Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Ulah Hanif


__ADS_3

Zello yang sudah selesai mandi langsung turun dimana Hanif berada. Ikut duduk menikmati acara televisi sore hari.


"Ada apa dengan tanganmu, Zello?" Luka tanpa dibalut memperlihatkan bagian buku jemarinya luka dengan sobekan parah.


"Oh, ini luapan kecewa dengan hasil meeting."


"Benarkah?" Hanif tahu betul, Zello bukan tipe orang yang demikian.


"Iya. Karena pertama kalinya Zello merasa gagal." Zello menghela nafas, dirinya memang tidak fokus dengan meeting siang tadi. Membuat client merasa kecewa dan memilih lain hari untuk meeting ulang. Tapi ada untungnya juga, karena hal itu bisa dijadikan alasan Zello.


"Jangan terlalu berlebihan. Biarkan saja client pergi. Nanti akan ada penggantinya," ujar Hanif yang terlihat percaya.


"Lilie mana?" sambung Hanif.


"Masih mandi, Kek."


"Oh iya. Dia juga baru saja sampai."


***


Hanif yang sedikit curiga dengan kedua cucunya semakin yakin bahwa mereka sedang ada masalah. Terlihat di meja makan, kedua cucunya saling menngacuhkan satu sama lain.


"Kenapa kalian serasi sekali. Yang satu diperban yang satunya dengan plester luka."


Veron menatap luka Zello yang dia obati dan balut sendiri, dan menolak saat dirinya menawarkan bantuan.


Di depan Hanif, Zello terang-terangan menolak niatan baik Veron untuk mengobati lukanya dan juga terang-terangan mengacuhkan di depan Hanif dalam hal apapun. Membuat Veron yakin Zello nanti akan dengan mudahnya bilang ke Hanif kalau semua sudah berakhir.


Tidak seperti Veron yang tidak berselera makan, Zello makan dengan lahap. Tidak ingin wanita licik di sebelah mempengaruhi hidupnya. Seperti orang yang tengah emosi. Meluapkan rasa kesalnya dengan menyibukkan dalam segala hal, makan, kerja hingga dirinya akan lelah dan terlelap.


Seperti Zello yang selesai makan malam selalu langsung menuju ke ruang kerjanya. Entah apa yang akan ia lakukan. Bekerja ataupun yang lainnya. Merasa dikhianati membuat dirinya malah menggebu-gebu. Meski tanpa ia sadari dirinya telah merubah jati dirinya yang hangat ke dingin dan datar. Tak hanya ke Veron, tapi juga ke yang lain. Hanif sendiri merasa ada yang salah dengan kepribadian Zello yang jauh dari sifat turun temurun keluarga besar Hanif. Namun dibalik semua itu Hanif yakin Zello menyimpan luka yang dalam.


Veron yang menyadari perubahan sikap Zello pun semakin tambah bersalah. Zello kecewa dengan dirinya, namun nyatanya semua seakan kena imbas.


Semenjak kejadian itu, meski satu kamar namun mereka tidak satu ranjang lagi. Zello memilih tidur di lantai beralaskan kasur lipat yang sangat tipis. Veron yang tidur diatas, di kasur yang empuk namun tak membuat dirinya nyaman. Bagaimana bisa dirinya nyaman melihat suaminya demikian. Setiap hari Veron selalu melihat Zello dari ranjangnya, Zello yang seakan sangat pulas. Acuhnya Zello, dinginnya Zello yang tidak hanya kedirinya tapi juga ke sekeliling membuat Veron menyadari betapa besar luka yang ia torehkan untuk Zello.


***


Selesai bersiap sendiri, semuanya. Zello langsung menuju pintu keluar kamarnya. Dilihatnya jam di pergelangan tangan.


"Zello," ucap Veron. Kedua tangannya mencekram jas Zello dengan erat dari belakang.


Hah. Zello mendengus kesal.


Veron tetap mencengkeram jas yang dipakai Zello, tak peduli bila akan kusut lagi. Veron tidak tahan dengan sikap Zello yang selalu mengacuhkannya.


"Zello, maafkan aku!" ucap Veron yang kesekian. Sudah berapa kali Veron mengatakan, dan selalu diacuhkan oleh Zello.


"Lepas!" desis Zello.


"Zello. Dengarkan sekali saja! Aku mohon!"

