
Dinginnya Zello, tapi Desy yang terlanjur lihat Zello tidak bisa tinggal diam. Kapan lagi bisa ketemu Zello. Takutnya Zello keburu balik ke Ibu Kota.
"Tuan." Zello menatap kesal ke Desy.
"Saya ingin bicara Tuan, sebentar saja!" Dengan terpaksa Zello mengikuti langkah Desy ke tempat lain, menjauh dari teman kolega Zello, menuruti permohonannya. "Katakan!"
"Saya hanya ingin tanya keadaan Veron? Karena nomornya tidak pernah aktif."
Zello senyum mencibir, Desy, Veron, Dave. Bukankah mereka dulu satu tempat?
"Aku nggak tahu!"
"Maksudnya?"
"Tanyakan saja dengan Dave!"
"Maksud Tuan apa?"
'Apa Zello sudah tahu semuanya?'
"Teman kamu, Veron. Sudah kembali ke habitatnya semula. Kamu tahu kan maksudku?!" cibir Zello.
Desy bergeming sesaat, "mak-sudnya, Anda tahu kalau -"
"Iya. Sudah kan bicaranya, saya sibuk." Potong Zello. Dirinya sudah melangkahkan kaki, menuju dimana temannya berada.
"Tunggu, Tuan!" sergah Desy. Desy dengan cepat menghalang langkah Zello.
Dada Zello bergemuruh, tangannya mengepal.
"Tuan, mungkin yang Anda tahu tentang Veron adalah kebenaran. Tapi bukan berarti semua yang ada di Veron juga adalah kebohongan. Saya bicara bukan berarti membelanya. Hanya saja saya tahu dia tidak punya siapa-siapa lagi. Sementara dirinya sangat berharap dengan Anda."
"Veron sangat mencintai, Anda. Keluarga Anda. Anda tidak pernah tahu seperti apa Veron selalu membanggakan keluarga Anda, dan juga Anda."
Nafas Zello naik turun tidak teratur, sesaat dia juga seakan menahan nafas. Tidak ada yang paham yang sudah ia rasakan, sakitnya di bohongi setelah ia memaafkan ternyata istrinya tidak menghargai semua itu. Dengan mudah istrinya meninggalkan mereka, hanya karena kakek yang tengah emosi sesaat.
Zello mencibir, "sudah selesai!"
"BELUM," ucap langsung Desy.
"Saya ingin menceritakan sedikit kehidupan masa lalu sahabat saya. Tolong! Jangan pergi dulu. Setelah ini, saya janji tidak akan mengganggu Anda lagi."
Zello terdiam, sesaat menatap jengah ke Desy.
"Di perkosa berulang kali oleh orang yang membesarkannya, berniat untuk bunuh diri." Desy menarik nafas. "Pasti Anda tidak tahu kan?"
"Veron dulu hanya anak yang terlunta-lunta di jalanan. Tidur di jalanan, di bawah kolong jembatan, jadi pengemis, jadi pengamen. Hingga suatu hari, Veron merasa jadi anak yang paling beruntung diantara teman yang lainnya saat itu. Dirinya diangkat jadi anak seorang duda. Veron yang tidak tahu ayahnya dimana, siapa ibunya tetapi sesaat ada orang yang memberikan peran itu semua. Tidak ada yang bisa menggambarkan bahagianya dia saat itu. Meski Veron sudah diadopsi waktu itu, dirinya tidak pernah lupa untuk mengunjungi teman-temannya lagi yang notabenenya masih terlunta-lunta di jalanan. Dengan antusias Veron selalu membanggakan ayah angkatnya."
"Waktu itu, umur Veron menginjak 15 tahun. Hujan badai di malam hari, membuatnya meringkuk di kasur dengan nyaman di bawah selimut. Siapa sangka itu tidur nyaman yang terakhir untuknya. Keesokan hari, Veron yang seharusnya sudah berangkat sekolah tapi dirinya masih di kamarnya, kedua tangan di ikat, mata di tutup, kain tersumpal di mulutnya. Yang selama ini ia banggakan ternyata tak pantas ia panggil ayah, seharusnya iblis. Apa yang seharusnya dia berikan untuk suaminya, tapi direnggut paksa oleh ayah angkatnya. Di sekap, di kurung, itu jadi makanan sehari-hari Veron setelahnya. Kabur berulang kali, namun selalu saja dapat ditemukan kembali. Lelah, itu yang dirasakan Veron. Mati jauh lebih baik. Di saat dia ingin melakukannya, disitulah Veron bertemu Dave, pria tampan, perhatian, memberikan tempat tinggal, dan yang paling Veron buthkan, perlindungan."
