Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Kek, Lilie Pamit


__ADS_3

Air mata tak hentinya mengalir, bahkan tak jarang diri Veron menangis histeris di depan pintu ruang Hanif.


Mata Veron tak pernah lepas dari Hanif yang sudah berada di dalam ruangan insentif. Dirinya melihat dari kaca kecil di pintu, melihat Hanif yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


"Nona, Tuan Besar akan baik-baik saja." Hibur Zico yang melihat reaksi tangis Veron.


"Baik? Kamu tadi tidak lihat kakek memegang dadanya? Katakan Zico, apa kakek punya sakit riwayat jantung?!"


"Permisi," sela pria berjas putih dengan tergesa memasuki ruang Hanif.


"Iya," sahut Zico pelan.


Air mata Veron lagi-lagi mengalir deras setelah mendengar ucapan Zico. Dilihatnya lagi Hanif yang sekarang tengah di pompa jantung. Veron tak kuasa melihat lebih lanjut. Tubuhya merosot, luruh, bersimpuh di depan pintu.


"Nona," ucap panik Zico. Perlahan Zico memapah Veron untuk duduk di kursi.


"Tuan Hanif akan baik-baik saja. Nona harus yakin."


Veron terisak di tempatnya, hatinya sakit, rapuh dengan pikiran yang kacau. Veron menutup mulut, guna tangisnya tidak semakin pecah.


"Zico."


"Bos."


"Apa yang terjadi?"


"Tadi....Tuan Hanif sakit setelah membuka map."


"Map apa?"


"Aku terlalu panik. Aku belum memeriksanya."


Zello mendengus kesal, dirinya menuju ruang Hanif, melihat keadaannya dari luar.


Hampir sepuluh menit Hanif sudah berada dalam penanganan dokter. Terlihat dari luar dokter yang mengakhiri pertolongan pertamanya. Kemudian perawat memberikan suntikan dan memasang selang oksigen dari hidungnya.


Zello menghela nafas lega, Hanif baik-baik saja.


Tidak lama kemudian dokter pria paruhbaya keluar dari ruangan Hanif. "Dok, kakek saya baik-baik saja, kan?"


"Penyakit jantung itu tidak pernah terbaca, tetapi sekali kambuh bisa fatal akibatnya. Saya harap keluarganya lain kali bisa melihat keadaan dan menjaganya, supaya Tuan Hanif tidak kambuh lagi."


"Sekarang bagaimana keadaannya, Dok?"


"Baru saja Beliau melewati masa kritis. Biarkan dia istirahat dulu di sini beberapa hari. Dalam kondisi pemulihan seperti ini malah akan sangat sensitif dan berbahaya. Tolong dijaga dengan sangat ketat!!"


"Baiklah, Dok. Terima kasih."


Setelah keluarnya dokter disusul dengan perawat, "silahkan bila ingin melihat keadaan beliau. Tapi cukup satu orang saja. "


"Baiklah, Sus."


Dengan cepat Zello melihat keadaan Hanif di dalam. Wajah lemah terbaring di atas ranjang. Tapi Zello sangat bersyukur kakeknya sudah melewati masa kritis. Sekarang hanya tinggal menunggu kakeknya siuman.


Puas melihat Hanif, Zello keluar ruangan.


"Zico-" Zello menggantung ucapannya. Karena terlalu cemas dengan Hanif dirinya sampai tidak memperhatikan Veron yang tengah duduk terisak di kursi panjang.


"Siap, Bos."


"Kembalilah ke kantor! Aku akan di sini sebentar."


"Baik."


Zico berlalu dari sana, menuruti ucapan bosnya.


Pandangan Zello terarah lagi ke Veron. Wajah berantakan istrinya terlihat memprihatinkan.


Dengan langkah kecil Zello menuju Veron duduk. Veron mendongak, memperlihatkan wajah berantakan dengan wajah sembabnya.


"Kakek baik-baik saja."


Veron mengangguk dengan senyum tipis, menghapus air matanya yang tersisa. Jarak duduk Veron dengan pintu ruang Hanif yang dekat membuat Veron tahu keadaan Hanif karena dirinya dengan jelas bisa mendengar ucapan doktor.


