
***
Selepas, melihat Baby Re dan juga makan di luar, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Mengingat Veron baru saja operasi. Tidak memungkinkan untuk melakukan banyak aktivitas di luar sana.
"Kubuatkan jus ya?! Mau jus apa?" Tawar Zello.
"Apa aja, Mas." Sahut Veron dengan senyum mengembang.
"Cuma Lilie yang ditawari," ledek Maria, sementara ekor matanya memicing ke arah Panee.
Sadar dengan tatapan Maria, Panee memanggil pelayan.
"Jus jeruk dan camilan ya! Buat istri kesayangan saya. Oya, sama jeruk hangatnya buat papa!" Ujar Panee sembari menukikkan alisnya ke Maria. "Kita harus memanfaatkan kekayaan kita, apa gunanya kita punya banyak duit. Pontang-panting banting tulang."
"Dasar nggak romantis," cebik Maria.
Zello menggeleng melihat kelakuan anak kecil kedua orangtuanya. "Aku buatkan dulu ya Sayang," pamit Zello.
Suasana hangat mengalir di tengah-tengah obrolan mereka yang ditemani oleh minuman dan cemilan.
"Maaf Tuan Nyonya. Itu di depan ada.... polisi." Ucap bibi hati-hati. Ucapan pelayan paruh baya itu sontak membuat mereka yang tengah mengobrol hangat terdiam, terlebih Veron merasa sangat terkejut dan juga takut. Seakan tahu siapa yang dicari, Zello menggenggam tangan Veron erat.
"Nggak usah takut. Semua akan baik-baik saja," ujar Zello sembari berdiri dengan perlahan yang kemudian disusul oleh Veron. Dengan langkah berat, Veron ikut melangkahkan kaki di samping Zello menuju di mana polisi itu berada.
"Selamat sore Tuan dan Nyonya," ujar polisi yang di ambang pintu.
"Kami ditugaskan kesini untuk mendalami kasus yang dialami Tuan Dave," imbuhnya.
"Iya, Pak. Silahkan masuk!"
Zello mempersilahkan polisi yang berjumlah dua orang. Duduk di ruang tamu dengan bersebrangan.
Genggaman Zello yang tak pernah lepas di tangan Veron seakan jadi penenang. Veron dengan lugas menjawab semua pertanyaan dari polisi tanpa ia tutupi. Meski dirinya yang membuat Dave demikian, tapi Veron melakukan demikian untuk melakukan perlindungan.
Anggukan dan juga berdirinya polisi mengakhiri penyelidikan terhadap diri Veron.
"Kita akan mendalami lebih lanjut. Dan akan menunggu juga kesaksian dari Tuan Dave sendiri nanti untuk menyempurnakan laporan."
Mendengar ucapan polisi, Veron menoleh ke Zello. Seakan tidak tahu maksud ucapan polisi. Apa itu artinya dirinya masih bisa dinyatakan bersalah nanti?!
"Nyonya Lilie tenang saja! Kami hanya melakukan penyempurnaan laporan terkait, karena sudah ada saksi dan bukti di pihak Anda. Jadi Anda tidak risau," ujar polisi yang membaca raut Veron.
"Ah," Veron tercengang, antara lega tapi juga belum paham sepenuhnya.
__ADS_1
"Kami ucapkan terima kasih untuk waktunya. Selamat sore."
"Sama-sama, Pak!" Zello membalas jabatan polisi dan mengantarkan ke depan. Berbeda dengan Veron yang memilih duduk kembali di kursinya.
Zello yang sudah kembali di samping Veron langsung merangkul dan mencium pipinya hangat. Veron menoleh, pria di sampingnya seakan tidak paham dirinya tengah gundah, main sosor saja.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?!" Dahi Zello berkerut melihat tatapan istrinya.
"Apa kamu tidak paham?! Aku takut," cetus Veron.
Bukannya mengerti, Zello malah tertawa kecil. "Tadi kan polisinya sudah bilang ada saksi mata saat peristiwa berlangsung, jadi kamu tidak perlu takut, Sayang!"
"Saksi apa? Saksi yang melihat aku sudah menjatuhkan Dave, begitu?!" Ujar Veron kesal .
"Saksi itu adalah penghuni apartemen juga. Seorang wanita, dia merekam kejadian saat itu, dan dia juga menyuruh suaminya untuk segera menuju kamar kita, menolong kamu. Tapi sebelum suaminya sampai Dave sudah terjatuh. Tenang saja. Rekaman itu adalah bukti yang kuat, aku sudah melihatnya sendiri." Zello mengecup kening istrinya, yang wajah istrinya masih saja terlihat gamang.
"Tapi Dave orang yang berkuasa, Mas."
"Seberkuasa apapun, sehebat apapun tapi bila sudah ada bukti sebuah rekaman video, itu akan percuma buat dia. Percayalah!"
Akhirnya Veron mengangguk, membenarkan ucapan suaminya. Dirinya kini merasa lebih tenang. Dilabuhkan kepala di dada suaminya. Mendongak sesaat melihat wajah suaminya yang membuat mereka saling bersitatap damai dan hangat.
"Love you, Mas."
"Love you more."
