
"Veron..."
Zein melangkah mendekat ke Veron. Mata penuh harap dan damba terlihat jelas oleh Veron.
Veron menjulurkan tangan menolak Zein melangkah lebih maju. "Tuan Zein. Tolonglah bersikap waras!"
"Tidak ada yang kebetulan sesempurna ini. Wajahmu, suaramu, cara berjalanmu. Dan Dave. Itu tidak mungkin hanya kebetulan semata."
"Apa maksudnya dengan Dave?" ujar Veron dengan wajah sesantai mungkin. Veron harap helain rambut di wajahnya bisa menutupi bintik-bintik keringat dinginnya.
"Wajah Anda terlihat cemas. Nona.... "
Veron terdiam sesaat detak jantungnya berdegup kencang.
"Apa yang ingin Anda bicarakan perihal mengenai saya dengan Tuan Dave, Tuan?"
"Tidak perlu berkelit."
"Entah ucapanku ini sesuai dengan pertanyaan isi hatimu atau tidak. Tapi saya akan mengatakannya." Veron menatap intens Zein. Veron menyemangati dirinya sendiri untuk menyelesaikan urusannya dengan Zein.
"Pertama, seperti saya beberapa kali bertemu dengan Anda. Saya juga beberapa kali bertemu dengan Tuan Dave di perusahaan Zello. Tuan Dave adalah salah satu investor di perusahaan suami saya. Yang kedua, seperti halnya Anda menyangka saya teman wanita Anda. Tuan Dave pun juga demikin. Andai Tuan tidak percaya, Anda bisa tanyakan sendiri. Yang ketiga, sepertinya Anda salah baca raut wajah saya. Ini bukan wajah cemas, tapi wajah tidak nyaman. Siapa yang akan nyaman terus diperlakukan seperti ini oleh orang asing. Tuan, saya mohon! Berhentilah bertingkah konyol. Saya benar-benar merasa terganggu karena ulah Anda." Veron menatap tajam ke Zein. Dadanya bergemuruh menahan emosi.
Zein terdiam, membuang pandangan arah ke tempat lain sesaat.
"Permisi, suamiku sudah menunggu."
"Tunggu! Setelah kamu capek-capek memberikan penjelasan, kamu tidak penasaran dengan pendapatku?!"
Mata Zein menatap dalam Veron, sesaat senyum menyeringai. "Bahkan gaya bicara penolakan kamu sama persis seperti dulu. Jangankan suara kamu yang jelas terdengar. Bahkan jumlah tahi lalat yang ada pada tubuhmu pun aku ingat dengan jelas. Jangan kamu pikir dengan memberi tahi lalat palsu di lehermu akan membuat aku ragu kamu adalah Veronku. Titik lemah yang membuat kamu menjerit kecil aku juga masih sangat mengingatya." Zein memejamkan mata, bayangan indah bersama Veron benar-benar membuat dirinya mabuk.
Zein membuka mata perlahan. "Aku merindukanmu."
Veron benar-benar tidak menyangka Zein akan berbicara sejauh itu. Untung dirinya menambah tahi lalat tidak hanya di leher, tapi juga di bagian tubuhnya yang lain.
Tanpa berucap lagi Veron melangkah meninggalkan Zein. Terlalu lelah berurusan dengan Zein. Entah apa yang dipikiran Zein. Ingin memiliki dirinya, tetapi nyatanya tidak bisa melepas istrinya juga.
Tepukan tangan yang meriah membuat Veron mempercepat langkahnya untuk segera kembali lagi ke sisi Zello.
"Apa yang sudah aku lewatkan?" tanya Veron.
"Nggak ada, Sayang. Hanya saja itu antusias semua tamu untuk perlombaan yang sebentar lagi akan di mulai."
"Oh."
"Saya akan ke tempat panitia dulu," ucap Zico.
"Ayo kita ke area perlombaan!" tuntun Zello meraih pinggang Veron. Begitu juga Hanif, Beni dan Dahlia. Mereka tidak sabar melihat aksi Veron sebagai orang baru dalam keluarga.
Sesampai area perlombaan Zico langsung menghampiri Zello. Rasa kesal terlihat jelas di wajahnya.
"Bos."
"Iya, kenapa?"
"Kenapa aku terdaftar dalam perlombaan?"
"Kan memang biasanya kamu juga ikut."
"Biasanya nggak aneh-aneh seperti ini lombanya."
"Ikut! Kalau tidak kamu jadi asisten yang di pusat luar negeri."
Zello meraup mukanya kasar, kepala rasanya mau pecah. Capek badan ditambah capek hati karena kelicikan bos yang tidak bisa di tolak.
"Kenapa? Kamu nggak suka karena berpasangan lombanya. Anggap saja pasangan kamu orang yang kamu kenal. Eh tapi kan kamu memang kenal," goda Zello. Sementara Veron langsung terkekeh kecil.
