
Wajah Veron menegang, apalagi saat Zello ikut menatap dirinya.
"Dimana?" tanya Veron pelan memastikan.
"Di ponsel suamiku, Zein." Tekan Julia. Matanya mengintimidasi penuh ke Veron.
"Mm, foto yang di ponsel Zein itu apa jangan-jangan wanita yang disebutkan Zein saat kita bertemu di kantor? Yang bilang wajahnya mirip denganku," ucap Veron ke Zello dengan suara pelan.
Veron berharap Zello tidak terpengaruh dengan obrolan ini. Dan semoga pikirannya sejalan dengan yang ia utarakan barusan.
Detak jantung Veron masih berdetak tak beraturan. Apa yang akan ia lalui setelah ini?Dan bagaimana bisa Zein menyimpan foto dirinya?
Pertanyaan demi pertanyaan terus menghantui Veron. Perasaan takut kini mulai menjalar di dirinya.
"Tentu ...," bisik Zello. "Atau ..."
"Nona Julia." Suara hangat Zello. "Sebenarnya, Zein juga pernah bilang wajah istri saya mengingatkan dengan teman wanitanya. Hanya mirip. Dan saya pastikan foto yang ada di ponsel Zein bukan istri saya. Dan Zein sendiri juga sudah meminta maaf atas kesalahpahamannya."
"Oh." Julia mengangguk kecil dan kemudian mengulas senyum tipis. Meskipun hanya senyum palsu. Mau bagaimana lagi, Julia juga tidak punya bukti yang kuat kalau istri Zello adalah wanita yang ada di foto suaminya.
"Mama ... Ellen lapar ...."
"Ah iya Sayang. Ayo, kita masuk. Tuan dan Nona, saya permisi ke dalam ya."
"Iya. Silahkan."
Veron tersenyum lega, meski masih sedikit takut. Raut tegang masih terlihat jelas di wajahnya.
"Kenapa?" belaian lembut di bahunya membuat dia tersadar.
"Dia seakan mau menerkamku tadi," sahut Veron.
"Sudah lupakan! Banyak orang mirip di dunia ini." Sebenarnya ada yang ingin Zello tanyakan. Tapi melihat wajah Veron yang demikian ia rasa sekarang bukanlah yang tepat.
"Bos, Nona," ucap Zico yang sudah di antara mereka.
"Kemana saja kamu?"
"Nyari Dahlia," sahut Zico. Ekor matanya menatap Dahlia yang nyengir dengan tangan di mulutnya. Nyengir atau tertawa? Ah, pada intinya Zico merasa ditertawakan oleh Dahlia.
Zello menggeleng malas dan langsung menyuruhnya untuk mengambil mobil.
Tidak butuh waktu lama Zico untuk mengambilnya. Karena Zico yang membawa mobil otomatis Zello dan Veron duduk di belakang. Sementara Zico ditemani Dahlia duduk di depan.
Zico melirik kesal ke Dahlia yang masang wajah tidak bersalah. Sungguh menjengkelkan. Dicari sampai muter-muter ternyata Dahlia sudah keluar duluan.
"Zico! Buru jalan!" Lantang Zello.
Dengan gelagapan Zico melajukan mobilnya.
Tangan kokoh Zello masih setia merangkul Veron yang terlihat banyak diam. Dan diamnya Veron membuat dirinya merasa aneh.
"Sayang, nanti jangan lupa cari baju buat acara acara di perusahaan," ucap Zello. Untung Zello ada topik pembahasan untuk menutupi kebisuan yang ada.
Veron yang sedari tadi terdiam mulai mendongak melihat wajah suaminya.
"Acara apa?"
"Hari jadi perusahaan. Seminggu lagi," tutur Zello.
__ADS_1
"Oh. Tinggal satu minggu tapi baru bilang."
"Soalnya kan kita bos. Buat apa buru-buru ngurusin hal begituan. Dalam sekejab juga langsung jadi."
"Hm iya iya Pak Bos."
"Kemarin saja nikah sama resepsi tidak sampai satu minggu," ucap Zello bangga. Matanya menatap dalam ke wanita yang kemarin ikut mengucap sumpah pernikahan di gereja. Tanpa sadar ia meremas lembut bahu Veron.
