Wanita Pilihan Kekasihku

Wanita Pilihan Kekasihku
Pengakuan Dahlia


__ADS_3

(Keesokan hari)


"Lilie, setelah sarapan Kakek ingin bicara sama kamu." Hanif berwajah muram. Namun masih berusaha menampilkan senyum. Pada akhirnya, senyum itu terlihat beda seperti biasanya dan Veron bisa merasakan itu.


"Iya, Kek."


Hanif selesai sarapan berlalu ke kamar. Dan di meja tinggal mereka yang mempunyai gelar wanita.


Setelah mendengar ucapan Hanif, Veron bergegas untuk menyusul Hanif ke kamarnya.


"Lie." Maria tersenyum menghibur. "Sepertinya akan ada obrolan serius, kamu tenang saja. Papa orangnya baik kok. Kamu tinggal ngomong jujur aja," ucap Maria sok tahu. Mengira Veron sudah melakukan kesalahan.


Eh? "Iya, Mah. Tenang saja."


Veron bergegas menyusul Hanif yang sudah duluan ke halaman samping, dimana Hanif tengah memandang pidak pidak catur tanpa pemain. Dan hanya memandangnya dengan tatapan kosong.


"Lilie." Suara Hanif yang tahu kedatangan Veron. Hanif membuang nafas kasar. "Duduklah!"


Veron duduk berhadapan dengan Hanif yang terhalang oleh papan catur.


"Kek."


"Gerakan!"


"Mm ... aku nggak bisa Kek." Veron menatap hampa Hanif. Teringat dengan ucapan Zello kemarin dan melihat wajah datar Hanif.


"Gapapa, gerakan saja sesuai dengan kemauan hatimu!"


Tuk tuk tuk. Gerakan pidak Veron.


Hanif tersenyum tipis, "paling tidak kamu berani melangkah."


Veron membalas senyuman Hanif dengan kaku. Tuk tuk tuk.


"Rajamu terkepung." Hanif mengambil pidak kuda. Trakk. Raja Veron terguling oleh kuda Hanif. "Skakmat." Tuk.


"Lilie. Permainan ini tidak hanya hiburan buat Kakek. Tapi dia juga seperti teman hidup Kakek."


Veron menatap dalam Hanif, suasana yang sunyi dan senyap menemani mereka.


"Lilie, pidak-pidak ini sudah setia sedari aku membangun rumah ini. Sebelum lahirnya Zello." Hanif membuang nafas kasar. "Aku pikir Zello menyayangi kakeknya yang sudah tua ini. Tapi nyatanya ...."


"Kakek bicara apa. Tentu saja Zello sayang Kakek. Semua sayang Kakek." Veron merasakan detakan tak nyaman di dadanya. Ucapan Hanif yang membuat dadanya berdenyut sakit.


"Aku pikir setelah Zello memiliki istri, dia akan tinggal di sini," ucap Hanif akhirnya.


"Kek ... Zello pasti memiliki alasan yang kuat. Zello sangat menyayangimu. Aku tahu itu," ucap Veron meyakinkan.


"Benarkah? Tapi aku rasa tidak." Hanif tersenyum getir, "tapi harus bagaimana lagi. Dia bukan anak kecil yang bisa ku ikat. Dia sudah besar."


Veron menurunkan pandangannya, tahu dengan kondisi. Sangat tidak menyenangkan hidup dengan kesendirian.


"Sebelumnya aku tidak pernah bisa berbagi dengan orang lain. Adanya kamu, Kakek merasa sedikit lega sekarang." Hanif tersenyum kecil. Tangannya menata kembali pidak-pidak catur. "Ayo lanjutkan main!"


***


"Zello," ucap Veron. Zello sudah rapi dengan baju tidurnya. Memangku laptop, ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.


Zello mengangkat wajahnya, mempersilahkan Veron melanjutkan ucapannya.


"Zello, tak bisakah kita tinggal di sini saja?!" ucap Veron.


"Ini sebuah kalimat permohonan Zello," sambung Veron.


Zello mengurut pelipis, matanya masih menatap Veron seakan Veron sumber rasa nyeri di kepalanya.


"Bukankah tujuan awalmu menikah denganku untuk kebahagiaan Kakek." Mata Veron menatap intens Zello yang terus bungkam di tempatnya.


"Bagaimana kalau aku bersikeras tinggal di apartemen?" ucap Zello lugas.


"Kenapa? Apa karena kamu ingin menjaga perasaan Rossa?"


Zello membuang nafas kasar. "Aku sudah tinggal di apartemen dari dulu," dalih Zello.


"Apa alasanmu waktu itu memilih tinggal di apartemen?" jemari Veron mengepal.


"Apa harus aku memberitahumu?" Zello beralih dengan pekerjaan di laptopnya lagi.


"Apa karena disana lebih leluasa untuk bertemu Rossa," cetus Veron.


"Bukan urusanmu." Zello menutup laptop dan berdiri dari duduknya. "Keputusanku sudah bulat," sambung Zello.

