Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Niatan Veron


__ADS_3

"Arya pengin ketemu kak Lilie boleh?" tanya Arya.


"Mm, boleh. Tapi kakaknya sedang keluar. Mungkin lain kali," ujar Zello.


"Oh."


Selta berdehem canggung, sebenarnya dirinya ingin semua menganggap Arya adalah putra kandungnya. Tapi Arya terlalu cerdas ternyata.


"Mm, sebenarnya Arya baru saja saya ambil dari panti asuhan. Kebetulan keluarga juga menyarankan."


Hanif tersenyum dengan hati yang masih terkejut. "Tidak masalah, seharusnya memang begitu. Banyak anak di luar sana yang membutuhkan kasih sayang keluarga. Tuhan memberkatimu, Nak," ujar Hanif.


"Istri saya memang sering berkunjung ke panti. Tapi selalu dengan panti yang berbeda-beda tiap minggunya. Kalau boleh tahu Arya ketemu sama kak Lilie di panti mana?" ujar Zello.


"Arya ini dari panti Permata Bunda, Bogor ," ujar Selta.


"Oh. Begitu. Nanti om akan bilang kalau kak Lilie dicariin Arya. Pasti kak Lilie senang," ujar Zello.


"Terima kasih, Om."


Setelah berbincang sedikit, Selta dan anaknya pulang. Dan Zello sendiri tidak bisa tenang, dirinya dengan cepat menyambar kunci mobil.


"Zello, tapi ini mau malam."


"Tidak masalah, Kek. Zello tidak bisa tenang kalau belum kesana."


Setelah menempuh perjalanan selama empat jam. Zello sudah tiba di panti Pemata Bunda. Kedatangannya langsung disambut hangat oleh pengelola panti. Karena pengelola panti sudah biasa menerima tamu semacam Zello, misalnya seperti Selta.


"Ada yang bisa saya bantu," tanya Bunda.


"Perkenalkan, saya Zello. Saya kesini memang ingin meminta bantuan ke ibu panti."


"Iya, Tuan. Saya bisa bantu apa?!"


"Apa di sini pernah kedatangan tamu bernama Lilie?"


"Mm, Lilie?" Bunda panti menahan nafas sejenak. Ini yang kedua orang luar nyari Lilie.


Ada perasaan cemas di hati bunda panti, karena Lilie seperti wanita buron. 'Apa ini yang dimaksud Lilie? Yang suka dirinya dengan cara maksa' batin Bunda.


"Mm.... "


"Saya suaminya."


Hah, Bunda terkesiap. "Oh, soalnya Lilie tidak bicara apa-apa mengenai suaminya atau apapun itu," ujar Bunda sedikit meragu ke Zello.


"Berarti benar Lilie pernah kesini?" antusias Zello.


"Iya," ujar bunda akhirnya. Pada intinya pria di depannya orang baik atau jahat yang penting Lilie sudah tidak ada di sini. Benak Bunda.


"Kapan pernah Lilie kesini?"


"Sudah lama. Hampir dua bulan."


Tubuh Zello kembali melemah. Dua bulan?Dua bulan artinya jauh hari sebelum data keberangkatan Veron ke Swedia ia dapatkan. Zello awalnya berharap kalau data yang dirinya peroleh adalah salah. Tapi sekarang?!


"Tuan yang kedua mencari Lilie disini. Apa Tuan bos mereka?!"


"Maksudnya?"


"Iya, Lilie pernah dicari sama sekelompok orang gitu. Tapi - kebetulan Lilie lagi ngga dipanti. Apa mereka orang suruhan Tuan?"


Zello menggeleng, hatinya gusar tidak nyaman.


"Oh." Bunda terdiam. 'Lalu, apa benar ini suaminya?'


"Lilie nggak pulang?"

__ADS_1


"Tidak."


Bunda memegang dadanya cemas. "Kasihan Banget Lilie," gumam Bunda tanpa sadar.


Zello menatap penuh selidik penuh rasa ingin tahu maksud ucapan pengelola panti.


"Saya hanya khawatir saja dengan Lilie," ujar Bunda. Bunda teringat sekali dengan wajah takut Lilie sebelum kabur. "Nak Zello beneran suaminya Lilie?"


"Iya, apa saya terlihat bercanda," ujar Zello emosi.


