Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Persiapan


__ADS_3

"Pagi ...." Veron dengan semangat menyapa Hanif yang sudah di meja makan, mencium punggung tangan Hanif dengan bakti dan tersenyum dengan lebar setelahnya.


"Jam berapa kamu kesini?" tanya Hanif sedikit terkejut. "Zello, bersama kamu juga kan?" tanya Hanif lagi.


Mendengar Hanif menyebut nama Zello membuat wajah Veron memerah. Bahkan, tadi di kamar Veron tidak berani untuk menatap wajah Zello.


Tak tak tak.


Baru saja di bicarakan, terdengar langkah Zello yang menuruni tangga. Melangkah pasti dengan wajah semringah.


"Kakek." Zello langsung duduk dan melihat Veron sekilas yang fokus dengan minumnya.


"Ada apa dengan wajahmu?" ucap Hanif.


"Kenapa?"


"Kamu terlihat sangat bahagia pagi ini." Hanif tersenyum tipis dan beralih menatap Veron. "Zello kenapa, Lie?"


Huk huk. "Kenapa, Kek?" Veron mengambil tissu dan membersihkan sedikit air yang berantakan di bajunya.


"Kamu juga kenapa?"


"Aku sedang - sedikit melamun, Kek. Emh maksudnya aku sedang ... biasalah Kek. Wanita bila ada masalah sedikit suka di pikirin ... hehe."


"Kalau ada masalah bilang saja sama kakek atau Zello. Dia pasti akan membantumu."


'Dia itu adalah masalahnya, Kek.'


"Iya, Kek. Tadi aku sudah bilang kok sama Zello. Jadi Kakek tenang saja."


"Bukan tadi, tapi semalam." Potong Zello dengan senyum aneh.


'Dasar Zello, pasti dia mengira aku menikmati ciumannya semalam. Huh, salahku juga. Kenapa aku terus pura-pura tidur dan bisa-bisanya sampai keceplosan.'


Veron menatap kesal ke Zello, namun sayangnya wajah kesal Veron tidak berlangsung lama karena perlahan wajah Veron memerah malu melihat senyum aneh Zello.


"Kek. Aku sudah lapar. Lilie ambilkan sarapan Kakek ya." Dengan cepat Veron mengambilkan nasi goreng untuk Hanif, Zello dan untuk dirinya sendiri.


Veron duduk dengan nyaman, siap untuk menikmati sarapannya, senang bisa lepas sejenak dari tatapan dan senyum aneh Zello.


"Lie." Zello menggeser piringnya ke arah Veron di sertai senyum tipis di bibirnya.


Bibir Veron bungkam tercengang dengan ulah Zello.


'Apa dia tidak waras. Bisa-bisanya minta disuapi didepan Kakek.'


Veron mendelik tidak senang dengan sikap Zello yang kesekian. Dan Veron makin kesal, lagi-lagi Zello memasang ekspresi aneh, tersenyum dengan menukikkan kedua alisnya.


"Lie. Tolong, taruhkan telur juga di piringku," ucap Zello kemudian.


Oh.


Wajah Veron memerah karena malu.


"Apa yang kamu pikirkan?" ucap Zello dengan nada menyindir.


'Kan? Berarti memang Zello sengaja mengerjaiku.'


"Nggak ada, Sayang." Veron mengambilkan telor mata sapi dan menaruhkan ke piring Zello.


"Terima kasih."


"Sama-sama." Veron memasang wajah santainya lagi. Mencoba berfikir ulang. Seharusnya Zello yang malu sudah terpergok mencium keningnya. Tapi ternyata malah terbanding terbalik, Zello sama sekali tidak tahu malu.


'Aku tidak boleh masuk dalam perangkapnya lagi, titik. Zello hanya bermaksud untuk menggodaku. Tidak benar-benar menyukai. Hanya istri kontrak. Dirinya sudah punya kekasih model internasional.'


Veron menelan nasihat dari dirinya sendiri dan tersenyum senang.


"Oya Kek. Kakek bawa oleh-oleh tidak buat Lilie."


"Sayangnya tidak bawa."


"Yah, padahal Lilie sudah berharap sekali."