__ADS_1


Seperti biasa Zello mengacuhkan ucapan Veron. Cengkeraman tangan Veron yang tak mengendur membuat Zello melepas jasnya. Mengambil jas yang baru, memakainya dan segera mungkin keluar dari kamar mereka.


Sekarang yang tinggal di tangan Veron hanyalah jas Zello semata. Air mata yang tak terbendung jatuh membasahi jas yang yang tengah dipegangnya. Sesak yang membuatnya sangat sakit. Entah sampai kapan. Ini dari Zello, bagaimana nanti bila Hanif juga tahu? Veron terdiam di tempatnya, 'semuanya sudah hancur.'


***


Semenjak marahnya Zello, Veron enggan ke kantor. Suasana hati Zello yang sudah memburuk bertambah buruk dengan dirinya yang berkunjung ke kantor. Seperti waktu itu, tak sedikit bawahan yang kena imbas emosinya Zello.


Hanif menghela nafas, ikut gelisah dengan apa yang terjadi dengan kedua cucunya, tidak akurnya mereka berdua dalam waktu yang lumayan lama membuat dirinya ikut gelisah.


"Lilie," panggil Hanif yang masih satu ruangan.


"Iya, Kek."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?"


"Mm, ini salah Lilie, Kek."


"Semua orang pasti pernah bersalah."


Veron tersenyum tipis, menatap balik Hanif yang tengah menatapnya.


"Kakek, bagaimana bila aku yang salah?"


"Kan kakek sudah bilang. Semua orang pasti pernah bersalah."


Veron menghela nafas. "Kek, apa salah kalau Lilie tidak menceritakan masa lalu Lilie, aib Lilie. Lilie tidak bermaksud bohong. Andai sebuah kekurangan pasti Lilie akan mengakuinya. Tapi ini aib, Kek. Kenapa Zello tidak mau memahami juga."


"Tapi kamu pasti sudah kenal Zello kan? Dia tidak akan bisa terus marah sama orang yang sudah dia sayang. Percaya sama Kakek."


"Kalau Zello marah terus sama Lilie berarti sayang Zello sudah hilang Kek," lirih Veron.


"Cukup lihat marahnya dia. Semakin besar ungkapan marahnya, semakin terbukti juga betapa berpengaruhnya kamu buat dia. Itu artinya dia sangat sayang kamu."


Lagi-lagi Veron tersenyum menanggapi ucapan Hanif. Veron harap ucapan Hanif benar adanya dan Hanif sendiri juga akan memaafkan masa lalu dirinya. Karena tidak mungkin Dave berhenti untuk bertindak licik.


"Lebih baik sekarang kamu mempercantik diri, melakukan perawatan. Buat suamimu itu menyesal sudah mengabaikan kamu."


Veron terkekeh, "iya, Kek. Kakek benar, terima kasih, Kek."


***


Hampir seharian Veron menghabiskan waktunya di luar. Bukan keinginannya, tapi ulah Dahlia yang mengajaknya dengan paksa, dari salon, resto, mall besar. Sesuai perintah Hanif, Dahlia di minta untuk membuat Veron bersenang-senang.


Dahlia sampai sekarang pun masih tidak mengerti dengan permasalahan nona dan tuannya. Dirinya hanya bisa menerka, apa nonanya melakukan kesalahan? Atau mungkin dia telah berbohong besar? Rasa penasaran yang tinggi membuat Dahlia pernah menanyakan perihal itu ke Zico, dan jawaban yang ia terima ' jangan ikut campur urusan orang', saat bertanya dengan nonanya langsung yang ada hanya jawaban 'nggak tahu'. Hah, dari situ Dahlia menyerah untuk bertanya. Terkadang dirinya ikut bingung menanggapi nonanya yang terus bersedih. Tidak tahunya masalah mereka, membuat Dahlia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi Dahlia berharap secepatnya semua akan kembali seperti semula.


***


Pulang menghabiskan waktu bersama Dahlia membuat Veron terasa sedikit kelelahan. Bahkan sebelum dirinya pulang, ternyata Zello sudah pulang terlebih dahulu.


Veron yang terlelah langsung mandi, membaringkan tubuhnya sesaat. Matanya pun ikut lelah.

__ADS_1


Perutnya yang baru saja di isi sebelum pulang membuat dirinya masih sangat kenyang. Karena itu, Veron turun dari ranjang, menuruni tangga mendatangi Hanif yang ternyata masih di kamarnya.


"Kek, sedang apa?"


"Kamu tidak istirahat?"