****
"Sayang, kamu sudah mandi?" Zello bangun dari berbaringannya, menatap istrinya yang tengah tersenyum manis dengan tubuh yang hanya berlilitkan handuk sementara tangannya memegang pakaian kerjanya.
"Kenapa tidak membangunkanku. Aku akan membantumu."
"Nggak papa, Mas. Aku hati-hati kok. Oya, Mas kamu kapan ke perusahaan lagi?"
"Kapan-kapan aja, Sayang. Aku masih ingin di rumah."
"Aku bisa sendiri, Mas. Lagipula ada Dahlia, mama dan pelayan juga."
"Aku bilang sedang ingin di rumah, Sayang. Memang apa yang kamu pikirkan?!" Goda Zello melangkah mendekati Veron.
"Hm." Veron memanyunkan bibirnya yang membuat Zello gemas dan langsung menabrakkan bibir mereka, merekuh manisnya bibir Veron.
"Memangnya kenapa kalau aku di rumah? Aku ingin selalu ada di sisimu, terlebih saat-saat seperti ini."
__ADS_1
"Aku merindukan menyiapkan baju kerja untukmu. Terlalu banyak yang kita lewati, rasanya aku belum puas."
"Mulai sekarang kita akan sama-sama, sehingga tidak merasa kekurangan atau belum merasa puas, apalagi waktu untuk bersama. Mangkanya jangan suruh aku buru-buru untuk ke perusahaan lagi. Memangnya kamu nggak merindukan aku?! Dan, anniversary kita saja terlewat begitu saja." Zello berucap sembari menatap intens istrinya. "Kita akan merayakan sekalian nanti dengan kepulangan anak kita. Hm?!"
"Tak perlu perayaan anniversary. Yang penting kita sudah kumpul."
"Yakin?!"
Zello menepuk keningnya, merasa bodoh dengan pertanyaannya sendiri. Seharusnya dia memberi surprise seperti di film-film, bukan bertanya. Bibir Zello mengulum senyum tipis dengan idenya itu.
"Iya, Mas. Cukup hadiahnya saja hahaha."
Zello melongo sesaat yang kemudian tergelak bersama istrinya. "Istri yang cerdas." Zello merengkuh tubuh istrinya, mengecupi bahu Veron yang terbuka.
"Awas, ini nanti kusut." Veron menaruh jas Zello kembali ke tempatnya. Membuat Zello yang tengah beraksi merasa terganggu.
Tangan Veron yang menaruh jas Zello beralih ke lipatan kertas di sudut almari. Sepertinya, Zello menaruh asal atau buru-buru, membuat kertas itu menyembul.
"Ah itu." Ucapan Zello menggantung. Kertas itu memang belum tersimpan rapi. Beberapa hari yang lalu kertas itu jatuh dari dompetnya, dan yang kemudian ia taruh asal di almari, di bawah susunan pakaiannya.
Mata Zello menatap tanpa kedip istrinya yang membaca isi dari kertas itu.
Terlihat jelas tubuh Veron lemas usai membaca kertas itu, tapi untungnya tubuh Veron maih dalam dekapan suaminya.
"Mas, kenapa kamu setujui," lirih Veron dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang, nggak ada pilihan lain. Resikonya di keselamatan kamu."
"Kamu tahu kan Mas arti dari tulisan ini?! Aku nggak bisa hamil lagi."
"Sstt." Tangan Zello menghapus air mata Veron yang mulai menetes. "Percayalah, satu sudah cukup buat kita."
"Tapi Mas.... "
"Kita sudah lengkap Sayang, kamu sudah punya keluarga utuh."
****
Tidak berasa sudah dua minggu Baby Re di ankubatur, beratnya sudah 2,7 kg yang artinya sudah bisa dibawa pulang. Rasa bahagia dari keluarga Hanif terlihat dari mereka semua yang tengah di acara sederhana di kediaman Hanif, tidak ada teman kolega penting yang diundang, yang ada hanya kerabat keluarga.
Hari ini adalah hari spesial buat mereka, semua dalam keadaan suka cita, terlebih di ujung acara tidak hanya ada tambahan surprise untuk Veron di hari anniversary yang lewat, tapi keluarga besar dan Veron sendiri juga melakukan surprise ke Zello yang ulang tahunnya kelewat beberapa minggu.
Veron sendiri dapat hadiah kalung spesial yang sudah lama Zello siapkan dan mobil atas nama Veron pribadi, meski Veron merasa seharusnya tak perlu demikian, karena dia sendiri sudah bebas menggunakan fasilitas di rumah itu dengan bebas, tapi Zello memang ingin memberikan. Lagipula apa yang berkesan selain rumah untuk hadiah? Karena tidak mungkin Zello memberikan rumah, karena itu sama saja berharap di hari kemudian mereka meninggalkan kediaman Hanif, yang ada istrinya bukannya malah senang tapi malah manyun nanti. Selain dapat perhiasan dari Zello, Veron juga dapat perhiasan dari Maria, perhiasan spesial turun-temurun dari keluarga, dan tambahan hadiah-hadiah lainnya.
__ADS_1
Zello sendiri dapat hadiah jam tangan dari Veron dan dapat surat pengalihan perusahaan Hanif yang sekarang atas nama dirinya.
*****