
Sekarang setiap pagi menjadi quality time bagi Zello. Bisa meyiapkan sarapan dan juga melakukan obrolan kecil dengan Veron. Sarapan pun juga dilewati dengan sarapan yang begitu mengesankan buat Zello, disuapi dan juga kadang suap-suapan.
'Seharusnya, Lilie merasakan hal yang sama denganku. Bukankah ini terlalu dekat bila hanya sebatas teman.'
Zello tengah menatap lembut Veron yang sedang menyuapinya. Dilihatnya Veron yang selalu tampil manis dan sangat menggoda. Setiap saat mereka sarapan, mereka sama-sama baru selesai bersiap untuk pergi, sudah pasti Veron juga terlihat sangat fresh dan wangi. Bahkan Veron kadang menyuapinya saat rambutnya masih basah, membuat Zello semakin betah melihat dan menhirup segarnya aroma tubuh Veron.
"Selesai." Veron menyodorkan minum ke Zello.
"Aku bereskan ini dulu ya," ucap Veron kemudian. Dirinya langsung membereskan perabotan kotor mereka. Satu piring kotor. Alias mereka baru saja makan satu piring berdua.
Di lain sisi, Zello meraih dasinya yang berada di sandaran sofa. Dan mengalungkan di lehernya perlahan, mencoba memasangnya sendiri. Meski ragu, karena setiap hari ia selalu dipasangkan oleh Veron.
"Zello, kenapa?" tanya Veron.
Zello melihat wajah Veron yang tengah keheranan dan bercampur kesal.
"Aku ingin memakainya sendiri." Zello tersenyum manis ke Veron.
'Aku selalu menyuruhmu dalam hal apapun, kamu malah seperti pesuruhku sungguhan Lilie. Bagaimana caranya supaya kamu melakukan semua ini atas keinginan kamu sendiri. Tapi bagaimana itu mungkin, kamu hanya melakukan apa yang aku minta. Seperti majikan, bukan seperti suami. Aku ingin kamu memperlakukanku seperti suami pada umumnya, melakukan kewajibanmu tanpa aku minta. Tapi masalahnya, kamu menganggap pernikahan ini di atas kertas. Bila aku tidak memintanya, pasti kamu juga tidak akan melakukannya.'
"Apa aku salah cara memasangkannya, apa tidak nyaman di lehermu?" Cecar Veron.
"Bukan ... bukan begitu." Zello berhenti sesaat dan kemudian melanjutkan lagi memasang dasinya.
"Lalu?"
"Aku ... tidak mau membuatmu merasa tidak nyaman karena terlalu banyak melayaniku," ucap Zello akhirnya.
"Zello ...." Rengek Veron. Yang terdengar manja di telinga Zello. Bahkan telinga Zello sampai memerah karena terlalu senang mendengar rengekan Veron.
"Biarkan aku teruskan ya." Veron menyingkirkan tangan Zello yang tengah sibuk di dasinya dan menggantikan perannya, memasang dasi Zello dengan rapi.
"Sudah," ucap Veron bangga sembari mengelus dasi yang menempel di dada Zello yang langsung di sambut detak kencang dada Zello. Veron sendiri menatap Zello sekilas ketika merasakan detak kencang dada suaminya itu.
"Biarkan seperti biasanya Zello," ucap Veron lagi.
"Kenapa?" tanya Zello. Tangan Zello bertumpu pada tangan Veron yang sedang berada di dadanya, dan menggenggam lembut.
"Aku ... ingin belajar jadi istri yang baik." Wajah Veron memerah karena ucapannya yang meluncur begitu saja.
"Maksudnya, mau belajar jadi istri yang baik untuk suamiku nanti," ucap Veron lagi cepat.
"Oh."
'Suamimu sekarang dan nanti kan adalah aku.'
"Memang seperti apa kriteriamu?" tanya Zello.
"Mm ... nggak ada. Memang cinta perlu kriteria." Veron memberikan gerakan kecil di tangannya supaya remasan Zello terlepas. Paham maksud Veron, Zello melepaskan tangannya.
"Berarti kamu bisa mencintai siapa saja. Termasuk orang yang selalu di sampingmu."
"Ya tentu saja." Veron meraih jas dan memakaikan ke tubuh Zello dengan hati-hati.
"Berarti bersiap-siaplah untuk jatuh cinta kepadaku. Karena aku akan selalu di sampingmu."
"Hah?"
"Apa perlu ku ulangi?" Zello meraih pinggang Veron dengan tatapan menggoda.
'Zello, hentikan leluconmu!'
Veron membatin dengan dada berdetak kencang dan tanpa sadar tanganya meremas jas Zello.
"Lepaskan!" rengek Veron.
Sementara Zello masih saja menatap dengan godaan jahilnya.