"Kamu tidak ingin lihat kakek?"


"Memang bisa? Aku yang sudah membuat kakek sakit."


"Maksudnya?"


"Kakek tahu masalaluku."


"Apa?" Zello terkesiap. Sesaat dirinya mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


"Karena aku kakek masuk rumah sakit.,"


"Bagaimana bisa?" ucap kesal Zello.


"Tadi ada yang mengirim foto tidak senonohku. Dan ada tulisan tentang pekerjaanku dulu."


Zello membuang nafas frustasi, entah apa yang akan ia katakan ke Hanif bila sudah membuka mata nanti.


Zello menatap Veron sesaat, wajah Veron yang berantakan membuat dirinya sedikit mencelos.


"Aku rasa selama kakek belum sadar kamu bisa melihatnya."


"Benarkah?" tanya Veron. Dirinya senang, tapi merasa tidak pantas. Dirinya masih duduk dengan wajah bingung.


Setelah sekian menit baru Veron berani berdiri dari duduknya. Melangkah pelan memasuki ruang Hanif.


Veron berdiri di samping ranjang Hanif, menatap sendu pria kesayangan yang jadi panutannya itu. Tubuhnya yang terbaring lemah tidak mengurangi aura wibawanya.


"Kakek aku-" Ingin rasanya melontarkan kata maaf dan menjelaskan semua. Tapi ucapan dokter membuat dirinya mengurungkan diri.


Masa pemulihan lebih sensitif ketimbang yang lain. Andai dirinya salah ucap entah apa yang akan terjadi.


Meski Hanif belum sadar, Veron takut alam bawah sadarnya bisa merespon dan malah membahayakan kesehatan Hanif lagi.


'Lagipula, apa yang akan aku jelaskan. Apa aku harus bilang masalaluku adalah seorang wanita malam?'


'Ini bukan mauku, Kek. Aku seakan masuk begitu saja dalam sebuah hubungan, yang sialnya aku masuk dengan membawa aib besar untuk keluarga Kakek. Andai aku bisa menolak hubungan itu lebih lanjut. Mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. Tapi itu juga bukanlah salahku, iya kan, Kek? Hanya orang bodoh yang menolak tawaran menggiurkan. Bagaimana aku tidak tergiur menikmati semua, kasih sayang, kehangatan keluarga, dan juga sebuah hubungan.'


'Aku memang tak tahu malu, Kek. Dengan aib begitu besar bisa-bisanya aku masih berdiri di sini.'


Veron menghela nafas, tidak mengeluarkan suara itu jauh lebih bagus. Karena belum tentu Kakek mau mendengar suaranya.


Veron menatap intens pria tuanya, yang kemudian melangkah kecil untuk keluar.


Diluar kamar Hanif, Veron langsung mendapati Zello yang masih di tempat yang sama.


"Kamu mau pulang?" tanya Zello.


Veron menggeleng. Pikirannya kacau. Hatinya sudah hancur. Mungkin seperti hancurnya hati pria tua yang sekarang tengah terbaring lemah disana. Veron yakin dirinya sudah membuat Hanif sangat kecewa dan juga merasa sangat sakit. Seperti ke Zello beberapa waktu yang lalu. Andai dengan Zello dirinya masih sanggup untuk bersitatap. Tapi apa dirinya masih sanggup untuk bersitatap dengan orang yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri. Sementara dirinya tidak sengaja sudah menaruh luka dan juga kotoran ke dirinya.


"Kenapa?" tanya Zello melihat wajah bimbang Veron.


"Tidak apa-apa. Aku hanya masih syok."


"Aku sudah memanggil Dahlia kesini untuk menemanimu."


Sesampai Dahlia, Zello pulang ke rumah. Menyelidiki dan ingin membuang sisa foto itu. Sesampai rumah Zello menemukan ada sobekan-sobekan foto di tong sampah. Segera Zello membakarnya. Zello tak ingin Hanif masih memikirkan masa lalu Veron.


Siapa yang mengirim? Rossa?


'Dan Kakek?Apa kakek bisa menerima Lilie?'


