Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Bujukan Rossa


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Veron sudah berada di apartemennya. Badannya remuk sudah karena jadi pelayan club dan pelayan nafsu Dave semalaman.


Entah kenapa Veron merasa Dave lebih mempunyai kekuasaan daripada Zello, yang membuat Veron merasa aman kalau Zello tidak akan mengetahui identitas aslinya. Hanya saja, kalau Rossa membuka jati dirinya dengan keceplosan ke Zello atau apapun itu. Bukankah percuma bila Veron dapat perlindungan dari Dave.


"Aku harus memastikan keamananku dulu, baru aku akan membuat keputusan." Veron menatap langit apartemennya. Menimbang rugi untungnya bila ia lanjutkan atau ia batalkan.


Veron mengambil gawainya dan menekan tombol di aplikasi hijau di sana.


"Hari ini aku menunggu waktu senggangmu. Aku ingin bicara. Kalau tidak mau, kita batalkan saja." Suara tegas Veron berupa voice note ia kirimkan ke Rossa.


Mau tidak mau Veron menginginkan pertemuan dengan Rossa hari ini. Dan Rossa harus menurutinya, bukan sebaliknya yang ia harus menuruti Rossa terus. Veron nggak bisa bila harus tunduk dengan Rossa. Rossa itu licik, dengan kekasihnya sendiri saja tega. Apalagi dengan dirinya. Apalagi perihal pernikahan, bukankah sangat sensitif.


Veron terus memprovaksi dirinya sendiri. Nggak selang lama pesan masuk di ponselnya.


[Nanti sore kita ketemu di cafe Xf T] Rossa.


[Ok] send.


Veron bernafas lega. Dia langsung mengambrukkan tubuhnya dan memejamkan matanya langsung, capek.


Sangking capeknya Veron, ia tertidur dengan sangat lelap. Mungkin bila ada kebakaran ia baru akan terbangun. Tidur dari jam sembilan jam tiga sore lebih baru bangun. Veron yang baru saja terbangun menepuk jidatnya. Bukankah dia harus ke butik Anita. Gara-gara dia bangun kesorean dia menunda untuk ke butik Anita. Dia berencana untuk menemui Rossa terlebih dahulu.


Dengan panjangnya waktu yang ia punya selagi belum datangnya Rossa, Veron memilih untuk makan terlebih dahulu. Sudah mau senja dia baru sempat makan, sungguh menyedihkan.


"Veron Lilie."


Bruff. Huk huk.


"Bikin kaget saja," ucap Veron. Rossa juga langsung duduk di sana.


"Jadi?" tanya langsung Rossa.


"Sepertinya kalian sudah menduga kalau semua bakal kaya gini." Veron menatap datar ke Rossa. "Kamu benar-benar licik," imbuh Veron.


"Memang apa bedanya? Andai kalian menikah itu pun juga nggak ada bedanya. Yang ada aku malah was-was di sini. Takut kamu godain Zello," ucap santai Rossa.


"Kalau sekiranya kamu sudah tahu aku wanita penggoda, kenapa kamu nyuruh Zello buat nikahin aku?" cibir Veron.


"Ngga ada pilihan lain. Aku nggak mungkin pilih artis untuk bersandiwara seperti mu."


"Kenapa nggak pilih orang lain saja. Aku nggak pernah terlibat drama sampai harus sejauh itu."


"Orang lain nggak pintar untuk menutupi identitasnya sendiri. Beda sama kamu. Aku juga nggak nemu kamu gitu aja. Aku tahu kamu juga dari teman aku yang pernah gunain jasa drama kamu. Aku yakin kamu bisa diandalkan."


"Apa maksudnya?"

__ADS_1


"Lihat?" Rossa mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan hasil bidikan kameranya.


Veron melihat galeri yang memperlihatkan dokumen tentang mengenai identitasnya. Yang akhirnya Veron melipat kedua tangannya di dada. "Ini maksudnya apa?"


"Kamu nggak paham juga? Ini hasil penyelidikan Zello. Aku nggak nyangka, Zello nggak bisa lihat identitas asli kamu. Padahal dia orang yang punya kekuasaan lebih."


"Benarkah? Aku kira ini hanya sandiwaramu saja. Kamu saja tahu masa laluku?" Veron ingat betul dengan Rossa yang pertama kali membujuknya dengan imingan duit yang banyak, yang ia akan bisa menghindar dan pergi jauh dari kota ini.


"Iya. Itu karena aku mencari tahu masa lalu kamu. Kalau bukan dari teman aku itu, mungkin aku juga nggak akan pernah tahu identitas asli kamu. Soal Zello, aku fikir dia nggak tahu apa-apa. Dia bukan tipe orang yang mau ribet dengan masa lalu seseorang. Jadi dia hanya fokus ke diri kamu sekarang." Rossa menatap serius ke Veron. Helaan nafas kasar ia hembuskan.


"Jadi, bagaimana? Aku harap kamu tetap mau melanjutkannya. Aku mohon untuk ini. Seumur-umur baru kali aku memohon dengan orang. Dan aku janji keluarga Zello dan Zello sendiri tidak akan pernah tahu tentang identitas asli kamu." Raut Rossa dengan mudah berganti wajah menghiba.


"Apa jaminannya bila semua akan yang sesuai aku harapkan?"