"Hai, Tuan. Lihat wajah dan proporsial tubuhku! Apa aku seperti wanita yang kehabisan pria, sampai harus jatuh cinta dengan pria yang sudah memiliki kekasih."
Akhirnya, Zello melonggarkan jeratan tangannya. Dengan segera Veron memberi jarak antara mereka berdua.
"Oh ...."
Tanda tanya besar bersarang di kepala Veron mendengar jawaban Zello yang di iringi dengan senyum tipis.
Dengan masih bingung, Veron melangkah duluan menuju tempat sepatu Zello berada, mengambil dan menunggu Zello duduk.
Veron memakaikan kaos kaki dan sepatu Zello.
"Kamu tidak perlu sampai memakaikan sepatu untukku," ucap Zello.
__ADS_1
"Kenapa? Biasanya kamu yang mau." Sahut Veron tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Kamu selalu melayaniku. Apa kamu tidak berfikir, kamu bisa saja membuatku jatuh cinta karena perlakuanmu."
Hah?
"Aku juga menyuapimu seperti bayi saat makan, apa itu sudah berhasil membuat mu mencintaiku." Ledek Veron.
"Menurutmu?"
"Hahahaha. Sana berangkat! Dasar pembual. Pria dimana-mana selalu sama."
Veron menuntun Zello ke pintu dengan cepat dan langsung menutupnya. Brakk.
"Dasar pria, nggak pernah cukup dengan satu wanita."
***
Saat ini Veron tengah berada di sauna spa. Veron duduk di tempat nggak jauh dari resepsionis, sementara pemesanan tempat dan pembayaran di lakukan oleh Dahlia.
"Veron."
"Desy." Balas Veron terkejut.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Kamu di sini juga."
"Iya. Oya sekarang kamu sudah jadi orang kaya kan. Traktir aku ya." Pinta Desy.
"Mm ... boleh deh. Tapi ... jangan pernah bahas apapun tentang pekerjaan kita di club." Veron berucap pelan sembari mencuri pandang ke Dahlia yang tengah sibuk di resepsionist.
"Kenapa?"
"Hm." Veron menunjuk Dahlia dengan dagunya.
"Siapa?"
"Asistenku dari keluarga suami."
"Oh ... sweet. Mereka sangat memanjakanmu." Desy semakin mengikis jarak duduk mereka berdua. "Lalu, kamu sudah jatuh cinta belum?"
"Jatuh cinta apa?"
"Mm ... nggak Des, nggak ada yang seperti itu. Aku memang ingin merasakan punya keluarga. Kakek nenek, mertua, melayani suami, tapi aku dan dia tidak melibatkan perasaan. Melibatkan perasaan di atas kertas itu sama saja cari mati."
"Really? Apa kamu tidak merasa nyaman saat bersamanya?"
"Nyaman? Hahaha aku nyaman dengan semua orang. Bahkan dengan kakeknya saja aku sangat nyaman." Veron mengapitkan tangan Desy dan bersandar di bahunya gemas teringat Hanif.
"Yayaya. Mm ... perasaan sedikit saja!?"
"Hahaha."
"Saat dia hadir atau muncul, entah kenapa kamu merasa sangat senang. Dan ... kamu sangat sedih saat ada wanita lain-" ucap Desy.
"Nona." Potong Dahlia, dan di sampingnya sudah ada pelayan sauna.
"Mari saya antar." Ucap pelayan ramah.
Saat sudah di dalam sauna, Desy juga langsung duduk menempel ke Veron.
"Aku bilang demikian karena aku tahu, kamu nggak pernah memiliki perasaan khusus ke pria manapun. So, kamu pasti tidak tahu apa itu cinta." Cecar Desy.
"Jadi, bagaimana? Kamu sudah memiliki perasaan itu belum?" imbuh Desy.
'Perasaan itu? Apa gunanya aku pikirin. Pada akhirnya aku akan pergi juga.'
"Veron, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Kamu pasti takut suatu saat jati dirimu terbongkar kan. Mangkanya kamu tidak berharap banyak dengan apa yang sudah kamu lalui. Dan, kamu pasti akan menyangkalnya."
Veron menoleh, menatap Desy. Ucapan Desy lumayan membuat Veron berkecamuk.
"Ya terserah soal perasaan kamu dan kelanjutan kalian. Tapi aku sarankan-," Desy menjeda dengan mata ke Dahlia supaya tidak terawasi oleh Dahlia.
"Kamu kuras dulu hartanya. Buat jaga-jaga kalau kamu sudah keluar dari istana suamimu."
"Ehem." Dahlia yang awal jaraknya lumayan dari mereka langsung duduk di tengah-tengah. Bahkan pantatnya hampir menduduki paha Veron dan Desy karena mereka berdua memang sedang tidak ada jarak.