__ADS_1


"Kamu gila Zello." Veron berdiri dengan tatapan tajam. "Demi wanita kamu bisa jauh dari orang terdekatmu. Demi wanita kamu bisa menikah kontrak. Demi wanita, entah apa yang akan kamu lakukan lagi nanti."


"Cukup! Keputusanku sudah bulat. Aku hanya tinggal di apartemen. Bukan jauh keluar kota atau negeri. Tidak bisakah kamu mengerti. Semua orang punya privasi."


"Iya, kamu benar," ucap Veron akhirnya, pasrah. Memejamkan matanya sesaat. Menyesali ketidaksanggupan dirinya untuk mengubah jalan pikiran Zello.


Zello melangkahkan kaki dengan pasti keluar kamar. Tanpa membalas ucapan Veron lagi dan juga tanpa menutup pintu.


***


(Keesokan Hari)


Zello dan Veron bersikap seperti biasanya, selayaknya suami istri. Mencium kening dan merapikan penampilan di depan keluarga Zello. Hanya saja, Veron lebih sedikit berbicara. Zello tentu menyadari itu, tapi dia juga diam yang seakan tidak ingin mempermasalahkan atau menganggap tidak peduli dengan diamnya Veron.


Rossa yang menyadari hal itu, tersenyum puas. Semburat kebahagiaan terlihat dari wajahnya. Rossa sangat senang, Zello selalu mengabulkan permintaannya. Yang artinya Zello masih dan akan terus mencintai dirinya seorang. "Sampai kapanpun." Batin Rossa.


"Aku harus mempersiapkan untuk kepulanganku nanti." Maria berlalu dari meja makan, bergegas masuk kamar.


'Kepulangan? Berarti rumah intinya disana, bukan disini.' Veron tersenyum getir.


"Lilie, apa kamu bisa menolong mama?"


"Mm ... -"


"Aku saja Tante," ucap Rossa antusias.


Sebenarnya Veron bisa menolong, tapi hatinya merasa tidak nyaman bila melakukannya.


"Lilie kesana dulu ya Mah." Veron tersenyum tipis dan berlalu dari sana. Memilih menyusul Hanif di halaman samping seperti biasanya.


"Tuan, sudah waktunya Anda minum obat." Suara asisten Hanif. Dirinya sudah bersiap untuk mendorong kursi roda Hanif.


"Ambilkan! Biarkan aku minum di sini." Hanif tersenyum kecil menyambut kedatangan Veron.


"Kek."


"Duduklah! Temani Kakek ngobrol."


Veron duduk di kursi dan tersenyum kecil.


"Kamu tidak kerja?"


"Lilie minta libur seminggu Kek," jelas Veron.


Hanif mendongak menatap lembut Veron. "Kenapa?"


"Aku - tidak -"


"Tidak bisa membuat Zello untuk tinggal disini maksudnya?" ucap Hanif.


Veron mengangguk lemah, menatap sayu Hanif.


"Tentu. Dia sudah dewasa, Lilie. Lagipula dia punya hak untuk itu."


"Aku akan kesini tiap hari Kek. Setelah Zello berangkat kerja sampai Zello menjelang pulang kerja." Tidak ada yang bisa Veron lakukan selain itu, menghibur dengan kalimatnya. Paling tidak, Kakek akan ada teman mengobrol nanti.


"Setiap hari?"


"Iya, Kek," ucap Veron pelan. Veron tahu, itu pasti tidak akan cukup buat Hanif. Tapi dia benar-benar tidak bisa berbuat banyak.


"Kalau kamu kesini tiap hari, bagaimana dengan pekerjaanmu?"


"Aku sudah jadi orang kaya sekarang Kek. Aku akan keluar dari pekerjaanku."


"Aku sangat hargai itu Lilie. Terima kasih," ucap Hanif intens. "Lie, Apa Kakek sudah menjadi beban untukmu?"


Veron terkejut dengan ucapan Hanif, bagaimana dia bisa berfikiran seperti itu.


"Kakek. Lilie sedari kecil hidup tanpa keluarga. Saat sudah dapat keluarga malah tinggal terpisah. Kakek, aku juga merasakan sakit. Aku nggak punya siapa-siapa Kek. Keluarga Kakek keluarga pertama dan satu-satunya yang aku punya. Nggak pernah daapt kasih sayang keluarga, aku ingin merasakan itu Kek."


"Kamu sudah mendapatkan itu." Hanif menatap dalam Veron.


"Mungkin aku punya banyak teman. Tapi Kakek juga tahu kan, itu nggak cukup buat Lilie. Tidak tahu terlahir dari rahim siapa. Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menginginkan Lilie," ucap Veron lirih.


"Setelah mendapatkan perlakuan hangat dari Kakek, mama dan papa. Aku merasa sangat beruntung. Aku tidak akan pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang lain."


Dewi Fortuna berpihak kepadaku. Aku nggak pernah mendapatkan kesempatan seperti ini di tempat lain. Andai saja, aku bisa membuat Zello dan kedua orangtuanya tinggal disini juga, minimal Zello dan dirinya. Kakek pasti akan sangat senang. Begitu juga aku.