"Memang lombanya apa saja Tuan?" sela Dahlia.
"Nyari koin di pasir, merias pasangan perempuan, berenang, sama karaoke."
"Ouuhh." Dahlia manggut-manggut paham.
"Ayo kita bersiap-siap."
"Asyik. Aku ikut juga. Aku mau daftar." Dahlia berucap antusias. Karena baru kali ini ikut acara perusahaan. Karena statusnya sekarang asisten Veron, berbeda dengan dulu yang hanya kerja di rumah Hanif saja.
"Sudah penuh Dahlia." Sahut Veron.
"Tapi dia sudah didaftarkan. Berpasangan dengan Zello."
"Apa?" Dahlia tercengang sesaat yang kemudian melirik Zico yang menyugar rambutnya frustasi.
"Kamu tidak dekat dengan siapapun. Mangkanya kamu dipasangkan dengan Zigot," ujar Veron.
Tidak banyak yang ikut perlombaan, dua puluh pasang pria-wanita. Yang notabene semua adalah bawahan atau karyawan dari perusahaan Golden Grup.
Bak-bak tanggung sudah siap di area permainan. Bak berukuran 50cm x 50cm dengan tinggi 20 cm, berisi penuh dengan pasir dan hanya ada satu koin didalammya.
Akan menjadi tantangan yang menggiurkan buat peserta. Terlebih dengan hadiah yang sangat besar. Dengan nominal lima puluh juta untuk juara pertama. Sementara juara setelahnya tidak jauh dari nominal pertama. Dan tentu saja juara satu tidak berlaku untuk Zello dan Veron. Mereka terlibat dalam perlombaan hanya untuk memeriahkan acara.
Dengan duduk bersila dengan saling berhadapan, pasangan mulai kompak memasukkan tangan mereka ke dalam pasir. Jangan tanyakan bagaimana dengan Zello yang tidak tahu malu. Bukannya fokus mencari koin tapi fokus memainkan telapak tangan Veron yang sudah di tangkapnya. Bak dengan warna yang tidak tembus pandang membuat Zello semakin leluasa memainkan tangan halus istrinya.
"Hentikan. Nanti kita kalah," ketus Veron.
"Kita kalah atau menang kan sama saja, Ay."
"Ay tu apa?"
"Ayang."
"Ouuh."
"Tapi aku seriusan. Aku pengin buat Kakek senang."
__ADS_1
"Kamu selalu fokus buat senang kakek, bukan suami."
Veron terkekeh kecil sesaat kemudian menoleh Hanif yang nggak jauh dari sana. Hanif terlihat sangat senang. Bibirnya merekah dengan sempurna, gelak tawa tak jarang keluar dari bibirnya.
Semua antusias berlomba, siapa yang tidak tergiur dengan lima puluh juta. Termasuk Dahlia. Dahlia terlalu antusias, tangannya dengan lincah mengobrak-abrik pasir guna mencari koin. Hanya saja pasangannya, Zico tak banyak melakukan pergerakan tangannya. Tangannya selalu ditepi dengan gerakan kecil saja. Dahlia mencebik dengan sikap Zico yang demikian.
Semua paham betul, permainan ini pasti akan membuat tangan sesama pasangan saling bersentuhan. Mangkanya Zico tak seantusias yang lain.
Mata Zico yang kebetulan tengah ke arah Dahlia dengan jelas bisa melihat wajah semringahnya dan langsung berdiri dari duduknya.
"Lima puluh juta...! Lima puluh juta...!" Dahlia berteriak jejingkrakan dengan koin di tangannya.
"Nona Tuan. Lima puluh juta."
Zico yang masih duduk di tempatnya hanya mendongak melihat tingkah Dahlia.
"Zico lima puluh juta."
"Hm."
"Tidak -tidak." Sela peserta wanita lain.
"Lomba baru saja dimulai tapi kamu sudah dapat saja. Tidak sah tidak sah."
"Bilang saja iri." cetus Dahlia. "Lima puluh juta ...," unjuk Dahlia dengan koin.
"PREPARE LOMBA KEDUA.... " Teriak panitia.
"Selamat ya Dahlia...."ujar Veron sembari memberikan pelukan.
"Makasih Nona."
"Jangan lupa fifty fifty," ucap Zello.
"Ah. Zico kan nggak kerja," ucap Dahlia.
"Iya, buat kamu saja." ucap Zico datar.
"Benarkah Zico?"
"Iya."
"Ah, Zico...." Dahlia jejingkrakan siap berhambur ke pelukan Zico.
"Stop, stop!" Tolak Zico.
Veron terkekeh kecil melihat kelakuan Dahlia dan Zico yang tak pernah akur.
"Aku tidak mau ikut lomba yang kedua," cetus Zico.
