
"Ayo Sayang!" Dengan antusias Maria menuntun Veron untuk bergabung dengan Rossa yang tengah duduk di ruang keluarganya.
"Rossa." Veron langsung merangkul bahu Rossa dan duduk di sebelahnya.
"Kalian sudah kenal?" Maria tertegun dengan yang dilihatnya, yang kemudian senyum mengembang dari bibirnya.
"Iya, Mah. Sebelum Lilie kenal dengan Zello. Kami sudah saling mengenal."
"Benarkah?"
"Iya, Mah. Kebetulan Rossa sering ngambil gaun di butik aku bekerja. Disitu kami jadi saling mengenal." Dengan senyum mengembang Veron menatap Rossa.
"Berkat Rossa, sekarang Lilie bisa sama Zello." Veron tersenyum simpul dengan ucapannya. Memasang raut bahagia bercampur malu-malu dengan apik.
"Ya Tuhan, Rossa. Tante berhutang budi banyak sama kamu."
Veron bersandiwara dengan sukses, eh tapi kan itu memang kenyataan. Berkat Rossa, Lilie bisa menjadi bagian keluarga besar Hanif. Rasa senang yang hinggap di hatinya berubah rasa heran. Apa segitunya Maria menyukai dirinya sebagai menantu?
"Hehe Tante, jodoh kan sudah ada yang ngatur," sahut Rossa tenang. Meskipun begitu ada sorot nggak suka yang bisa ditangkap oleh Veron. Veron mengernyit heran, bukankah semua lancar dan dirinya mendrama sangat bagus. Tapi tatapan Rossa sekilas ke dirinya seakan dirinya melakukan kesalahan.
"Oh ya Rossa. Bagaimana kegiatan model kamu sekarang? Apa sudah dapat kontrak yang memuaskan kamu?"
"Ada Tante. Rossa sangat menikmatinya." Rossa sangat bangga dengan pencapaiannya sekarang, senyum mengembang menghiasi bibirnya.
"Mama, Rossa. Lilie permisi dulu ya. Kebetulan sudah lama nggak ngobrol sama Kakek. Lilie mau ketemu Kakek dulu," ucap Veron sembari berdiri.
"Oh iya, ada di halaman samping sepertinya. Coba cari!"
"Baik, Mah. Tinggal dulu ya Ross."
"Ok Lie," sahut Rossa dengan senyum tipisnya.
Verong langsung melangkahksn kaki ke halaman samping, yang dengan perlahan Veron harus mencarinya. Veron baru dua hari tinggal di rumah itu. Tahunya baru area dalam rumah. Rumah yang mewah dengan halaman yang luas, membuatnya harus bertanya dengan asisten rumah tangga di sana.
"Mari saya antar Nona." Tawar salah satu asisten.
"Baiklah."
"Nona sudah keluar kamar? Apa ada perlu Nona? Biar saya bantu?" ucap Dahlia, yang baru saja datang menghampiri Veron.
"Mm, nggak perlu. Aku bisa menyelesaikannya."
"Tapi Nona mau kemana? Biar saya antar."
"Saya cuma ingin bertemu dengan Kakek. Kamu nggak perlu repot-repot. Sudah ada yang ngantar saya."
"Tapi kan asisten nona kan saya. Biar saya saja." Kekeh Dahlia.
__ADS_1
"Apa kamu di suruh jadi asisten saya full day sama Kakek Hanif?" Veron masih tidak percaya dengan praduganya.
"Bukan full day Nona. Tapi every time," ralat Dahlia.
"Ya intinya sama saja. Aku pikir kamu cuma asistenku saat pesta kemarin." Veron terkejut dengan yang di dengarnya, Veron mematung sesaat. Apa sampai segitunya, harus punya asisten.
"Mari Nona! Saya antarkan." Dahlia dengan antusias membimbing Veron untuk diarahkannya.
Sekitar lima menit, Veron sudah melihat keberadaan Hanif yang tengah bersama Zello. Seakan ada obrolan serius dari mereka, mereka sesekali melempar tatapan mata tajam dengan yang akhirnya nunduk dan memindahkan bidak catur.
Eh, mungkin karena mereka sedang main catur, mangkanya interaksi mereka berdua seperti itu. Veron tersenyum lega dengan yang dilihatnya, sempat tadi bertanya-tanya apa ada masalah dengan mereka.
Meskipun sudah terlihat aktivitas Hanif, namun masih berjarak lumayan untuk sampai di tempat mereka bermain catur.
Namun mata Hanif yang kebetulan menoleh ke samping bisa melihat langkah Veron yang tengah menghampirinya. Senyum terulas di bibir Hanif yang akhirnya membuat Zello mengarahkan pandangan mata Veron juga.
"Kakek." Dengan antusias, Veron langsung duduk di samping Hanif.