Namun sekarang, Veron hanya bisa tersenyum getir.


"Lilie- sinilah, peluk Kakek!"

__ADS_1


Hanif mengira hanya dirinya merasa kesepian. Ternyata cucu mantunya sama seperti dirinya.


Ditepuknya bahu Veron yang sudah ada dirangkulannya. "Apa kamu ingin menangis? Menangislah! Itu akan mengurangi kesedihanmu."


"Nggak Kek. Bagaimana aku bisa menangis. Aku sudah memiliki Kakek sekarang." Veron melepaskan rangkulannya dan tersenyum tipis ke Hanif. Namun matanya memerah karena ucapannya sendiri.


"Zello tidak hanya membuat satu orang bersedih, tapi dua orang sekaligus. Dia akan menyesal nanti."


Veron tertawa kecil menanggapi ucapan Hanif.


"Mana obatku, kenapa lama sekali." Hanif mengarahkan pandangannya ke lorong. Dan dirinya menggeleng kecil karena melihat asistennya dan Dahlia yang tengah berdiri di sana entah dari kapan.


"Mana obatku?" pinta Hanif.


Asistennya mendekat dan menyerahkan obatnya.


Nggak hanya Hanif yang tercengang dengan adanya Dahlia dan Beni. Veron pun juga begitu, matanya memutar malas ke arah Dahlia. Sementara Dahlia hanya memasang senyuman tipis.


"Maaf, Tuan. Silahkan!"


"Biar aku yang menyiapkan obatnya Kek," pinta Veron. Veron mengeluarkan obat-obat itu dari botol dan memberikannya ke Hanif.


Hanif meneguk obat itu dibantu dengan air minum. Senyum tipis terulas di bibirnya, menatap Veron kembali. "Terima kasih."


Veron membalas ucapan dan senyuman Hanif dengan senyum tipisnya.


"Aku akan sedikit mengantuk setelah minum obat."


Veron tertawa kecil. "Iya, Kek. Istirahatlah sekalian di kamar."


"Hm. Kakek istirahat dulu."


Beni dengan sigap mendorong kursi rodanya. Memasuki lorong menuju kamar Hanif.


"Nona." Antusias Dahlia dan langsung berdiri di samping Veron.


"Duduklah! Ajari aku main catur."


"Mm ... ayo main."


"Kamu jago main catur?"


Dahlia memasang papan catur dan memosisikan bidak-bidak catur.


"Tidak Nona. Saya tidak bisa main catur, apalagi jago," ucap Dahlia.


"Terus kenapa kamu mau ku ajak main catur?" ucap kesal Veron.


"Tidak apa-apa Nona. Tidak ada larangan bagi siapapun untuk main catur."


Veron berdecak menatap Dahlia.


"Nona."


"Hm."


"Anda terlihat sangat menyayangi Tuan Besar, Nona." Dahlia berucap tanpa berani menatap Veron. Tangan dan pandangannya terarah ke bidak-bidak catur.


"Ayo, Nona. Mulai!" ucap Dahlia masih dengan arah mata ke papan catur.


"Tidak hanya aku. Semua juga menyayangi Kakek. Termasuk kamu." Veron meraih bidak caturnya. Tuk tuk tuk.


"Mm ... tentu saja." Dahlia menggigit bibirnya. Tuk. Bidak Dahlia bergeser satu langkah.


Veron menatap kecut ke Dahlia yang terus menunduk tapi terlalu banyak bicara.


"Sebenarnya, apa yang ingin kamu ucapkan?" ucap Veron intens.


"Mm ... Nona. Aku sepertinya sudah bisa berpihak dengan Nona sepenuhnya. Meski-"


Dahlia menjeda ucapannya, melihat situasi sekeliling. "Anda melakukan demi uang." Dahlia berucap sangat pelan.


"Tapi, saya bisa memaklumi itu. Itu hal yang wajar. Hidup itu harus realita, siapa yang nggak suka uang. Jadi, saya mendukung Anda untuk mendapatkan Tuan Zello. Dengan mendapatkan Tuan Zello, Anda akan mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat. Ah tidak, tapi mendapatkan semuanya. Sekaligus. Bagaimana?" Setelah berucap sekian banyak, baru Dahlia menatap Veron. Dahlia menelan saliva melihat ekspresi mematikan Veron.


"Anda jangan salah paham, Nona. Tuan Zello memilih tinggal di apartemen karena supaya leluasa bertemu dengan Nona Rossa. Andai, Nona bisa merebut Tuan Zello, Anda dengan mudah akan membuat Tuan Zello tinggal bersama Tuan Besar Hanif. Bukankah itu yang Nona inginkan?"


"Kenapa?" tanya Veron intimidasi.


"Kenapa apanya Nona? Apa maksudnya Nona ingin tahu alasanku mendukung Nona, bukan Nona Rossa?"


"Iya."

__ADS_1


"Yang pertama, Nona sangat tulus dengan keluarga besar Tuan Hanif. Yang kedua, karena ... "


***


__ADS_2