"Oh, maaf sebelumnya. Semoga Lilie cepat ditemukan. Oya, sebenarnya saat orang-orang itu mencarinya, Lilie berada di panti. Tadi bunda bohong, takutnya Nak Zello bosnya mereka."


"Lalu?"


"Lilie kabur, tapi- nggak tahu kemana. Karena kami juga tidak punya kenalan atau tempat untuk melindungi Lilie. Dan sekarang Lilie ..." Bunda memegang dadanya, khawatir apa yang sudah terjadi dengan Lilie diluar.


'Apa artinya Lilie tertangkap dan kemudian dibawa pulang? Setelah tahu aku mencari Lilie, Dave berinisiatif menyembunyikan Lilie ke Swedia?


Zello meraup wajahnya kasar, menyesal dengan tindakannya yang terburu-buru. Seharusnya dia diam-diam menemui Veron. Tidak ke Dave langsung dan membuat dirinya makin jauh dengan Veron.


Dengan rasa kecewa Zello berdiri dari duduknya, mengeluarkan cek yang sudah ia beri nominal. "Ini ada sedikit rezeki untuk anak-anak."


Bunda tersenyum kaku. "Terima kasih, Nak. Semoga Nak Lilie cepat ketemu ya."


"Terima kasih Bu. Saya pamit."


****


Zello sudah kembali ke kediaman Hanif, duduk di meja rias istrinya. 'Lilie kabur dari Dave, Lilie tidak menginginkan kembali dengan Dave.'


Brakk. Zello menggebrak meja Veron keras. Membuat beberapa alat make up Veron terjatuh dari meja.


"Damn Dave."


Mata Zello tertuju dengan ponsel Veron. Selama ini dirinya selalu mengacuhkan benda pipih Veron. Beranggapan Veron sengaja meninggalkan benda pipih itu untuk memutus komonikasi dengan dirinya. Namun setelah semua fakta yang ia ketahui, Zello menyalakan ponsel Veron yang awalnya dalam kondisi off.


Rentetan pesan dari teman-temannya. Dari diri Zello sendiri. Dari Dave.


Dari Dahlia. Dari nomor yang tidak di simpan. Dan masih banyak lagi.


Wajah Zello murung penuh sesal setelah melihat beberapa pesan di sana. Terutama pesan Dave yang selalu menerornya, yang berarti Veron tidak pernah bersama Dave sebelum dirinya menghilang.


Pikiran Zello semakin kalut dan frustasi setelah membaca pesan dari nomor yang tak dikenal di ponsel Veron.


[Tuan Hanif sakit kan? Bagaimana kalau aku beberkan siapa cucu mantunya itu ke teman kolega dan media. Supaya bisa menyembuhkan Tuan Hanif selama-selamanya]


[Tapi kamu ada pilihan lain. Misal, pergi dari sana. Aku akan mengunci mulutku ini sebagai balasannya. Setimpal bukan]


"Kenapa nggak bilang padaku, Lie?!" sesal Zello.


Dirinya sudah berusaha sebisa mungkin, tapi tidak membuahkan hasil sampai sekarang. Zello hanya bisa berharap istrinya baik-baik saja. Paling tidak, bila Veron bersama Dave. Dave tidak akan melukainya.


*****


Lalu bagaimana dengan Dave yang tahu betul Veron tidak bersama dirinya apalagi bersama Zello?! Dave uring-uringan. Pikirannya kacau. Selalu menerka dalam hal buruk karena tak kunjung menemukan Veron. Apa dia baik-baik saja? Apa dia mengalami kecelakaan? Apa dia mati kecelakaan? Apa mati bunuh diri.


Dave tidak bisa tenang dengan hilangnya Veron. Seringkali mengamuk. Di rumah, di club, tidak pernah mengurusi aset-asetnya lagi. Dave selalu menjentikkan jari ke anak buahnya. Tidak seperti dulu yang masih aktif mengunjungi perusahaan yang ia tanami saham, mengunjungi pesta, meninjau bisnis legal/ilegalnya. Dave hancur.


[Makan tu cinta - Othor lagi jahat]


****


Beberapa bulan kemudian, dengan perut yang mulai membesar, Veron masih dengan gesit menikmati aktivitas hariannya.


