku menolak, kamunya berkecil hati." Dalih Zello. Bibir Veron mencebik mendengar ucapan Zello.


Tanpa mereka sadari, ada seorang penikmat es yang memandang mereka dengan takjub. Wanita cantik yang dengan romantisnya menyuapi pria tampannya, itulah yang ada dalam benaknya.


"Tuan, Nyonya. Kalian berdua sangat romantis sekali." Ungkapnya senang.


Zello dan Veron yang asyik mengobrol beralih memandang ke pengunjung itu.


Veron tersenyum tipis, "sebenarnya kami masih dalam suasana pengantin baru." Veron berucap tanpa canggung dan malu.


"Oh, tapi aku yakin meski bukan pengantin baru kalian akan tetap seperti ini."


"Tentu saja," Zello meraih pinggang Veron, mengikis jarak dan mencium kepala Veron lembut.


"Ah sweet sekali. Sebenarnya aku sedang hamil. Apa aku boleh minta foto kalian?"


Belum selesai Veron terkejut dengan ulah Zello, ia kembali terkejut dengan permintaan unik wanita itu.


"Ini bawaan bayi. Kumohon." Pintanya lagi.


"Tidak masalah ayo foto bertiga!" Veron memberi jarak dirinya dengan Zello, supaya wanita itu bisa duduk di tengah. Dengan bantuan pedagang es, gambar mereka bisa diambil. Dan segera wanita itu kembali ke tempat duduknya.


"Aku juga minta foto kalian berdua ya?! Boleh?!" Pintanya lagi.


"Hahaha, atur saja." Veron tertawa garing. Nggak selang lama pundaknya sudah di rangkul oleh Zello. "Iya, ambil saja." Imbuh Veron. Meraih pinggang Zello dengan erat.


"Kapan lagi bisa ambil kesempatan dalam kesempitan. Iya kan Tuan?" sindir Veron pelan. Bukannya merasa malu karena tersindir, Zello malah memberi ciuman hangat di kening Veron.

__ADS_1


Nggak di mana-mana. Pria selalu memanfaatkan keadaan. (Veron membatin)


__ADS_2