"Ini mau istirahat, Kek. Lilie cuma bilang kalau Lilie nggak bisa ikut makan malam. Lilie sudah sangat ngantuk dan masih kenyang."


"Lilie.... hal sekecil itu kamu pakai bilang. Istirahatlah, Nak. Kamu pasti lelah.


"Terima kasih ya, Kek." Veron memeluk Hanif sekilas dan keluar dari kamar, beranjak menaiki tangga melewati Zello yang ternyata sudah ada di ruangan keluarga. Tidak lupa juga dirinya minta tolong ke pelayan untuk menyediakan minum untuk dibawa ke kamar.


****


Tidak adanya Veron membuat membuat Hanif hanya makan berdua dengan Zello.


Selesai makan, Hanif seperti biasa masuk kamar sejenak. Baru akan keluar kamar lagi.


Hanif yang sudah masuk kamar membuat Zello hanya sendirian di sana. Takut tertidur di ruangan keluarga karena sangat mengantuk membuat Zello segera meninggalkan ruang keluar berniat untuk mengobrol dengan Hanif dulu walau hanya sesaat sebelum dirinya tidur. Dengan langkah mantap, Zello melangkah menuju kamar Hanif.


"Jangan lupa, nanti beri Zello minum terlebih dahulu." Suara Hanif pelan.


"Nanti kamu saja yang membuat, baru suruh pelayan mengantarnya!"


"Siap, Tuan." Sahut Beni.


Dahi Zello berkerut, mencerna ucapan Beni dan kakeknya. Setelah cukup lama obrolan rahasia Hanif selesai, Zello baru berani masuk kamar Hanif. Menyapa dan membahas soal perusahaan.


Selesai mengobrol, Zello langsung keluar kamar Hanif. Melangkah pelan menuju kamarnya sendiri. Melangkah sembari otaknya yang terus berfikir dengan maksud ucapan Hanif.


Zello yakin Hanif sudah membuat ide gila, meski belum yakin namun membuat Zello menerka dan mendesah kesal.


Di kamar, mata Zello tertuju dengan ranjang yang tidak ada istrinya di sana. Di toilet, terka pasti Zello.


Baru hitungan menit Zello di kamar, pintu kamarnya di ketuk dari luar. Tanpa banyak berfikir Zello membuka pintu.


"Air putihnya,Tuan," ucap Dini- pelayan rumah-.


"Ok." Zello meraih gelasnya, dan langsung membawanya masuk ke dalam.


Zello terdiam sesaat, telinganya yang tajam berusaha untuk mendengar suara dari kamar mandi. Suara gemericik air dari shower. Sudah pasti Veron sedang mandi. Malam hari?


Tahu Veron mandi, Zello menuju wastafel cuci muka yang tidak jauh dari kamar mandi. Membuang minuman itu ke wastafel. Untung dirinya nemdengar ucapan Hanif dan Beni. Zello menggeleng kesal dengan ulah kakeknya.


Tidak terduga, Zello yang hendak keluar dari sana terkejut dengan munculnya Veron yang sudah ada di sampingnya. Veron yang bertubuh polos. Tubuh sintal yang basah keseluruhan. Tangan yang memainkan aset berharga miliknya sendiri sembari mengeluarkan *******-******* kecil dengan wajah yang memerah.


"Zello," lirih Veron dengan sensual. Tangan yang awalnya bermain di asetnya sendiri beralih berniat meraih tubuh Zello.


"Zello .... aku mau kamu," Veron terus berupaya mendekat ke Zello dengan tubuh polosnya. Membuat Zello muak dan segera keluar dari sana. Memilih untuk secepatnya tidur, dirinya sudah mengantuk.


Baru mata mulai terpejam, Zello dikagetkan dengan Veron yang muncul dengan tubuh yang sama.

__ADS_1


"Zello, tolong.... panas." Wajah Veron makin memerah. Tubuhya merasa tersiksa dengan sakit yang menjalar ke seluruh tubuh yang disertai hawa panas. "Zello, aahh." Veron mengerang sakit. "Zello, tolong.... " lirih Veron lagi. Erangan sakit dan tangan yang tak berhenti beraktivitas di bagian tubuhnya sendiri membuat Zello tergugu di tempatnya. Memahami sekaligus kesal menyimpulkan ulah kakeknya, tidak hanya dirinya yang dijebak untuk minum obat perangsang, tetapi istrinya juga.


__ADS_2