Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Kita Pulang Ya?!


__ADS_3

*****


Acara kecil-kecilan. Mungkin itu kalimat buat orang besar seperti Mrs Joana. Berbeda dengan Veron dan teman-temannya yang beranggapan itu adalah acara yang meriah.


Tidak semua relawan panti ikut ke acara Mrs Joana. Hanya beberapa saja untuk mewakilkan.


Suasana haru saat Mrs Joana dan putranya-Mikhail- memberikan sambutan. Ketua panti juga tidak lupa untuk di minta ke tempat mereka berdiri.


Selesai dengan sambutan, Veron dan temannya beralih ke sudut ruangan. Karena banyaknya tamu dan dengan penampilan kelas atas. Berbeda dengan mereka yang berpenampilan sederhana.


"Heh, apalah kita ini," ucap teman Veron.


Mereka bertiga berdiri disana. Veron melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Ratna, Gia. Aku pergi dulu sebentar nggak apa-apa ya. Nanti kalau ibu panti tanya, bilang saja aku lagi keluar!"


"Memang mau pergi kemana? Ada ada saja."


"Kebetulan aku ada teman dekat sudah lama tidak ketemu.Dia tinggal di ibu kota juga. Kapan lagi aku bisa ke ibu kota. Please, ya!"


Ratna dan Gia saling lempar pandang yang kemudian mengangguk mengiyakan.


"Terima kasih." Veron beralih meminjam ponsel Gia untuk memesan taxy online.


Tidak lama Veron menunggu taxy pesanannya sudah tiba. Veron tersenyum lebar, rasanya sudah tidak sabar.


Rasa gugup melanda Veron. Perasaannya membuncah, meluap tidak bisa ia utarakan.


Semakin dekat dengan tempat tujuan Veron semakin gugup dengan mata memerah.


Tidak sampai satu jam, taxy yang ia tumpangi berada tepat di depan gerbang kediaman Hanif.


"Sudah sampai, Non."


"Iya, Pak. Tunggu sebentar ya!"


Veron menatap lekat bangunan yang tak terlihat sepenuhnya itu. Rasa gugupnya berubah menjadi rasa sesak. Airmatanya tumpah, mengalir menghujani pipi. Rasa rindu yang sudah lama ia pendam kini terwakilkan dengan air matanya. Rasanya ingin berlari dan masuk ke dalam rumah megah itu. Tapi itu tidak mungkin.


Jauh di lubuk hati Veron, dirinya menginginkan melihat mereka meski sekilas. Mengharap bisa melihat mereka meski hanya dengan cara berpapasan.


"Nona, Anda tidak mau ke dalam? Tenang saja, akan saya tunggu," ucap sopir.


"Tidak, Pak. Saya memang ingin melihat dari sini saja." Suara parau Veron. Tangannya dengan cekatan membersihkan pipinya yang basah.


Tok tok. "Ada yang bisa saya bantu?" tegur security kediaman Hanif.


Dengan buru-buru Veron menggunakan kain untuk menutup wajahnya. Menurunkan kaca mobil.


"Apa ini rumah pak Atmaja?" ujar Veron.


"Oh, bukan. Anda salah alamat. Coba tanya security komplek. Pasti tahu."


"Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih, Pak. Maaf sudah membuat tidak nyaman."


"Tidak masalah." ucap Security dengan senyum.


***


Mobil taxy kembali menjauh dari kediaman Hanif. Veron memejamkan mata di tengah hatinya yang gundah gulana. Rasanya tidak rela. Kesempatan yang secuil, kenapa dirinya tidak diberi kesempatan untuk melihat. Tuhan, rasanya sakit. Bermurah hatilah!


*****


Acara di rumah Mrs Joana semakin meriah, Veron yang kembali ke acara langsung ikut bergabung dengan Ratna dengan Gia lagi.

__ADS_1


"Lama banget," ujar Gia.


"Nggak lama. Tapi karena rumahnya lumayan jauh," sahut Veron. Veron beralih duduk di kursi, berbeda dengan Ratna dan Gia yang masih betah berdiri.


"Kalian tidak capek berdiri terus?" tanya Veron.


"Kita kan disudut Lilie, acaranya tidak kelihatan kalau kita duduk."


"Permisi!"


Suara berat pria menyela datang dari arah berdirinya Gia dan Ratna.


Zello


Veron terlonjak dari duduknya.


Jantungnya seakan meloncat.


Dadanya bertalu dengan cepat. Bermimpikah dia? Sekian lama saling bersitatap. Hati Veron bergemuruh senang. Bibir Veron melengkung indah dengan mata menganak sungai.


Wajah suaminya masih seperti dulu, tampan dengan pesona yang tak luntur dari dirinya. Terlihat air mata yang lolos begitu saja tanpa dihapus oleh sang pemilik.


"Lilie." Zello mencekram bahu Veron lembut. Pandangan Zello beralih ke perut Veron. Tidak ada yang keluar dari bibir Zello. Bibirnya tercekat.


