Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Panggilan Sayang


__ADS_3

***


Di lain tempat. Rossa yang tengah di hotel tengah mengerang frustasi. Dirinya baru saja menghubungi temannya yang pernah menyewa jasa Veron seperti dirinya, guna mencari bukti dari sana. Namun nihil. Temannya tidak mengantongi bukti apapun, kecuali lisan. Alias hanya tahu kalau Veron wanita malam, tapi tidak memiliki bukti kuat kalau Veron adalah seorang wanita malam. Andai dirinya menyeret temannya untuk menjadi saksi di depan Zello itu juga akan percuma. Karena Zello pasti akan menganggap dirinya bersekongkol.


Rossa benar-benar menyesalinya, kenapa awal pertemuan atau pertemuan sebelum-sebelumnya dengan Veron tidak dirinya abadikan. Misal isi obrolan atau foto keluar dari kamar kerjanya.


Dirinya memang berusaha mengumpulkan bukti. Dengan itu, Rossa tentunya sangat mudah menendang Veron dari rumah Hanif dan kehidupan Zello. Tapi itulah tinggal rencana. Rencananya sudah lenyap sebelum ia mulai.


Karena dari kemarin Rossa memang masih bersantai. Tidak terfikirkan akan berbanding terbalik seperti ini. Malah penghianatannya terhadap Zello yang terbongkar.


Rossa jalan hilir mudik karena kebingungan. Terlebih besok dia harus kembali untuk pemotretan keluar negeri.


"Ah, sial. Apa yang bisa aku lakukan dengan waktu tidak sampai 24 jam ini." Geram Rossa.


"Apa aku tidak perlu pemotretan," gumam Rossa. Kepala Rossa menggeleng kuat. "Tidak. Itu bukan solusi yang tepat. Aku sudah kehilangan Zello, aku tidak mungkin membiarkan kehilangan karirku juga."


Rossa menghempaskan tubuhnya di ranjang dan memejamkan mata. Dirinya yang penuh kebencian terus mengumpat dalam hati.


"Untuk sekarang bersenanglah-senanglah Lilie. Awas aja nanti. Aku akan melakukan apapun untuk membongkar identitasmu. Aku tidak terima kekalahan seperti ini. Terlebih dengan wanita bergelar pelacur seperti kamu."


"Dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa istirahat." Rossa memijat keningnya karena frustrasi.


Dengan perlahan Rossa beranjak dari ranjang dan mengambil gadgetnya. Dia memesan obat sakit kepala di sebuah aplikasi. Bukan untuk mengobati sakit kepalanya. Tapi hanya untuk mendapatkan efek samping dari obat itu. Dengan mengkonsumsi obat itu dirinya akan bisa tidur.


Rossa memang akan menggunakan obat bila sedang mengalami susah tidur. Karena dirinya ingin selalu menjaga penampilannya. Istirahat baginya sangatlah penting.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Rossa sudah duduk di mini bar. Dirinya dengan cantik meneguk minuman berakohol. Pandangan matanya tak jarang menyusuri tempat itu secara keseluruhan. Tempat yang penuh manusia untuk bersenang-senang dan melepas penat dari dramanya kehidupan.


Sesaat mata jeli Rossa tak lepas dari pelayan wanita yang baru saja menemani pria hidung belang minum. Rossa dengan jelas bisa melihat wanita itu tersenyum sumringah setelah sang pria memberi beberapa lembaran uang. Pelayan itu beranjak dari tempatnya dan ingin menuju tempat batender yang persis ia singgahi.


"Kak, tambah enam botol lagi."


"Hai," sela Rossa.


Sang pelayan hanya tersenyum namun tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sedikit membuat Rossa terhina.


"Malam ini sangat ramai ya. Apa kira-kira masih ada ruang yang bisa disewa?" tanya Rossa.


"Seharusnya ada Nona. Ini masih terlalu dini untuk penuh," sahutnya lembut.