Baru saja Zello luluh menerima Lilie, membenarkan ucapan Veron bahwa kematian Zein hanya dari sebelah pihak-Dave-.


Tapi sekarang? Apa pernikahannya akan kandas karena Hanif yang tidak mau menerima masa lalu istrinya?


***


Sampai malam hari, keadaan Hanif masih saja sama. Belum sadarkan diri. Membuat Veron gelisah.


"Zello, bagaimana Kakek?" ujar tidak sabar Veron.


Sudah sepuluh menit dokter memeriksa keadaan Hanif. Tapi belum selesai juga.


"Tenang saja, dokter sudah memeriksanya."


Terbukanya pintu ruang Hanif membuat Veron dan Zello langsung mendatangi dokter di depan pintu.


"Mari keruangan saya!"


Dengan rasa cemas Veron dan Zello ikut ke ruang dr. Cipta.


"Ayo silakan duduk!"


"Kenapa, Dok?" tanya Zello langsung.


"Tidak ada yang serius. Dari ilmu psychology yang saya dapat sedikit. Hal ini wajar, dibawah alam sadarnya, Tuan Hanif memilih meredam emosinya ketimbang membuka mata. Karena mungkin dia sadar, orang terdekatlah yang membuat dirinya terluka atau syok. Bila sudah siap nanti, Beliau pastinya akan siuman. Kita tunggu saja perkembangannya sampai dua hari nanti. Baru akan diberikan pemeriksaan lebih lanjut."


"Baiklah, Dok. Saya ucapkan terimakasih. Paling tidak saya sudah tenang sekarang."


"Syukurlah. Yang jelas jangan sampai membuat dia syok lagi!"


"Baik, Dok."

__ADS_1


Berbeda dengan Zello yang mulai tenang, Veron terlihat murung. 'Kakek enggan membuka mata karena diriku'


***


'Kek, sekarang aku masih berani berdiri di sini karena Kakek masih terpejam. Katakan, Kek? Apa aku harus senang melihat kakek demikian, karena kalau kakek membuka mata, Lilie belum siap untuk bersitatatap dengan kakek. Lagipula, Lilie takut tidak diterima oleh Kakek lagi. Katakan, Kek! Lilie harus tetap tinggal atau bagaimana, Lilie .... akan mengabulkan buat Kakek.' Veron menelan salivanya.


'Buka matamu, Kek. Katakan!' Veron meremas jemarinya sendiri.


Sedih, cemas dan takut. Air mata tak kuasa Veron bendung, bayangan Hanif marah nanti membuat dirinya gelisah dan takut. Tapi Veron juga tak kuasa melihat Hanif terus terbaring di ranjang rumah sakit.


Bahkan untuk memegang Hanif saja Veron sekarang perlu izin dulu. Dirinya kotor, selalu itu yang ada dalam benak Veron. Setiap berkunjung ke ruang inap Hanif, Veron cukup menatap tanpa berani melakukan apapun ke Hanif.


Andai Veron keberanian itu, Veron rasanya ingin menyentuh tangan Hanif, menggenggamnya lembut.


Mata Veron membulat, melihat sedikit pergerakan tangan Hanif. Veron mengucap syukur. Dilihatnya kelopak mata Hanif yang berkedut, seakan sudah siap untuk membuka mata.


Dada Veron berdegup kencang, rasa senang bercampur haru. Pandangan Veron juga tertuju dengan Zello yang berada di luar ruangan.


Dengan segera Veron keluar dari ruangan itu. "Zello, Kakek.... "


"Kenapa?"


"Sudah siuman."


Zello terlonjak senang, dengan segera masuk untuk melihat Hanif, tidak lama kemudian disusul dokter yang datang dan memeriksa Hanif.


Veron gelisah, dirinya jalan hilir mudik di depan pintu. Terbukanya pintu, keluarlah dokter yang kemudian Zello.


Zello menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa Veron artikan. Veron juga hanya bisa membalas tatapan yang sama. Veron bimbang, rasanya ingin melihat keadaan Hanif, tapi dirinya terlalu takut. Setelah sekian lama Zello menatap diri Veron, tidak ada yang keluar dari bibir Zello.