"Lepas dari mulut harimau, masuk kedalam mulut buaya. Seharusnya Veron berlogika seperti itu. Tapi rasa trauma atas perlakuan ayah angkatnya membuat Veron merasa lebih aman di tempat Dave, meski- jadi seorang pelacur. Paling tidak diri Veron tidak dilucuti oleh orang yang sudah ia anggap ayah. Itu terlalu menjijikkan buat dirinya. Punya ayah adalah impiannya, mana bisa dia membiarkan ayah menggauli dirinya.
__ADS_1
"Veron hidup di tempat Dave karena tidak ada pilihan. Yang Veron tahu, ayahnya mendekap di penjara dan bisa kapan saja kabur dan menemukannya lagi. Sedangkan, kebenarannya, Dave sudah membunuh ayah angkat Veron. Tapi Dave sengaja menutupinya dari Veron, supaya Veron terus dalam genggamannya. Veron yang malang."
"Yang aku tahu, Veron sudah berjanji bila ia sudah menemukan keluarga -menikah- dia tidak akan kembali ke tempat Dave, apapun yang terjadi. Dan saat Anda mengetahui Veron dulu seorang pelacur, Anda melepasnya begitu saja. Ternyata Anda sama saja seperti pria lain di luar sana," ucap kesal Desy.
"Jaga mulutmu! Lilie sendiri yang ingin kembali ke Dave," ucap Zello. Namun jujur hatinya merasa ngilu setelah mengetahui masa lalu Veron.
"Itu tidak mungkin." Tandas Desy.
"Aku sudah memaafkannya, tapi hanya karena sikap emosi kakek yang sesaat dia memilih untuk pergi dari kami," balas Zello.
"Tidak mungkin, aku sudah bilang ke Veron untuk berhati-hati dengan Dave. Karena Dave sengaja membuat pembunuhan Zein itu dengan kentara jelas supaya kalian curiga dengan Veron dan kalian bisa mendepak Veron. Jadi tidak mungkin Veron kembali ke orang picik seperti Dave," ucap Desy terengah. "Kalaupun iya, pasti Veron terpaksa."
Zello tergugu, ucapan Desy semakin membuat kepala Zello berputar. Ucapan Desy, ucapan Desy saat dirumahya. Ternyata inilah intinya. Ungkap pasti Zello dalam hati.
"Veron itu sudah jadi istri Anda, tak bisakah kamu menahannya jika dia ingin pergi?!"
"Anda sudah tahu siapa Dave, tapi kenapa membiarkan Veron kembali ke dirinya. Tak bisakah suami melindungi istrinya. Hah? Kenapa Anda dengan mudahnya merelakan kepergian istri Anda?! Kalau dia kembali ke Dave itu pasti karena terpaksa. Tak bisakah Anda menggunakan posisi Anda saat ini sebagai suami?!"
Seakan mendapatkan tamparan keras, Zello menjambak rambutnya frustrasi. Matanya meresap penuh sesal.
***
Di lain tempat. Beberapa hari kemudian.
Tidur di lantai di tambah gumaman satu selnya yang tak kunjung berhenti, sama sekali tidak bisa tidur. Membuat tubuh Veron pegal-pegal sekaligus meriang.
Veron bangun dari tidur, memeluk kedua lengannya sendiri, kedinginan.
Veron memilih terus melangkahkan kaki untuk ke kamar mandi. Ikut cepat antri, itu jauh lebih bagus. Badan meriang, perut kembung, kepalanya juga pusing.
Kurang enak badan membuat Veron enggan mandi, dirinya hanya membersihkan seperlunya saja.