"Kamu terlihat sangat senang," ucap Hanif hangat.
"Tentu Kek. Seperti yang Kakek lihat."
"Apa kamu bisa main catur?" tanya Hanif kemudian.
"Tidak Kek. Apa kakek mau mengajariku?"
Tek. Bidak catur yang Hanif pindahkan sukses membuat Hanif tersenyum tipis.
"Kenapa?" tanya Veron. Sekarang giliran Zello yang tengah berfikir keras untuk memindahkan bidak miliknya.
Tek, tek, tek. Bidak Zello mendarat dengan cepat dan bibirnya terulas senyum.
"Karena kalau kamu bisa, Zello akan mengajakmu main catur. Dan dengan mudah dia akan mencurangimu. Kakek sudah kalah banyak karena kecurangannya."
Hampir saja tawa Veron meledak mendengarkan ucapan Hanif. Sedangkan Zello memasang wajah mencibir.
"Benarkah Kek?" tanya Veron dengan senyum aneh karena menahan tawa.
"Benar. Kamu lihat saja nanti." Kening Hanif berkerut dan berkerut lagi semakin dalam. Tek. Bidak Hanif mendarat di antara kuda-kuda.
Tek. Dengan cepat Zello mengurung raja dengan bidaknya. "Skak mat." Suara yang keluar dari bibir Zello.
"Kamu lihatkan? Aku kalah lagi," ujar Hanif.
"Hahaha, nggak masalah Kek. Karena kecurangannya, Lilie yakin dia bakal mimpi buruk malam ini."
"Tidak mungkin, selagi kamu tidur di sampingnya. Dia mana bisa mimpi buruk." Goda Hanif.
__ADS_1
Eh.
"Jadi, Kakek yang akan mimpi buruk, karena selalu menangisi kekalahannya," ujar Zello. Zello yang sudah mengakhiri permainan itu beralih menyesap tehnya. Dan pandangannya fokus ke Veron yang tepat di hadapannya.
Menyadari sedang ditelisik oleh mata Zello, Veron beralih duduk di samping Zello. Mendekatkan bibir ketelinganya. "Aku cantik ya?" goda Veron.
Huk. Sedikit tersedak mendengar bisikan Veron. "Ada yang lebih cantik dari kamu. Kamu tahu itu," bisik balik Zello.
"Tapi aku cantik kan?"
"Iya, tapi lebih -"
"Dia lebih cantik, tapi aku cantik kan?" senyum licik mengulas bibir Veron.
Pandangan yang dalam Zello hunuskan ke mata Veron. "Iya, kamu cantik."
"Ehem." Dehem asal Hanif.
"Kalau mau bermesraan jangan di depan orangtua," ucap Hanif kemudian.
"Hahaha Kakek. Cucumu ini sangat menggemaskan. Rasanya aku ingin menyudutkan di ranjang dan mengurungnya." Veron terlihat puas menggoda Zello. Pandangan Zello yang dalam pun berubah dengan sorot mata tajam berbaur dengan sorot yang tidak berani Veron terka. Mendadak Veron menelan salivanya melihat tatapan Zello.
"Lilie, apa kamu mau minum?" tawar Hanif.
"Eh, nggak perlu Kek. Lilie juga mau ke dalam, ingin mengobrol lebih banyak sama mama. Saya kembali kedalam ya Kek." Bergegas Veron bangun dari duduknya.
"Aku ke dalam dulu ya Suamiku," imbuhnya.
Karena tergesa-gesa,Veron tidak membalas ucapan Hanif lagi yang ia dengar sayup-sayup. Dan malah memilih terus melangkahkan kakinya. Yang nggak lama sudah ada Dahlia di depannya.
"Nona."
"Untuk di rumah, kamu kubebaskan tugas dari jabatan asisten. Kecuali aku memanggilmu. Aku tidak terima bantahan."
Baru Dahlia mau buka suara dia sudah di skakmat. "Iya, Non. Tapi kalau keluar rumah bilang sama saya ya!"
Veron memutar bolanya, jengah. Dan berlalu dari sana, mendekat ke tempat Maria berada. Kabarnya, Maria tidak lama di rumah Hanif, jadi Varon sengaja ingin meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya.
"Nggak masalah kan Tante, aku tinggal disini sebelum aku di panggil untuk pemotretan." Sayup-sayup suara terdengar oleh Veron yang masih lumayan jauh dari ruang keluarga.
"Iya ngga masalah dong." Alis Maria bertaut dengan senyum kecut.
"Mama," ucap Veron sembari bergabung dengan mereka.
"Sudah puas ngobrol dengan Papa Hanif?" senyum hangat mengulas di bibir tipis Maria.
"Belum Mah. Tapi aku juga belum puas ngobrol sama Mommy," sahut Veron.
__ADS_1
Dengan gemas Maris mencubit hidung Veron, " oh sweet."