"Loh, kenapa? Siapa tahu kita menang lagi."
"Kita nggak mungkin menang. Aku nggak bisa ngerias wajah kamu."
Zello membuang nafas kasar, mendekati Zico dan menepuk bahunya. "Ikutlah! Kapan lagi seru-seruan bareng."
"Saya nggak bisa Bos," jawab Zico ketus.
"Nanti kamu bayangin saja Dahlia itu wanita yang kamu suka," saran Zello.
"Ck." Zico berdecak kesal.
"Bayangin saja mukaku itu adalah muka teman kamu. Misal muka tuan." saran Dahlia.
"Terserah." Sahut ketus Zico.
"Giliran suruh bayangin muka suamiku kamu mau. Kamu suka ya sama suami aku." Plakk. Veron memukul kencang bahu Zico.
'Dasar perempuan, selalu serba salah.' batin Zico.
"Kamu kenapa malah nyentuh-nyentuh Zico." Kesel Zello. Segera diraihnya tangan Veron dan diapitkan di lengannya sendiri.
"Oh, kamu nggak rela kalau Zico kupukul."
"Aku nggak rela kamu nyentuh pria lain."
"Carilah kekasih Zico! Kamu tidak malu dikira belok?!"
'Aduh, kenapa malah pada heboh sendiri." Dahlia menepuk pipinya beruntun. Berharap kebisingan di depannya hanyalah mimpi.
"Tuan, Nona. Lomba sebentar lagi di mulai."
"Terus?"
"Ya ngga apa-apa sih."
Mau mulainya perlombaan yang kedua. Veron tengah berbisik ke Zello yang menjadi tanda tanya orang yang di sekelilingnya.
"Khem. Zico dan Dahlia bersiaplah. Kami akan dukung kalian disini."
Masih di tempat yang sama, properti yang digunakan untuk perlombaan sudah diganti. Dua bangku untuk satu sepasang pemain. Sementara ada meja kecil yang digunakan untuk menata alat make up.
"Maksudnya, Nona sama Tuan tidak ikut?" tanya Dahlia.
"Mm, kami tidak ikut. Alasannya tidak bisa kami jelaskan. Rahasia." Zello menggosok hidungnya dengan mata melirik ke Veron. Sementara Veron hanya nyengir kuda.
Zico pasrah. Terserah bosnya. Mau berkemauan seperti apa tetap tidak akan menang bila harus melawan bosnya. Yang akhirnya dia nurut, duduk di bangku berhadapan dengan Dahlia.
Sebelum acara dimulai. Peserta diberi lima menit untuk berdiskusi. Karena yang memakaikan si pria. Otomatis mereka membahas bagaimana cara mengaplikasikan alat-alat mini itu ke wajah.
"Ini apa?" tanya Zico.
"Eyeliner."
__ADS_1
"Cara makainya?"
"Tidak perlu tanya. Nanti ketika kamu mau memakaikannya aku tuntun sedikit."
Zico mengangguk kecil lalu membanting benda imut itu ke meja.
"Issh, kamu ini." Dahlia mencebik kesal.
Tidak hanya Dahlia. Semua peserta juga masih sibuk membahas yang sama.
Sesuai panduan panitia, tahap awal sang pria dipersilahkan untuk menghapus olesan make up pasangannya.
Dengan wajah datar, Zico menghapus riasan di wajah Dahlia. Tangannya dengan kasar menghapus polesan di wajah Dahlia dengan cepat. Mereka yang bersitatap membuat dada Dahlia berdegup kencang. Jemarinya saling bertaut antara gugup dan juga ... kegirangan.
'Sudah dapat lima puluh juta, dapat sentuhan dari Zico. Ah bahagianya.'
Plug. Zico membuang asal kapas yang baru saja digunakan.
"Aduh." Pekik peserta seorang wanita. Suaranya yang cempreng sontak membuat orang -orang fokus ke dirinya.
Sebagian besar mengira perempuan itu tengah kesakitan, ternyata salah besar. Setelah melihat banyak yang menahan tawa karena wajah wanita itu. Termasuk Dahlia. Zico yang terus berwajah talenan pun tersenyum geli.
Dahlia yang kembali melihat Zico pun menggerutu kesal. "Giliran yang begitu saja bisa buat kamu senyum."
"Kenapa kamu malah hapus alis aku?" cempreng wanita itu lagi.
"Ya kamu nggak bilang."
"Aku nggak mau ikut lomba ah." Ujar wanita itu sembari berdiri dari duduknya.
"Masa, yakin nggak mau lima puluh juta?"
Dengan terpaksa perempuan itu kembali duduk.
"Sok yakin kalau bakal menang."
"Aku jago merias."
"Oh, sering mangkal di lampu merah ya?!"