"Memang kamu pengen apa? Nanti biar di beliin Zello."

__ADS_1


"Kamu nggak perlu malu-malu sama Zello." Goda Hanif. "Oya, Zello, bagaimana tentang rencana kamu pergi ke-"


"Kakek, ayo kita makan dulu. Kita bisa membahasnya itu nanti."


"Ah-iya." Mengetahui alasan Zello memotong ucapannya, Hanif tersenyum senang.


"Zello. Kamu ini nggak sopan banget, ucapan Kakek di potong gitu aja," ucap Veron kesal.


"Kamu yang nggak sopan. Ngomong sama suami itu yang bagus."


"Ah yasudahlah, terserah."


"Sudah jangan pada ribut. Ayo, selesaikan makannya!" Sela Hanif.


***


Siang Hari-Di kamar


"Mau banget Mah. Iya Mah. Nanti Lilie bakal bicara sama Zello," ucap Veron semangat. Dirinya tengah tiduran di ranjang dengan ponsel di telinganya.


"Siap Mah. Bye ...." Veron menutup telponnya dengan bibir terulas senyum tipis.


"Hm." Dehem Zello, dirinya tengah bersandar di daun pintu yang tengah terbuka dengan tangan terlipat di dada.


"Sejak kapan di situ?" tanya Veron yang kemudian turun dari ranjang.


"Sedari lihat kamu menelpon sembari terus tersenyum. Apa ada kabar bagus?"


"Zello ...." Veron setengah berlari menuju tempat Zello berdiri. "Zello, mama menyuruh kita untuk berkunjung ke rumahnya. Ahh ... aku senang sekali." Ucap Veron semangat, sementara Zello langsung berdiri sempurna di depan Veron yang tengah kegirangan.


"Zello, kamu cepatlah atur waktu untuk bisa kesana," ujar Veron semangat.


"Apa untungnya untukku." Zello beranjak menuju ke lemari pakaiannya, memilah-milah baju disana.


"Apa maksudnya bicara seperti itu." Tandas Veron marah.


"Sudahlah, aku sibuk. Aku harus menemui client hari ini."


"Ini kan hari sabtu. Suruh Zico saja. Apa gunanya kamu punya asisten.,"


"Kenapa, apa kamu ingin aku terus di sampingmu?"


"Modus."


"Modus apa? Kamu yang modus diam-diam mencium keningku."


"Tapi kamu menerimanya, kan?"


"Aku diam bukan berarti menerima. Zello ... pasti sangat menyenangkan kalau kita berkunjung ke rumahnya."


"Lihatlah, manjamu kambuh lagi," ledek Zello.


"Ap - ... kamu yang manja, minta disuapin, di pakaikan baju, sepatu, dasi. Dan sekarang aku meminta satu permintaan kamu tidak mau mengabulkannya," ucap Veron merengek. Yang awalnya dia hanya bersandiwara entah kenapa dia jadi melow sungguhan. Rasanya tidak nyaman saat permintaannya di acuhkan oleh Zello. Membuat wajah Veron berubah murung.


"Lie." Panggil Zello. Zello menatap Veron dengan seksama.


Veron menatap balik Zello, berharap pria yang di depannya itu akan berubah pikiran.


"Kamu sedih beneran atau bohongan?" Zello tersenyum aneh.


Rasa sedih Veron membuat dirinya enggan menjawab godaan Zello. Dirinya hanya terus menatap Zello dengan wajah sedih.


'Ah, siapa aku?'


"Lilie." Panggil Zello lagi.


"Hm."


"Coba senyum, siapa tahu aku berubah pikiran." Ucap Zello melembut.


Merasa sedikit konyol, tapi Veron akhirnya menampilkan senyum manisnya. Bibirnya melengkung ke atas dengan sempurna.


"Sekali lagi, dari hati!" Pinta Zello lembut.


Mendengar suara lembut Zello membuat Veron merasa yang di ucapkan Zello benar adanya, kalau ia akan merubah keputusannya. Dan sekali lagi Veron tersenyum manis, selayaknya bertemu dengan teman dekatnya. Senyum manis dengan wajah berseri-seri.