Matanya menatap lekat ke perut Veron lama.


Selama ini Zello beranggapan dirinya bersama Dave. Apa Zello tahu ini anaknya, atau malah berfikir lain? Veron meremas ujung pakaiannya.


Senyumnya memudar. Veron menunduk, tidak berani menatap wajah Zello lagi.


"Kamu hamil?" suara pelan Zello. Tapi dari suaranya, Veron tahu Zello tengah syok.


Belaian lembut tangan Zello di perut Veron berhasil membuat Veron mendongak. Kembali bersitatap dengan Zello.


"A-aku bersama Dave."


Tangan Zello tanpa sengaja mengeras. Menjauhkan kepala Veron dari dadanya. Menuntun Veron ke tempat yang lebih lengang.


"Bicaralah jujur! Jangan berbohong lagi!"


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu semuanya. Kamu pergi dari rumah karena ancaman kan? Jangan bohong lagi! Apa kamu tidak ingin kita bersatu? Apa kamu ingin memisahkan aku dengan anakku?" cecar Zello.


"Ka-kamu tahu ini anak kamu?"


"Tentu saja ini anakku. Memangnya anak siapa lagi." ujar Zello kesal.


Haah. Veron melabuhkan tubuhnya di tubuh Zello. Hatinya merasa lega.


"Katakan, kemana saja kamu selama ini. Mungkin ada saatnya kamu bersama Dave. Tapi aku ingin tahu keseluruhannya. Aku sudah seperti orang gila karena terus mencarimu."


Veron mengeratkan cengkraman tangannya di tuxedo Zello. Setiap ucapan Zello berhasil membuat dirinya berbunga-berbunga.


"Aku terakhir jadi relawan di panti jompo. Mrs Joana salah satu wanita yang aku layani disana."


"Panti jompo??"


"Iya."


Hati Zello mencelos, sedikit tidak rela istrinya berada ada di sana. Meski itu tempat yang mulia, tapi bukankah di tempat seperti itu sangat meletihkan.


"Sudah lama? Kamu tidak ke Swedia?"

__ADS_1


"Untuk apa aku ke Swedia?"


"Nggak, aku pikir - lupakan! Mungkin aku salah mendapatkan info."


"Kita pulang ya!"


"Aku- belum bisa."


"Kenapa?"


"Orang itu-"


"Aku akan menyelidikinya nanti. Bagaimana kalau kamu sementara waktu tinggal di apartemen?! Jadi peneror itu tidak tahu kalau kamu sudah kembali."


"Tapi aku juga masih ada tanggungan di panti. Ada yang menitipkan ibunya untuk aku jaga."


"Biarkan dijaga orang lain," bujuk Zello.


"Dia tidak mudah menaruh kepercayaan ke orang lain."


"Lalu bagaimana denganku?!" Zello menuntun tangan Veron, meletakkan di dadanya yang tengah berdebar kencang.


Zello Menatap dalam wajah Veron.


Nafas hangatnya naik turun, menyapu wajah istrinya.


"Aku akan mencarikan orang kepercayaan untuk menjaganya, bagaimana?"


"Tapi aku nggak bisa pulang hari ini. Paling tidak aku harus pamitan."


Zello mengangguk. "Aku antar kesana ya."


"Aku dan yang lain akan di antar sopir Mrs Joana."


"Biarkan dia bersama sopir Mrs Joana. Kamu denganku! Ya?! Apa kamu tidak merindukanku?!"


Aku sangat merindukanmu, Zello. Sangat merindukanmu. Veron mengangguk.


****


Belum selesai acara, Mrs Joana memperbolehkan Veron dan yang lainnya kembali pulang. Mengingat sudah larut malam dan perjalanan yang jauh.


Seperti yang Zello inginkan, istrinya semobil dengan dirinya.


Tangan Zello tak hentinya menggapai semua yang ada di diri Veron. Pipi, perut dan tangan Veron untuk diremasnya.


"Dia menendang," pekik Zello saat di perut Veron.


"Iya."


"Berapa bulan sekarang?"


"Jalan tujuh."


Haaah. "Sebentar lagi aku akan jadi ayah."


Setelah menempuh perjalanan, mereka berhenti di depan panti dan segera keluar dari mobil.


"Aku belum puas bertemu denganmu. Tapi aku harus pulang. Kalau tidak, kamu tidak akan segera kembali ke rumah. Pagi-pagi sekali aku akan bawa orang untuk menggantikanmu."


Hm. Veron mengangguk.


"Baik-baik, Sayang," ujar Zello dengan membungkukkan tubuh. Mencium perut istrinya.

__ADS_1


"Kamu juga sayang," ujar Zello ke Veron. Mengikis wajah mereka, ******* bibir tipis istrinya. Jantung Zello seakan meloncat karena ulahnya sendiri, merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia dapatkan.


__ADS_2