"Setelah mengantar minuman itu bisakah kamu mengantarkan aku keruangan itu. Sekalian membawakan minumanku," ucap Rossa.


"Baiklah Nona. Saya akan segera kembali setelah mengantar minuman ini. Permisi." Dengan lihai waitrres tadi membawa minuman tadi ke pelanggannya.


Sesuai ucapannya waitrres tadi, dia kembali ke tempat Rossa. Tentunya Rossa langsung menyambut dengan senyum hangatnya.


"Mari, Nona. Masih banyak ruang kosong." Waitrres dengan sigap mengambil minuman yang sudah di pesan Rossa.


Tidak butuh waktu lama Rossa sudah sampai di ruangannya. Dirinya langsung menjatuhkan bobotnya di sofa panjang. Sementara waittres langsung menyiapkan minum buat Rossa. Menuangkan minuman itu ke gelas Rossa.


"Silahkan Nona."


"Duduklah!" pinta Rossa.


Dengan perlahan waittres ikut duduk di sebelah Rossa. Sudah biasa dirinya diminta menemani mengobrol pengunjung di tempatnya bekerja.

__ADS_1


Namun, baru kali ini ada wanita yang ingin ditemani minum.


"Sudah berapa lama kamu kerja disini?"


"Hampir tiga tahun, Nona."


"Hm, lumayan juga ya. Wajahmu sangat cantik. Kenapa mau kerja di tempat seperti ini. Di luar sana pasti banyak yang ingin mempekerjakan kamu."


"Karena uang, Nona. Diluar cuma mendapatkan penghasilan sedikit. Sekarang kebutuhan hidup tidak bisa dengan mengandalkan uang gaji yang pas-pasan. Belum lagi untuk mengirim orang tua yang di kampung."


"Oh. Sekarang uang adalah segalanya."


Sang waittres hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Veron yang dirasa berbelit-belit.


"Oya. Kemana Lilie? Maksudku Veron. Biasanya dia yang menemaniku mengobrol."


"Oh, dia sudah menikah, Nona."


"Lalu?"


"Hahaha Nona ini. Suami mana yang rela istrinya kerja di tempat seperti ini. Lagipula saya dengar suami Veron orang kaya dan terpandang. Jadi buat apa lagi dia susah-susah kerja."


"Ah, benarkah. Bagaimana bisa. Bukankah Veron seorang wanita malam di sini. Bagaimana bisa dia menikah."


"Apa yang Nona bicarakan? Veron waittres seperti saya, Nona."


"Sstt... aku tahu dia wanita malam. Dia sendiri yang bilang padaku. Kamu tidak perlu menutup-menutupinya," ujar Veron pelan.


"Ah Nona. Anda pasti bercanda. Mana mungkin dia bilang seperti itu."


Rossa menatap serius penuh meyakinkan ke waittres.


"Ayolah!" bujuk Rossa.


Waittres terdiam di tempatnya. Matanya sedikit melirik tangan Rossa yang membuka tas dan memperlihatkan gepokan duit di dalamnya.


"Carilah bukti kalau Veron memang wanita malam di club ini. Maka semua uang ini akan jadi milikmu."


"Tapi Veron memang tidak bekerja seperti itu. Apa Anda menyuruh saya untuk membuat bukti palsu?!"


"No no no. Aku sudah bilang. Dia yang mengatakan sendiri kalau dia seorang wanita malam. Jadi kamu tidak perlu menutupi. Come on. Kesempatan tidak akan datang kedua kali."


Cukup lama waittress itu diam seakan berfikir. Rossa menghela nafas kasar menunggui wanita di sebelahnya.


"Mm ... baiklah. Aku akan usahakan Nona."


Senyum lebar langsung mengembang di bibir Rossa.


"Cerdas, kamu benar-benar cerdas."