'Bos mah enak. Aku yang patah tulang' batin Zico. Teringat dengan perjuangannya yang menyiapkan pernikahan dan resepsi buat bosnya. Benar-benar menguras tenaga, terlebih waktu istirahatnya. Tanpa sadar Zico melihat kaca mobil untuk melihat pantulan wajah bosnya yang sudah berucap bangga itu. Hampir saja jantungnya melompat, melihat bosnya tengah menikmati bibir istrinya. Zico menelan ludahnya dengan kasar dan tidak tahu mengapa dirinya berganti melirik Dahlia yang ternyata tengah menutup wajah dengan kedua tangannya.
Oh, astaga ....
***
Mereka berempat sudah sampai di perusahaan kembali. Veron juga berusaha bersikap tenang. Meski pikiran masih kadang menjalar. Bagaimana Zein bisa memiliki foto dirinya, dan seperti apa foto itu?
Ah sialnya, meski berusaha tenang. Tapi tetap saja Veron merasa gelisah. Veron tidak pernah bertemu Zein kecuali di ranjang. Kemungkinan foto-foto yang ada pastilah sangat berbahaya untuknya.
Veron yang sedikit tidak fokus pun terheran kenapa langkah Zello berhenti tiba-tiba. Tangan Zello masih setia bertengger di pundak Veron. Tentu berhentinya langkah Zello membuat langkahnya juga ikut berhenti.
Langkah pria dengan senyum menawan datang mendekat di mana Zello dan Veron.
"Tuan Zello," sapa Zein. Tidak lupa juga menebar senyum ke Veron.
Belum hilang rasa semrawut di benak Veron. Dan sekarang malah bertambah karena bertemu dengan orangnya langsung. Zein.
"Baru saja kami bertemu dengan istri Anda, Tuan," ucap Veron dengan senyum yang dipaksakan.
"Benarkah?"
"Iya," sahut Zello. "Seharusnya kamu menemui istri sendiri, bukan istri orang," cetus Zello.
Zello membuang nafas kasar, tidak suka dengan kehadiran Zein.
"Iya, saya sengaja mampir kesini. Karena sembari lewat saja. Tapi... maksud Anda dengan melihat istri orang itu apa?" tanya Zein. Matanya memicing tidak senang dengan ucapan Zello.
Melihat tatapan tidak bersahabat dari Zein sama sekali tidak membuat Zello getar. Kalau bukan karena profesionalisme, dia pasti sudah membatalkan kerja sama itu.
Veron mengusap punggung Zello berusaha untuk menenangkannya. Seketika Zello menoleh ke istrinya yang tengah tersenyum manis. Sesaat Veron juga mendekatkan bibir ke telinga Zello.
"Cemburu ya?!" ledek Veron dengan berbisik. Sebenarnya Veron tengah gelisah setengah mati. Tapi kalau Veron diam saja dan tidak mencairkan suasana hati Zello semua akan berdampak buruk.
Zello meraup wajahnya sendiri dengan kasar. Tapi perlahan bibirnya mengulas senyum.
"Tuan Zein. Mohon maaf, saya lagi sibuk. Saya harap Anda mengerti," ucap Zello kemudian.
Zein mengangguk dan tersenyum kecut ke arah Zello dan Veron yang beranjak dari sana.
"Maaf, Tuan Zein. Apa ada problem soal kerjasama kita?" tanya Zico yang mewakilkan. Zico merasa bosnya sudah tidak profesional lagi. Siapa tahu Zein kesini untuk membahas tentang kerjasama mereka.
Zein menggeleng kecil. "Awalnya iya. Tapi sekarang sudah lupa. Nanti aku suruh asistenku saja kesini sendiri."
"Baiklah."
"Permisi."
Di lain sisi Zello langsung ikut Veron yang langsung duduk di sofa panjang di ruangannya.
Zello terdiam sesaat, mau tanya ke istrinya namun ragu.
__ADS_1
"Sayang....," rayu Veron. Jemarinya yang lentik meraih dagu Zello dan mengarahkan wajahnya untuk bersitatap.
Terbalik sudah, tadi Veron yang diam sekarang Zello. Sebenarnya tadi Veron sangat syok melihat Zein. Tapi melihat wajah Zello yang demikian membuat Veron akan semakin tidak nyaman.