"Mari Mrs Joana!" Veron mendorong kursi roda Mrs Joana menuju halaman belakang. Mrs Joana sangat senang berjemur dengan menikmati kolam kecil yang berada di sana. Usai selesai dengan Mrs Joana, Veron beralih ke Ny. Alya, ibu Pak Adi- penjaga lapas- menuntun ke tempat yang sama.


"Terima kasih, Nak Lilie!" ujar Ny Alya.

__ADS_1


"Sama-sama."


"Lilie," tegur Mrs Joana.


"Iya Mrs."


Mrs Joana menghela nafas dalam. Menatap intens ke Veron. "Kenapa Mrs?" ujar Veron sembari mendekat.


"Hari ini putra Ibu mau kesini. Jemput ibu."


Veron terkesiap sesaat, yang kemudian senyum tipis terulas di bibir Veron. "Anda pasti sangat senang."


"Iya. Tapi -itu artinya Ibu tidak akan disini lagi."


Oh. Veron dan Ny. Alya, terdiam.


"Kamu beruntung Nyonya." Ujar Ny. Alya.


"Iya. Saya ingin mengucapkan terima kasih buat Ny Alya dan Lilie. Sudah berbaik hati dengan saya di sini."


Mrs Joana sudah lama tinggal di panti jompo itu. Sejak dua tahun. Saat dirinya akan dijemput, siapa yang tidak bahagia.


"Sama-sama Mrs."


Veron menatap Ny Alya, Veron rasa Nyonya Alya pun pasti punya keinginan yang sama. Tapi sayangnya Pak Adi masih sibuk dengan pekerjaannya. Pak Adi harus stay di lapas. Di panti jompo pun Pak Adi tidak bisa menaruh kepercayaan ke orang dengan mudah.


"Nak Lilie, tolonglah bantu untuk merawat ibu saya di sana! Disana juga kamu akan aman," ucap pak Adi waktu itu.


"Pasti saya akan merindukan kalian," ujar Mrs Joana memecah lamunan Veron.


"Kunjungilah kami Mrs! Kami juga akan selalu merindukan Mrs Joana," ujar Veron.


"Pasti." Ucap Mrs Joana dengan senyum mengembang.


"Lilie ke dalam dulu ya. Masih banyak yang di dalam." Veron berucap sembari berlalu.


Tidak semua orang tua disana harus dilayani seperti Mrs Joana dan Ny Alya. Banyak mereka yang mandiri seperti orang kebanyakan.


Selalu berdoa untuk diberikan keluarga. Veron mendapatkan semuanya. Meski di tempat yang mungkin orang tidak inginkan, tapi Veron sangat bersyukur dan menikmatinya.


"Apa dia sudah suka menendang?" tanya wanita tua yang jalan beriringan dengan Veron.


"Sudah Nyonya. Terlebih malam menjelang tidur, dia selalu mengganggu mamanya."


"Hahaha, dia ingin dibacakan dongeng."


"Benar Nyonya."


Siang hari, Veron yang tengah istirahat menyambut Mrs Joana yang menghampirinya ke kamar. Mendorong kursi roda dengan bantuan tangannya sendiri.


"Lilie!"


"Iya, Mrs."


"Ibu tidak akan tinggal disini lagi. Bisakah ibu minta permohonan sama kamu?!"


"Mm, permohonan apa Mrs?"


"Putra Ibu sangat berterima kasih sama kamu dan pengelola yang lain. Maukah kamu ikut ke rumah ibu. Di ibu kota. Putra ibu mengadakan jamuan kecil-kecilan untuk merayakan kepulangan ibu."


Veron tertegun dengan permintaan Mrs Joana. Dirinya sudah lama tidak keluar. Ada rasa takut. Tapi ada rasa ingin juga. Jamuan kecil-kecilan? Rasanya tidak masalah buat dirinya.


Tapi apa nantinya dia bisa kembali ke panti dengan aman?


"Tenang saja. Balik nanti kalian akan di antar sama sopir saya." Ujar Mrs Joana yang kebetulan.


Oh.

__ADS_1


"Tapi saya tidak bisa lama-lama," ujar Veron kemudian. Veron berniat ingin mlipir- lewat depan kediaman Hanif. Tidak masalah hanya dengan lewat depan kediamannya. Mungkin dengan begitu rindunya akan sedikit terobati.


__ADS_2