Veron yang sudah kembali ke sel, terdiam, sakitnya di tubuh membuat dirinya semakin membisu di sel itu. Tak peduli dengan seloroh-seloroh dengan yang lain. Veron sedikit melirik Susi yang duduk mojok di ruangan itu, duduk selonjoran dengan santai seakan sudah lapang dada tinggal di tempat itu. Berbeda beda dengan Veron, rasanya ingin menangis lagi, terlebih dengan rasa tidak nyaman di tubuhnya sekarang.
"Hei kamu!" suara sangar Runi. Memberikan kode ke Veron dengan jarinya supaya mendekat.
Veron bergeming, tidak mau lagi memijat. Dirinya sudah lelah hati di dalam sel, jangan juga lelah badan.
"Aoo." Veron menjerit lagi ketika rambutnya dijambak oleh si kurus.
"Pak Penjaga tolong .....!" teriak Veron.
"Heh, berani-beraninya kamu mengadu," ucap bengis kurus yang berlalu dari tempat Veron.
"Kenapa?" tanya penjaga lapas.
"Mm, tadi ada kecoak, Pak."
"Jangan minta tolong dengan hal sepele!" hardik penjaga.
Veron menunduk, tidak berucap. Dirinya malas mencari pembelaan, dia hanya memikirkan rasa tubuhnya yang semakin menjadi.
__ADS_1
Tiba waktunya sarapan, pukul sepuluh pagi. Dengan tertatih Veron ikut mengantri.
Makan di bangku paling ujung di ruangan itu, tapi tidak lama Susi ikut bergabung dengan dirinya.
"Bagaimana malam-malammu?" tanyanya langsung. Yang langsung makan juga dengan lahap.
Veron tersenyum kecut. Tidak menjawab ucapan Susi, memilih untuk makan.
"Oya, aku pintar mengerok. Kamu sakit kan?"
Veron menoleh, dirinya pernah dikerok oleh Desy, dan rasanya lumayan sakit meski bisa mengurangi meriangnya.
"Nanti kupikirkan." ucap Veron.
"Nanti? Waktu kita hanya sekarang," cetus Susi.
Veron mendengus, " apa rasanya sakit?"
"Tidak."
"Boleh aku bertanya? Kenapa kamu kalau di luar selau menguntitku, sementara di dalam sel seakan tidak kenal," ujar Veron. Beberapa hari ini, Susilah teman dekat satu-satunya di lapas.
"Ouhh, itu. Nanti kamu akan tahu alasannya. Lagian lucu juga, kamu sama mak Runi bisa jadi hiburan tersendiri buat kami."
"Hiburan?!" sengit Veron. "Orang yang selalu di tindas tapi terlihat seperti hiburan buat kamu!"
"Sudahlah, makan!"
Dada Veron naik turun, emosi. Tidak paham dengan jalan pikiran Susi.
***
Selesai makan, Veron menerima kerokan dari Susi. Meski tidak suka tapi lumayan mengurangi pegal-pegalnya juga.
Di dalam sel Veron sudah merasakan tubuhnya agak enakan, meski masih sedikit kembung.
"Lani! Ada yang membesuk!" teriak penjaga, tangannya dengan cekatan membuka gembok sel. Mempersilahkan Lani untuk keluar.
Tidak hanya Lani, dua teman yang lainnya juga ada yang membesuk.
"Eh, Anak Baru! Kamu kan anak baru, masa nggak ada yang besuk dari kemarin," celetuk yang lain.
"Kamu nggak punya keluarga? Teman," celetuknya lagi.
Veron memilin jemarinya, menyandarkan tubuh dan kepalanya ke dinding.
Tidak selang lama, Lani dan yang lain kembali dengan berbagai makanan dan bingkisan di tangannya. Semburat bahagia jelas terlihat mereka.
Lani yang paling banyak membawa bingkisan dengan antusias membuka bingkisan yang banyak makanan enak di dalamnya.
"Ahh, enaknya," gumam Lani. Sementara yang lain ada yang mengadahkan tangan. Ada yang acuh. Ada yang iri, salah satunya Veron. Bukan karena makanannya, tapi tidak adanya yang membesuk dirinya, hari ini, esok sampai kapanpun.
__ADS_1
***