Rossa dengan segera mengambil uang dalam jumlah lembaran banyak dari tasnya. Dan segera menyodorkan ke waittres.


Dengan wajah berbinar waittres langsung meraup uang itu. Tanpa menghitungnya terlebih dahulu langsung ia masukkan ke saku roknya. Karena tidak muat ia selipkan juga di dadanya yang masih beralas kaos ketat.


"Ah, terima kasih sekali Nona."


"Itu uang muka. Bila sudah selesai nanti, akan kuberi semua uang yang ada dalam tas ku ini."

__ADS_1


"Baiklah, Nona. Aku akan mencari bukti secepatnya. Aku akan mengabari Nona nanti."


Rossa mengambil kartu namanya dan menyerahkan ke waittres. "Ambilah. Setelah ini langsung hubungi aku. Aku perlu menyimpan nomermu."


"Siap, Nona."


"Ok. Kamu sudah boleh keluar. Aku ingin sendiri."


"Baik Nona. Silahkan menikmati."


Waittres langsung keluar ruangan dan menutup pintu. Masih berada di depan pintu, waitres tersebut langsung di sambut Desy dengan tepukan pelan di bahunya. Yang kemudian sama-sama beranjak dari sana sembari cekikikan.


***


Di pagi hari, seakan seperti pengantin baru. Sang pengantin wanita seakan tidak diberi kesempatan untuk lepas dari pelukan erat dari sang pengantin pria. Padahal sang pengantin wanita ingin buru-buru ke kamar mandi. Sudah ada yang mendesak ingin dikeluarkan.


"Zello ... lepaskan ... aku kebelet pipis," mohon Veron. Veron berposisi memunggungi Zello. Dirinya sudah berusaha merenggangkan pelukan Zello, namun rasanya tidak mengendur sama sekali.


Untungnya semalam Veron berinisiatif memunggungi Zello, kalau tidak mungkin dirinya akan sesak nafas. Semalam dirinya yang tidur berhadapan dengan Zello selalu mendapatkan cumbuan lembut. Takut terpancing Veron mengubah posisinya dengan memunggungi Zello. Namun Zello yang sedang dilanda asmara tidak kehabisan akal, dengan beralih memeluk Veron seperti guling.


"Seharusnya kalau dia tidur bakal mudah untuk di lepas," gumam Veron.


"Zello, lepaskan! Kamu pasti sengaja kan? Kamu pengin aku ngompol disini."


Kekehan kecil keluar dari bibir Zello, pelukannya juga sedikit mengendur.


"Itu hukuman buat istri yang manggil suami dengan nama." Zello meraih pinggang Veron dan langsung membaliknya. Membuat mereka saling berhadapan.


"Oh ... " Veron terdiam merasa sedikit bersalah. "Kamu mau dipanggil apa?"


"Mm, aku sering mendengar wanita yang memanggil suaminya 'mas'. Bagaimana kalau kamu manggil suamimu ini 'mas'."


"Ah, aku bakal kaku dengan panggilan seperti itu. Bagaimana kalau 'sayang'."


"Mm, boleh. Tapi belajar juga untuk manggil dengan mas. Ayo!"


"Hah?" Veron mencebik kesal.


"Ayo."


Veron menghela nafas dan tersenyum paksa. "Mas... "


Tidak hanya wajah Veron yang memerah, Zello juga.


"Iya Sayang."


Dengan wajah memerah Veron melepas tangan Zello dari pinggangnya dan segera turun dari ranjang.


"Jadi dari semalam itu hukumannya buat aku karena nggak ada panggilan spesial?" ucap Veron. Dirinya masih berdiri di samping ranjang.


"Iya."


"Jadi, kalau aku manggil mas. Kamu jangan meluk aku lagi ya!"


Veron terkekeh sembari menuju kamar mandi.


"Nggak gitu juga." Teriak Zello sembari duduk melempar bantal ke Veron.

__ADS_1


__ADS_2