__ADS_1


Melihat senyum indah Veron membuat hati Zello benar-benar meleleh dan merasa beruntung sudah memiliki istri secantik dan sebaik Veron.


"Kalau boleh aku bertanya, Lie- sebenarnya apa alasanmu terlalu berharap bisa kesana?" tanya Zello hati-hati.


Mendengar ucapan Zello membuat dirinya menelan saliva. "Zello, ini terlalu memalukan untuk aku jawab." Sahut Veron lirih.


"Apa?" sahut Zello pelan.


"Zello -" Suara Veron terhenti, tenggorokannya tiba-tiba merasa tercekat dan menelan salivanya lagi dengan susah payah. "Zello, aku sedari kecil tidak punya keluarga - keluargamu sangat baik. Dan, pernikahan kita hanya sebatas kontrak. Aku hanya -ingin merasakan menjadi bagian dari keluargamu, meski hanya sementara. - - Zello tak bisakah aku benar-benar merasakan mempunyai keluarga di pernikahan kita yang sementara ini."


Veron dengan susah payah mengatakan isi hatinya, buliran air mata perlahan jatuh di pipi. Menumpahkan ungkapan hati yang selama ini ia simpan.


'Aku seharusnya tahu dari awal. Dari caramu memperlakukan Kakek dan semua anggota keluargaku.' batin Zello, yang kemudian meraih pundak Veron dan di peluknya dengan erat.


"Persiapkan keperluan kita! Kita akan berangkat besok."


Hah? Veron tercengang sesaat, takut salah mendengar. Tetapi melihat wajah Zello membuat dirinya yakin kalau dia tidak salah dengar.


"Besok, kita berangkat." Ulang Zello.


"Zello, terima kasih." Ucap Veron senang, yang kemudian langsung melabuhkan kepala di dada suaminya dengan nyaman.


***


Zello yang sudah siap untuk pergi, menyempatkan untuk menemui Hanif yang kebetulan berada di kamar.


"Zello."


"Kek."


"Mau pergi?"


"Ada pertemuan."


"Jadi besok berangkat?"


"Jadi, Kek," sahut Zello. Menatap Hanif dengan wajah serius.


"Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" selidik Hanif.


"Kek ...."


***


Veron dengan senyum di wajahnya datang mendekat ke Zello yang kebetulan sudah di teras duluan guna melepas keberangkatan suaminya kerja.


Dengan perasaan lega dan juga senang Zello menyambut langkah Veron yang datang kepadanya.


"Apa kamu yakin tidak ingin ikut pergi? Kita bisa jalan setelah pertemuanku selesai," ucap Zello.


"Nggak, aku mau di rumah saja."


"Baiklah." Jarak mereka yang dekat membuat Zello dengan mudah meraih pinggang Veron mengikis jarak mereka. Zello menatap dalam Veron yang tengah berseri-seri, yang berhasil membuat dadanya sendiri merasakan desiran yang begitu indah.


Puas menatap wajah Veron, Zello beralih memberikan kecupan lembut di keningnya.


"Berangkatlah!" ucap Veron halus.


"Hm." Lepas dari kening Veron, Zello mendaratkan lagi bibirnya di kepala Veron, memberikan ciuman yang hangat dengan getaran yang hebat di dadanya.


Usai melepas keberangkatan Zello, Veron langsung masuk lagi ke dalam rumah.


"Nona," ucap Dahlia dengan wajah berseri.


"Kenapa?"


"Saya tadi lihat ... ah, saya ikut senang."


"Zello memang sudah biasa kan mencium keningku ketika di rumah Kakek," ucap Veron, yang kemudian matanya mencuri pandang ke Hanif yang nggak jauh dari sana, yang tengah menatapnya juga, alias meninjau perkembangan hubungan mereka seperti biasanya.


"Tapi, Nona. Tuan Zello barusan korupsi satu kecupan. Jelas itu memiliki arti," ucap Dahlia.


"Iya, kamu benar. Kamu tahu artinya? Pria tidak cukup dengan satu wanita," ucap Veron pelan. 'Pria itu sama saja'


"Mm ... tapi Nona."

__ADS_1


"Apa lagi?" Tandas Veron.


"Wajah Nona merah."


__ADS_2