"Maksudnya tentang keamanan rahasiamu kan? Kamu masih menanyakannya? Apa kamu gila. Aku nggak mungkin menyepelekan ini juga, ini akan berdampak juga buat ku. Aku sampai kapan pun tidak akan membiarkan Zello sampai tahu semuanya. Kalau Zello sampai tahu, aku yang bakal mati duluan. Apa kamu lupa, aku yang membawa dirimu kedirinya."


"Rossa-"


"Lilie, sebenarnya kamu sendiri ngajak ketemu aku karena juga menyadari kan? Kalau hanya aku yang megang kartumu. Dan kamu ingin memastikan keamanannya bukan? Aku janji aku akan menjaga keamanan kamu, bahkan sampai kontrak pernikahan kalian selesai."


"Rossa." Suara bass menyela mereka. Veron yang terlalu fokus untuk mencerna ucapan Rossa sampai tidak menyadari ada Zello di belakang Rossa. Entah sejak kapan dia disana. Rossa mendelik mendengar suara itu yang membuat dia langsung mengarahkan pandangannya ke sampingnya. Zello sudah di samping Rossa persis.


"Darl!" ucap Rossa berusaha santai.


"Sedari kapan?" imbuh Rossa.


"Em... Itu." Rossa menelan salivanya, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Mendengar pertanyaan Zello, sudah dipastikan Zello tidak mendengar poin penting pembicaraan dirinya dengan Veron.


"Darling, duduklah dulu!" ucap Rossa lagi.


Pandangan Zello pun juga langsung ke Veron, dengan tatapan mengintimidasi juga tapi apa yang Zello dapat?! Veron hanya masang muka acuh tak acuh. Nggak peduli Zello mau dengar atau tidak. Kalau dengar mungkin itu yang terbaik juga buat dirinya.


"Darl! -" Hembusan nafas kasar keluar dari Rossa, seakan ancang-ancang untuk mengatakan sesuatu yang berat. "Ada yang belum kamu tahu. Sebenarnya - mm -Lilie kerja juga di - club." Rossa dengan hati-hati dan menjeda kalimatnya, mendrama seakan dirinya nggak tahu kalau Zello belum mengetahui faktanya.


"Tapi, cuma sebagai pelayan ko." Imbuh Rossa cepat.


"Kenapa nggak bilang dari awal?" tanya Zello.


"Aku takut kamu salah paham,"sahut Rossa pelan, Rossa beralih menggengam tangan Zello, menunjukkan wajah penyesalan dengan mulus.


Cih. Decak Veron dalam hati.


"Seharusnya Anda tadi mendengarkan dulu sampai selesai secara diam-diam, supaya tahu alasan dia secara gamplang." Sela Veron.


"Darl, maaf ya!" ucap Rossa menghiba, sementara matanya menatap kesal ke Veron sendiri.

__ADS_1


"Hm, sudah terlanjur. Yang penting jangan sampai ke telinga Kakek saja," ucap Zello akhirnya.


"Terima kasih Darl." Rossa tersenyum senang.


"Tuan Zello, Anda masih disini?" seorang pria paruh baya terlihat menghampiri tempat duduk Zello. Pria itu teman bisnisnya, kebetulan memang dirinya tadi mengadakan pertemuan dengan Zello di sini. Yang mangkanya Zello melihat Rossa tengah berbincang serius dengan Veron.


"Tuan. Anda juga masih disini?" ucap Zello.


"Iya, kebetulan restoran ini milik teman saya. Saya tadi menyempatkan sebentar untuk menyapanya."


"Oh... kebetulan saya di sini juga bertemu dengan teman saya." Zello tersenyum ringan ke rekan bisnisnya.


"Teman atau teman?!" godanya.


"Teman dan -calon istri. Kenalkan, ini calon istri saya," ucap Zello memperkenalkan.


Mata Veron mendelik sesaat, yang akhirnya mau nggak mau membalas senyum rekan bisnis Zello. "Sore Tuan." Veron berdiri, yang kemudian membungkuk memberi hormat.


"Astaga, jangan merendah seperti ini. Alangkah baiknya perkenalan dengan berjabat tangan."


"Ah iya," sahut Veron yang sembari menyambut tangannya.


"Senang bisa berkenalan dengan Anda. Anda pasti bangga memiliki calon suami seperti Tuan Zello."


"Terima kasih, itu memang benar."


"Baiklah, sudah sore. Saya duluan keluar, silahkan dilanjutkan lagi perbincangannya."


"Iya. Silahkan."


"Mari Tuan Zello."


"Silahkan. Kebetulan saya juga akan mengantarkan calon istri saya pulang."


"Ah baik baik."


"Ayo Sayang!" ucap Zello ke Veron. "Rossa, aku mengantar Lilie dulu." Imbuhnya.


Rossa mendelik dengan yang ia alami barusan.


"Aku -aku bagaimana?" tanya Rossa terbata.


"Aku lihat mobilmu di depan. Jangan salah paham Rossa. Ini juga akan bagus untuk nama pernikahan nanti. Paling tidak nggak ada kesan perjodohan bisnis atau semacamnya. Nggak masalah kan?"


"Ah yaudah terserah."

__ADS_1


"Memang siapa yang mau diantar sama kamu," ucap Veron yang kemudian berlalu dari sana.


Zello menghembuskan nafas kasar, kesal. "Aku nyusul dia dulu." Dan Zello pun juga berlalu dari sana.


__ADS_2