Mereka tidak boleh terlalu dekat, tapi tidak boleh bermusuhan juga. Veron tidak mau sikapnya Zello maupun sikap Zein akan membuat mereka sama-sama mengorek satu sama lain. Terutama Zello, bila sampai Zello mengorek tentang Zein. Dan menemukan Zein memang sering ke club tempatnya bekerja bisa jadi masalah besar. Karena Zello tahu kalau dirinya pun juga pernah kerja di club.
"Lie, apa ....?"
"Hm?"
"Apa Zein adalah masa lalumu?" ucap Zello hati-hati. Kalimat yang ia tunda keluar juga. Kehadiran Zein benar-benar memancing emosinya. Awalnya dia mengacuhkan sikap Zein, tapi mendengar kalimat istri Zein tadi membuatnya tidak boleh meremehkan sikap Zein yang sekarang sering ke kantor.
Rasa terkejut tidak bisa Veron sembunyikan dari wajahnya, dada Veron juga berdegub tidak beraturan.
"Mungkin mantanmu? Aku tidak ingin mempermasalahkan masa lalumu. Hanya saja aku tidak ingin dengar dari orang lain," tutur Zello.
Dengan susah payah Veron menelan salivanya. Tatapan Zello membuatnya semakin gugup dan menjadikan bibirnya kelu.
Tatapan Zello tidak hanya dalam, tapi juga penuh tuntutan. Zello menantikan ucapan yang keluar dari bibir istrinya.
"A-aku. Aku sudah bilang tidak mengenalnya," sahut Veron.
"Aku percaya." Zello dengan erat memeluk Veron. "Maaf, aku tidak bermaksud meragukanmu." Zello mencium pucuk kepala Veron bertubi-tubi.
"Zello."
"Hm."
"Aku bukan wanita baik-baik."
"Maksudnya?" Zello menatap aneh ke istrinya.
"A-aku. Maksudnya menjadi pacar sewaan. Itu.... Bukan kamu satu-satunya yang menyewaku. Tapi masih banyak pria lain juga. Aku tidak mengenal Zein. Tapi, mungkin dia salah satu dari pria itu. Atau mungkin dia pelanggan yang suka minum di club tempat aku bekerja." Veron menghendikan bahu, meyakinkan dirinya tidak mengenal Zein, walau ada kemungkinan pernah bertemu.
"Aku tidak mengenalnya Zello. Tapi melihat kamu yang meragukan itu semua. Aku juga jadi ragu untuk memastikan kalau aku tidak pernah bertemu dengannya. Yang pasti, aku tidak mengingatnya.
"Kamu tidak mengingatnya, itu artinya dia tidak berharga untukmu. Itu pun juga belum tentu kamu. Kalaupun kamu - nyatanya kamu sudah menjadi milikku. Mau dia masa lalumu atau bukan. Jaga jaraklah! Hm!?"
Veron mengangguk puas. "Iya, kamu benar." Veron menenggelamkan kepala di dada Zello. Ucapan Zello yang dewasa membuat dia semakin menggilai suaminya.
Di lain sisi, sepeninggal Zein, Zico yang tidak menahu tentang penyebab rusak mood bosnya hanya menghela nafas kasar. Sedangkan Dahlia yang masih di samping Zico terdiam dengan ekspresi senang.
"Sepertinya kamu mulai gila," cetus Zico.
Dahi Dahlia bertaut dan menatap tidak suka ke Zico.
"Aku nggak gila. Aku hanya senang, kurasa sekarang tidak ada yang namanya pernikahan kontrak. Iya, kan? Lihat aja sekarang Tuan Nona kita. Astaga, aku jadi ingin punya pacar."
Dahlia berucap dengan menggebu-gebu. Melihat Zello yang tak pernah melepas tangannya dari Veron membuatnya iri.
"Kamu tahu kalau mereka .... "
"Iya. Tentu saja. Nona sendiri yang bilang. Walau berawal dari istri sewaan -"
"Astaga, Tuan Zein. Sejak kapan ada disini." Mata Dahlia membulat sempurna. Terkejut setengah mati dengan kehadiran Zein kembali yang sekarang berada di samping Zico.
"Siapa yang istri sewaan?"
Dahlia mematung, begitu juga Zico.
__ADS_1