'Apa, kakek tidak menanyakanku?' Rasanya Veron ingin melontarkan kata itu. Meski bungkamnya Zello sudah mewakilkan semua.


"Kakek harus istirahat dulu," ucap Zello akhirnya. Lagi-lagi Veron mengangguk. Hanya sekedar untuk melihat Hanif dari kaca saja Veron tidak berani.


Dengan langkah berat Veron duduk di ruang tunggu. Yang kemudian di susul oleh Zello yang ikut duduk disana. Anehnya, Zello ikut terdiam. Membuat Veron terus berprasangka buruk.


*****


Dua hari Hanif melakukan pemulihan di rumah sakit, sembuhnya Hanif membuat Veron tidak berani mendatanginya lagi. Tidak di tanyakan keberadaan Hanif seharusnya Veron sadar dan tahu harus menyimpulkan apa. Tapi rasa egoisnya menampik semua itu.


Pulihnya keadaan Hanif membuat Hanif dibawa pulang ke rumah. Dan langsung masuk ke kamarnya. Tanpa peduli ada banyak pelayan yang sudah ingin menyambutnya. Sementara Veron memilih untuk mengurung diri di kamar.


Sampai hari ketiga Veron terus berada dalam kamarnya, Veron tidak mau dirinya yang berada dalam lingkup rumah membuat Hanif tidak nyaman.


Namun Veron juga tidak bisa terus seperti itu. Menjelang makan malam, setelah mengumpulkan banyak keberanian dan egonya, Veron sudah duduk di meja makan. Veron merindukan saat dirinya makan bersama dengan mereka.


Hati Veron mencelos sakit, hadirnya dirinya di meja makan seakan tidak diterima sama sekali. Zello yang hanya terdiam. Sementara Hanif tak kunjung ikut bergabung.


Dini, pelayan rumah dengan cekatan mengambil piring kosong dan menaruh beberapa lauk di atasnya. Menaruh di atas nampan dan tidak lupa dengan air dan membawa nampan itu pergi.


"Jangan difikirkan! Ayo makan!" ucap Zello.


Tidak terasa air mata Veron merembes, mengalir cepat di pipi tirusnya.


****


Setelah kejadian itu, Veron memilih terus di kamar, dari pagi hingga malam dan berputar kembali menjadi pagi.


Tidak ada yang bisa Veron lakukan, kecuali hanya terus terdiam di kamar dengan pikirannya yang terus berkecamuk.


Beberapa pesan masuk membuyarkan lamunannya. Sudah lama memang dirinya tidak memainkan benda pipih itu. Dengan malas diambilnya ponsel yang tergeletak di atas nakas.


***


"Lilie, apa yang kamu lakukan?"


Gerakan tangan Veron yang tengah memasukkan pakaian ke dalam koper pun berhenti. Dirinya mendogak, menatap suaminya yang dirasa beberapa hari ini mulai menghangat. Untuk sekadar mencairkan suasana atau sekadar menghiburnya dirinya. Entahlah,


"Kakek tidak mengharapkan aku disini lagi," lirih Lilie.


"Kakek hanya butuh waktu," ucap Zello.


"Aku tidak mau memaksakan kehendakku sendiri, Zello."


"Bertahanlah!"


"Sudahlah, Zello. Aku lelah. Please, jangan halangi aku!"


Dengan cepat Veron menutup kopernya.


"Lie."


'Egois dan tak tahu malu. Wanita berlatar belakang sepertiku aku pikir itu cukup untuk melanjutkan hidup. Terus berusaha egois, meski diacuhkan. Dengan tak tahu malunya terus bertahan tanpa bercermin siapa diri ini. Berharap semua akan luluh dan kembali kumiliki.'

__ADS_1


'Tapi seperti hukuman bagiku, masalaluku akan terus melekat, tidak rela aku mendapatkan keinginanku, kebahagiaanku. Atau mungkin, tidak akan pernah membiarkan aku untuk mendapatkan kebahagiaan.'


'Kek, Lilie Pamit.'


__ADS_2