Dahlia yang melihat gelagat aneh Desy sengaja duduk di antara mereka, ingin memperkeruh obrolan mereka, kalau bisa sekalian ingin obrolan mereka berakhir.
"Dahlia." Keluh Veron.
__ADS_1
"Aku hanya takut duduk di pojok sendirian Nona," sahut asal Dahlia.
"Veron, asistenmu benar-benar tidak beretika." Gerutu Desy. Desy langsung duduk menjauh dari Dahlia. Tidak rela memangku Dahlia, meski hanya seperempat bokongnya.
"Veron? Nama Nona Veron?" tanya Dahlia.
"Ailia Veron monic. Sedari kecil di panggil Veron. Tapi aku suka bunga lili."
"Oh ...."
***
Sore hari, Veron sudah mandi dan juga sudah rapi. Duduk di depan cermin melihat pantulan wajahnya di cermin. Dengan wajah tanpa make up sama sekali, membuat kulit putih mulus tampil cantik alami.
Terbukanya pintu apartemen membuat Veron yakin dengan kepulangan Zello. Hatinya mendadak penuh dengan bunga-bunga bermekaran.
"Lie." Zello masuk ke kamar Veron yang memang tidak pernah di kunci. Zello memandang damba ke wanita yang tengah duduk bercermin itu.
Veron berdiri dari duduknya, tersenyum kecil. "Sudah pulang?"
"Sudah." Hati Zello seakan meleleh melihat wajah alami Veron. Senyum hangat dan tatapan Zello dalam berhasil membuat Veron salah tingkah.
"Mm ... Zello, mandilah! Habis ini kita akan makan," ucap Veron, beralih pura-pura sibuk dengan merapikan alat make upnya sembari menggigit bibirnya.
"Iya," sahut singkat Zello. Dirinya juga langsung keluar dari kamar Veron.
Sepeninggal Zello, Veron menyentuh dadanya sendiri. "Sepertinya aku sudah keracunan ucapan Desy."
***
"Zello, aku harus delevery apa?" Veron berteriak dari luar kamar Zello. Seharusnya Zello sudah selesai mandi. (batin Veron).
Ceklek. "Apa?" Zello membuka pintunya dengan hanya berbalut handuk sebatas pinggangnya.
"Aku harus pesan makanan apa?" tanya Veron. Jarinya tengah bergulir di beranda aneka makanan siap saji. Pandangannya juga sekilas ke Zello yang seperti ingin menggoda dirinya.
"Aku tidak tergoda. Buruan bilang aku harus pesan apa?"
"Siapa juga yang menggodamu." Dalih Zello.
"Jadi, aku harus pesan apa?" tanya Veron frustasi.
"Nggak usah pesan." Jawab Zello sembari masuk kamar dan menutupnya langsung.
"Tapi Zello." Kejar Veron ikut masuk kamar.
Brakk. Baru saja Veron berhasil memasuki kamar, tangan Zello langsung menahan pintu dengan satu tangannya tepat di samping kepala Veron. Membuat mereka berjarak dekat dengan saling bersitatap.
"Aku lapar. Yaudah sesuai keinginanku saja," ucap Veron.
"Aku bilang tidak usah pesan. Apa kamu ingin membantah?!"
"Aneh. Kalau kamu nggak mau makan yaudah, tapi aku lapar."
Dengan cepat Zello merebut ponsel yang tengah di pegang Veron dan mengangkatnya tinggi.
"Zello." Pekik kesal Veron. Veron menjijitkan kaki guna menggapai ponselnya. "Kembalikan ponselku!"
"Aku tidak menerima perintah." Zello seperti dalam posisi patung, tubuh kekarnya tetap di posisi yang sama meski Veron bergelayut di lengannya.
Lelah berjinjit Veron melepaskan tangannya dari lengan Zello. "Yaudah terserah."
Huh ... Veron mendesah kesal. "Makan tu ponsel."
Veron berbalik meraih handle pintu. "Zello singkirkan tanganmu!"
"Aku tidak menerima perintah." Zello tersenyum licik dengan puas.
"Zello, tolong ...."
"Tidak menerima permintaan tolong."
"Oh ...." Veron membalikkan tubuhnya lagi bersitatap dengan Zello. Menatapnya dengan jengkel. "Singkirkan tangannya atau ...."
"Atau apa?"
Sheet.
Dalam sekejap handuk Zello terurai ke lantai.
Brakk. Lilie dengan wajah puas bisa mengambil ponselnya dan berhasil keluar kamar.
__ADS_1
"Lilie." Pekik kecil Zello terkejut dengan ulah Veron. Segera ia ambil handuknya yang sudah menjuntai di lantai. "JANGAN PESAN MAKANAN, KITA MAKAN DI LUAR."