"Astaga ini perempuan, ada yang mau tukeran pasangan nggak?!" teriak peserta pria. Ricuhnya mereka berhasil membuat semua tertawa.
Zico masih setia dengan senyum gelinya hingga membuat Dahlia mabuk merasakan manisnya senyuman itu.
"Giliran wanita kaya gitu bikin kamu senyum-senyum. Apa perlu aku botakin alisku dulu, supaya kamu bisa senyum sama aku." gumam Dahlia.
Gumaman Dahlia dengan jelas bisa di dengar Zico. Senyumnya perlahan meredup dan hilang. Namun pandangan matanya beralih ke Dahlia penuh, menelisik wajah dan juga tubuhnya.
"Kamu ingin membuat botak alismu di tengah badanmu yang kecil itu? Mau jadi tuyul?!"
What?
"Nona... " Lirih Dahlia meminta pembelaan. Sementara Veron sedang menahan tawa karena ucapan Zico.
"Justru kecil itu imut dan menggemaskan. Dan awet muda nanti." Hibur Veron.
Dahlia menunduk menelisik tubuhnya, dirinya jadi insecure. Pria maskulin bertubuh atletis di depannya yang penuh pesona. Apa iya bisa tertarik dengan dirinya yang tingginya dibawah rata-rata.
Tanpa menghiraukan ucapan Veron, Zico mulai memberi riasan ke wajah Dahlia. Memulai dengan memoleskan pelembab ke wajah Dahlia. Seketika Dahlia memegang dadanya karena sesak.
"Huuuuuuuuuuuufz." Dahlia menghembuskan nafasnya dengan pelan dari mulutnya. Zico mengernyit dan seketika dapat balasan cengiran tanpa dosa dari Dahlia.
Selesai tahap awal Zico mulai dengan riasan yang sudah diajarkan Dahlia. Mengaplikasikan dengan asal dan kasar. Mau kasar mau asal, Dahlia terus memegang dadanya yang masih sesak.
Setelah hampir setengah jam, riasan Dahlia sudah hampir selesai. Yang terakhir Zico tinggal memoleskan lipstik di bibirnya.
Masih saja Zico memasang wajah datar, meski begitu Dahlia bisa merasakan tangan Zico yang sedikit bergetar. Bibir Dahlia yang bermula bungkam natural menjadi melengkung ke atas karena merasa terhibur dengan tangan Zico yang masih saja bergetar. Sialnya senyuman Dahlia malah membuat lipstik yang dipegang Zico melewati jalur garis bibir Dahlia.
"Yaah.... bersihkan pelan-pelan pakai kapas Zico! Kamu juga Dahlia, kegirangannya jangan sekarang!" goda Veron.
Dengan kasar Zico membersihkan coretan lipstiknya. Selesai sudah. Zico membuang asal lipstik hingga jatuh dan bergulir ke lantai. Siapa sangka, lipstik berhenti tepat di depan wanita yang baru saja bergabung di acara tersebut. Wanita itu tersenyum tipis mendapati lipstik di depan kakinya. Jalan anggun melewati lipstik yang tergeletak di lantai.
Suara panitia mengakhiri waktu yang sudah tersedia. Membuat semua peserta wanita langsung mengambil cermin.
"Jelek banget aku. Katanya pintar merias." suara cempreng wanita.
"Ya kali laki-laki pintar merias."
"Parah banget ini namanya." Perempuan itu nampak cemberut dan matanya mulai berkaca-kaca yang kemudian menjadi buliran embun di sudut matanya.
"Sudah jangan nangis!" Dihapus air matanya dengan tissu yang tersedia. "Walaupun alismu tadi botak dan sekarang nggak rapi kamu tetap cantik kok." Belaian lembut dia berikan di pipi rekannya.
"Dusta sekali," gumam Dahlia ke Veron.
"Bilang saja kamu iri," tandas Veron.
"Nggak, Nona."
'Nggak salah maksudnya'. Dahlia menoleh ke Zico yang masih saja berwajah datar.
"Aku ke toilet dulu," ucap Zico.
"Perasaan kalau ku lihat ujung-ujungnya ke toilet terus." Gerutu Dahlia.
"Mukamu bikin mules."
"Aishh Nona."
**
Pesan beruntun di ponsel Zico menghentikan langkahnya sesaat. Di ambil benda pipih di saku celananya.
Zico langsung membuka pesan itu. Seketika dadanya berdegup kencang dengan mata memerah setelah melihat pesan itu. Kepalanya bahkan berasa mau pecah.
__ADS_1
Foto Lilie dan Zein dengan tubuh polos, bagaimana bisa?Syoknya Zico hingga membuat ponselnya terjatuh ke lantai. Sebelum ada yang melihat Zico segera mengambil benda itu. Seketika itu pula Zico melihat Zein berada di depannya.